NovelToon NovelToon
Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Song Of Songs Mafia : Haga Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Supernatural
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lombu Willem

Haga seorang ketua kriminal gang Ono Sitefuyu menghadiri pesta pernikahan yang dalam sekejap berubah menjadi aksi pembantaian massal. Haga menjadi salah satu korbannya, ditemukan mati bersimbah darah di suatu ruangan.

Keajaiban terjadi, ia diberi kesempatan untuk hidup kembali. Tetapi dalam wujud orang lain, Haga mulai menjalani kehidupan sebagai sorang polisi.

Banyak fakta-fakta menarik yang ditemukannya semenjak jadi seorang detektif. Hendrikus ternyata bukan orang suci dan menyimpan banyak sisi kelam. Ia ternyata bergabung dalam kelompok mafia Song of Songs, sehingga membuat Haga ikut terseret dalam aktivitas para mafia itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lombu Willem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Sakit

"Stefanie?"

Stefanie membuka mata, menyipit melihat ke arah sumber suara. Seseorang berada didekatnya, masih berupa siluet karena silau sinar matahari yang menembus merengsek masuk melewati lapisan- lapisan kaca, berada tepat dibelakang pria itu. Tetapi mengenal suara yang sudah sangat familier baginya. Hubertus.

Setelah retina matanya mampu beradaptasi dengan sinar matahari yang memenuhi ruangan, tampang pria itu akhirnya terlihat sangat jelas. Setindak kemudian beralih memandang sekelilingnya. Ruangan yang asing baginya, namun ia tahu sedang berada dimana. Rumah sakit.

Gadis itu menebak dari bau obat-obatan dan cairan pekat desinfektan yang biasa digunakan sebagai bahan pembersih sesuai standar operasional prosedur rumah sakit. Bau yang hampir sama di seluruh penjuru dunia.

Pakaiannya kini telah berganti, bukan lagi gaun, melainkan pakaian rumah sakit. Agak panas memang. Sampai punggungnya dibasahi keringat, membuat pakaian itu menempel di punggungnya. Selain itu tubuhnya juga bau, aroma dari badannya itu sudah hampir menyerupai bau amonia. Bau pesing.

"Bertus? Aku senang melihatmu," setetes air mata meluncur dari pelupuk matanya. Dia merasa seperti terbangun dari mimpi buruk. Dan bahagia ketika membuka mata, seseorang yang dipercaya olehnya, dengan setia berjaga tepat disisinya. Menemani. Sehingga ia tidak terlalu takut menghadapi mimpi yang mengerikan.

Terlintas dipikiran Stefanie tentang sosok mengerikan yang dimaksud. Haga Harazaki Hia, tunangan yang tak pernah disangka olehnya bakal menghina dia serendah-rendahnya. Bahkan tega menyakitinya. Sosok yang pada akhirnya mempertontonkan sifat aslinya.

Bertus menarik kursinya, sehingga kini lebih dekat ke ranjang rumah sakit. Tempat Stefanie terbaring lemas. "Kau pasti sangat lelah, beristirahatlah," keduanya saling pandang, mengangkat lengannya naik hingga melebihi pundak gadis itu, lalu mendaratkanya di kepala Stefanie. Bertus membelainya.

Akhirnya gadis itu mengangguk, ya. Memejamkan mata.

Ia melihat senyum tersungging dibibir Stefanie. Hal yang membuat Bertus sedikit lega, setelah ia baru saja mengalami hal yang buruk. Dari penjelasan Gideon, Bertus akhirnya mengetahui penyebab luka dileher Stefanie.

Haga melakukannya, menarik kalung yang masih dikenakan Stefanie, sampai membuat gadis itu tersungkur membentur tembok dinding. Tak hanya itu, Haga menyebutnya pelacur dan menjambak rambutnya.

"Si sinting itu mengira aku meniduri tunangannya," mengingat kembali kata-kata yang terlontar dari Gideon, "Menarik kalung dilehernya sampai ia terseret dan tersungkur menabrak dinding,".

Bertus telah menganggap Stefanie seperti adik sendiri. Ia tidak akan segan-segan mempertaruhkan nyawa demi melindungi Stefanie, menghabisi siapapun orang yang berani menyakitinya. Termasuk, meski harus menjadikan Haga sebagai musuhnya.

Hening sesaat, sampai-sampai denting jam dinding rumah sakit terdengar olehnya. Ia menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa melindungi Stefanie. Dan juga gagal menyelamatkan pimpinan sekaligus sahabatnya, Haga.

Sekali lagi, Bertus melirik kearah Stefanie yang kini tertidur lelap, memiringkan badan menghadap kearahnya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Stefanie akan segera pulih. Harapnya.

Berdasarkan hasil data rontgen, dokter mengkonfirmasi tidak ada permasalahan serius pada tubuh Stefanie, terutama pada bagian kepala.

Meski ada sedikit benjolan, tetapi itu bukanlah sesuatu yang perlu dikuatirkan, dan akan mengecil sendiri, seiring berjalannya waktu. "Ia hanya butuh istirahat yang banyak," mengingat-ingat kembali pesan dokter semalam.

Napasnya ditarik dan diembuskan dengan sangat cepat. Mata Bertus menatap jauh menembus wajah Stefanie dan dinding rumah sakit. Mengenang kembali, bagaimana sebuah pesta berubah menjadi pembantaian massal.

Tiga hari lalu, Bertus dan Stefanie diselamatkan oleh sepasukan brimob yang datang menerobos masuk ke rumah pesta. Menapaki tiap-tiap anak tangga, para polisi itu akhirnya tiba di lantai dua dan mengamankan seluruh area.

Sudut demi sudut ruangan diselidiki dengan sangat teliti. Tak ada kamar-kamar yang terlewat oleh pemeriksaan mereka. Dengan cepat terkumpul empat puluh satu mayat yang telah dimumifikasi, dan dievakuasi ke dalam kantong-kantong plastik hitam untuk selanjutnya diotopsi.

Tiga mayat lain juga turut diangkut dari lantai dua. Haga dan kedua pemusik. Berbeda dengan dua mayat lain yang mati akibat luka tembakan, Haga tewas dengan tujuh luka tusukan di area perut, dimana satu diantaranya telak mengenai jantung. Dan Gideon berada dikamar yang sama dengan Haga. Ketika pintu didibrak, ia didapati duduk termenung dipinggir ranjang. Tetapi anehnya tak ditemukan pisau dikamar itu ataupun benda tajam lainnya yang digunakan sebagai senjata pembunuhan.

Baik Bertus, Gideon termasuk Stefanie ikut dibawa untuk dimintai keterangan. Dua petugas medis datang menghampiri Bertus, meminta Stefanie untuk dibawa dengan tandu dan dilakukan pertolongan pertama.

Pasukan Brimob juga menyita emas-emas yang masih melekat ditubuh para mayat, sebagai barang bukti untuk percepatan proses penyelidikan, termasuk permata hitam yang masih tergenggam ditangan Haga turut serta disita oleh para petugas.

Menuruni anak tangga, Bertus dan Gideon akhirnya sampai kembali di ballroom dan menyaksikan lautan manusia yang tewas bersimbah darah. Bertus bahkan menginjak beberapa longsongan peluru dengan sepatu pantofel hitam miliknya. "Ah, sekarang kita benar-benar bisa pulang," menoleh kearah Gideon.

"Mungkin," kata Gideon. Ia tidak terlalu fokus meladeni percakapan Bertus disebelahnya. Matanya sibuk menelisik satu bongkahan mayat ke bongkahan tubuh lainnya. Erika. "Apakah ia selamat?" gumam Gideon. Berharap gadis itu tidak ikut juga dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam besar yang berserakan di lantai.

Ruangan itu kini telah dipenuhi petugas polisi, termasuk Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (INAFIS) para jenius yang bertugas menyelidiki sidik jari hingga jejak-jejak darah di tempat kejadian perkara. Beberapa diantara mereka terlihat sedang memasukkan selongsong peluru kedalam satu plastik bening berukuran kecil dan mondar-mandir layaknya seorang fotografer, mengabadikan gambar para korban.

Polisi pun menggiring mereka keluar dari bagunan. Banyak warga kota dan wartawan menyemut dipinggir pita kuning yang telah membentang di sepanjangan bangunan.

Gideon mengembuskan napas, menatap ke angkasa, masuk kedalam mobil polisi. Begitu juga dengan Bertus, masuk kedalam mobil polisi yang berbeda. Lega setelah melihat Stefanie dimasukkan kedalam ambulance.

Ponsel milik Bertus bergetar, notifikasi pesan masuk. Keheningan tersebut pun akhirnya pecah. Pesan yang baru masuk tidak terlalu penting baginya, sms penipuan memenangkan undian.

Pesan kedua, didapatnya saat mengendarai sedannya sehabis berbelanja di minimarket dekat dengan rumah sakit, untuk membeli keperluan Stefanie. Tetapi Bertus lupa untuk membacanya.

"Hari ini kita melayat ke rumah Haga," pesan itu datang dari Hamid. Setelah membaca pesan itu, ia mengetuk-ngetuk layar sentuh telepon genggam miliknya, mengiyakan bergegas kesana.

Bertus berdiri mendekati meja, mengambil secarik kertas dari kresek putih, struk belanjaan dan menulis pesan untuk Stefanie.

"I will be back soon," menindih kertas itu dengan gelas yang terisi separuh air mineral.

Bertus berjalan keluar dari pintu kamar dan melewati koridor rumah sakit. Kepada resepsionis yang berjaga, ia meminta tolong kepada mereka untuk menjaga Stefanie dan segera mengabarinya seandainya terjadi apa-apa pada gadis itu

Bertus dalam perjalanan ke rumah Haga.

1
Ansar rauf
pusing bacanya, alur ceritanya berbelit-belit
Ansar rauf
mantap
Ansar rauf
👍
Lady Meilina (Meilina07.)
mampir thor
Honeybee_🐝
Hadir thor....🥰
Tetap Semangat 💪
Salam dari ( Ayah dari calon anak sambungku )
Ummu Jihad Elmoro
aku mampir, kk.. 😇
Nnzxy
lanjut kak semangat!!
aku udh mampir
Lombu Willem
Terimaksih kak 🙏
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNOL💘 ¢ᖱ'D⃤
dh mampir thor
anggita
gunungsitoli,, sumatra utara.👏
anggita: smoga novel sampeyan sukses yah.,
total 2 replies
anggita
👍👌👍👌
anggita
trus berkrya.
anggita
mpir nglike👍 ae lah.
qinan_velvet
Ikut nyimak Kak...... gelar karpet dulu..... Semangat
KumiKimut
lanjut ❤️
Lombu Willem
terimakasih juga kak 🙏
Pangeran Matahari
semangat y kk..

mampir jg kekisah cinta cucu manja oma
Pangeran Matahari
keren novelnya
ForGoodluck
Thor, dapet notifikasi dari update-an ceritamu itu kayak minum es di siang hari bolong!
Lombu Willem: menyegarkan atau bikin sakit gigi 😅
total 1 replies
Lombu Willem
Sip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!