NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Tarikan Magnet yang Sama

BAB 31: Tarikan Magnet yang Sama

​Begitu melangkah keluar ke koridor rumah sakit yang lengang, Devano langsung menghentikan langkah kakinya. Dengan gerakan yang tegas namun tetap tenang, dia melepaskan belitan tangan Siska dari lengan kirinya.

​"Mas Devano? Ada apa?" Siska merengut, menatap kekasihnya dengan raut wajah yang sengaja dibuat semanja mungkin.

​"Kamu pulanglah duluan, Siska. Aku baru saja mendapat pesan dari sekretaris kantor bahwa ada rapat direksi darurat yang tidak bisa ditunda," bohong Devano, suara baritonnya terdengar mutlak dan tidak menerima bantahan. Aura otoriter yang terpancar dari tubuh tegapnya membuat Siska tidak berani mendebat lebih jauh.

​Meskipun bibir tipisnya mengerucut kesal, Siska akhirnya mengangguk pasrah. "Ya sudah kalau begitu. Tapi nanti malam kamu harus makan malam di rumahku ya, Mas? Aku akan menunggumu." Setelah memberikan kecupan sekilas di pipi Devano—yang disambut dengan tatapan datar oleh sang CEO—Siska akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan tanda dongkol.

​Namun, begitu sosok Siska menghilang di balik tikungan lift, Devano tidak lantas berjalan menuju tempat parkir. Pria itu justru memutar tubuhnya, melangkah kembali menyusuri koridor menuju kamar VIP nomor 701 setelah memastikan keadaan benar-benar aman.

​Cklek.

​Luna yang sedang duduk bersandar di ranjangnya tersentak kaget saat mendapati pintu kamarnya kembali terbuka, menampilkan sosok tegap Devano yang melangkah masuk dengan santai.

​Saat itu, Luna sedang kesulitan memegang sendok makannya. Tangan kanannya gemetar hebat akibat sisa lemas dari demam tinggi yang menyerang tubuhnya, sementara tangan kirinya terikat oleh selang infus yang membatasi ruang gerak. Beberapa butir bubur ayam bahkan sempat tumpah kembali ke dalam mangkuk karena jarinya yang tak bertenaga.

​Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Devano berjalan mendekati ranjang, mengulurkan tangan kokohnya, dan langsung merebut mangkuk serta sendok dari genggaman Luna.

​"Tuan Devano? Apa yang Anda lakukan?" Luna tersentak, mencoba menarik tangannya kembali dengan canggung. Wajah pucatnya bersemu merah muda karena terkejut. "Kembalikan, Tuan. Saya bisa makan sendiri nanti setelah tangan saya tidak terlalu lemas."

​Devano tidak memedulikan penolakan itu. Dia menarik sebuah kursi besi ke dekat ranjang, mendudukinya, lalu menyendok sedikit bubur hangat tersebut.

​"Jika kamu lama sembuhnya, seluruh laporan keuangan dan jadwal harian di kantorku akan berantakan, Asisten Luna," mendesis Devano dengan nada suara yang dingin dan kaku, menyembunyikan rasa peduli yang sebenarnya mulai mendominasi hatinya. "Buka mulutmu. Jangan membuang waktuku lebih lama lagi."

​Luna tertegun. Di bawah tatapan mata elang Devano yang begitu tajam dan mengunci sepasang manik matanya, Luna akhirnya menyerah. Dia membuka bibir pucatnya perlahan, menerima suapan dari pria yang selama dua tahun ini selalu memperlakukannya dengan kejam.

​Atmosfer di dalam kamar VIP itu mendadak berubah menjadi sangat intim dan canggung. Setiap kali sendok itu bergerak, mata mereka saling bertatapan, menyalurkan getaran-getaran aneh yang membuat dada keduanya berdegup tidak karuan. Ada rasa benci, rindu, dan gairah terlarang yang saling bergesekan di dalam keheningan tersebut.

​Sembari mengunyah makanannya dengan perlahan, ketangguhan seorang Luna Maharani kembali terlihat. Dia tidak ingin terus berada di posisi yang lemah di hadapan Devano. Setelah menelan suapan ketiga, Luna menatap Devano dengan pandangan mata yang tegar dan berani.

​"Tuan Devano, setelah saya keluar dari rumah sakit ini, saya mohon jangan batasi ruang gerak saya lagi," ujar Luna dengan suara yang tertata rapi. "Saya tahu rumah peninggalan almarhum Ayah akan disita oleh rentenir siang ini karena utang itu. Tapi saya berjanji, saya tidak akan pernah lari dari tanggung jawab. Saya akan bekerja dua kali lebih keras, siang dan malam, untuk mencicil seluruh utang keluarga saya kepada Anda."

​Ketegaran Luna—yang sama sekali tidak berniat mengemis belas kasihan atau memanfaatkan kondisinya yang sedang sakit untuk melunasi utang—justru membuat dada Devano berdenyut aneh. Ada rasa kagum yang teramat besar dan dalam yang menyusup ke lubuk hati sang CEO, meruntuhkan sisa-sisa dinding kebenciannya. Wanita di hadapannya ini begitu tangguh, sangat berbeda dengan wanita-wanita manja di luaran sana yang hanya mengincar hartanya.

​"Simpan bicaramu untuk nanti, Luna. Habiskan dulu makananmu," sahut Devano pendek, menolak memperlihatkan bahwa hatinya telah tersentuh.

​Sore harinya, setelah pemeriksaan terakhir selesai, dokter swasta kepercayaan Devano menyatakan bahwa kondisi fisik Luna sudah cukup stabil dan diperbolehkan pulang, dengan syarat harus melakukan rawat jalan dan istirahat total selama beberapa hari ke depan.

​Luna mengira dia akan dikembalikan ke rumah kontrakan kecilnya atau dilepaskan begitu saja. Namun, Devano memiliki rencana lain. Pria itu menolak keras saat Luna meminta diturunkan di pinggir jalan. Dengan otoritas mutlaknya, Devano membantu Luna masuk ke dalam kursi penumpang mobil sport mewahnya.

​Mobil itu melaju membelah jalanan kota yang mulai dipadati oleh kendaraan sore hari. Luna hanya bisa menatap keluar jendela dengan perasaan bingung, karena rute jalan yang diambil Devano sama sekali tidak mengarah ke area kantor maupun ke rumah lamanya.

​Hingga akhirnya, mobil sport mewah itu berbelok masuk ke dalam area sebuah gedung pencakar langit yang teramat eksklusif di pusat kota. Kendaraan mereka berhenti tepat di depan lobi privat sebuah penthouse mewah. Tempat ini adalah properti pribadi milik Devano yang paling rahasia—sebuah hunian mewah yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun, termasuk oleh rekan bisnisnya maupun Siska.

​Devano mematikan mesin mobil, lalu melangkah memutari kap depan untuk membukakan pintu mobil bagi Luna. Saat Luna menatap gedung mewah itu dengan pandangan bertanya-tanya dan bingung, Devano menundukkan tubuh tegapnya. Dia mendekatkan wajah tampannya ke arah telinga Luna, mengembuskan napas hangatnya yang intim di dekat ceruk leher gadis itu.

​"Mulai malam ini, kamu tidak akan tinggal di rumah sewaanmu yang tidak aman itu lagi, Luna," bisik Devano dengan suara bariton yang teramat rendah, seksi, namun sarat akan kepemilikan mutlak. "Kamu akan tinggal di sini, bersamaku. Anggap saja ini bagian dari caramu untuk melunasi cicilan utangmu padaku."

​Luna seketika tersentak, jantungnya berdegup kencang bagai ditabuh bertalu-talu. Dia menatap manik mata Devano yang berkilat pekat penuh gairah yang tertahan, menyadari sepenuhnya bahwa tinggal berdua bersama sang CEO di dalam penthouse terisolasi ini akan membawa hubungan mereka yang penuh benci tapi rindu ke dalam tingkatan yang jauh lebih berbahaya, intim, dan tak lagi bisa mereka kendalikan!

1
Sarbina Sarbina
apa sih maunya di devano ini 😏
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!