TIDAK DIREKOMENDASIKAN UNTUK DIBACA, KALIAN BISA PILIH NOVEL YANG LAIN (DISARANKAN YANG TERBIT DARI 2022 KE ATAS) ... KALAU MASIH NEKAT, SILAHKAN DIMAKLUMI SEMUA KEANEHAN YANG TERDAPAT DI DALAM NOVELNYA.
SEKIAN _ SALAM HANGAT, DESY PUSPITA.
"Aku merindukanmu, Kinan."
"Kakak sadar, aku bukan kak Kinan!!"
Tak pernah ia duga, niat baiknya justru menjadi malapetaka malam itu. Kinara Ayunda Reva, gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA harus menelan pahit kala Alvino dengan brutal merenggut kesuciannya.
Kesalahan satu malam akibat tak sanggup menahan kerinduan pada mendiang sang Istri membuat Alvino Dirgantara terpaksa menikahi adik kandung dari mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mutiara Terjamah
Rumah, tujuan yang kini menjadi tempat teraman bagi Kinara. Gadis belia yang kini masih menatap nanar pintu rumahnya, tempat kembali dan tetesan darah dari relung hatinya akan tertahan.
Belum juga turun, Kinara masih mengehela napas perlahan. Gio menyadari saat ini Kinara tengah menenangkan dirinya, lagi dan lagi.
"Kina, ayo turun," ajak Gio begitu halusnya.
"Sebentar, Kak." Kina untuk kesekian kalinya menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata berulang kali dan kini gadis cantik itu mengangguk patuh.
Gio takkan membiarkan gadis mungil kesayangannya melakukan apapun sendiri, dalam segala keadaan Kinara tetap seorang ratu bagi Gio.
"Kakak aku bisa send ...."
Ucapan Kinara terputus kala Gio telah lebih dulu keluar, sadar betul Kinara merasa merepotkan Gio. Tapi tak mengapa, bagi Gio mutiara yang sudah terjamah manusia bukan berarti berhenti untuk di jaga.
"Ayo turun,"
Kinara tersenyum simpul, uluran tangan Gio yang di sertai senyuman hangat itu membuat Kinara sejenak lupa akan lukanya. Nyatanya, tak semua pria itu sama, sejak awal Gio benar-benar menunjukkan kasih sayangnya untuk Kinara.
Tak sedetikpun Gio melepaskan Kinara dalam genggaman, ia ingin gadis itu yakin bahwa ada tempatnya untuk berpegang. Membuka pintu masuk nan megah itu, Kinara kembali merasa sesak, bahkan rasanya enggan untuk melangkah.
Mengingat, beberapa bulan lalu Vino menghadiahkan rumah mewah itu atas nama Kinara sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 17. Ya, Vino memang baik, bahkan sangat baik jika berkaitan tentang uang dan kemewahan.
Dengan mudah pria itu dapat memberikannya, namun sayang, seberapa banyak yang Vino berikan untuk orang di sekililingnya tetap hanya ia tak punya kelembutan hati, sama sekali tidak.
"Kina, kau istirahat ya, dan jangan lupa makan siang." Gio menangkup wajah imut itu, menatap dalam mata sendunya dan tersenyum begitu hangatnya.
"Ehm, Kak Gio mau kemana?"
Sulit namun ia harus bertanya, bukan karena Kinara takut sendirian. Hanya saja pertanyaan itu spontan ia tanyakan karena ia merasa takkan mampu jika sendirian.
"Kakak keluar sebentar, ada hal yang tak bisa Kakak tinggalkan. Tidak apa kan?"
Meski sedikit ragu, Gio harus meninggalkan Kinara untuk kali ini. Darurat, bahkan bisa berdampak kehancurannya dan Vino sekaligus. Di titik dilema, Gio di hadapkan antara pilihan sulit manakala harus memilih menemani Kinara atau menyelamatkan hidup mereka.
"Ehm, tak apa, ada mba Sera di sini."
Sedikit lega, Gio lupa bahwa ada pekerja yang selalu bersama Kinara di siang hari. Namun, tidak dengan malamnya.
Tak ingin meninggalkan Kinara dengan kekhawatirannya, pria itu memastikan Kina masuk kamar terlebih dahulu. Tidak akan lama pikirnya, usai semua berakhir ia akan segera kembali untuk menemui gadis cantiknya.
"Ehm, Kina tunggu," ujar Gio menahan pintu kamar gadis cantik itu, tampak ragu dan memperhatikan sekeliling rumah mewah itu.
"Kunci kamarnya ... jangan biarkan orang asing masuk selagi Kakak belum kembali, kecuali Sera ataupun Ayah, mengerti?"
Gio memerintah tegas pemilik manik indah itu, senyuman dan anggukan patuh gadisnya membuat Gio tampak lebih tenang.
Bersamaan dengan pintu kamar yang kini tertutup, berjuta kekhawatiran menyeruak dalam benak Gio. Manakala Ayah Kinara belum juga pulang, tak ada jalan lain selain meminta Sera untuk memastikan keadaan Kinara tetap aman.
"Jangan biarkan terjadi apa-apa dengannya, Sera. Temani dia dan pastikan tidak ada orang lain masuk ke rumah ini."
Perintah tegas Gio dengan mata tajam yang sejenak menghanyutkan Sera dalam lautan angan. Ya, ia tergoda, bahkan kehilangan fokus lantaran yang ia lihat adalah wajah Gio semata.
"Sera?!!"
"I-iya, Tuan."
Gio berlalu, pergi setengah berlari berharap apa yang akan ia kerjakan akan usai lebih cepat. Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan mata tajam yang kini fokus menatap kedepan.
*****
"Bagaimana?!!"
Vino mengangkat wajahnya yang sedari tadi tak usai dengan kertas-kertas yang berserakan di mejanya. Saat ini ia tengah terkena masalah yang bahkan bisa menenggelamkan namanya, beberapa saingannya merasa iri akan keberhasilan kakak beradik itu.
"Kau lama sekali, apa peri kecilmu itu baik-baik saja?"
Pertanyaan tiba-tiba yang Vino utarakan membuat Gio sejenak terdiam, hanya sejenak, tak lebih. Vino tertawa sumbang seraya melirik Gio begitu tajam.
"Lucu sekali, 4 jam kau meninggalkan kantor yang tengah di ambang kehancuran demi gadis ingusan itu, kau waras, Gio?"
"Pantaskah kau mempertanyakan hal itu, Vino? Bukankah seharusnya aku yang menanyakan prihal kewarasanmu?"
"Aku tidak memanggilmu untuk berdebat, Gio. Pikirkan caranya bagaimana kau dan aku baik-baik saja, berhenti menghabiskan hidupmu hanya untuk gadis itu."
Vino memijat pangkal hidungnya, saat ini Vino tengah kacau. Gio yang terus saja mendesaknya, belum lagi tekanan kanan kiri membuat Vino pusing tujuh keliling.
"Hanya?"
"Dia segalanya, Vino, segalanya. Harusnya kau paham seberapa besar Kinanti menaruh harapan agar Kinara terjaga dalam genggamanmu."
Diam, pemilik manik hazel itu hanya teridam, lagi dan lagi Gio membawa nama Kinanti dalam masalahnya kali ini. Tidak, Vino takkan mampu terlalu lama berhadapan dengan situasi ini.
"Kinara." Vino membatin, menatap nanar tanpa arah seraya membuang napas kasar dan berlalu keluar meninggalkan Gio.
"Vino!!"
"Vino tunggu!!" Gio menahan Vino yang kini setengah berlari meninggalkannya.
"Kau mau kemana?"
"Siall!! Vinoo!!! Ayss, cepat sekali langkah bajing an itu."
Pria itu kehilangan jejak Vino, kemana sang Kakak menghilang. Seketika ia mengingat Kinara, gadis kecilnya yang kini tengah bersama Sera di kediamannya.
"Kina," Gio berdetak, segera ia memutuskan untuk kembali, tidak menutup kemungkinan yang ia pikirkan benar adanya.
"Dasar sialan!!"
Tbc
Sehat selalu untuk kalian semua🤗💜