NovelToon NovelToon
DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / TimeTravel / Supernatural / Peningkatan diri-peningkatan identitas/sifat protagonis / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:118.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sis Fauzi

Sekuel III Novel DEC 1515. Ini cerita dunia pendekar, intelijen dan petualangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sis Fauzi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 10 PLAYBOY CAP DUREN TIGA

EPS 10 PLAYBOY CAP DUREN TIGA

“Jadilah pasangan hidup yang abadi sampai maut memisahkan kalian. Saling mengerti dan memahami kelebihan dan kekurangan, karena Dewata menyatukan kalian untuk saling melengkapi. Isilah ruang keluarga kalian dengan cinta dan kasih sayang,” nasehat Eyang Senthir panjang lebar yang dibaca perlahan oleh Miryam.

Miryam tersenyum sendiri, sambil memandang wajah suaminya Santika yang bersemayam di dalam peti mati dari kaca dengan tenang. Dia masih teringat nasehat pernikahan dari Eyang Senthir, Sang Acarya desa Jalatunda. Nasehat itu bahkan ditulisnya dalam selembar daun dan disimpan rapat di balik bajunya.

“Kau masih ingat kata-kata nasehat sang Acarya ini kakang? Begitu indah dan penuh dengan harapan. Katanya Dewata menyatukan kita untuk saling melengkapi, mencintai dan penuh kasih sayang,” ujarnya. “Tugas kita yang lainnya adalah meneruskan garis keturunan darah Jalatunda. Dan keinginannya ada di dalam rahimku”

Lalu terdiam sejenak. Di belainya jabang bayi yang masih ada di dalam rahimnya. Bibirnya yang ranum merekah semerah buah delima. Mengalunkan swara Asmarandana yang selau dinyanyikannya dengan sepenuh jiwanya. Terdengar lirih tapi gaungnya terdengar kemana-mana, mengisi setiap relung hati para santri dan ustad-ustadz di Pesantren Ksatriyan Santri.

Asmarandhana

Kidung kedresaning kapti, (Nyanyian kesungguhan hati)

Yayah nglamong tanpa mangsa, (Seolah meracau tanpa kenal waktu)

Hingan silarja jatine, (Hingga keselamatan yang paling hakiki)

Satata samaptaptinya, (Selalu siap hatinya)

Raket rakiting ruksa, (Menghadapi rangkaian gangguan)

Tahan tumaneming siku, (Kuat menghadapi kemarahan)

Karasuk sakeh kasrakat. (Menerima semua penderitaan)

(Rangga Warsita, Serat Jayengbaya)

Ingatannya terbang ke masa kecilnya. Saat dahulu dia sering bermain bersama Santika. Di pekarangan rumah, di kebun, di sawah, di sungai mereka selalu bersama. Malah kadang-kadang Santika mengajaknya bermain di tepi hutan untuk berburu kupu-kupu. Atau berlari seharian di atas padang ilalang yang mengering karena kemarau yang begitu panjang.

FLASHBACK ON

Kaki-kaki kecil Miryam berlari cepat, mengejar tubuh Santika yang berlari mendahuluinya. Tubuhnya ringan melayang diatas ilalang yang kering. Angin musim kemarau berhembus kencang. Membawa debu yang menyakitkan mata.

“Aduh!” teriaknya kesakitan.

Matanya terasa perih dan aneh, karena ada sesuatu yang mengganjal di kelopak matanya. Secara reflek kedua tangannya menggosok mata yang sakit.

Santika langsung berhenti, lalu berbalik menghampiri gadis kecil sahabatnya itu.

“Jangan gosok matamu Miryam” ujar Santika. “Sini aku tiupin.”

Miryam menengadahkan kepalanya. Santika memegang wajahnya. Miryam memandang wajah Santika yang begitu dekat. Nampak kedua pipi Santika menggelembung karena menahan angin di dalam mulutnya. Lucu sekali, gadis kecil itu jadi ingin tertawa.

“Wush!” Santika meniup matanya sekuat tenaga.

“Aduh!” teriak Miryam sekali lagi.

Santika terkejut. “Kenapa Mir? Batunya sudah keluar kan?”

Miryam mengangguk.

“Batunya sih sudah keluar.”

“Lalu?”

“Air ludahmu masuk ke dalam mataku.”

Hahaha…mereka tertawa tergelak sampai keluar air mata..

“Miryam!” panggil ayahnya. Miryam menoleh, lalu melambaikan tangannya kepada ayahnya, Ki Jogoboyo.

“Santika aku pulang dulu ya?” kata Miryam sambil menatap Santika lagi.

Santika menganggukkan kepalanya, tapi kemudian memegang tangan Miryam.

“Ini untukmu.”

“Hah? Ini kan bibit pohon jambu? Buat apa?” Miryam penasaran.

Santika menggeleng cepat. “Bukan! Ini Pohon Cinta.”

Miryam mengerenyitkan keningnya. Lalu tersenyum.

“Huh! Dasar makhluk aneh.”

“Biarin. Biar aneh tapi ganteng.”

Huu..bibir Miryam jadi monyong. Hahaha..mereka tertawa lagi. Lalu terdiam, menikmati senja. Warna tembaga mentari sore menandakan bahwa waktu bermain telah usai.

“Aku tanam dimana pohon jambu ini, Santika?”

Santika menggelengkan kepalanya sambil menatap mata indah itu.

“Oh, pohon cinta,” ujar Miryam sambil tertawa.

“Tanam saja di halaman rumahmu, biar mudah aku mencarinya,” sahut Santika.

Mereka tertawa lagi sampai ki Jogoboyo melambaikan tangannya, memberi tanda agar Miryam segera pulang ke rumahnya.

FLASHBACK OFF

Kedua mata indah itu terlihat berembun. Lalu menggumpal dan mengalir melewati kedua pipinya yang sehalus batu pualam, dan berhenti di ujung dagunya. Bulir bening menggantung ragu antara terjatuh atau tetap di tempatnya. Membiaskan cahaya matahari yang putih menjadi spectrum warna yang indah. Merah, kuning, hijau, biru. ungu, orange dan abu-abu. Indah tapi terasa begitu sedih.

“Siapa yang sedang menyanyikan tembang Jawa itu Alimin? Rasanya begitu menyayat hati,” ujar Mukhsin Bae sambil meneteskan air mata.

Alimin mengusap-usap wajahnya dengan kasar, menghilangkan rasa haru di wajahnya yang hitam. Dia juga ikut terlarut dalam kesedihan, bahkan mungkin seluruh santri dan penghuni pesantren ini. Buktinya mereka semua terdiam, tanpa suara. Tidak terdengar suara bacaan ayat suci atau lantunan sholawat dan dzikir saat tembang itu berkumandang.

“Itu suara Miryam, ” sahut Alimin pendek.

“Miryam? Perempuan jadul tapi mempesona itu?” tanya Mukhsin Bae. “Aku bahkan tidak bisa membayangkan kecantikannya.”

“Miryam jauh lebih cantik dari gadis paling cantik yang bisa kau bayangkan.”

“Wow!” bibir Mukhsin Bae terbuka. “Secantik itukah?”

Alimin menganggukkan kepalanya.

“Kecantikannya melebihi batas nalar kecantikan manusia biasa.”

Mukhsin Bae sampai tidak bisa berkata-kata.

“Berarti dia secantik bidadari?”

Alimin menganggukkan kepalanya kembali.

“Dia memang berjuluk ‘Perempuan Bidadari’

“Kalau begitu menjadi impian setiap laki-laki dong?”

“Setiap lelaki yang melihatnya pasti jatuh cinta kepadanya.”

Mukhsin Bae mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Maaf Alimin, apa kau pernah bertemu dengan Miryam atau melihatnya sekali saja?”

Alimin menganggukkan kepalanya kembali. Tatapan matanya menerawang jauh, seolah sedang mengingat kembali momen pertemuannya dengan perempuan bidadari itu.

“Kalau begitu, kau juga jatuh cinta kepadanya?”

“Iya. Aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.”

“Kenapa?”

“Kok tanya kenapa? Aku kan laki-laki normal. Dan setiap lelaki yang melihatnya, langsung jatuh cinta padanya.”

“Hm…Kalau begitu Abah Kyai Badrussalam juga ikutan jatuh cinta?”

“Ap ..Apa?!” Alimin tergagap. “Abah? Tentu saja tidak. Masa Abah jatuh cinta lagi.”

“Kalau mas Andika? Dia kan laki-laki normal, dokter, kaya, baik hati dan ganteng pula.”

Alimin menggelengkan kepalanya.

“Hmh.. kalau mas Andika juga tidak. Dia kan sudah punya pacar. Hanya di dalam tubuh Andika tersimpan jantung milik Santika kekasih Miryam yang sudah mati.”

Mukhsin Bae mengernyitkan keningnya.

“Kau kan juga sudah punya pacar? Si Santi kan? Kenapa kau masih jatuh cinta dengan perempuan lain?” ledeknya.

Alimin langsung mendengus kesal. Wajahnya nampak uring-uringan. Dia bangkit berdiri, mengambil sebatang rokok yang terselip di telinga sahabatnya, lalu pergi meninggalkan Mukhsin Bae yang terlihat makin penasaran.

“Ah, capai deh ngomong sama kamu. Suka nggak nyambung!”

Mukhsin Bae memandang kepergian Alimin dengan wajah tak mengerti. Seperti sebuah anomali, sesuatu yang tidak seharusnya terjadi, malah terjadi.

“Mas Andika yang ganteng, kaya, dokter, ramah, baik hati, begitu setia sama pacarnya. Eh, ini yang jelek, item, miskin malahan berkali-kali jatuh cinta. Matanya langsung ijo kalau liat yang bening-bening. Dasar playboy cap Duren Tiga. Hehehe..”

1
Elisabeth Ratna Susanti
suka 😍
Elisabeth Ratna Susanti
maaf baru sempat mampir di 😍sini
nonk sa
semua bahagia
nonk sa
semua dah kumpul nih?
nonk sa
Dandung....
nonk sa
semangaaaaattttt
nonk sa
blar! hancur hstiku
nonk sa
mantap
nonk sa
sedih banget
nonk sa
membayangkan salju diatas bukit kethileng wow
nonk sa
semangaaatttt
nonk sa
Dandung ketemu lawan..kkk
nonk sa
wah lengkap banget novelnya
nonk sa
opppaaaa pranaja
nonk sa
selamat marcon
nonk sa
Wow! perang modern dan prasejarah
nonk sa
padang kurusetra
nonk sa
sukaaaa
nonk sa
ceritanya asik. beda dengan yg lain
nonk sa
cinta sejati, tak pernah mati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!