NovelToon NovelToon
Cincin Kedua

Cincin Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cerai / Single Mom / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:300.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: IkeFrenhas

Novel romance pernikahan

Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.

Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.

Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.

Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Sepuluh

Vino mendesah panjang. Ia sudah memperkirakan jika memancing istrinya berbicara sudah bisa dipastikan bakalan panjang kali lebar kali tinggi tiada henti. Namun herannya, ia tetap saja suka melakukannya. Anggap saja sebagai hiburan.

“Ya enggaklah. Aku malah seneng kalau kamu ngomel terus,” sahutnya santai lalu menggandeng tangan Olivia agar segera keluar dari kamar. Bisa-bisa tidak akan jadi berangkat mereka itu, dan bisa-bisa ia juga lah yang bakalan menjadi sasaran sebab kegagalan mereka.

Nasib menjadi lelaki, selalu salah di mata seorang istri. Vino berharap hanya bagian itu saja ia disalahkan. Bagian yang ringan-ringan saja dan jarang-jarang. Kalau setiap hari menjadi sasaran empuk kesalahan istrinya, apes lah hidupnya.

Udara dingin menerpa kulit, menusuk hingga ke tulang belulang. Untung saja, Olivia memilih jaket yang tebal tadi. Jika tidak, mungkin tubuhnya telah terbujur kaku karena kedinginan.

Namun, tidak dapat dipungkiri. Berkendaraan bermotor berdua begini ternyata romantis juga. Ia bisa memeluk Vino dari belakang. Melingkarkan kedua tangan di pinggang lelaki itu dan bertemu di perut datar suaminya. Sedikit menghangatkan di tengah gempuran angin pagi setelah hujan deras.

Sesekali, satu tangan Olivia akan meraba perut datar itu lalu naik ke dada bidang Vino. Desiran itu kembali hadir menciptakan debaran menjadi launan musik yang sangat indah. Itu pertama kalinya Olivia merasakan perasaan demikian. Ia sangat bersyukur bahwa sang ayah menyuruhnya cepat-cepat mengambil keputusan menerima atau menolak pinangan Vino saat itu.

Vino juga, sih, tiap hari datang berkunjung. Sampai mereka menjadi bahan gosip para tetangga. Entah bagaimana caranya Vino mendapatkan tempat tinggal di daerah itu. Suatu saat Olivia akan bertanya langsung.

Kendaraan roda dua itu berhenti di samping sebuah gubuk tak berpenghuni. Biasanya gubuk itu dijadikan tempat peristirahatan bagi pekerja yang akan menikmati makan siang, atau menjadi tempat tongkrongan anak-anak remaja setempat.

“Kita istirahat di sini dulu, ya,” ajak Vino seraya mematikan mesin lalu menurunkan standar motor.

“Boleh,” jawab Olivia seraya tersenyum.

Senyum Olivia bagaikan pelangi yang hadir setelah hujan gerimis di kala matahari menyengat panas. Indah tetapi harus menunggu dengan sabar.

Bukan. Olivia bukan tipe yang jarang tersenyum. Wanita itu tergolong kaum hawa yang mudah tersenyum dan ramah kepada sekitar. Hanya saja, senyumnya itu berbeda-beda rasanya di hati Vino. Kali ini senyum Olivia bagaikan embun yang menyejukkan hati. Begitulah.

Vino lebih dulu duduk bersila menghadap jalanan. Sesekali tampak satu dua orang pejalan kaki yang melintas di jalan itu. Sepertinya, para pekerja mulai turun gunung menyiapkan diri dalam pertempuran. Vino tersenyum ramah menyapa orang yang lewat.

Olivia menyusul dengan tentangan plastik di tangan. Vino mengernyit heran sejak kapan ada bungkusan di motor yang dibawanya?

“Kapan bawanya?” tanya Vino agar rasa penasarannya cepat terjawab.

Olivia duduk, lalu membuka bungkusan tersebut. Aroma pisang goreng tercium sangat menggoda cacing untuk berseru meminta jatah makan.

“Aku enggak lihat kamu bawa itu.” Vino berujar lagi setelah tidak jua mendapatkan jawaban dari wanita yang ditanyainya tadi.

“Yee. Makanya kalau naik motor, tuh, lihat-lihat. Masak enggak tahu aku nyantolin bungkusan di bagian depan, sih. Aneh,” cibir Olivia.

“Oh.” Vino hanya bisa pasrah. Begitulah istrinya. Ia berbicara sepatah kata, Olivia akan menjawab dengan kalimat panjang yang terdiri dari beberapa kata yang panjang.

“Ayo makan!” ajak Olivia cuek. Tidak menanggapi respons suaminya tadi.

“Minum bawa enggak?” tanya Vino. Akan aneh rasanya makan pisang goreng tetapi tidak minum, bagaimana jika nanti tersedak atau kehausan?

“Enggak tuh,” timpal Olivia masih dengan gaya cueknya. Ia sibuk mengunyah pisang goreng sembari melihat pemandangan jajaran pohon kelapa sawit yang terbentang luas di hadapannya.

“Gimana, sih. Masak bawa makanan enggak bawa minuman. Gimana kalau kehausan coba?” keluh Vino lalu menghentikan kunyahannya. Menelan pisang goreng yang setengah hancur di dalam mulutnya serta merta membuatnya tersedak. Lelaki itu pun terbatuk-batuk.

“Itulah makanya jangan bawel.” Olivia beranjak turun dari gubuk. Berjalan cepat menuju motor,tidak lupa meraih kunci yang tergeletak di samping Vino.

Olivia membuka jok motor lalu mengambil botol minunm yang berada di dalamnya. Menutup jok itu segera dan kembali menuju gubuk dengan cepat.

“Minum,” ucapnya memberi perintah.

Olivia membuka botol minum itu lalu memberikannya kepada Vino yang masih terbatuk. Membantu lelaki itu minum, setelahnya ia tutup kembali botol tersebut dan meletakkannya di samping bungkusan pisang goreng yang masih tersisa.

“Kita habisin dulu pisangnya, baru lanjut jalan lagi, ya. Nanti kita lihat perkebunan kelapa sawit yang masih anakan. Pemandangannya jadi bagus banget lho.” Olivia berbicara dengan binar-binar bahagia terpancar dari wajahnya. Membuat Vino tidak kuasa untuk menolak.

“Kita kan enggak ada poto pre wedding. Jadi nanti kita poto-poto di sana ya, Kak,” ujar Oliva selanjutnya.

‘Oh. Jadi ini alasannya Oliva ngotot ngajakin ke kebun. Mau poto-poto.’ Vino menggut-manggut tanda mengerti.

“Siap, tuan putrinya Vino yang tampan!” seru Vino dengan kepercayaan diri yang tinggi. Satu tangannya menepuk-nepuk dada. “Aku akan mengantar ke mana pun kamu mau. Ke surganya dunia juga hayok,” kelakarnya kemudian.

“Yeee. Itu sih maunya kamu doang, Kak.” Olivia mencebikkan bibir tidak terima.

“Memangnya, kamu enggak mau?” Vino memicingkan kedua mata mencari sesuatu di binar wanita itu.

“ Ya ... ya mau juga.” Olivia menjawab malu-malu.

Tidak tahan melihat pemandangan di hadapan. Vino pun mencuri kesempatan untuk maraup wajah Olivia. Berbagi napas di tempat itu tidak masalah, ‘kan, toh, mereka sudah halal juga.

“Ehm ... ehem! Kalau mau mesra-mesraan di kamar aja jangan di tempat umum. Malu dong samayang lewat!” seru salah seorang pejalan kaki yang lewat.

Vino mengangguk ramah sedangkan Olivia menenggelamkan kepala di dadanya yang bidang. Menyembunyikan wajah yang memerah dengan bibir yang membengkak seksi.

Setelah itu, keduanya buru-buru meninggalkan gubuk tersebut untuk segera melanjutkan perjalanan ke lokasi tujuan.

Seperti yang dikatakan Olivia, mereka berfoto-foto ria. Berbagai gaya diambil oleh potografer amatiran. Untung saja salah satu pekerja di kawasan itu mau diganggu oleh pengantin baru yang mengambil foto dadakan setelah menikah. Lagi pula, siapa yang berani menolak permintaan majikan.

Ada satu hal yang tidak Olivia tahu. Setelah pulang dari kebun, Vino telah berencana untuk membujuk ibu mertuanya agar segera mengizinkan mereka pindah. Kesenangan yang baru saja Olivia rasakan berubah menjadi kesedihan karena harus berpisah dengan kedua orang tuanya.

Terlebih saat tahu jika keputusan Vino saat itu tidak bisa diganggu gugat. Ada rasa penyeselan mengajak lelaki itu ke kebun.

1
Satria Devi
Luar biasa
Lienda nasution
gak seru akhirnya ..enak saja si veno mudah x diterima olvia gampang x ya dapatkan olivia
Yuliana Tunru
sakit bgt baca x thor ..jika tdk berdosa saat ini lbh baik minta cerai drpd jd mabtu yg tak dianggap dan disalqhkan trs ..vino jd suami tak guna dan mengabaikan istri demi hal yg tak jelas krn sampqi mati alvin jg viona sekalipun.mama x bino tak akan oernah mengagqp x ada ..murisss
Lina aja
terkena jebakan pelakor ni
Lina aja
klw suami kaya gtu emang cape k kita nya....
Lina aja
ahk suami luchnut itu malah nemenin bibit pelakor....istri lagi trauma juga....
Lina aja
mertua gda akhlak itu...suami nya juga lagi jaga anak malah di tinggal"udah celaka j g bisa txnggung jawab
Lina aja
kayanya Raisa tu cuma adik angkat....n vino mulai selingkuh tu m raisa
Lina aja
euleuh itu udah berapa tahun menunggu kehamilan Olivia ni
Lina aja
apakah vino udah punya Wil
Lina aja
keinginan yg harus di ikuti orang adalah keinginan yg egois itu.....
Lina aja
ihk ibu nya vino kayanya blum mau trima menantu nya dengan ikhlas tu
Lina aja
uhk kasian ni mna gda siapa" juga
Lina aja
masih suasana prihatin klw kita memulai semua dari nol.....sabar semoga berkah
Ike Frenhas: aamiiinnn
total 1 replies
Lina aja
klw mertua nya mau menerima menantu y kita juga senang lah
Ike Frenhas: Bener banget
total 1 replies
Lina aja
lanjut
Ike Frenhas
semangat bacanya sampai tamat ya, Kak
Lina aja
lanjut n semangat
Lina aja
lanjut
Lina aja
lucu
Ike Frenhas: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!