Tujuh tahun menikah dan belum di karuniai seorang anak tak membuat cinta Yudistira pada Kamelia meluntur. cinta tanpa syarat dari Yudistira, telah melambungkan Kamelia ke atas awan hingga permintaan sang ibu mertua Kamelia, berhasil menjatuhkannya ke dasar lautan.
Bagaimana tidak, ibu mertuanya, meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kabulkan. seorang anak yang tidak mungkin bisa hadir di dalam rahimnya. namun ibu mertuanya, meminta hal itu dari wanita lain.
Dan yang ia juga tidak pernah tahu Yudistira memiliki rahasia besar di belakangnya.
akankah ia sanggup menerima rahasia terbesar Yudistira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusiana Anwar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pantaskah aku untuknya?
Seharian ini aku di sibukkan dengan pembuatan lima ratus kotak kue bolu pandan coklat dan lima ratus biji roti pisang coklat yang menjadi best seller di toko roti ku.
Di mulai dari jam empat pagi hingga pukul sebelas malam aku dan jaswin, serta di bantu oleh tiga orang karyawan telah menyelesaikan pesanan tersebut.
"Huft, akhirnya,"
Kata jaswin, kemudian mengusap dahi dengan punggung tangannya.
Lelah, begitulah kira-kira yang terlihat dari wajah mereka.
Aku tersenyum melihatnya, kemudian kembali menyelesaikan pekerjaan ku masukkan beberapa roti lagi ke dalam kotak.
"Besok acaranya jam berapa," tanya jaswin, sambil membuka tutup botol air mineral kemudian meminumnya.
"Jam sembilan, kita berangkat dari sini jam tujuh,"
Jaswin, mengangguk. Kemudian meletakkan botol air mineral dan beralih membantuku memasukkan kue dalam kotak.
Setelah pekerjaan selesai, aku segera pulang kerumah untuk beristirahat.
Tak lupa mengingatkan pada karyawan ku agar datang lebih pagi besok. karena tempat yang akan kami tuju letaknya agak jauh dari toko.
Tepat pukul enam pagi, aku di bantu dua orang karyawan laki laki, mengecek kembali roti roti tersebut sebelum memasukkannya kedalam mobil box.
"Hati hati ya Andri, aku akan segera menyusul."
Kataku pada salah satu karyawan, dan di angguki olehnya.
Setelah memasastikan tidak ada kesalahan. aku meminta dua karyawan ku berangkat terlebih dahulu. Sedangkan aku dan jaswin, akan menyusul dengan mobil lain.
Kini mobil kami telah sampai di tempat tujuan. Walau acara belum di mulai namun, tempat itu sudah ramai dengan lalu lalang pegawai yang sibuk dengan persiapan acara tersebut.
"Kamu gak salah Mil, di sini tempatnya?"
Tanya Jaswin, saat kami berada di pintu masuk ballroom. terlihat keraguan di wajahnya.
Maklum saja jika dia ragu, bukan tidak mungkin acara aqiqah di adakan di sebuah hotel ternama. Namun, belum umum saja biasanya, aqiqah di kampung ku, hanya di adakan di halaman rumah dengan mendirikan tenda untuk pertunjukan Hadrah dan pengajian.
Sedangkan di sini, mulai dari luar gedung hingga masuk kedalam ballroom di hiasi oleh foto lucu sang bayi yang di bingkai dengan balon dan bunga segar.
"Memang kenapa?"
"Kaya acara kawinan aja," kata jaswin, meneliti seluruh ruangan.
"Bisa saja kan, orang tua si bayi orang yang terkenal," jawab ku sambil mengedikan bahu.
"Yuk ah, kita temui orang nya,"
Kami pun berjalan memasuki ballroom menuju sebuah kamar untuk bertemu dengan pemilik hajat.
Setelah urusan dengan pemilik hajat selesai, aku membantu karyawan ku menurunkan roti dari mobil box kedalam ruangan sesuai perintah sang pemilik hajat.
Setelah semua urusan selesai aku dan jaswin, segera pergi meninggalkan tempat itu. Namun, langkahku terhenti begitu melihat tiga siluet tubuh yang sangat ku kenal.
Keserasian terlihat jelas di antara mereka. Senyum mengembang tampak dari wajah keduanya.
Tangan si wanita yang memeluk erat lengan sang pria. seolah mengatakan bahwa dia adalah miliknya. sang pria pun terlihat begitu tampan dan gagah menggendong putra mereka dengan senyum mengembang di bibirnya.
Aku menatapnya hingga mereka menghadap kearah ku. Namun, sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan ku di sana.
Bagaikan perahu kecil yang terdampar di tengah laut. Terombang ambing tak tentu arah. hatiku hancur tapi pikiran ku berkata aku baik baik saja.
" Kita pulang,"
Jaswin mengusap bahu ku pelan. menyadarkan ku dari kekaguman akan keduanya.
Aku menoleh kearahnya memaksa mulutku tersenyum di hadapan Jaswin.
Bagian terburuk dari menjadi kuat adalah, tidak ada yang bertanya apakah aku baik baik saja.
Aku menatap lurus jalan dengan bayangan senyum bibir mas Yudis dan Inggrid, di tempat tadi.
Mereka terlihat begitu serasi, dan membuat ku semakin yakin bahwa Inggrid, lah orang yang tepat untuk kebahagiaan suamiku.
Jika mereka bertiga saja sudah bahagia, lalu apa artinya aku untuk mereka. Bukankah aku terlihat seperti lalat hijau pengganggu.
Aku duduk termenung di kursi dapur favoritku, menopang dagu di atas meja dengan sebelah tangan. Menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.
"Wajar kali Mil, suami kamu jalan sama Inggrid. Dia kan istrinya juga," kata jaswin, kemudian duduk di depan ku.
Aku menghela nafas , menegakkan badan kemudian bersandar di sandaran kursi.
"Ya tapi, kenapa mereka gak kasih tahu aku kalau mau jalan bertiga. Aku tuh, jadi merasa kayak gak anggap tahu gak,"
"Yaelah, cuma gitu doang," jaswin, mencibir kearah ku.
"Aku merasa gak berharga buat Mereka. Kamu lihat kan, mereka serasi banget. Kayaknya memang Inggrid yang lebih pantes ada disisinya,"
"Kalo menurut kamu Inggrid, yang pantas disisi Yudis, terus kamu pantas disisi siapa?"
Jaswin, menatap ku dengan menautkan kedua alisnya.
"Aku pengen mundur aja. Terus terang aku iri dengan kesempurnaan yang Inggrid, berikan pada suami ku,"
"kesempurnaan bukan berarti sumber dari semua kebahagiaan. kamu memang tidak sempurna sebagai wanita. tapi kamu sempurna sebagai istri dan ibu," kata Jaswin, menatapku.
lelah terkadang memaksa ku untuk menyerah, tapi hatiku berkata aku tak boleh kalah.
"Jujur nih ya, aku tuh salut banget sama kalian bertiga. Kalian itu kelihatan rukun, harmonis. dan gak ada tuh, drama Jambak jambakan atau cakar cakaran istri pertama sama istri kedua, kaya di sinetron sinetron. Yah, walaupun ada sih nangis nangisnya dikit,"
Aku melirik jaswin, kemudian tersenyum kecut padanya.
"Kamu bisa lihat kan? mas Yudis, bahagia banget, Aku merasa gak pantas lagi untuk nya. untuk apa tetap bertahan jika kebahagiaan sudah dia temukan, dan itu tidak ada pada diriku,"
Rasa ketidak percayaan diri kembali menyeruak. membuat aku ragu untuk tetep bertahan.
Apalagi kehadiran Alfin, yang membuat hidup mas Yudis, begitu berwarna.
"Kalau kamu merasa gak pantas, kenapa tidak mencoba untuk memantaskan diri untuk nya,"
"maksudnya?"
Aku mendongak menatap jaswin, dia mengangguk kemudian menggenggam tanganku, "kamu pantas berada di sisi Yudis, bulatkan tekat mu lanjutkan pengobatan yang sempat tertunda ,"
Bahkan aku sendiri sudah lupa jika pernah berobat dan belum menuntaskan pengobatan itu. aku sudah tidak yakin lagi dengan diriku sendiri.
Lelah jika harus menunggu kembali sesuatu yang belum pasti. atau mungkin tidak ada sama sekali yang menjamin kepastiannya.
"masih ada kesempatan, aku yakin kamu bisa,"
"aku takut, kegagalan itu datang lagi,"
"kamu belum coba,"
aku menatap Jaswin, berdoa dalam hati semoga yang dikatakan Jaswin, benar adanya.
"Jika kesempatan itu datang padamu, jadikanlah mereka orang pertama yang tahu kabar bahagia itu,"
jujur saja ketakutan akan kegagalan yang pernah ku alami, mematahkan hati yang penuh harap ini.
aku tak mau lagi di kecewakan oleh penantian yang tak kan pernah ada ujungnya.