NovelToon NovelToon
Macau Love Story

Macau Love Story

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Mafia / Tamat
Popularitas:832k
Nilai: 5
Nama Author: Andreane

Apa yang salah dengan hidup Nayla?"

Setelah lepas dari kekejaman sang tante, yang menjadikannya mesin uang, Ia harus menikah dengan seorang mafia peretas mesin judi. Lelaki yang telah membelinya dengan harga fantastis.


Akankah sia-sia, Perjuangannya untuk mengeluarkan sang suami dari labirin perjudian. Dengan masa lalu tersulut dendam kepada sang ayah yang telah meninggalkannya.

Hingga ia nekad untuk menikahi adik kandungnya sendiri demi sebuah pengakuan dari Hari Hermawan.

Apakah sang ayah akan membiarkan Pandu menikahi adiknya dari rahim wanita selain ibunya, ataukah Nayla yang akan meredupkan sarat emosi dan melupakan dendamnya..

Lelaki mapan dan matang..
Seorang mafia judi. PANDU MAHARDANI HERMAWAN

"Aku percaya bahwa ada cinta yang tak pernah melukai" (Nayla)



"Menyenangkan sekali berbicara denganmu, Meskipun usiamu jauh lebih muda dariku, namun perkataanmu bak wanita dewasa yang menghipnotisku agar selalu mendengarkanmu.

Wanita sepertimulah yang aku butuhkan.

Cinta yang kau berikan untukku, mampu mengembalikan hidupku yang rapuh menjadi utuh hingga sempurna" (Pandu)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 (Bertemu Bu Risa)

Dadaku berdesir semakin hebat, ketika taksi yang kami tumpangi sudah memasuki pintu masuk gedung apartemen. Taksi terus melaju dengan kecepatan sangat rendah, hingga berhenti tepat di samping Flat yang di tempati oleh ibunya mas Pandu, aku terus sibuk menenangkan debaran jantungku.

Saat turun dari taksi, kami sudah di sambut oleh dua orang kepercayaan mas Pandu. Dua pria berkebangsaan Filipina, dan Indonesia ini, tampak mengucapkan selamat pagi menggunakan bahasa inggris, dengan cepat pria dari Filipina mengambil alih koper di tangan mas Pandu, sementara pria dari Indonesia, menjawab setiap pertanyaan mas Pandu.

Menghirup napas dalam-dalam, lalu mengeluarkan secara perlahan, aku berusaha menetralisir rasa carut marut yang bersemayam didalam dadaku.

"Bagaimana Ibu?"

"Kondisi dalam keadaan baik dan sehat pak" jawabnya tegas sambil terus melangkah memasuki pintu utama flat.

"Apa ada kemajuan mengenai kesehatannya?"

"Sedikit bisa menggerakan tangannya pak?" jawabnya sambil menunduk ramah kepada satpam gedung.

Pria yang baru saja di perkenalkannya padaku bernama April, tampak menekan tombol up pada sisi lift saat kami berdiri di depan pintu lift.

Tangan mas Pandu masih menggandeng tanganku yang kurasa kian dingin akibat rasa gugup yang menyerangku.

Berkali-kali aku menelan ludahku sendiri, berharap mampu mengurangi debaran jantung yang masih berantakan.

Saat kami sampai di depan pintu bertuliskan F5/B07 yang ku tahu maksudnya adalah gedung nomor Lima dan unit B lantai tujuh, kami berpisah dengan April dan Adan, mereka lebih dulu masuk ke dalam unitnya yang terletak di depan unit milik Ibu.

Mas Pandu tampak menekan bell, padahal aku tahu kalau diapun memegang kunci cadangan.

Saat pintu terbuka, menampilkan sosok wanita muda tengah tersenyum saat pandangan kami bertemu.

"Selamat pagi pak, selamat pagi Nona"

"Selamat pagi" jawab mas Pandu, sedangkan aku hanya merespon dengan senyuman.

"Tolong kopernya bawa ke kamarku Nur" perintah mas Pandu padanya, dan gadis itu langsung patuh melaksanakan perintahnya. "Dia Nuri, ART dari Indonesia, yang membantuku mengurus ibu di sini" sambungnya menjawab rasa penasaranku.

Saat memasuki ruang tamu yang menyatu dengan ruang tv, netraku menangkap sosok wanita yang pernah ku lihat di bingkai foto saat mengunjungi salah satu restauran milik mas Pandu.

Wanita itu saat ini duduk di atas kursi rodanya dengan sorot mata kosong jatuh ke layar televisi.

Seketika langkahku melambat, dan pandangan ku alihkan pada mas Pandu yang saat itu juga langsung membalas tatapanku.

"Ibu" ucapnya lirih bermaksud memberitahuku.

"Apa kabar ibu?" Mas Pandu langsung berlutut ketika sampai di depan kursi roda milik Ibu, lalu mencium punggung tangannya takzim. Sementara aku, berdiri termangu menatap dengan sorot iba pada wanita yang melahirkan suamiku.

Dan entah kenapa mataku tiba-tiba meluncurkan buliran bening. Sepersekian detik, ingatanku singgah ke beberapa tahun yang lalu.

Mamah yang juga sempat duduk di kursi roda karena sakit kanker darah, membuatnya kian melemah dan akhirnya tidak mampu berdiri diatas kakinya sendiri.

Saat papah akan membawanya berobat ke luar Negri, tiba-tiba pesawat yang di tumpanginya mengalami hilang kontak, dan peristiwa naas tersebutpun tak bisa di hindari. Sebuah kecelakaan yang merenggut nyawa mamah dan papah, detik itu juga aku kehilangan orang yang paling tulus menyayangiku.

Memejamkan mata, ku hirup napas dalam-dalam, berusaha mengusir pikiran yang mengingatkanku pada kedua orang tuaku.

"Nay"

Panggilan mas Pandu menyadarkanku dari lamunan. Saat aku memindai wajahnya, mas Pandu yang tadinya berlutut, kini sudah berdiri di sampingku.

"Kamu kenapa?"

"Tidak apa-apa" bohongku sambil mengusap pipiku yang basah.

Tanpa di perintah, aku melakukan apa yang mas Pandu sempat lakukan tadi. Aku berlutut di depan kursi roda, dan meraih punggung tangannya. "Apa kabar bu?"

Ibu tampak mengerjap, mungkin itu adalah respon atas sapaanku. Hampir satu menit aku menatap ibu dalam diam, mas Pandu menginterupsiku dengan kalimatnya yang memperkenalkanku pada ibu mertuaku.

"Ini Nayla bu, istri Pandu" Aku tersenyum melihat mas Pandu membisikan kalimat itu di telinga ibu. "Sekarang ibu akan tinggal dengan menantu ibu, dan Pandu janji akan sering-sering datang nanti" bisiknya lagi membuat senyumku kian merekah.

Aku sedikit mendongak menatapnya, beberapa detik kemudian berdiri "Ibu kenapa mas?" tanyaku, namun mas Pandu hanya menggeleng. Aku tidak bisa menebak apa maksud dari gelengan kepalanya. Mataku terus menatap mas Pandu yang juga tengah mengunci bola mataku.

"Pak, kamar sudah siap, barangkali mau istirahat dulu" sela Nuri memecahkan keheningan di antara aku dan mas Pandu.

"Oh ya, makasih Nuri" jawabnya ramah "Tolong jagain ibu dulu Nur"

"Baik pak"

Mas Pandu membawaku ke kamar, sesampainya di kamar, kami sama-sama duduk berdampingan di tepian ranjang.

"Ibu sakit stroke" ucap mas Pandu yang membuat perhatianku semula tertuju pada tangan di pangkuanku, kini berpaling ke mas Pandu.

"Sejak kapan?"

"Dua tahun lalu?"

"Jadi sudah dua tahun ibu tidak melakukan aktivitas apapun?"

Mas Pandu mengangguk, untuk beberapa saat, kami saling diam, dan entah dorongan dari mana, aku tak bisa menahan diri untuk tetap diam.

"Aku akan membantu mas merawat ibu" kataku dengan pelan "Dan mas harus sering-sering nengokin kami disini" lanjutku mengingatkan.

"Terimakasih" jawabnya.

Giliranku menganggukan kepala kali ini. Setelah itu, kami sama-sama diam lekat saling menatap. Aku menyerah, sebab tak sanggup lagi membalas tatapan tajam mas Pandu.

Aku menunduk, mengamati jemariku yang saling meremat, sesekali menatap cincin yang melingkar di jariku. Sebuah cincin pernikahan kami.

Aku merasa cemas, tapi aku tidak tahu dari mana datangnya kecemasan ini.

Tiba-tiba, satu tangan mas pandu terulur dan beberapa detik kemudian ku rasakan tangannya berada di puncak kepalaku.

"Aku akan mengunjungi kalian dua kali dalam seminggu" ucapnya seolah tengah menenangkanku "Jika memungkinkan, aku akan setiap hari pulang kesini"

Aku menolehkan wajah ke kiri, untuk kali ini aku memberanikan diri untuk menatapnya lebih lama, menyelami kedalaman retinanya yang sekelam malam, mencari tahu kesungguhan dari kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. Di sana aku menemukan tak ada lagi sorot dingin dan menakutkan yang terpancar dari matanya.

"Apa?" tanyanya lembut.

"Tidak apa-apa?" sahutku seraya menunduk. Tangan mas Pandu yang tadi sempat menyentuh puncak kepalaku, tahu-tahu sudah melingkar di pinggangku kemudian menarik sampai tubuhku bergeser lebih dekat padanya.

Dan jantungku, dalam sekian detik langsung melompat-lompat. Reflek aku menarik diri menjauh darinya, namun tangannya seolah menahanku.

"jangan beranjak" ujarnya, yang membuatku semakin kikuk, selain itu mungkin wajahku memerah menahan malu.

Dan aku, mulai mencintainya meski baru sekian persen.

"Kita keluar temani ibu" ucapku, lalu kami sama-sama bangkit dari duduknya "Aku mau ke toilet dulu"

***

Nur, kapan ibu cek dokter?" tanya mas Pandu, suaranya samar terdengar dari toilet di kamar mas Pandu.

Karena apartemennya, tidak terlalu besar, hanya memiliki dua kamar dengan masing masing kamar mandi di dalamnya. Ada dapur berukuran kecil yang menyatu dengan ruang makan, dan ruang tv yang menyatu dengan ruang tamu, serta satu kamar mandi umum di samping ruang tv.

Saat aku sudah bergabung dengan mas Pandu, ibu dan juga Nuri, aku menyimak apa yang di ucapkan Nuri, dia tengah menjelaskan pada mas Pandu tentang kondisi ibunya, dan mas Pandu hanya mengangguk mengerti.

"Kamu bikin apa untuk makan siang ibu, Nur?"

"Mau bikin bubur ikan pak" jawab Nuri, aku hanya menyimak percakapan mereka sedari tadi.

"Sudah di masak?"

"Belum, baru mengeluarkan ikannya dari frizer"

"Di masak nanti malam saja ya, siang ini kita makan siang di luar, sekalian aku mau cek restauran miliku"

"Iya pak" sahutnya singkat.

Next...

1
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
ngasih tau orang dewasa ngalahin anak paud.... anak paud aja tau kl di diijek injek balikkkk lahhhh....
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
kasih pelajarn nayla.... lama lama kaya orang oon...
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
awas aja kalo otor pro sama nayla
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
baik sih baik tapi kasusu ya nayla baiky bikin eneg
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
tolongin aja nay tantemu kn hati baik bak malaikat
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
hahaaha dah kejepit baru ngomng nyari anakya kmrn pasa mau nikah susah ngakuin... trs emak hrs percaya sama siape nih... pandu n hermawan otor....
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
tinggal bareng sama bu risa dong adehhh.... apaa sudah nerima hukuman.. woi ditinggalkan cerai sama istri kedua itu bukan hukuman tapi sebab akibat die tak jujur sama kondisi die n emng rakus pingin ngiasain harta ye
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
yaelah semudah itu ayah y di maafin....
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
bgussss top usir tuh aki aki tamak
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
emak kalo baca novel cuma nunggu happy ending atau sad ending dan satu lagi karma..... dah ngk macam macam kok thor..... kalo orang yg udah berkhianat atau di sakiti ngk dapt karma... otor emk demo..... 😂
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
nah kan nyari penyakit lo
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
kenapa pandu blm jujur kalo dia adalh lelaki masa kecilya
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
hadir kembali
Ran Aulia
terimakasih ceritanya author 👍👍👍👍

langsung cuzzz ke personal assistant
Adi Suweni
Luar biasa
Srie Sulastri
keren
Lucinta Gua
Tinggal di LN namanya Indo bgt
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
PART AKHIR MLH JENGKEL DGN SIKAP NAYLA..
Sulaiman Efendy
ENTAH TERLALU BAIK ENTAH GOBLOK SI NAYLA,, HNY MIKIRKN TANTENYA YG JAHAT, TNPA MIKIRKN PANDU & KELLEN..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!