NovelToon NovelToon
ONCE AGAIN

ONCE AGAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Ketos
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Irdyna Aira

Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.

Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 bagian 22: belajar bersama, bukan menyalin

Suasana kelas XII IPA 1 benar-benar hening dan kondusif.

Hanya terdengar gesekan pensil mekanik yang menari di atas kertas, diiringi bunyi desir lembaran kertas yang dibalik. Sebagian besar siswa fokus melahap sepuluh soal latihan matematika dari Pak Rudi.

Karena bab materi ini memang belum sempat diajarkan secara resmi di depan kelas, sesuai aturan Pak Rudi, para siswa diperbolehkan mencari referensi tambahan melalui ponsel. Seketika, meja-meja di sekeliling ruangan dipenuhi layar gawai yang menyala. Ada yang berselancar di Google, menyimak video pembelajaran di YouTube, hingga mencari pembahasan contoh soal serupa di aplikasi belajar.

Pak Rudi tidak menegur. Beliau sesekali berjalan menyusuri lorong antar-meja untuk memastikan ponsel-ponsel tersebut benar-benar dimanfaatkan untuk belajar, bukan untuk membuka media sosial.

Namun... di sudut meja dekat jendela, ada pemandangan yang sedikit berbeda.

Arga dan Nadira sama sekali tidak menyentuh ponsel mereka. Ponsel Arga tersimpan rapi di dalam ransel hitamnya, begitu pula ponsel Nadira yang aman berada di saku depan bag.

Senjata utama yang mereka gunakan justru adalah buku cetak Matematika tebal, buku catatan bergaris, serta bundel kumpulan rumus yang sudah mereka susun rapi sejak duduk di kelas sebelas.

Arga membolak-balik halaman buku cetak dengan cermat. "Kayaknya rumusnya pernah kita bahas deh..." gumamnya pelan.

Nadira ikut menyisir daftar isi di halaman depan. "Bentar... bab transformasi geometri?"

"Bukan," geleng Arga. "Ini juga bukan."

Arga menunjuk sebuah bab di halaman lain. "Nah, coba lihat yang ini, Dir."

Nadira memiringkan kepala, membaca ringkasan bab tersebut sekilas. "Hmm... bukan juga, Ga. Parameter soalnya beda."

Mereka kembali membalik beberapa lembaran. Tak berselang lama, jemari Arga berhenti di satu halaman tertentu.

"Oh! Ini dia kayaknya," bisik Arga berbinar.

Nadira menyusulkan pandangannya. "Nah, iya! Bener banget! Halaman seratus tiga puluh dua."

Tanpa buang waktu, Arga menandai halaman tersebut menggunakan sticky note transparan. "Sip, ketemu."

Keduanya lantas kembali berkutat pada lembar jawaban masing-masing. Mereka tidak pernah saling meniru atau menyalin angka akhir. Jikalau ada diskusi yang mengalir di antara mereka, yang dibahas murni adalah alur logika berpikir, bukan menyalin hasil secara instan.

Beberapa menit berlalu. Arga mendadak menghentikan goresan pensilnya di nomor enam. Keningnya berkerut dalam, jemarinya menggaruk pelan rambut belakangnya yang tak gatal.

"Aduh..." gumam Arga pasrah. "Dir..."

"Hm?"

"Nomor enam ini cari rumus awalnya dari mana sih? Kok alurnya agak janggal ya?"

Nadira meletakkan pensilnya sebentar, lalu mencondongkan badan melirik lembar soal Arga. "Oh, nomor enam ya?"

"Iya, aku lupa bentukan rumus dasarnya," aku Arga.

Nadira meraih buku cetak tebal yang tadi mereka buka, lalu menunjuk salah satu paragraf kunci. "Gini loh, Arga..."

Arga mendekatkan posisi duduknya, menyimak dengan saksama.

"Pertama, kamu tarik dulu rumus dasarnya dari teorema yang ada di halaman ini. Nih, bagian yang ini," tunjuk Nadira.

Arga manggut-manggut. "Oke, terus?"

Nadira mengambil pensilnya. Ia sama sekali tidak menuliskan jawaban di lembar kerja Arga, melainkan membuat coretan ilustrasi logika kecil di sudut kertas buram miliknya sendiri.

"Kalau rumus dasarnya udah dapet, baru variabel dari angka-angka yang diketahui di soal ini kamu substitusikan satu per satu," terang Nadira sabar. "Yang ini masuk ke variabel pertama, yang ini ke variabel kedua. Jangan sampai terbalik posisinya."

Mata Arga berbinar paham. "Oalah... Pantesan! Tadi aku malah langsung masukin angkanya tanpa ditata dulu."

Nadira mengangguk pelan. "Iya, makanya hasilnya pasti membias. Soalnya kalau pondasi rumusnya udah keliru dari awal, hasil akhirnya pasti ikut melenceng."

Arga menyunggingkan senyum leganya. "Paham sekarang. Makasih ya, Bu Ketos."

"Sama-sama. Coba dihitung ulang pelan-pelan," senyum Nadira manis.

Arga kembali fokus pada lembar jawabannya. Dalam hitungan tiga menit, ia berhasil menuntaskan nomor enam dengan lancar.

"Wah, ketemu juga hasilnya!" seru Arga pelan.

Nadira melirik sekilas. "Berapa hasil akhirnya?"

Tanpa memperlihatkan seluruh deretan cara pengerjaannya, Arga hanya menutup sebagian kertas dan menampakkan angka paling bawah. Nadira menghitung cepat secara mental di kepalanya selama beberapa detik, lalu mengangguk mantap.

"Sip, sama. Berarti bener hitunganmu," sahut Nadira.

Arga tersenyum puas.

Di bangku belakang, Rika memperhatikan interaksi keduanya dari sela-sela buku. Ia berbisik pelan pada Aul di sebelahnya.

"Lihat deh, Aul... Mereka berdua kalau diskusi beda banget ya sama anak-anak lain."

Aul mengangguk setuju. "Iya. Nggak pernah cuma ngasih 'nih nyalin punya gue'. Tapi selalu ngajarin alur konsepnya dari nol."

"Makanya dua-duanya pinter banget," tambah Rika kagum. "Soalnya bukannya saling nyalin, tapi benar-benar saling ngajarin."

Tak berselang lama, giliran Nadira yang menghentikan goresan pensilnya di nomor sembilan. Ia menatap deretan persamaan itu dengan kening berkerut halus.

"Hmm..."

Arga yang peka langsung menyadari perubahan gestur sahabatnya. "Kenapa, Dir?"

"Bingung di dua langkah terakhirnya, Ga. Rumit banget."

Arga mengulas senyum tipis. "Sini, coba aku lihat."

Nadira menggeser sedikit bukunya ke arah Arga. Arga membaca soal tersebut dengan teliti.

"Oh... Soal model begini kayaknya pernah keluar waktu kita ikut pembinaan olimpiade kemarin deh, Dir," celetuk Arga.

"Masa sih?"

"Iya, bentar..." Arga merogoh buku catatan khususnya yang penuh dengan coretan latihan olimpiade beberapa bulan lalu. "Nih, coba lihat..."

Arga menunjuk salah satu rumus penyelesaian cepat. "Kalau model begini, langkah akhirnya lebih efisien pakai substitusi bertingkat, bukannya eliminasi."

Nadira memperhatikan pola rumus itu dengan cermat. "Oh iya! Pantesan aja... Aku dari tadi maksa pakai eliminasi, makanya jalurnya muter-muter panjang banget!"

Arga terkekeh renyah. "Iya, kalau pakai cara ini jauh lebih singkat."

Nadira langsung mencoba menghitung ulang di lembar corat-coretnya. Tak sampai satu menit, matanya membinar. "Wah, iya! Ketemu! Hasilnya tetap sama tapi jalurnya jauh lebih ringkas!"

Arga tersenyum hangat. "Nah, gitu dong."

Pola saling melengkapi seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan mengakar di antara mereka berdua sejak lama. Jika salah satu belum memahami suatu materi, yang lain akan menjelaskan semampunya—bukan dengan menyuapkan jawaban jadi, melainkan menuntun hingga konsep dasarnya dipahami secara utuh.

Bagi Arga dan Nadira, belajar bersama bukanlah tentang siapa yang paling cepat memamerkan nilai sempurna, melainkan tentang bagaimana mereka bisa bertumbuh dan memahami ilmu tersebut bersama-sama.

Di depan kelas, Pak Rudi yang baru selesai memeriksa pekerjaan beberapa siswa dari luar sempat melirik ke arah sudut dekat jendela. Beliau memperhatikan Arga dan Nadira yang berdiskusi pelan sambil menyimak buku cetak tanpa sekali pun menyentuh layar ponsel.

Pak Rudi mengangguk-angguk kecil, mengukir senyum tipis yang sarat akan rasa bangga.

Diskusi seperti itulah yang seharusnya terjadi di dalam kelas, batin Pak Rudi dalam hati. Bukan sekadar menyalin angka, tapi saling mengasah pemahaman konsep.

Pak Rudi lantas kembali melanjutkan langkahnya melintasi selasar kelas dengan perasaan puas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!