NovelToon NovelToon
Mentari Istriku

Mentari Istriku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cintamanis / Tamat
Popularitas:403.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: febyanti

Menikah dengan orang yang kita cintai tentu menjadi impian semua orang, tapi tidak dengan Alga dan Mentari. Mereka menikah karena terpaksa, hingga lambat laun perasaan itu berubah menjadi cinta.

Tapi sayang, ketika cinta itu datang disaat mulai mengilang. Mentari menyerah karena cinta itu tak dapat ia gapai.

Rumah tangga seperti yang mereka jalani? Apa lagi tanpa cinta.

Yuk simak ceritanya hanya di novel berjudul MENTARI ISTRIKU

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon febyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Kini Mentari duduk di sebelah ayahnya, ia menemaninya sampai pria paruh baya itu tertidur. Tari tidak tahu sampai kapan ayahnya akan terbaring di sini. Sebenarnya ada hati yang mengganjal pada dirinya, sebenarnya pria ini sakit apa? Namun, ia tak berani menanyakan hal itu. Ia juga tidak siap mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya berharap, ayahnya akan sembuh seperti sedia kala.

Sampai pria itu benar-benar sudah pulas, baru ia beranjak dan duduk di sebalah Alga yang kini sudah sah menjadi suaminya. Setelah duduk berdampingam, kenapa Tari malah merasa canggung. Apa karena hubungan mereka kini berstatus suami istri?

"Apa Ayah sudah tidur?" tanya Alga kemudian.

"Su-sudah," jawab Tari sedikit terbata.

"Aku laper, apa kamu mau ikut? Atau mau menunggu di sini?" ujar Alga.

"Tunggu di sini saja," jawab Tari.

"Ya sudah, aku keluar dulu. Kamu mau makan apa? Nanti aku bawakan."

"Nasi padang saja."

Setelah mendengar jawaban Tari, Alga segera bergegas pergi dari sana. Sementara kedua orang tua Alga lebih dulu pulang karena mereka sudah tidak urusan lagi di sana.

* * *

Mentari melamun, ia menatap kearah luar lewat jendela. Lamunannya buyar ketika ia melihat burung terbang di sana. Ia berpikir, kini ia tak bisa sebebas burung itu. Sudah menjadi sorang istri tentu kalau akan kemana-mana harus izin pada suami.

Pegal berdiri terus, akhinya ia memilih duduk di sofa. Memainkan benda pipih miliknya, tak terasa, ia malah tertidur.

Alga sudah kembali, ia membawakan nasi padang sesuai permintaan Tari. Tapi ia malah melihat gadis itu tertidur pulas, tak ingin menganggu, ia kembali ke luar. Duduk di kursi tempat orang menunggu pasien.

Jarinya berselancar lihai di layar ponselnya, berniat menghubungi Citra. Tapi sayang, ponselnya masih belum aktif dari pasca memberikan pesan kemarin. Ia hanya bisa menatap poto kekasihnya itu, lalu ia jadikan poto profil di sana.

Hampir satu jam ia duduk di sana, tak lama ia kembali ke ruangan Ayah Tari. Dilihatnya, Tari sedang memakan nasi padang yang ia bawakan.

"Apa Omsu sudah makan?" tanya Tari

"Omsu? Kamu seneng banget mengganti namaku. Namaku, Alga. Bukan Omsu, gak sekalin saja Onsu seperti nama artis itu!"

"Lalu aku harus memanggilmu apa? Sayang? Honey?" Tari langsung bergidik, ia tidak membayangkan akan memanggil suaminya itu dengan sebutan itu. Menjijikan sekali, pikirnya. Lebih baik Omsu, bukan? 'Om suami'

"Apa arti Omsu?" tanya Alga, ia juga penasaran dengan sebutan itu. Takut-takut sebutan itu malah meledek dirinya.

"Om suami." Jawab Tari sambil memasukkan nasi ke dalam mulutnya. "Apa itu keberatan bagimu?" sambungnya lagi.

"Terserah kamu sajalah!" Alga tidak ingin berdebat, apa lagi ia sadar akan keberadaannya.

* * *

"Apa tidak sebaiknya kita pulang? Ini sudah sore. Besok kamu sekolah, bukankah sebentar lagi kamu ujian," kata Alga.

Mentari menatap sekilas ke arah Alga, lalu kembali menatap wajah ayahnya. Semakin hari, ayahnya semakin kurus. Ia tidak tega untuk meninggalkannya.

"Ayok pulang sekarang, Ayah ada yang menjaga. Birakan dia istirahat."

Mentari beranjak dari tempatnya, mengambil tas kecil miliknya lalu mencium sang ayah sebelum ia pergi meninggalkannya.

"Yah, aku pulang dulu." Seketika, Surya membuka mata. Sebenarnya ia sudah terbangun sejak tadi, hanya saja ia tidak ingin mengganggu pasangan baru itu.

"Hmm, pulang 'lah. Besok kamu sekolah, balajar yang giat agar nilaimu tidak turun."

Mentari mengangguk, lalu mencium punggung tangan Surya. Begitu pun dengan Alga, ia mengikuti apa yang dilakukan Tari, istrinya.

"Yah, kami pulang dulu," ujar Alga. Diangguki oleh Surya.

* * *

Sesekali, Alga melirik ke arah Mentari. Sejak masuk mobil, gadis itu terdiam tanpa kata. Menoleh ke arahnya pun tidak. Alga tahu, bukan cuma ia yang terpaksa akan pernikahan ini. Mentari pun pasti merasakan hal yang sama seperinya.

Alga hanya berani menatap, sebenarnya ia juga kasihan pada gadis itu. Gadis seumur Tari, harusnya menikmati masa remajanya, bukan malah menjadi seorang istri.

"Tari," panggil Alga. Ia memberanikan diri mengeluarkan suara.

Tari langsung menoleh padanya. "Apa?" jawab Tari.

"Aku tahu, kita menikah karena terpaksa. Kamu tahu sendiri kalau aku juga punya pacar, bagaimana kalau kita buat perjanjian?"

"Maksud, Omsu?"

"Kamu masih bisa bebas, begitu pun aku. Kita buat kesepakatan, tidak perlu tanda tangan di atas matrai. Kita hanya buat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing. Cukup ada aturan di antara kita?"

"Aturan bagaimana?"

Alga menepikan mobilnya, lalu ia serius dengan pembicaraannya pada Tari.

"Kita hidup bebas tanpa ada larangan, tapi kita harus merahasiakan ini dari Papa, Mama. Kita akan menjalani hidup seperti layaknya suami istri, tapi berlaku jika di hadapan orang tuaku juga Ayahmu. Di luar itu kita bebas, bagaimana?"

Mentari berpikir, menimbang-nimbang perkataan suaminya.

"Boleh juga, apa aku boleh merahasiakan pernikahan kita pada orang lain?"

"Boleh, malah itu lebih bagus."

Setelah semuanya sudah jelas, Alga kembali melajukan mobilnya. Mentari juga merasa bahagia dengan keputusan itu. Wajahnya kembali berseri-seri.

Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah Alga. Yuda dan Ajeng menyambut pasutri itu dengan hangat.

"Selamat datang," kata Yuda. "Silahkan masuk," sambungnya lagi.

Alga dan Mentari jadi bingung. Dalam rangka apa mereka menyambut kedatangannya? Apa lagi banyak bunga-bunga bertebaran di atas lantai. Pasutri itu langsung masuk ke dalam.

Mentari dibuat takjub, rumah berubah seketika. Begitu banyak hiasan bunga-bunga segar di sana. Apa mereka manyambut kedatangannya sebagai menantu? Pikir Tari.

"Apa kalian suka?" tanya Ajeng.

"Suka, Tante. Bunganya cantik-cantik," jawab Tari.

"Kok, Tante sih! Mama, dong. Kamu 'kan sudah menjadi menantu di keluarga ini. Jadi kamu panggil kita, Papa Mama. Seperti Alga memanggil kita."

"I-iya, Ma. Maaf, mungkin belum terbiasa."

"Ya sudah, sebaiknya kalian istirahat. Nanti Mama panggil kalau makan malam sudah siap."

"Sekarang kalian sudah sah, jadi mau tidur berdua pun tidak masalah. Iyakan, Ma?" kata Yuda

"Sudah sana, kalian istirahat. Ajak istrimu ke kamar, Alga," kata Ajeng.

"Iya, Ma."

"Ayok, Tari. Kita ke kamar," ajak Alga pada Tari.

Alga menautkan jemarinya pada tangan Tari, Tari terkejut. Tapi seketika ia teringat akan kesepakatan mereka. Akhirnya, Mentari dan Alga berjalan bergandengan tangan menuju kamar

"Lihat, Ma. Katanya tidak cinta, tapi mereka sudah sedekat itu. Papa jadi pengen."

"Sudah tua, inget umur." Ajeng tidak mempedulikan keinginan suaminya.

Sementara Tari dan Alga, mereka baru saja tiba di kamar yang dulu selalu menjadi rebutan. Namun kali ini, mereka berdua jadi pemiliknya.

"Waahhh ... Papa, Mama-mu niat bener, Omsu." Tari melihat begitu banyak kelopak bunga mawar bertebaran di mana-mana, apa lagi di atas kasur. Mereka mengharapkan apa dengan menyiapkan ini semua? Pikir Tari.

Disaat matanya menelusuri isi kamar, ia malah melihat Alga membuka bajunya. Seketika, ia mundur ke belakang beberapa langkah sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

1
Naufal hanifah
/Good//Good//Good/
antha mom
happy ending
Heryta Herman
si tari masih labil...pikiran anak remaja..tapi sdh jadi istri tengah mengandung pula....yaa gitu deh...emosi jadi naik turun...kayak roller coaster.../Chuckle//Chuckle/
vi
aq suka..... aq suka...
vi
Jadi kasihan sama sinta
vi
ceritanya seru banget
tuti sriyono
Luar biasa
Shifa Burhan
masalah paling utama wanita dalam membuat novel adalah sikap egois yang terkesan munafik sehingga dia buta dari keadilan

contoh simple
*intraksi pemeran utama pria (alga) dengan wanita lain dilaknat, dipandang menjijikan, kesalahan fatal, tidak mudah diterima dan dimaafkan
tapi apa ini
intraksi pemeran utama wanita (tari) dengan lelaki lain dibela dan dibenarkan, pelukan berkali dibela dengan alasan pertemanan lah, pertolongan (alasan munafik wanita),

*istri cemburu suami salah karena tidak bisa jaga perasaan istri
apa ini
suami cemburu tetap suami salah karena cemburu buta

*pelakot dilaknat dan hinakan
tapi apa ini
pebinir dipuja dan diperlakukan sangat lembut, dibuat menang banyak berkali bisa merasakan tubuh pemeran utama wanita

ini contoh kecil kemunafikan wanita dalam berkarya
Suherni 123
pasti lemah nih si alga
Suherni 123
siip tari kasih pelajaran dulu tuh si omsu
Ivana Monica
cerita nya baguss tanpa da pelakor...
Inaqn Sofie
kenpa g alga aja dulu ya yg jatuhnya
Adi Raffi Prasetya
wahhhh.....bigin penasaran ceritanya.
Qaisaa Nazarudin
Gak usah aneh gitu,terima aja tanpa protes,,😁
Qaisaa Nazarudin
Apa benar akan seperti apa yg Alha pikir kan?? Tapi aku gak percaya dgn Citra,,,
Qaisaa Nazarudin
Dihh kamu udah mulai sombong ya,,Ingat hubungan suami kamu sama Citra blom selesai,jangan sampe kamu nyesel nanti,,
Qaisaa Nazarudin
😱😱😱Gila,,segitu banyaknya,,Pasti boong tuh,ada agenda tuh,Atau jgn2 uang itu utk selingkuhan nya,,🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Qaisaa Nazarudin
Kangan sampai dgn melihat kejadian ini,Alga gak jadi mutusin Citra,,,
Qaisaa Nazarudin
Apa benar Chiko udah bertunangan??🤔🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Selagi hubungan mereka belum berakhir,Kamu gak usah baper Tari,teruskan saja bersikap dgn menjaga jarak seperti sebelum ini,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!