Kisah seorang gadis desa yang merantau ke ibukota, dikhianati oleh sang tunangan yang selingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Nasib tragis kembali menimpa, dia di pecat dari perusahaan tempatnya bekerja dengan tidak hormat.
Hingga takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pengusaha muda yang juga memiliki masa lalu kelam, melalui putra kecil pengusaha tersebut yang sangat menyayangi Nabila.
Akankah kebahagiaan berpihak pada Nabila?
Yuk, ikuti perjalanan cinta Nabila dan sang pengusaha, yang mengharukan, romantis, sekaligus kocak 🥰
____
Dalam tahap revisi PUEBI ☺🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Merpati_Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tante Mommy
Nampak di samping bocah laki-laki itu seorang wanita paruh baya sedang kerepotan menenangkannya, tapi sepertinya tidak berhasil karena anak itu masih saja menangis dan meronta.
Nabila berjalan mendekat kearah anak kecil tersebut. Dia kemudian berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan si bocah.
"Hai, Anak Pintar. Kenapa menangis?" tanya Nabila dengan tatapan lembut dan senyuman hangat. Tangannya mencoba mengelus kepala anak kecil itu dan tak terlihat ada penolakan darinya.
Sambil terus mengelus kepala bocah laki-laki itu, Nabila menoleh kepada wanita paruh baya yang saat ini juga tengah menatapnya. "Maaf, boleh saya membantu mencoba menenangkannya?" Nabila memohon kepada wanita tersebut dengan tulus.
Dengan cepat wanita itu mengangguk. "Silahkan nona."
Baru saja wanita itu memberi izin kepada Nabila, dari jauh dia melihat seorang pria tengah menatap dengan intens kearah Nabila dan bocah kecil momongannya. Sontak wanita paruh baya itu terlihat gugup. "Tuan muda ...," ucapnya sangat lirih.
Pria itu menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sebagai isyarat agar wanita tersebut berhenti berbicara. Kemudian dia terlihat mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan menempelkan ditelinga kirinya.
Derrrtt - derrrtt
Terdengar ponsel wanita itu bergetar didalam tas yang dia selempangkan di badannya. Buru-buru, dia mengambil dan kemudian mengangkatnya.
"Iya, Tuan Muda," ucapnya pelan sambil melihat kearah tuan mudanya.
"Bi, tolong jangan matikan teleponnya. Aku mau dengar bagaimana cara gadis itu menenangkan putraku," titah pria tersebut yang ternyata adalah ayah dari bocah kecil itu. "Aku akan mengawasi kalian dari kejauhan," lanjut pria tadi dengan suara beratnya.
"Baik, Tuan Muda," jawab wanita paruh baya itu sambil mengangguk mengerti.
Sementara itu, Nabila yang sedang fokus menenangkan sang bocah tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh wanita tersebut. Kini, bocah kecil itu sudah berada dalam pelukan Nabila.
Sesekali masih terdengar isak tangis dari anak laki-laki itu. Nabila masih berusaha menenangkannya. Mengelus punggungnya dengan lembut dan sesekali mengajaknya berbicara.
"Adik 'kan anak manis, anak pintar. Kalau anak pintar itu gak boleh nangis lama-lama, nanti gantengnya jadi ilang, loh," bujuk Nabila. "Adik mau apa sayang? Tante beliin jajan mau? rayunya lagi, berharap anak kecil itu mau menerima tawarannya dan berhenti menangis.
Tak berapa lama kemudian, bocah kecil itu merenggangkan pelukannya. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap Nabila dengan mata berbinar. "Mau mommy, Kevin mau jajan," ucapnya dengan suara yang masih cadel dan terdengar sangat senang.
Nabila nampak mengerutkan kening dan melihat kearah wanita paruh baya disebelahnya dengan tatapan bingung. Wanita itupun mengerti dan kemudian mengangguk.
"Mommy nya sudah meninggal, Non," bisik wanita itu dengan lirih. "Dari bayi saya yang mengasuh den Kevin," lanjut wanita paruh baya tersebut.
Nabila sangat terkejut mendengar kenyataan pahit dari anak kecil yang saat ini berada di pangkuannya. "Maaf, saya turut prihatin," katanya lirih sambil mengusap-usap kepala Kevin dengan lembut.
"Mommy," panggil Kevin sambil mencubit pipi Nabila yang tengah melamun.
Sontak Nabila tersadar dan sejenak kemudian membalas cubitan Kevin dengan gemas sambil tersenyum manis.
"Kevin mau jajan," ucap Kevin lagi.
"Em ... gimana, ya?" Nabila memainkan kedua bola matanya, menggoda Kevin. "Tapi ada syaratnya. Kevin mau?"
"Apa syaratnya, Mommy?" tanya Kevin dengan suara cadelnya yang menggemaskan.
"Kevin manggilnya jangan mommy, ya. Tapi, Tante," jawab Nabila dengan menatap mata Kevin mencoba memberi pengertian.
"Kenapa?" tanya Kevin heran.
"Lebih enak didengar aja, Sayang," jawab Nabila asal karena bingung bagaimana menjelaskan pada anak seusia Kevin.
"Oke, Boy?" Nabila kemudian mengambil jari kelingking Kevin, lalu mengaitkannya untuk membuat janji agar Kevin memanggilnya dengan sebutan tante.
"Baik, Tante Mommy," ucap Kevin akhirnya setelah beberapa saat terdiam.
"Hm ...." Terdengar gumaman kecil Nabila. "Ya, sudahlah. Terserah anak ini aja," lanjut lirih sambil melirik ke arah pengasuh Kevin.
Bibi yang mengerti kegelisahan Nabila pun mengangguk, mengisyaratkan tak mengapa Kevin memanggilnya dengan sebutan demikian.
Nabila beranjak berdiri dan menurunkan Kevin dari pangkuannya. "Oke. Sekarang kita beli jajan, ya," ajak Nabila kepada Kevin dengan menirukan gaya anak kecil itu bicara. "Kevin mau jajan apa?" Tanya Nabila lagi.
"Kevin jajan bubur ayam aja, Tante Mommy. Karena dari tadi pagi, Kevin belum makan?" Bibi pengasuh mewakili Kevin menjawab pertanyaan Nabila.
"Baiklah. Kita pesan bubur ayam tiga, ya? Buat Kevin, Bibi, sama Tante. Kebetulan, Tante juga belum sarapan," kata Nabila sambil berjalan menggandeng tangan mungil itu menuju court food yang masih berada di lantai satu.
Setibanya di tempat yang mereka tuju, Nabila segera memesan bubur ayam seperti yang mereka inginkan. Sambil menunggu pesanannya jadi, Nabila mengajak Kevin dan bibi pengasuh untuk duduk tidak jauh dari stand penjual bubur ayam tersebut.
"Oh, ya. Kita belum berkenalan," ucap Nabila ramah sambil mengulurkan tangannya kepada bibi pengasuh bocah kecil yang bernama Kevin itu. "Saya Nabila," lanjutnya mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
"Iya, Non," kata sang bibi sambil menerima uluran tangan Nabila dan menjabat tangannya erat. "Saya Ani, panggil saja Bi Ani," lanjut wanita pengasuh itu.
"Baik, Bi Ani," ucap Nabila sambil tersenyum hangat setelah melepaskan jabat tangan mereka. "Bibi panggil nama saya aja, gak usah pakai non," pinta Nabila kemudian.
"Tak mengapa, Non. Gak enak kedengarannya kalau hanya sebut nama," tolak Bi Ani.
"Terserah Bibi aja, deh," ucap Nabila sambil menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, bubur ayam pesanan mereka pun datang.
"Den Kevin disuapin sama Bibi aja, ya," bujuk bibi pengasuh pada momongannya.
"Gak mau! Maunya disuapin Tante Mommy aja," tolak Kevin sambil menutup mulut mungilnya dengan kedua telapak tangan.
"Mau disuapin Tante, ya?" tanya Nabila seraya menatap Kevin.
Kevin pun mengangguk dengan sangat antusias.
"Baiklah," ucap Nabila sambil tersenyum.
"Tapi, Non ...."
Belum sempat Bi Ani menyelesaikan kata-katanya, terlihat seorang pria dengan postur badan yang tinggi tegap sudah berdiri tepat di depan meja mereka.
"Daddy!" teriak Kevin dengan riang sambil menghambur ke pelukan pria tersebut.
Sementara Nabila mengernyit setelah melihat pria itu.
mobil jd gerobak besi