Semua orang tau bila Jessica sangat membenci musim dingin, terlebih-lebih ketika salju turun. Jika bagi orang lain salju adalah sebuah keajaiban, bagi Jessica salju adalah petaka. Jessica pernah kehilangan segalanya ketika salju turun. Ibunya meninggal di bawah rintik salju. Dan kekasihnya menghianatinya ketika musim dingin tiba.
Dan sejak itulah ia sangat membenci musim dingin. Karena musim dingin sangat identik dengan salju.
-
Hay Kak..
Jangan lupa tinggalkan like komentnya ya 🤗🤗🤗 bantu novel ini lebih maju dan berkembang🙏🙏🙏. Tinggalkan vote dan rate juga. Jangan lupa tambahkan ke daftar favorit biar gak ketinggalan bab barunya.
Dukung terus karya Author Lusica Jung 2. Di usahakan sehari up dua bab...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni
Jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi. Karena ini masih libur musim dingin. Jadi tidak banyak yang bisa Jessica lakukan selain malas-masalan di rumah.
Rumah terlihat begitu sepi, Hans pergi kekantor, Ara dan Laura pergi untuk menghadiri acara. Di rumah hanya menyisahkan Ken dan Jessica. Saat ini Ken sedang duduk santai ditaman belakang, sementara Jessica membaca majalah diruang tengah.
Sesekali Jessica menengok kearah taman. Ken masih berada di sana, meletakkan majalahnya. Jessica bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Ken.
Ken membuang puntung rokoknya yang tinggal setengah saat melihat kedatangan Jessica. Ia tidak ingin jika asap rokok yang dia hisap akan mengganggu gadis itu dan membuatnya tidak nyaman.
"Boleh aku duduk disini?"
Ken mengangkat wajahnya, memandang Jessica sejenak kemudian mengangguk. Setelah mendapatkan persetujuan dari Ken, Jessica duduk disamping pemuda itu. Ken sedikit menggeser duduknya memberi ruang lebih untuk gadis itu.
"Tidak ingin pergi jalan-jalan?" tanya Jessica memecah keheningan.
Ken menggeleng. "Aku sedang tidak ingin pergi kemana pun!!" jawab pemuda itu datar. Jessica menggigit bibir bawahnya. Gadis itu memutar otaknya mencoba mencari pertanyaan yang tepat untuk mengakhiri keheningan ini.
Jika saja yang bersamanya adalah teman-temannya, mungkin keadaannya akan sangat berbeda. Tapi masalahnya yang saat ini adalah Ken, Ken adalah tipe pria yang tidak banyak bicara dan tidak suka basa-basi.
"Emm!! Ken, setelah liburan musim dingin berakhir, apa kau akan kembali lagi ke China?" tanya Jessica hati-hati. Takut bila Ken akan salah menyimpulkan pertanyaannya.
"Ya!!" jawab Ken singkat. "Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?" Ken menoleh, membuat pandangannya dan Jessica saling bertemu. Gadis itu menggeleng lalu membuang muka ke arah lain.
Raut muka Jessica berubah sedih setelah mendengar jawaban Ken. Rasanya ia tidak rela jika pemuda itu harus kembali secepat itu, namun Jessica sadar jika ia tidak memiliki hak untuk menahan Ken agar tetap tinggal. Ken memiliki keluarga yang dia rindukan. Lagipula ia dan Ken tidak memiliki hubungan apa-apa. Mereka hanya berteman.
Dan Liburan musim dingin hanya tersisa kurang dari dua minggu, yang artinya ia akan segera berpisah dengan pemuda itu. Membayangkan perpisahan itu saja membuat Jessica merasa sedih, lalu bagaimana jika hal itu sampai terjadi?
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba diam?" tanya Ken melihat kediaman gadis yang duduk di sampingnya. Jessica menggeleng.
"Tidak apa-apa. Aku masuk dulu." Jessica bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Ken sendiri di taman belakang.
.
.
Ken yang baru kembali dari taman tampak memicingkan matanya melihat Jessica menuruni tangga dengan pakaian berbeda. Gadis itu memakai Dress selutut yang di bungkus mantel cantik berwarna putih berhiaskan pita dan Tiara. Kaki jenjangnya di balut heels yang senada dengan warna dressnya dengan balutan stoking hitam yang mengikuti kaki jenjangnya.
Ken mendekati Jessica yang sepertinya masih belum menyadari keberadaannya. "Kau mau pergi ke mana?" tegur Ken dan mengejutkan Jessica.
"Omo!!" gadis itu sedikit terlonjak kaget. "Yakk!! Kau mengejutkanku!!" amuk Jessica sambil mencerutkan bibirnya.
Ken tersenyum. Dengan gemas Ken mengacak rambut coklat Jessica dan membuatnya merona. "Maaf, aku tidak bermaksud. Perlu aku temani?" tanya Ken memberi tawaran. Tampak Jessica menimbang tawaran pemuda itu dan kemudian mengangguk.
"Sepertinya tidak buruk."
"Kalau begitu beri aku waktu sebentar untuk ganti baju." Ucapnya. Jessica tersenyum kemudian mengangguk.
"Baiklah."
.
.
Sepuluh menit kemudian Ken datang dengan pakaian berbeda. Celana panjang hitam, turtleneck putih yang di balut mantel hitam. Jessica tersenyum lebar. Gadis itu segera bangkit dari duduknya lalu menghampiri Ken.
Jessica menyerahkan kunci mobilnya pada pemuda itu. "Kau saja yang mengemudikan mobilnya." Ken mengambil kunci mobil itu, keduanya berjalan beriringan menuju halaman.
Rencananya Jessica akan bertemu dengan teman-teman lamanya. Ada reuni kecil-kecilan yang diadakan di cafe milik salah satu teman lamanya juga tempat nongkrong Jessica dan kedua sahabatnya.
Dan setelah berkendara hampir tiga puluh menit. Mereka tiba di lokasi. Banyak mobil-mobil sport mewah keluaran terbaru terparkir di halaman cafe. Cafe juga sudah ramai dan kedua sahabat Jessica juga sudah ada di dalam sana.
Ken sedikit terkejut saat tiba-tiba Jessica memeluk lengannya. Namun detik berikutnya sudut bibirnya tertarik ke atas. Keduanya berjalan beriringan memasuki cafe. Dan kedatangan mereka di sambut heboh oleh kedua sahabat Jessica, bagaimana tidak... Ini pertama kalinya mereka melihat Jessica bersama seorang pria sejak dia di hianati beberapa tahun lalu.
"Sica, akhirnya kau datang juga." Seru seorang gadis bertubuh mungil saat melihat kedatangan gadis itu. "Kami pikir kau tidak akan datang. Dan.. Omo!! Siapa pemuda tampan ini?" tunjuk Sania pada pemuda yang datang pada Jessica.
"Oya, perkenalkan ini Ken. Sepupu kakak iparku yang dari China."
"Hai, Ken. Kau sangat tampan dan juga cantik, perkenalkan aku Tania." Gadis itu 'Tania' mengulurkan tangannya pada Ken. Ken membalas uluran tangan Tania dan memperkenalkan diri.
Berkali-kali Tania mencuri pandang pada Ken sambil sesekali menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Kebiasaan yang selalu dia lakukan demi menarik lawan jenisnya. Sania berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala.
"Dasar mata keranjang. Jangan heran, Ken. Tania adalah pengagum pria tampan. Matanya langsung ijo jika melihat yang bening. Semoga kau menikmati acaranya." Ucap Sania.
"Yakk!! Aku hanya mengikuti naluriku saja. Lagipula pemuda tampan seperti ini tidak boleh di abaikan." Tuturnya.
Jessica mendengus. Sahabatnya yang satu itu memang tidak bisa melihat yang bening sedikit. Penyakitnya pasti akan langsung kambuh ketika matanya melihat pria tampan. Tidak salah jika Tania di juluki sebagai playgirl oleh Sania.
"Sudah-sudah, kau membuatnya tidak nyaman, Nona Park." Ucap Jessica menengahi. Jessica dan Ken duduk satu meja dengan Tania dan Sania.
Jessica menyapukan pandangannya ke segala penjuru arah. Hampir semua teman SMP nya hadir ke acara itu termasuk mantan kekasih Jessica yang menghianatinya beberapa tahun lalu.
Beberapa pasang mata yang hadir di sana menatap antusias ke arah Jessica. Dan Jessica hanya melemparkan senyum manis untuk
membalas tatapan mereka. Beberapa dari mereka berbisik-bisik sambil menatap ke arah Jessica.
Mungkin mereka lupa dengan wajah gadis itu. Wajar saja, sudah lima tahun Jessica tidak pernah menghadiri acara reuni SMP ini. Sejak lulus SMP, Jessica pindah ke America bersama kakaknya dan melanjutkan sekolah di sana.
Dengan jelas Jessica bisa melihat beberapa gadis terlihat mencuri-curi pandang pada Ken yang duduk di sebelah kanannya. Gadis itu mendengus berat, kenapa gadis-gadis itu sangat hapal mana yang berlian dan mana yang batu krikil.
"Sica, lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tegur seorang pemuda yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan Jessica.
"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Bagaimana denganmu, Andreas?"
"Beginilah aku, aku juga sangat baik. Oya, siapa pemuda yang datang bersamamu itu? Dia kekasihmu?" dan tatapan tidak suka langsung Andreas tunjukkan ketika menatap Ken.
"Dia-"
"Aku calon suaminya." Jawab Ken dan membuat Jessica membelalakkan matanya.
Ken bangkit dari duduknya dan menatap Andreas dengan tatapan menusuk. Begitupula tatapan yang di tunjukkan oleh Andreas pada Ken.
Ken melihat gelagat aneh Andreas ketika dia menatap Jessica, pemuda itu memundai Jessica dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan Ken tau jika pemuda itu memiliki niat yang tidak baik padanya. "Oh, sepertinya aku mengganggu kalian." Andreas mundur beberapa langkah kebelakang dan kemudian pergi begitu saja.
"Akan aku jelaskan nanti." Ucap Ken seolah mengerti apa yang Jessica pikirkan.
Jessic mengambil sepotong pastel dari piring besar di tengah dan memakannya. Gadis itu hanya berusaha menyembunyikan kegugupannya. Entah kenapa tiba-tiba Jessica merasakan panas dan gatal di tenggorokannya setelah memakan pastel tersebut.
Seketika dia merasa pusing dan tubuhnya mulai oleng ke kiri hingga menubruk seseorang. Yang terakhir kudengar adalah suara Sania dan Tania meneriakkan namaku.
.
.
"Sica."
Gadis itu membuka matanya dan melihat Sherly serta Tania yang duduk di sebelah tempat tidurnya. Jessica melihat sekeliling dan ia berada di sebuah kamar yang di dominasi oleh warna putih. Dan dia tau betul di mana ia berada sekarang.
"Jadi aku ada di rumah sakit?" ucap Jessica yang kemudian di balas anggukan oleh Sania dan Tania.
"Iya bodoh. Kenapa kau asal mengambil makanan tadi?" Sania bertanya kesal tapi wajahnya menunjukkan kekhawatiran.
Jessica memandang gadis bertubuh mungil itu sedikit bingung. Memang apa yang tadi ia makan? Seingatnya ia tidak aneh-aneh kan?
"Pastel yang kau makan tadi ada seafoodnya. Dan kau pingsan setelah memakannya." Tania menjelaskan dan menjawab kebingungan Jessica.
Kini ia mengerti, Jessica memang alergi dengan segala jenis makanan laut, tapi biasanya tidak sampai pingsan seperti ini. Jessica melihat kulitnya dan hampir semuanya memerah.
"Untung saja wajahmu tidak ikut merah, bodoh. Kalau tidak, kamu sudah sama seperti kepiting yang direbus." Sania berkomentar sambil tertawa. "Minum dulu obatmu." Pintanya lalu mengambilkan obat di atas meja.
Jessica menyapukan pandangannya dan dia tidak menemukan keberadaan Ken sejak ia membuka mata dan sadar dari pingsannya. Ia hanya melihat mantel pemuda itu tergeletak di sofa. Itu mantel milik Ken.
"Kau mencari Ken? Dia sedang keluar untuk membeli minuman. Dan apa kau tau bagaimana panik dan cemasnya dia saat kau pingsan tadi. Hampir saja mobil yang dia kemudikan bertabrakan dengan mobil lain. Tapi untungnya dia masih bisa mengendalikannya." Tutur Sania panjang lebar.
Jessica terdiam. Benarkah Ken sepanik itu? Dan tiba-tiba Jessica teringat apa yang Ken katakan tadi. Dengan entengnya dia mengatakan pada Andreas jika ia adalah tunangannya. Dan Jessica ingin tau kenapa Ken harus berbohong segala.
"Kau sudah sadar?" tegur Ken dari arah pintu.
"Ah, Pangeran Penyelamat sudah datang." Sherly menoleh ke arah pintu di belakangnya."Ayo Tan, kita keluar." Sania menggamit tangan Tania dan menariknya keluar meninggalkan kamar inap Jessica.
Setelah Sania dan Tania pergi. Ken berjalan menghampiri Jessica dan duduk di sebelah ranjang inapnya. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Ken dingin.
"Aku sudah merasa baik." Jawab Jessica pelan.
"Maaf, jika aku tadi sudah bersikap lancang dan mengaku sebagai calon suamimu. Aku melihat jika pemuda itu memiliki niat buruk padamu." Jelas Ken menjawab kebingungan Jessica.
Jessica menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku justru sangat berterimakasih padamu."
"Sebaiknya sekarang kau istirahat, dokter masih belum mengijinkanmu pulang hari ini. Aku akan menghubungi Ara nunna." Ucap Ken yang kemudian di balas anggukan oleh Jessica.
"Baiklah."
-
Bersambung.
lanjut De🥰🥰😙😙kebahagiaan Ken dan Sica....semangaatttt