NovelToon NovelToon
GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

GAJAH MADA Sang Penakluk Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

GAJAH MADA – Perjalanan Sang Penakluk Dunia
Darah jelata, didikan sang penguasa, takdir sang penakluk samudra.
Selamat dari pembantaian faksi hitam Mahapati berkat mukjizat perisai emas gaib, bayi kasta rendah bernama Mada diasuh secara rahasia oleh Rama Sidacerma—nama samaran Patih Nambi, Mahapatih Pertama Majapahit yang memalsukan kematiannya.
Di bawah didikan brutal sang mantan perdana menteri, Mada tumbuh menjadi kesatria berotot baja. Ia terlahir dengan takdir tertinggi: sepasang mata sakral Niti Sastra yang mampu memprediksi masa depan, dan Khodam Senopati Zirah Emas —entitas raksasa pelindung serupa dewa perang.
Demi menuntaskan dendam dan membersihkan Majapahit dari pengkhianat, ia merantau ke Trowulan sebagai Gajah Mada. Merangkak dari prajurit kasta terbawah, ia bangkit memimpin Pasukan Bhayangkara hingga mengumandangkan Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara.
Namun, di puncak kejayaannya, sebuah konspirasi mistis luar logika telah menantinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27. Murid Siapa Kau?

Kemenangan telak atas Regu Rajawali di arena nomor empat segera membawa dampak besar yang meluas ke seluruh penjuru kompleks militer Barat. Ketika sore hari tiba dan seluruh lingkaran tali tampar pembatas dibongkar oleh para bintara, nama Regu Serigala telah menjadi buah bibir utama di kalangan para perwira menengah garnisun Trowulan. Namun, di balik kegembiraan Lembu Sora dan Jaka Wulung yang tiada henti membahas runtuhnya pertahanan Lembu Wana, suasana di dalam barak hunian nomor empat justru terasa sangat sunyi bagi Mada.

Mada duduk bersila di atas amben bambunya yang lapuk di sudut paling belakang ruangan, tempat yang sengaja dipilihnya untuk menghindari sorotan mata penghuni barak lainnya. Tangan kanannya tampak sibuk merapikan kain ikat pinggangnya yang kotor oleh sisa pasir lapangan, sementara sepasang matanya menatap kosong ke arah lantai tanah liat kering. Di bawah pengawasan mata sakral Niti Sastra tingkat dua miliknya yang diaktifkan setipis rambut, ia bisa merasakan sirkulasi energinya tetap tenang dan berada di titik dasar, tidak menunjukkan kebocoran energi spiritual emas yang bisa memicu kecurigaan.

(Legitimasiku di depan rekan-rekan regu telah terbentuk dengan sangat solid melalui rentetan kemenangan yang terlihat sebagai sebuah keberuntungan acak. Namun, pancingan taktis yang kulemparkan di lapangan tadi siang pastilah telah sampai ke meja pusat menara pengawas tengah. Kudamerta bukan jenderal bodoh yang akan membiarkan teka-teki poros teknik tinggi ini berlalu begitu saja tanpa adanya kepastian jawaban.)

Sesuai dengan perkiraan matematis Mada, pintu kayu barak hunian nomor empat kembali diketuk dari luar dengan tiga ketukan yang sangat lambat namun memiliki tekanan yang begitu padat. Sosok bintara pengawal pribadi Senopati Kudamerta melangkah masuk ke dalam ruangan, mengabaikan Ragajaya yang baru saja berdiri untuk menyambutnya, dan langsung mengunci pandangan matanya pada sudut gelap tempat Mada berada.

"Prajurit nomor registrasi nol empat puluh tujuh, Mada dari Hutan Tarik," ucap bintara pengawal tersebut, suaranya datar namun mengandung ketegasan yang menuntut kepatuhan mutlak. "Senopati Kudamerta memerintahkanmu untuk segera menghadap secara pribadi di ruang kerja menara pengawas tengah malam ini juga. Tinggalkan tombak kayu latihanmu di sini, dan ikut aku sekarang."

Ragajaya menyipitkan sepasang matanya yang tajam menatap Mada yang mulai bangkit berdiri dengan tubuh jangkungnya yang sengaja dibuat agak gemetar ketakutan. Wiranata yang duduk di amben seberang juga tampak menghentikan kegiatannya merapikan tali perisai, menatap punggung Mada dengan kilatan pikiran yang sangat dalam di balik pelupuk matanya. Mereka berdua menyadari bahwa dipanggil secara pribadi oleh seorang jenderal sepuh penguasa kompleks militer Barat sebanyak dua kali dalam waktu singkat bukanlah sesuatu yang wajar dialami oleh seorang prajurit Tamtama berpangkat rendah.

Mada melangkah mengekor di belakang bintara pengawal, melintasi jalan-jalan setapak berbatu kompleks Barat yang mulai gelap ditiup angin malam. Obor-obor dinding di sepanjang pos penjagaan telah dinyalakan, memancarkan pendaran cahaya kemerahan yang bergoyang pelan menciptakan bayangan panjang di atas permukaan dinding batu luar yang tinggi. Di sepanjang perjalanan, Mada terus mematangkan sirkulasi batin psikologisnya, bersiap menghadapi benturan mentalitas yang jauh lebih berat dibandingkan pertemuan mereka sebelumnya.

Ketika mereka tiba di lantai paling atas menara pengawas tengah, bintara pengawal membuka pintu kayu jati tebal yang diukir dengan lambang cakra militer, lalu membiarkan Mada melangkah masuk seorang diri sebelum akhirnya menutup pintu tersebut dengan rapat dari luar.

Suasana di dalam ruangan kerja senopati terasa sangat menekan. Udara dipenuhi oleh aroma asap kemenyan madu yang dibakar di atas tungku tembaga kecil, bersahutan dengan desis pelan dari sumbu obor dinding yang menyala terang. Di tengah ruangan, sebuah peta besar wilayah Jawa bagian timur telah dibentangkan di atas meja jati panjang, dikelilingi oleh belasan potongan kayu berbentuk bidak pasukan yang disusun dalam formasi pengepungan rapat.

Senopati Kudamerta berdiri membelakangi pintu, menatap lurus keluar jendela menara yang menghadap ke arah hamparan kegelapan Hutan Tarik di kejauhan. Jubah perang merah besarnya tampak jatuh menjuntai hingga menyentuh lantai kayu, memancarkan aura kewibawaan militer yang sangat agung dari seorang ahli perang yang telah menyaksikan berdirinya kerajaan Majapahit sejak benturan kapak pertama di tanah Tarik.

"Hamba, Prajurit Nomor 047, Mada dari Hutan Tarik, menghadap Senopati yang agung," ucap Mada sambil menjatuhkan tubuh besarnya berlutut di atas lantai papan kayu, menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya dengan sikap kepatuhan seorang abdi desa yang sangat ketakutan.

Senopati Kudamerta tidak segera menjawab. Ia membiarkan keheningan yang sangat pekat merayap di antara mereka selama beberapa waktu, membiarkan suara jangkrik malam dari luar menara kian menegaskan tekanan batin di dalam ruangan tersebut. Langkah kakinya yang beralaskan sandal kulit tebal perlahan bergerak memutar, melangkah mendekati posisi bersujud Mada dengan ritme yang sangat teratur.

"Berdirilah, Mada," perintah Senopati Kudamerta, suaranya terdengar sangat rendah namun mengandung kedalaman sirkulasi energi yang mampu menggetarkan permukaan air di dalam cangkir tembaga di atas meja.

Mada perlahan bangkit berdiri, memosisikan tubuh jangkungnya agak membungkuk ke depan dengan sepasang tangan yang saling meremas di depan perut, memasang kembali wajah polosnya yang tampak bingung dan dipenuhi sisa-sisa kegugupan palsu.

Kudamerta berhenti tepat dua langkah di depan Mada. Sepasang mata elangnya yang tajam dan dipenuhi kapalan usia langsung mengunci fokus pada pupil mata Mada, mencoba mencari sekecil apa pun celah kebohongan spiritual yang bersembunyi di balik wajah keluguan pemuda di depannya. Jenderal sepuh itu mengangkat tangan kanannya, menunjukkan sebuah potongan bambu kecil yang ujungnya telah diukir dengan logo cakra militer khusus milik unit pengawal raja purba.

"Siapa sebenarnya guru yang telah menempamu di dalam Hutan Tarik, Mada?" tanya Senopati Kudamerta, suaranya kini tidak lagi berupa diskusi ramah seperti sore sebelumnya, melainkan sebuah tuntutan interogasi yang sangat dingin dan tajam. "Jangan berani mengeluarkan alasan udang sungai atau gerakan serigala hutan lagi di depanku malam ini. Ujian formasi kelompok di arena nomor empat tadi siang telah memberikan jawaban yang mutlak bagi insting tuaku ini."

Kudamerta melangkah mendekati meja peta, menghentakkan potongan bambu tersebut di atas gambar wilayah pedalaman Tarik dengan suara ketukan yang cukup keras. "Cara kamu menjatuhkan dirimu di depan Wiranata tadi siang, itu adalah teknik penutupan celah lambung mati yang disebut dalam kitab bela diri pengawal raja dengan istilah Siasat Membengkokkan Batang Bambu. Sebuah gerakan yang dirancang untuk merusak arah tusukan energi api lawan dengan memanfaatkan berat tubuh mereka sendiri tanpa perlu membuang satu bagian hawa murni milikmu. Gerakan sekuno dan se-elit itu tidak akan pernah bisa lahir dari sekadar melihat kebiasaan hewan liar di dalam hutan!"

Mada membuat bahu jangkungnya bergidik pelan, membiarkan keringat dingin palsu mulai membasahi pelipis keningnya seolah ia sedang berada di bawah ancaman hukuman mati yang sangat mengerikan.

"Ampun, Senopati yang agung," jawab Mada dengan nada suara yang dibuat sangat serak dan bergetar rendah penuh ketakutan. "Hamba benar-benar bersumpah demi dewa matahari bahwa hamba tidak memiliki niat untuk menggunakan teknik pengawal raja yang Anda maksud. Mendiang ayah hamba, Sidacerma, hanya mengajarkan hamba bagaimana cara menjatuhkan diri di atas rumput basah jika ada pohon tumbang yang mengarah ke punggung hamba saat kami mencari kayu bakar. Ayah selalu memukul kaki hamba menggunakan bilah rotan jika hamba salah menempatkan tumit saat melompat menghindari lobang parit, karena menurut beliau tumit yang salah akan membuat pergelangan kaki hamba patah dan kami tidak akan bisa membawa pulang hasil buruan ke gubuk."

Senopati Kudamerta menyipitkan sepasang matanya, membiarkan hawa murni pertahanan alami miliknya mulai mengalir keluar dari pori-pori kulit zirahnya, menciptakan tekanan udara panas tak kasat mata yang mulai menekan sekujur urat raga Mada. Jenderal tua itu ingin melihat apakah di bawah tekanan energi setingkat senopati ini, tubuh Mada akan meledakkan sirkulasi hawa murni emas secara refleks sebagai bentuk pertahanan batin yang tidak bisa dikontrol oleh akting luar.

Namun, dengan kedisiplinan besi yang telah ditempanya selama belasan tahun di bawah bimbingan Patih Nambi, Mada tetap mengunci rapat seluruh lubang spiritual Batara Niti Mandala di titik terdalam sukmanya. Ia membiarkan tubuh fisik alaminya menerima tekanan panas tersebut murni dengan ketebalan dan kepadatan struktur otot alaminya yang luar biasa padat, tanpa membiarkan ada satu riak energi batin pun yang bocor keluar memicu deteksi indra Kudamerta.

"Murid siapa kau sebenarnya, Mada?" tanya Kudamerta sekali lagi, langkah kakinya bergerak mendekat hingga jarak di antara dada mereka hanya tersisa satu jengkal penuh, membiarkan kewibawaan perwira tingginya menekan mental Mada dari arah atas. "Siasat jepitan lambung Supit Urang versi agung yang kamu terapkan di simulasi perang besar kemarin fajar, dan teknik pemindahan berat badan tadi siang... semuanya mengarah pada satu silsilah guru besar yang sama. Seseorang yang mengetahui seluruh rahasia militer terdalam Majapahit masa pendirian, seseorang yang hidup mengasingkan diri di dalam kegelapan Hutan Tarik selama dua puluh tahun terakhir. Apakah ayahmu, Sidacerma, adalah nama samaran dari seorang mantan perwira tinggi yang melarikan diri dari kejaran hukum istana?"

Mendengar pertanyaan Kudamerta yang mulai mengarah pada tebakan identitas asli Rama Sidacerma sebagai Patih Nambi, Mada tahu bahwa ia harus menutup gerbang kecurigaan ini dengan sebuah jawaban emosional yang sangat natural, yang memanfaatkan statusnya sebagai anak yatim yang miskin untuk meruntuhkan fokus interogasi sang jenderal.

Mada mendadak menjatuhkan kembali tubuh jangkungnya berlutut di atas lantai papan kayu, memeluk kedua lutut kaki Senopati Kudamerta dengan tangan yang bergetar hebat, sementara sepasang matanya yang polos sengaja dibuat berkaca-kaca mengeluarkan air mata palsu bercampur kepanikan yang luar biasa besar.

"Ampun, Senopati yang agung! Hamba bersumpah ayah hamba bukan perwira tinggi atau pengkhianat kerajaan!" seru Mada dengan suara yang dibuat agak melengking cemas dan menangis ketakutan. "Mendiang ayah hamba hanyalah seorang tua yang malang yang seluruh tubuhnya dipenuhi oleh bekas luka bakar dan jalannya selalu pincang karena diserang oleh sekelompok bandit di masa mudanya! Beliau selalu batuk darah setiap kali angin malam bertiup dari arah perbukitan, dan beliau meninggal dunia di atas amben bambu gubuk kami dalam kondisi kelaparan karena kami kehabisan persediaan talas di musim kemarau lalu! Jika ayah hamba adalah seorang guru besar atau perwira kaya dari kota pusat, tidak mungkin beliau membiarkan hamba berangkat ke kota Trowulan ini dengan hanya membawa sebuntalan kain kumal dan sepotong baju katun murah yang anyamannya sudah robek di bagian ketiak ini!"

Mada menarik bagian lengan baju katun desanya, memperlihatkan sebuah robekan kain kecil di dekat jahitannya dengan sikap yang sangat menyedihkan dan canggung seorang anak desa yang miskin harta.

Melihat luapan emosi ketakutan Mada yang terdengar sangat jujur, polos, dan dipenuhi oleh kepedihan hidup anak yatim pedalaman hutan tersebut, Senopati Kudamerta mendadak menghentikan seluruh sirkulasi hawa murni pemancingnya. Tekanan panas di dalam ruangan kerja menara pengawas tengah perlahan menyusut kembali masuk ke dalam zirah besi hitamnya, berganti dengan guratan rasa iba dan keletihan batin yang mendalam pada garis wajah sang jenderal tua.

Kudamerta menarik napas dalam-dalam, menatap sosok Mada yang sedang bersujud memeluk kakinya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh misteri pikiran yang sangat rumit. Selama interogasi batin yang paling menekan tadi, ia tetap tidak merasakan adanya getaran energi spiritual Kanuragan Raga atau pendaran Khodam dari dalam sukma pemuda jangkung ini; seluruh respons Mada murni berupa ketakutan alami dari seorang anak bawah yang belum pernah menyentuh kerasnya intrik politik tingkat tinggi.

(Entah dia memang benar-benar hanya sebutir benih mentah yang dikaruniai bakat alamiah dan keajaiban ingatan fisik yang sangat mengerikan hingga mampu mengubah memori didikan berburu ayahnya menjadi strategi perang tingkat tinggi, atau dia adalah seorang aktor spiritual paling sempurna yang pernah dilahirkan oleh takdir Nusantara untuk menipu seluruh indra tuaku ini. Jika dia adalah pilihan pertama, maka Majapahit baru saja mendapatkan sebuah anugerah tak ternilai dari kehendak langit.)

Kudamerta perlahan memegang pundak jangkung Mada, menarik tubuh pemuda itu untuk bangkit berdiri kembali dari lantai papan kayu. "Hapus air matamu, Prajurit Nomor 047. Berdirilah kembali dengan tegak di depan mejaku."

Mada perlahan bangkit berdiri, menyeka sisa air mata palsunya menggunakan punggung tangan kanannya dengan sikap yang sangat canggung dan cicit ketakutan yang dibuat-buat. "T-terima kasih atas kemurahan hati Anda, Senopati. Hamba bersumpah tidak akan pernah salah melangkah lagi di lapangan latihan besok fajar."

Senopati Kudamerta melangkah mundur kembali ke arah meja jatinya, meletakkan kedua tangannya di belakang pinggang sambil menatap lurus ke arah peta besar Jawa bagian timur. "Ujian wawasan dan interogasi malam ini telah dinyatakan selesai, Mada. Jawaban mengenai air mata dan baju katun robekmu telah cukup untuk menutup keraguan di dalam batin tua saya untuk sementara waktu."

Jenderal sepuh itu membalikkan badannya sedikit, memberikan tatapan mata yang sangat dalam dan penuh dengan arti peringatan tersirat yang sangat padat. "Kembalilah ke barak hunian nomor empat sekarang juga, Mada. Teruslah menyembunyikan langkah jangkungmu itu di balik punggung Ragajaya selama sisa pekan ini, karena keputusan resmi dari dewan perwira telah ditandatangani sore tadi. Begitu pelatihan dasar Tamtama gelombang pertama ini ditutup pada hari senin esok, saya sendiri yang akan membawa nomor registrasimu keluar dari jalur prajurit biasa ini dan memindahkanmu secara resmi masuk ke dalam kompleks Akademi Ksatria Majapahit pilihan pusat."

"Murid siapa kau sebenarnya, Mada? Ingat, di dalam kompleks ksatria pilihan pusat nanti, musuh yang akan kauhadapi tidak lagi membawa tombak kayu tumpul yang dilapisi kain tebal. Sebagian dari mereka membawa kekuasaan kasta, sebagian membawa nama besar keluarga, dan sebagian lagi membawa belati fitnah politik yang sedang bergerak di balik kegelapan takhta istana," ucap Kudamerta sebagai kalimat penutup dialognya, memberikan peringatan yang sangat serius mengenai kerasnya pusaran arus kekuasaan yang akan segera diarungi oleh Mada.

Mada menjura hormat sedalam-dalamnya dengan sikap yang sangat patuh dan penuh dengan sisa kecanggungan desa, lalu melangkah mundur perlahan meninggalkan ruangan kerja menara pengawas tengah dengan langkah yang sengaja dibuat terburu-buru seolah-olah ia merasa sangat lega karena bisa lolos dari bahaya maut.

Namun, begitu pintu kayu jati berukir cakra itu tertutup rapat di belakang punggungnya dan ia berjalan menyusuri tangga menara yang gelap bersama bintara pengawal, seluruh wajah keluguan, ketakutan, dan air mata palsu Mada mendadak lenyap dalam satu hitungan napas penuh tanpa menyisakan bekas sedikit pun. Sepasang matanya kembali berkilat dingin, memancarkan pendaran batin emas Batara Niti Mandala yang sangat tajam menembus pekatnya kegerhanaan malam Trowulan.

(Kecurigaan Kudamerta telah berhasil diredam sepenuhnya dan dialihkan menjadi sebuah perlindungan politik yang akan membawaku menembus gerbang Akademi Ksatria pilihan pusat pada senin esok fajar. Tahap awal pemetaan militer bawah tanahku di kompleks Barat telah selesai dengan status kelulusan yang sempurna. Kini, saatnya bersiap menghadapi pusaran arus permainan kekuasaan yang sesungguhnya di jantung pertahanan pusat Trowulan, tempat di mana ujung keris Surya Nggi milikku akan mulai merayap mencari leher Mahapati dari arah bayangan terendah kerajaan Majapahit.)

Mada melangkah dengan ritme kaki yang sangat konstan dan teratur kembali menuju ke arah barak hunian nomor empat, menutup gerbang interogasi malamnya dengan kepastian taktis yang mutlak di dalam sanubari sang abdi bayangan Nusantara.

1
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
nina hariah
cerita nya seru dan menarik
nina hariah
semangat terus updatenya author
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
nina hariah
semangat terus updatenya author
nina hariah
next author
EunHwa
kak mampir donk kak ke kara saya🙏
nina hariah
next author
nina hariah: semangat terus updatenya
total 1 replies
nina hariah
semangat terus updatenya 👍
Argo Sujendro: sudah diupdate, tinggal menunggu disetujui, semoga menikmati ya kak
total 1 replies
nina hariah
next author
Argo Sujendro: oke gasss
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!