Kariva Diana Natashya, gadis cantik di kampus X yang menyandang predikat sebagai bunga kampus. Katanya, “tidak tertarik dengan kaum adam.”
Masa iya, sih?
Namun, hidupnya berubah 180° ketika sang ayah menjodohkannya dengan anak sahabat dengan alasan “permintaan terakhir.”
Hei, Ayah Heru baik-baik saja, kok. Tidak sakit ataupun sekarat.
Tak ingin mengecewakan sang ayah, Natashya mengangguk saja. Toh, tidak ada larangan bahwa mahasiswa tidak boleh menikah, kan?
Masalahnya, cuma satu. DIA TIDAK MENGENAL CALON SUAMINYA!!
❄️❄️❄️
Antonio Riko Alfiansyah, lelaki tampan di kampus X yang menyandang predikat idola kampus nomor satu. Kata mahasiswi di sana, sih, “tampannya tumpah ruah.”
Lelaki yang tidak pernah mengenal kata pacaran ini berakhir dijodohkan dengan gadis keturunan es yang suka bicara pedas. Anton jadi kurang yakin untuk menerima.
Tak ingin mematahkan kebahagiaan Mama-nya, Anton menerima saja. Yang penting keluarganya bahagia, dia juga bahagia, kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayla Noona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 | Wedding Day
Natashya keluar dari kamar ketika jam menunjukkan pukul setengah empat pagi. Paras gadis itu tertekuk, rasa kesal dan sebal menyelimuti hatinya.
Bagaimana tidak kesal coba?
Riana membangunkan Natashya sepagi ini. Padahal, kan, acaranya masih jam sembilan nanti.
Kata Riana, sih, begini, “Tashya, persiapan sebelum pernikahan itu lama. Kamu, kan, masih harus mandi, pake kebaya, di-make up, terus bla bla bla bla....”
Wah, Natashya sampai lupa apa yang bundanya katakan! Terlalu panjang soalnya.
“Udah mandi, kan, Shya?” tanya Riana tanpa mengalihkan amatan pada pernak-pernik pernikahan yang tertata di meja.
“Hm.”
“Ya udah, pake kebayanya sana.”
Natashya mendengkus. “Ini baru jam setengah empat pagi, Bun. Acaranya masih lama.”
Riana menoleh, kedua tangannya bersarang di kedua sisi pinggang. Wanita itu sedang bersiap mengeluarkan jurus omelan mautnya. “Kamu itu, ya. Kan, Bunda udah bilang kalau—”
“Bun, please, deh. Jangan berlebihan.” Natashya mulai jengah. Ia mengambil langkah menuju kamarnya dan mengunci diri di sana. Natashya bertekad baru akan keluar ketika jam menunjukkan pukul enam.
Masa bodoh sama Riana atau Heru sendiri yang akan menggedor-gedor pintu kamarnya nanti. Pokoknya Natashya tidak mau keluar!
Yang nikah gue, yang ribet Bunda.
Yang nikah gue, yang heboh Ayah.
Yang nikah gue, yang cemas Abang.
Terus gue harus ngerasain apa kalo semuanya udah mereka embat?
Natashya geleng-geleng. Keantusiasan orang-orang memang besar sekali, ya, terhadap pernikahannya ini. Dirinya saja tidak merasa seperti itu.
“Tidur aja, deh.” Natashya bersiap di atas ranjang dan menyelimuti dirinya sendiri. Manik hitamnya terpejam bersamaan dengan benaknya yang melayang ke dunia mimpi.
BRAKK.. BRAKKK.. BRAK!
“NATASHYA! AYO KELUAR! KAK ANTON NYARIIN LO, NIH!”
Aarrgghhh... demi Park Jimin yang jatuh cinta sama gue, gue bakalan buat lo nyesel, Ly! Lihat aja pembalasan gue!
Natashya turun dari ranjang dengan emosi meledak. Tangannya memutar kunci dan menarik kenop hingga pintu terbuka. “Bisa nggak, sih, lo di—”
Natashya termangu. Bukan Laily yang berdiri di depan pintu, tapi Anton.
“Gue bisa apa?” tanya Anton bingung.
Natashya menghela napas, berusaha menurunkan kadar emosinya yang sudah berada di tingkat teratas. “Bukan apa-apa.” Manik Natashya memindai penampilan Anton dari ujung surai hingga ujung tungkai. “Kenapa nyariin gue?”
“Gue... disuruh, ehm.. Bunda ngajak lo jogging.”
Natashya menghirup napas dalam-dalam. Ini pasti akal-akalan Riana agar dirinya tidak tidur lagi. Lihat saja, Natashya akan buat perhitungan dengan bunda tercantiknya itu.
“Gue ganti baju bentar.” Natashya kembali menenggelamkan diri dibalik pintu, perasaannya jengkel bukan main.
Liat aja, Bun. Tashya akan buat Bunda ketemu sama Dokter Prisa.
Seringaian licik Natashya terpatri cantik di bibir gadis itu.
...❄️❄️❄️...
Anton dan Natashya berjalan beriringan di jalan setapak yang tersedia. Pemandangan pantai di pagi hari SEKALI tidak terlalu mengagumkan. Suasana juga masih sangat sepi.
Jelas! Ini baru jam empat pagi. Bahkan, matahari masih belum menunjukkan sinar penuhnya.
Kenapa, sih, lo mau-mau aja disuruh-suruh sama Bunda?! Gue aja ogah.
Mau jadi menantu idaman, ya?
Demi apa pun, Natashya ingin sekali melontarkan kalimat itu pada lelaki di sebelahnya ini. Kenapa bisa dia mau disuruh jogging di jam segini?
Jogging itu, kan, fungsinya biar kita sehat dengan lari pagi sambil berjemur di bawah sinar mentari pagi.
Terus, ini mataharinya mana woy?!
“Shya,” panggil Anton setelah keheningan menerpa keduanya selama beberapa saat.
“Hm?”
“Lo... punya mantan?”
Sontak Natashya menghentikan ayunan kakinya, beralih menatap punggung kekar Anton yang terbalut kaus tebal. Lelaki itu sepertinya bertanya tanpa pikir panjang. Terlihat dari caranya yang tetap melangkah tanpa melihat reaksi Natashya atas pertanyaannya itu.
“A–apa?” tanya Natashya memastikan. Takutnya, ia salah dengar.
Anton berbalik, kali ini bayangan dada bidang dengan perut sixpack terngiang-ngiang di otak Natashya. Pasti nyaman sekali jika dijadikan sandaran peluk. Pelukable banget.
Wah, otak Natashya jadi bermasalah sekarang.
“Lo punya mantan?” Anton mengulang pertanyaannya, tidak ada keraguan di binar mata lelaki itu.
Natashya berdeham singkat, menetralkan diri dari rasa... aneh(?) yang menelusup ke dalam dirinya.
“Nggak ada.”
Anton menghembuskan napas lega. Jadi, pikiran gue salah? Terus, waktu itu kenapa dia panik saat gue bilang jumlah tamunya ada 500?
Mencurigakan sekali dia.
“Kenapa nanya?” tanya Natashya. Mata gadis itu memicing curiga. Sikap Anton agak aneh dari biasanya.
Kini giliran Anton yang merasa gugup. Otaknya merutuki diri sendiri yang sudah berbuat tanpa berpikir dahulu.
Gila, ngapain juga lo nanya soal mantan ke dia?! Mau dia punya 100 mantan pun gue nggak peduli.
“Ehm, iseng aja.”
Natashya sebenarnya masih curiga, tapi ia tak menghiraukan. Dia memutuskan untuk berbalik ke villa karena waktu subuh akan segera datang.
Anton mengekori Natashya dari belakang. Punggung tegap, pinggang ramping, bahu kecil yang nyaman, dan mungkin... spot empuk untuk bantal darurat?
Anjir, kenapa gue mikir begituan?!
...❄️❄️❄️...
Natashya memandang refleksi dirinya di dalam cermin dengan saksama. Sosok gadis berselimut kebaya tengah berdiri anggun di sana. Make up natural Natashya menambah kadar kecantikan gadis itu.
Mungkin definisi HAMPIR sempurna itu seperti Natashya ini?
“Udah siap, kan, Shya?” tanya Laily yang bertugas mendampingi Natashya sebelum panggilan datang. Gadis itu juga memakai kebaya serupa, namun lebih sederhana dari milik Natashya.
“Hm.”
Jujur, ya, jantung Natashya serasa mau copot. Ini sudah seperti detik-detik menyambut berhentinya jantung saja. Gugupnya bukan main!
“Gugup nggak, Shya? Pipi lo merah tuh.”
Natashya merotasikan bola mata. “Ini blush on kalo lo nggak tau.”
Laily tergelak pelan. Sangat menyenangkan menggoda Natashya seperti ini.
Ceklekk...
“Shya, ayo turun.” Randy datang dengan setelan beskap resminya.
Natashya digandeng Randy menuju tempat pengucapan ijab qobul. Di sana sudah sangat ramai walaupun yang hadir hanya pihak keluarga dan beberapa orang yang dianggap penting.
Jantung Natashya berpacu hebat, serasa habis lari maraton mengelilingi Bali. Di sana, tepat di depan penghulu dan Heru, Anton duduk dengan tampang datarnya. Ketampanan lelaki itu jauh berkali-kali lipat bertambahnya. Mempelai wanita ini bisa gila jika terus melihat makhluk seperti Anton. Natashya pun didudukkan di sebelah lelaki itu oleh Randy.
“Tenang, Shya. Lo pasti bisa,” bisik Randy menyemangati.
“Baiklah, kamu sudah siap, Yo?” tanya Heru.
Anton mengangguk yakin.
Heru menjabat tangan Anton dan berucap lantang, “Ananda Antonio Riko Alfiansyah bin Tio Anggara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Kariva Diana Natashya dengan maskawin berupa emas 25 gram dan seperangkat alat salat, tunai!”
Anton menghirup napas dalam-dalam. “Saya terima nikah dan kawinnya Kariva Diana Natashya dengan maskawin tersebut, tunai!”
“Bagaimana para saksi? Sah?”
“SAH!”
“Alhamdulillah.”
Demi apa gue udah jadi istri orang sekarang?!
^^^To be continue...^^^
...❄️❄️❄️...
Sah, kan, guys?
Yuk, ucapin selamat ke Natashya dan Antonio.
Yeayy..
See you di chapter selanjutnya:)