sebuah lengan membawaku kedalam pelukannya entah kenapa ragaku tidak bisa aku kendalikan, aku menatapnya lelaki dengan manik coklat dengan rahang kokoh.
sentuhan demi sentuhan membuatku terlena, aku tidak bisa berbuat apa apa entah ada apa dengan tubuhku, aku menikmati setiap sentuhannya.
"egh"
hanya itu yang keluar dari mulutku, hingga sesuatu yang melesak masuk kedalam tubuhku aku hanya mampu menangis namun menikmatinya sangat menikmatinya.
hingga berita kehamilan menyebar membuatku tak bisa mengelak sebuah pernikahan dengan lelaki yang tidak aku inginkan menjadi tameng penghalang impian impianku untuk meniti masa depan yang indah dan cerah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiya12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Masalalu
Rey menatapku, tubuh polos dibawah kukungannya tiba tiba rasa malu menyergap hati. Refleks kedua tanganku menutupi payudara dan kemaluanku.
"kenapa ditutup?" tanya nya membuatku sedikit kikuk.
"kenapa dilihat?" kataku bertanya, dia terkekeh geli tangannya mengambil leherku lalu mendaratkan sebuah kecupan dipucuk kepala. ada desir aneh yang aku rasakan lagi, sungguhkah? apa ini? seperti inikah perasaan cinta?
"aku ingin menyentuhmu, bahkan membuatmu tidak bisa berjalan besok" katanya, tubuhku meremang.
dia membawaku duduk diatas tempat tidur hanya duduk, lalu ia mulai membuka suaranya.
"aku bajingan Kena, dengan mudahnya aku menidurimu bahkan hampir ketiga kalinya" dia menatapku lekat, matanya memancarkan binar penyesalan.
"ada apa?" tanyaku.
"aku ingin kita menikah secepatnya, setelah pulang dari amrik aku akan langsung melamarmu" ucapnya. mataku membulat, rasa tidak percaya membuatku diam tanpa kata.
"aku ingin setelah ini, tubuh indah ini menjadi miliku tidak diumbar untuk semua mata" ujar Rey, aku mencoba mencerna setiap kata katanya.
"Rey, maksudmu?" Rey menggeleng sambil tersenyum melihatku dari ujung rambut hingga bawah.
"kamu cantik" katanya sambil membelai lembut rambutku. Aku menatapnya, dia bangkit lalu mengambil sebuah paperbag di dalam lemari.
"bukalah" pintanya saat paperbag itu berpindah ke tanganku, dengan sedikit ragu aku membukanya. aku mengeluarkan sebuah kotak lalu membuka tutupnya.
sebuah long dress dengan lengan tiga perempat, untuk apa? pikirku.
"aku mau mulai besok sampai aku kembali kamu memakai pakaian yang menjaga tubuhmu, setelah aku menikahimu kamu tidak boleh mengenakan apapun" katanya, aku menganga tidak percaya.
"a..." ponselnya berdering, tubuh telanjang itu menunjukan kemolekan seorang pria perkasa.
"ya ada apa?"
"...................."
"di percepat? oke oke aku bersiap sekarang" ucapnya lalu mematikan sambungan telponnya, entah siapa yang menelponnya larut malam begini.
"sayang, aku harus bersiap jet pribadiku sudah di bandara dan aku harus segera pergi" katanya terburu buru, ia mengambil asal pakaiannya lalu memakainya dengan cepat.
"t... tapi Rey" kataku, yang merasa dikecewakan dan dipermalukan setelah tubuh polos hanya dilihat seperti ikan dipasar.
"tunggu aku pulang" ucapnya lalu mengecup keningku, dia pergi tanpa menunggu jawabanku.
Tok Tok Tok
aku melihat Vanya menyembul dibalik pintu, ia masuk dengan senyum menenangkan.
"ada apa?" tanya nya, aku menggeleng. Vanya memberiku sebuah kotak, entah apa isinya aku malas untuk membukanya.
"kau tidak membukanya kena?" aku menggeleng, malas berbicara.
"lihatlah besok, aku mau istirahat goodnight" aku mengabaikannya, hingga suara pintu ditutup mataku mengamati kotak yang diberikan Vanya padaku...[]
satu minggu berlalu, tanpa Rey tubuhku seperti tak bernyawa, dengan malas menuruni anak tangga melihat papah sedang asik membaca koran diruang keluarga.
"kenapa wajahmu pucat kena?" aku menatap lelaki yang kini sudah berkeriput itu.
"kurang istirahat aja pah, papah tumben dirumah?" tanyaku, menghampiri papah yang kini melipat korannya.
"papah lagi free ngga ada meeting hari ini, kamu sendiri?" tanya papa, matanya menatapku lekat.
"aku kurang enak badan, jadi ngga masuk hari ini nanti sekertaris ku yang handel semuanya" ucapku.
"perlu ke dokter? atau panggil saja dokter keluarga" tawar papah.
"engga usah pah, aku mau istirahat aja hari ini besok juga udah Vit lagi seperti biasa" kataku, tak lupa dengan senyum yang manis.
"oke" papah menyesap kopi hitam buatan bi inah lalu menyimpannya kembali "gimana Rey? ada kabar?" tanyanya kemudian, aku menggeleng lemah.
"mungkin dia sibuk, yasudah papah mau ke kebun belakang dulu kamu istirahat lah" ujar papah.
"iya pah" dengan malas mengambil remot TV lalu menyalakannya, chanel demi chanel aku telusuri hampir semua akun gosip lalu sinetron ku menangis, ah tidak bukan itu judulnya tapi ya bi inah bilang sinetron ku menangis.
ponsel ditanganku berdering, aku mengusap layarnya.
"halo Van"
"......"
"ngga enak badan, iya gimana nantilah ya" dengan malas aku menaruh ponselku dengan asal membiarkan sambungan telpon dengan Vanya tetap menyala.
tiba tiba aku merindukan Rey, sentuhan tangannya pelukannya, perhatiannya dia yang rela kedinginan demi memberiku kehangatan, dia yang rela membawaku makan ditempat yang aku inginkan padahal makanan di pedagang kaki lima.
hari sudah menunjukan pukul 16.12 sore, aku sudah rapih dengan kaos oversize berpadu rok plisket selutut.
"mau kemana?" tanya bi inah mengejutkan ku, aku mengecup pipinya.
"aku mau pergi ke taman bi, disana kayaknya ada cilok gitu deh kayaknya enak yaa bumbu kacang" ujar Kena pada bi inah dengan binar bahagia.
"t... tapi non"
"aku beliin buat bibi" kena memotong ucapan bi inah, perempuan tua itu menghela nafas kasar sedikit aneh dengan tingkah sang majikan.
tiba di sebuah taman yang biasanya banyak pedagang kaki lima menjajakan jualannya disana. Kena berjalan mencari cilok, namun saat matanya melihat batagor, siomay, kerak telor, kentang krispi, cilor, bilor dia langsung menyerbu semuanya rela antri dengan anak remaja.
"ih kaka mau beli cilor juga?" tanya seorang gadis dengan seragam putih biru.
"hem"
"kaka tuh seusia mamaku masa jajan beginian mamaku aja ngga suka" ujar gadis itu, Kena sedikit melotot membuat gadis itu sedikit menciut, matanya menangkap tentengan pelastik ditangan Kena.
"banyak banget jajannya, aku aja kalah loh" komentarnya, kena menghela nafas saat melihat begitu banyak pelastik kecil ditangannya.
"aku duluan" pamit kena setelah mendapatkan bagiannya, ia duduk di sebuah bangku panjang dengan view anak anak tengah bermain ayunan.
"eh, Kena tumben elo disini" sofi menghampiri kena, dia bahkan duduk disamping perempuan itu, meski tidak ada respon apapun yang keluar dari mulut kena.
"banyak banget jajanannya seorang Kena makan jajanan beginian? levelnya anjlok ya?" kena hanya melirik lalu kembali fokus dengan makanannya.
"kau tau kena? Rey adalah laki laki yang aku cintai dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya kembali" ujar sofi membuat Kena membulatkan matanya.
"selama kau tidak mengganggu hidupku terserah apa yang ingin kau lakukan" ujar kena dengan tegas.
"bagaimana tidak mengganggu hidupmu, Rey bagian darimu bukan?" aku menghentikan gerakan tanganku menatap sofi dengan malas.
"kau tau apa tentangku? kau hanya perebut dan pengacau" ujar Kena, ia teringat kejadian beberapa tahun silam saat dirinya akan melangsungkan pernikahan.
semua tamu sudah hadir, namun mempelai pria tidak kunjung datang. Acara yang diselenggarakan di oudor tiba tiba mendung rintik hujan membubarkan tamu undangan seorang wanita dengan gaun pengantin putih yang cantik berdiri di altar pernikahan hanya sendirian tidak ada siapapun hanya guyuran hujan.
dengan gontai dia berjalan, sebuah rumah 9x6 disebuah komplek ternama. ia membuka pintu yang tidak dikunci matanya disuguhkan pemandangan yang menjijikan. Pakaian berserakan dilantai dan pintu kamar sedikit terbuka suara ******* dan racauan dua manusia terdengar begitu menjijikan di telinga perempuan itu, Kena.
"jadi ini alasanmu tidak datang di hari pernikahan kita?" tanya nya membuat dua manusia yang tengah dimabuk gairah itu terkejut.
"kau disini?" tanya lelaku itu dengan sedikit gugup.
"ini alasanmu?" tanya kena, dia perempuan itu adalah sofi-temannya.
"aku pikir menikah denganmu sangat tidak mungkin, lagi pula papah mu itu payah dia tidak akan menerimaku sebagai menantunya" jelasnya yang membuat Kena naik pitam.
"lihat dia, sofi begitu menggoda tubuhnya juga nikmat sedangkan kau? aku tidak tahu lelaki mana saja yang sudah tidur denganmu kena" lelaki itu terus menghina Kena, hingga sebuah vas bunga melayang mengenai kepala lelaki itu.
"awh" lelaki itu memegangi kepalanya yang berdarah.
"aku percaya bahwa sampah yang menjijikan memang akan kembali ke asalnya" ujar kena dengan tajam lalu dia pergi meninggalkan tempat itu.
Sofi, mengingatkannya kembali pada masalalu yang kelam saat itu papahnya tidak tahu jika dia akan menikah tamu yang diundang hanya beberapa untuk menjadi saksi saja.
"kau ingat hari itu kena?" ujar sofi menyadarkan Kena.
"aku tidak perlu mengingat sampah yang busuk" ujarku, dengan cepat berkemas dan pergi meninggalkan sofi sendiri ditempat itu.
sofi menatap kena dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Setibanya dirumah, Kena membanting semua yang dibawanya diatas meja membuat bi inah terkejut ia berlari masuk kedalam kamarnya. matanya menangkap sebuah kotak di atas meja rias, kotak pemberian Vanya malam itu.
dengan perlahan ia membukanya, sebuah surat dan sebuah cincin.
"mungkin ini terlalu cepat, tapi aku mencintainya, will you marry me?
Rey" kena membulatkan matanya tangannya tak lupa menutup mulutnya yang menganga, isi surat itu adalah sebuah bentuk Rey melamaranya, ia mengambil cincin yang tersemat dikotak itu lalu memakainya.
"i will Rey, cepat kembali" ucapnya dengan hari, bahkan air mata yang keluar kini adalah air mata kebahagiaan, tidak sabar rasanya ingin bertemu dengan Rey.
lanjutkan