Di khianati, adalah satu kata yang paling menyakitkan. Bagaimana pria yang tak lagi punya rasa cinta itu bisa menjerat para wanita dalam pesonanya?
Ketulusannya terhadap Echa putri tirinya membuat Arfian menjadi pria paling di idamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Rega merasa berat untuk kembali ketempat kosan nya. Dia tahu hari ini Sena akan tiba dan mulai hari ini juga akan tinggal di rumah Arfian. Rasanya tak bisa membiarkan dua orang ini tinggal bersama di bawah atap yang sama.
Rega melirik Echa yang tengah mengeluarkan beberapa mainannya dari keranjang. Lalu mengambil dua boneka yang di pajang di dalam lemari kaca.
"uncle, lihat..." Echa mengeluarkan sebuah gantungan kunci berbentuk kepala beruang yang dia simpan di dalam saku celananya.
Rega langsung mengambilnya.
"dari mana kau dapat ini?" Tanyanya penasaran.
"kakak sena."
"Sena..."
Rega ingat sekali dengan gantungan kunci ini, dia membelinya dengan uang jajan yang di kumpulkannya selama 2 minggu.
Waktu itu baru saja kenaikan kelas, dia dan temannya sama-sama berjanji akan memberikan hadiah jika naik kelas dan masuk peringkat 10 besar. Rega tak tahu harus memberikan hadiah apa, hingga pas sore saat pulang dari taman dia melihat seseorang menjual aksesoris di pinggir jalan.
Matanya tertuju pada gantungan kunci kepala beruang itu, bertanya harganya tapi cukup mahal bagi seorang anak kecil seperti dirinya. Dia pun meminta penjual untuk menyimpannya sampai dia memiliki uang.
Hari yang di tunggu pun tiba, uangnya sudah terkumpul. Rega langsung kembali kesana untuk membelinya. Dia buru-buru pulang dari sekolah.
Tapi keesokan harinya saat dia akan memberikan hadiah itu pada temannya, suasana kelas begitu hening. Rega berdiri di pintu dengan bingung, kenapa semua temannya diam bahkan ada yang menangis.
"kenapa?" Tanyanya.
Seorang gadis kecil berkuncir dua berjalan menghampirinya.
"Rega, maaf ya. aku tidak menepati janji. aku tak punya hadiah apapun untuk mu." Ujarnya dengan rasa bersalah.
Rega tersenyum, dia tak masalah dengan itu. Hadiah tak penting baginya.
"tak apa. ini untuk mu."
"waaahh...lucu sekali." Melihat wajah bahagia temannya sudah cukup puas bagi Rega.
"oh..iya, kenapa mereka menangis?" Tanya Rega.
Gadis itu menunduk, tubuh berisinya bergetar karena menangis. Rega semakin bingung di buatnya.
"Rega, aku akan pindah.."
"uncle..." Panggilan Echa membuyarkan lamunanya. Rega sungguh merasa kenangan itu tak akan pernah dia lupakan.
"humm...boleh buat uncle?" Tanya Rega.
"ini kan dari kak Sena buat Echa, kenapa uncle pinta?"
"Echa, nanti uncle beliin yang lebih bagus dari ini? hum...gimana?"
Echa mengacungkan jempolnya. Dia tentu saja tak keberatan jika akan ditukar dengan barang yang lebih bagus. Rega mencium kening Echa lalu berlari ke kamarnya.
"dasar uncle aneh."
Rega merebahkan tubuhnya di atas kasur, mengangkat gantungan itu ke udara. Bibirnya tak bisa berhenti tersenyum.
"sudah sangat lama, aku saja sudah melupakannya." Gumamnya.
Pria berlesung pipi ini merasa bahagia karena barang yang dia berikan masih tersimpan sampai sekarang. Tapi, senyumnya tiba-tiba pusat saat ingat perkataan Echa.
"haaaaaahhh...kenapa dia berikan pada Echa, apa karena...." Rega langsung bangkit, menggelengkan kepalanya keras.
"tidak-tidak. Sena tak mungkin membenciku karena ucapan ku waktu itu. dia pasti marah jadi memberikan barang ini pada Echa." Rega berasumsi sendiri.
...*********************...
Brugh....
"ah..maafkan saya." Arfian langsung menahan tubuh wanita yang baru saja di tabraknya agar tak terjatuh.
Dia terburu-buru hingga tak melihat jalan. Wanita itu melepaskan tangan Arfian yang melingkar di pinggangnya.
"apa kau tak punya mata? dasar..iishh.." Umpat wanita itu kesal.
Arfian benar-benar merasa bersalah. Dia mengucapkan kata maaf berulang kali sebagai rasa penyesalannya.
"maafkan saya, saya sedang buru-buru."
"kau pikir aku tidak?" Wanita itu sama sekali tak peduli dengan kata maaf yang di lontarkan Arfian.
Wajahnya cantik tapi begitu arogan dan juga memiliki tatapan mata yang tajam. Arfian masih menahan senyumnya, dia tahu jika dirinya salah jadi tak pantas jika dia marah hanya karena wanita ini tak memaafkannya.
"Rihanna..." Panggil seseorang.
Wanita itu pun segera berbalik. Dia mencebikkan bibirnya kepada Arfian lalu pergi dengan kaki di hentakkan.
Sementara Arfian tak berani untuk melihat kebelakang, dia mengenal suara itu. Jantungnya berdetak kencang, bukan karena merindukannya tapi karena sesuatu yang telah di lakukannya hingga luka itu tak bisa hilang begitu saja.
"haaaaaahhh...." Helaan panjang terdengar jelas, Arfian lega karena sudah keluar dari masalah dengan wanita itu juga seseorang yang ikut pergi dengannya.
Arfian pun melanjutkan perjalanannya, dia harus segera menjemput nyonya Rada dan Sena yang sudah menunggunya sejak 30 menit yang lalu. Mereka datang lebih awal karena besok Echa harus segera masuk sekolah.
Rena melipat tangannya dan memandang Rihanna dengan tatapan marah. Dia tak terima karena wanita yang baru saja di panggilnya itu dengan seenaknya menyuruh dia untuk datang hanya sekedar untuk mengantarkan makan siang ke kantornya.
"ini..kau puas?" Ujarnya sambil menyerahkan tas kecil berisi makanan.
Rihanna mengambilnya. Tak mengucapkan terima kasih sama sekali. Dia langsung membawanya, meninggalkan Rena begitu saja.
Rena mengedarkan pandangannya, dia mendadak merindukan seseorang. Ini perusahaan milik keluarga Ben, tapi dia sering kemari bersama Arfian. Menemaninya bertemu dengan klien dan di waktu itu juga di selalu sembunyi-sembunyi menemui Ben di saat Arfian berbincang dengan yang lain.
"Arfian..." Gumamnya.
...**********************...
Rihanna mencoba mengingat-ingat sesuatu, dia sepertinya baru sadar jika pria yang tadi menabraknya adalah seseorang yang selama ini sering di bicarakan oleh Ben dan pengawalnya.
Dia selalu mendengar Ben mengatakan jauhkan Rena dari Arfian. Secara tak sengaja dia pun melihat foto yang di berikan Ben pada pengawalnya itu.
"ya, itu pasti pria yang di maksud kak Ben. mantan suami wanita busuk itu." Ujarnya lalu segera meminta pengawal nya untuk datang keruangannya.
Mungkin dengan sedikit ancaman dia akan mendapatkan sesuatu yang berharga.
"kau bekerja sebagai pengawal ku, ibu membayar mu untuk itu. tapi..." Rihanna tak mau berbasa-basi saat pengawal itu tiba di ruangannya.
Pria berbaju serba hitam itu menelan ludahnya.
"kenapa kau selalu membantu kak Ben? berapa yang dia berikan padamu?"
"tidak nona. saya..."
"jangan bohong. aku tahu semuanya."
Brak...
Rihanna menggebrak meja kerjanya. Dia tak suka seseorang berbohong kepadanya apalagi berkaitan dengan Ben.
"baik. akan ku laporkan pada ayah."
"tidak nona.. saya mohon.."
"katakan apa saja yang dia perintahkan?"
Pengawal itu pun mengatakan semuanya, dia tak peduli dengan apa yang akan di lakukan Ben padanya nanti. Saat ini pekerjaannya lebih penting. Dia tak boleh sampai di pecat hanya karena membantu Ben. Rihanna lebih berkuasa dari pria itu untuk sekarang.
Ben sudah hampir 3 bulan tak pulang kerumahnya dan orang tuanya bahkan sudah mengatakan akan menghapusnya dari daftar keluarga jika sampai Ben menikah dengan Rena.
Rihanna tersenyum lebar mendengar semuanya. Dia harus menggagalkan semuanya demi membuat Rena kesal.
"bagus, wanita jelek dan serakah itu akan tamat." Ujarnya.
...*****************...