Sebuah kecelakaan yang membuat Sultan diharuskan menikahi janda adik kandungnya.Perjalanan cinta yang rumit membuat Hanum berada di persimpangan jalan, kebingungan melanda ... memilih antara tetap bertahan, atau menyerah. Sampai suatu hari, dia menemukan sebuah rahasia besar tentang masa lalu Sultan yang sekarang resmi menjadi suaminya.Akankah Hanum menemukan cinta sejatinya, yang ternyata sepertinya memang sudah disiapkan oleh Tuhan dengan dibungkus sekelumit masalah?
Season 2.
Seorang gadis bernama Cinta berada di ambang dilema saat William, atasannya di kantor mendadak mengajaknya menikah. Memendam cinta kepada kakak kelas sedari dulu membuat Cinta akhirnya menerima pinangan William. Namun, sebuah fakta terkuak usai pernikahan itu terjadi, membuat Cinta begitu menyesali keputusannya.
Cinta hancur saat dia tahu dirinya ada di tengah-tengah antara William dan Raisa. William sangat mencintai Raisa, tapi Raisa mencintai Willmar yang tak lain adalah saudara kembarnya. William hanya menjadikan Cinta sebagai pelarian.
Apakah yang akan Cinta lakukan setelah mengetahui perasaan William padanya? Akankah Cinta berusaha mendapatkan hati William, atau lebih memilih mundur setelah sakit yang tak berkesudahan William berikan padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Safitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dijemput
Siang itu di sebuah gedung megah di area pusat perbelanjaan yang ramai dikunjungi banyak orang. Mereka sibuk lalu lalang singgah dari satu toko ke toko lainnya, memilah barang yang mereka beli.
Keadaan yang sama juga terjadi di butik tempat dimana Hanum bekerja, ini hari keduanya bekerja disana. Dia tengah sibuk mendampingi sepasang kekasih yang hendak menikah yang sedang melakukan fitting baju pengantin. Tangannya cekatan membantu si wanita untuk merapikan gaunnya sebelum memperlihatkan pada calon mempelai pria dibalik tirai.
Sang pria tertegun, dia tak mampu berkedip melihat calon mempelai wanitanya yang terlihat sangat cantik begitu tirai dibuka. Pria itu pun bangun dari duduknya kemudian mendekati si wanita dan menghujaninya dengan berbagai pujian. Hanum ikut tertawa senang melihat kejadian itu, dia merasa mereka pasti akan menjadi suami istri yang hidup bahagia selamanya.
Bersamaan dengan itu juga merasa sedih mengingat dia tidak merasakan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh pasangan di depannya, saat dulu dia menikah tanpa persiapan apa-apa.
Dia menghela nafas panjang, berusaha membuang ingatannya dan kembali sibuk membereskan gaun itu dan menaruh pada tempatnya.
"Hanum, makan siang yuk? Sudah jam istirahat ini." ajak gadis bernama Disha.
"Iya, Sha." Hanum memastikan gaun itu tersimpan dengan baik di tempatnya sebelum pergi.
"Ajeng dan yang lainnya sudah ada di kantin, kita langsung kesana saja ya," imbuh Disha.
Mereka berdua berjalan menuju tempat yang di maksud dengan bergandengan tangan samb diselingi tawa renyah yang pecah saat mendengar Disha yang sesekali melawak. Mereka kelihatan sudah sangat akrab meskipun mereka baru saja saling mengenal.
Hanum mengambil bangku dan segera menempatinya begitu sampai di kantin, dia melihat teman-temannya sudah duduk disana tengah menunggu makanan yang sudah dipesan.
"Kamu mau pesen apa Num?" tanya Metha, gadis berusia dua puluh lima tahun, paling tua diantara mereka.
"Samain saja dengan punya Kakak," sahut Hanum. "Kamu pesen apa Sha?" gadis itu beralih menatap temannya.
"Aku pesen soto Betawi aja lah." Disha melambaikan tangan pada pelayan dan mulai menyebutkan pesanannya begitu pelayan itu mendekat.
Tak lama pelayan itu kembali lagi ke meja dan menaruh pesanan mereka, perempuan itu memastikan pesanan tuannya sesuai dengan jumlah yang pas sebelum kemudian pergi.
Mereka kemudian asyik melahap makanannya masing-masing, merasa sudah sangat lapar.
"Jeng, makan gih nanti keburu dingin, sibuk main hp mulu." Metha menepuk bahu Ajeng sambil mengunyah mienya.
"Tahu ah, tiba-tiba malas mau makan nggak nafsu." Ajeng mengerucutkan bibirnya.
"Memangnya ada apa? Apa yang membuatmu kelihatannya kesal begitu?" tanya Hanum.
"Mamaku, dia bilang mau menjodohkan aku sama anak dari temannya. Mereka pikir ini zaman Siti Nurbaya apa, sudah zaman modern begini masih saja main jodoh-jodohan." Ajeng mulai menyendok makanannya.
"Memangnya kenapa kalau di jodohkan Jeng?" tanya Metha.
"Ih, ini jaman modern Kak Metha, demokrasi dimana-mana, aku bisa cari calon suami sendiri kok. Lagian aku kan juga belum tua, baru dua puluh dua tahun. Banyak laki-laki yang suka denganku," oceh Ajeng.
"Bukan begitu, mungkin maksud orang tua kamu cuma mau bantu kamu biar dapat suami yang baik." imbuh Metha
"Jadi kalau milih sendiri nggak baik begitu?"
"Bukan begitu juga Jeng, mungkin saja mama kamu cuma mau membantu supaya kamu cepat menikah, mungkin mama kamu berpikiran kalau kamu terlalu sibuk bekerja sampai tidak sempat untuk mencari calon suami sendiri." Hanum berusaha menengahi.
"Iya tapi aku takut kalau dijodohkan bukan kebahagiaan yang kita rasakan, bagaimana kalau ternyata suami kita nantinya orang yang jahat,bkasar dan, ah...." Ajeng menjerit memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpanya jika dirinya sampai dijodohkan.
Keempat temannya hanya terkekeh melihat ekspresi wajah Ajeng yang terlihat sangat kacau.
"Tapi tidak semua perjodohan berakhir dengan kesengsaraan juga Jeng, buktinya aku," lanjut Metha.
"Apa? Memangnya kak Metha dijodohkan?" pekik Hanum kaget.
"Ya, Num. Aku baru saja menikah lima bulan yang lalu. Aku dan suamiku benar-benar tidak saling mengenal sebelumnya tapi kami berdua sepakat untuk membuka hati masing-masing. Membiarkan waktu berjalan dan menikmati semuanya, meskipun kami belum saling cinta, setidaknya hubungan kami baik-baik saja," papar Metha.
Mereka kemudian melanjutkan acara makan siang bersama sambil menceritakan tentang kehidupan masing-masing. Diantara mereka Ginar lah yang paling pendiam, walaupun sikapnya menyenangkan tetapi dia agak irit bicara.
Mereka pergi setelah selesai dan kembali ke butik setelah jam istirahat selesai, melanjutkan pekerjaan masing-masing yang sempat tertunda tadi.
.
Keadaan butik mulai tenang, beberapa gaun terlihat sangat indah dengan model yang berbeda-beda. Ada juga gaun pesta dan beberapa baju kasual yang tersusun rapi di tempat nya. Bunda Lili keluar dari ruangannya dan mengajak karyawannya untuk pulang, jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
Semua orang terlihat bahagia meninggalkan butik itu, bunda Lili mengunci pintu lalu berjalan bersama menuju lift.
Mereka kemudian berpisah di lobby, bunda Lili, Ajeng, Disha dan Ginar menuju parkiran sementara Metha sudah dijemput suaminya yang sudah menunggu di depan gedung.
Hanum sendirian sekarang dan berniat menuju halte bis terdekat, langkahnya terhenti saat ponselnya berbunyi.
"Ya, Mas."
"Kamu mau kemana? Aku sudah ada di depan gedung sejak tadi," ucap Sultan sambil terus melihat istrinya dari dalam mobil.
Sementara Hanum melihat sekeliling berusaha mencari dimana keberadaan suaminya. Tak lama setelahnya Hanum mengulas senyum di bibirnya manakala dia melihat mobil Sultan yang ternyata sedang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Mas menjemputku?" Hanum bertanya ketika dia sudah duduk di dalam mobil.
"Tentu saja, aku sudah ada disini memangnya mau menjemput siapa lagi jika bukan dirimu?" Sultan terkekeh mendengar pertanyaan istrinya yang terdengar lucu.
"Bukan itu maksudku, bagaimana kamu tahu aku bekerja disini?"
"Kan kamu sudah memberitahuku tempo hari," sahut Sultan.
"Ah, iya iya, aku lupa." Hanum menepuk dahinya.
"Kita mampir makan? Kamu pasti belum makan," ajak Sultan.
"Boleh."
"Mau makan apa?" tanya Sultan.
"Terserah Mas saja."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan, butuh waktu lima belas menit sebelum Sultan menghentikan laju mobilnya dan memarkirnya di depan sebuah rumah makan yang tak terlalu besar tapi cukup ramai pengunjung.
Mereka berdua turun dari mobil lalu bergegas memasuki bangunan yang terlihat cukup berumur. Hanum mengedarkan pandangannya, dilihatnya semua meja penuh dengan orang yang sedang menikmati makanannya masing-masing. Sultan menarik tangan istrinya lalu melangkah menuju ruangan private, tempat yang biasa dipesan olehnya jika dia dan teman-temannya makan disana. Tak lama seorang pelayan mengikuti mereka dengan sudah membawakan nampan berisi makanan yang sudah sempat dipesan Sultan tadi.
.
Tbc....❤️❤️❤️❤️
😄