"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."
Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.
Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.
Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.
Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sekotak Kehangatan dan Berkas Rahasia
Keesokan siangnya, matahari musim kemarau di SMA Elit Gava bersinar teramat terik. Teriknya memantulkan kilau menyilaukan pada kaca-kaca gedung sekolah yang megah.
Bunyi bel istirahat pertama baru saja berdentang dengan nyaring. Hal itu memicu kegaduhan instan di koridor utama saat ratusan murid mulai berhamburan keluar kelas.
Namun, Lyra Anya Cassandra justru bergerak berlawanan arah. Sambil mendekap kotak bekal plastik hijau pudar miliknya, ia menyusuri selasar sepi yang mengarah ke taman belakang sekolah.
Ia hanya ingin menikmati nasi goreng mentega buatan Nenek dengan tenang, jauh dari pandangan menilai anak-anak kaya di sekolah ini.
Langkah kaki Lyra mendadak melambat saat matanya menangkap sesosok pemuda di bawah pohon beringin tua. Pemuda itu duduk menyendiri di atas bangku taman dengan postur tegak yang kaku.
Bagi Elian Gava Alaric, hidup ini tidak lebih dari sebuah film monokrom yang membosankan. Dunia di matanya selalu terasa abu-abu, dingin, dan mati rasa akibat tekanan serta tuntutan tanpa akhir dari orang tuanya.
Sebagai putra tunggal dari keluarga miliarder yang menjadi donatur terbesar di SMA Gava, semua orang mendekatinya dengan topeng kemunafikan. Hal itu membuat Elian muak dan memilih menutup dirinya dalam ruang hampa yang sepi.
Namun siang itu, sebuah anomali merusak sekat pelindungnya.
Dari balik kabut abu-abu di matanya, Elian menangkap sebuah pergerakan. Sesuatu yang asing tiba-tiba merangsek masuk ke dalam jarak pandangnya.
Seorang gadis berkuncir kuda berjalan mendekat, membawa sebuah kotak plastik hijau pudar. Dan entah bagaimana caranya, seluruh warna yang selama ini hilang dari dunia Elian mendadak meledak kembali, berpusat sepenuhnya pada gadis itu.
Lyra berhenti tepat di depan bangku kayu. Tanpa rasa takut, ia menekuk lututnya dan berlutut kecil di samping Elian.
Ia meletakkan kotak bekalnya yang masih mengepulkan uap hangat di atas bangku, tepat di sebelah tangan dingin Elian.
"Ini untukmu," ucap Lyra lembut, memecah keheningan di antara mereka. "Kata Nenekku, makanan hangat bisa mengusir rasa sedih dan kosong di dalam dada."
Elian perlahan menolehkan kepalanya. Sepasang manik mata hitam jelaganya menatap lurus ke dalam netra jernih Lyra, tajam dan menusuk.
"Kau bicara padaku?" suara Elian terdengar berat dan sangat dingin. "Kau tahu siapa aku?"
Lyra mengerutkan keningnya pelan, tampak bingung dengan pertanyaan itu. "Enggak tahu. Memangnya kamu siapa? Artis?"
Jawaban polos itu membuat Elian tertegun. Di sekolah di mana semua orang memuja namanya, gadis ini menatapnya seolah ia hanyalah remaja biasa yang sedang kelaparan.
"Aku tidak butuh belas kasihan. Bawa pergi makananmu," usir Elian ketus.
Bukannya takut, Lyra justru terkekeh pelan. Sebuah tawa renyah yang terdengar seperti melodi indah di telinga Elian.
"Ini bukan belas kasihan, ini nasi goreng mentega buatan Nenekku," sahut Lyra santai sambil mengulas seulas senyum manis yang teramat tulus. "Cobalah sedikit. Kalau tidak enak, kamu boleh membuangnya nanti. Aku duluan, ya!"
Sebelum Elian sempat membalas, Lyra sudah bangkit berdiri. Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan sudut taman dengan langkah ringan.
Senyuman tulus Lyra sebelum pergi tadi seolah menyisakan jejak warna yang permanen di kepala Elian. Dunia abu-abunya runtuh seketika, digantikan oleh obsesi baru yang mendadak mengakar kuat di dadanya.
Elian mencengkeram kotak plastik hangat itu dengan jemarinya yang bergetar. "Lyra..." gumamnya pelan, membaca nama yang tertulis kecil di sudut tutup kotak bekal tersebut.
_"_"_
Malam harinya, badai obsesi itu mulai bergerak senyap di dalam kegelapan kamar tidur Elian yang mewah. Ruangan luas itu dibiarkan gelap gulita, hanya menyisakan sorot cahaya putih dari monitor laptopnya.
Jari-jemari Elian menari cepat di atas papan ketik. Ia meretas masuk ke dalam database rahasia milik bagian kesiswaan SMA Elit Gava menggunakan hak akses khusus.
Bagi anak dari donatur terbesar yang menyokong seluruh dana sekolah seperti Elian, tidak ada satu pun rahasia yang bisa disembunyikan darinya.
Sebuah bunyi klik pelan menandakan pencariannya selesai. Layar monitor kini menampilkan sebuah dokumen resmi lengkap dengan pasfoto berlatar belakang merah.
Di sana, wajah Lyra Anya Cassandra dengan senyum tipisnya terpampang jelas. Elian membaca baris demi baris informasi di layar dengan ketelitian yang menakutkan.
Lyra adalah siswi kelas Sepuluh-Empat, seorang anak yatim piatu yang hanya tinggal berdua bersama nenek tuanya. Ia bertahan di sekolah elite ini hanya dengan mengandalkan beasiswa penuh jalur prestasi akademik.
Elian menyandarkan punggungnya ke kursi, sebuah senyuman asimetris yang mengerikan perlahan terukir di wajah rupawannya.
Informasi di layar memberi tahu Elian satu hal yang sangat krusial: Lyra tidak punya siapa-siapa di dunia ini selain neneknya. Lyra sangat rapuh, sangat mudah digapai, dan sangat mudah untuk diisolasi dari dunia luar jika Elian menghendakinya.
"Lyra Anya Cassandra..." Elian mengeja nama itu berulang kali dengan nada berbisik, seolah nama itu adalah mantra sihir yang mengunci seluruh kesadarannya.
Ia menyentuh permukaan layar monitor yang dingin, tepat pada bagian pipi dalam foto Lyra dengan gerakan yang teramat posesif.
Elian tidak peduli bahwa mereka baru bertemu satu kali. Yang ia tahu pasti, kehangatan penuh warna yang dibawa Lyra hari ini telah resmi menjadi hak milik pribadinya.
Ia akan memastikan bahwa tidak akan ada satu orang pun di SMA Gava yang boleh menyentuh atau melihat warna milik Lyra selain dirinya sendiri. Bahkan jika ia harus menciptakan neraka terkutuk untuk mengurung gadis itu terlebih dahulu.