Kau hadir dengan sebuah alasan klise yaitu cinta untukku si pemain cinta.
Dan kini setelah semua yang kita alami,kau memberiku sejuta alasan untukku tetap Mencintaimu.
Setelah merasakan cinta kini aku tau kenapa kau menolakku KARINA. Tapi kini kau menarikku jauh kedalam sayap kerinduan. Dan aku tidak akan membiarkan masa lalu mendorongmu jauh dari cintaku karena tanpamu cintaku tak kan sempurna KARINA ADESTA.
Meskipun kau memberiku pelangi dan hujan secara bersamaan tapi entah kenapa hatiku tak bergeming sedikitpun dari ruang cinta ini.
Aku tidak menyangka akan bisa bertahan sampai akhir dengan cinta yang seperti air di samudera luas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ang lin Hua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku diam bukan berarti aku tak Sadari
Pagi itu Gerald kembali dengan wajah letihnya. Ia langsung berjalan ke kamarnya tanpa basa-basi. Catty menghambur dan menyerbu kakaknya dengan sikap manja seperti biasa.
"Abang … seharian kau ngilang ke mana aja? Kakak iparku bosan tuh," godanya
"Husshh! Diam kamu anak kecil! Jangan sembarangan nyebut orang kakak ipar. Nanti dia tersinggung tau!"
Catty yang bermanja di pangkuannya, membuat kakaknya mengerutkan kening.
"Kenapa? Bukannya benar dia adalah ...." Kata-kata Catty menggantung saat tangan Gerald menunjuk mulut mungilnya.
Karina yang kebetulan lewat di depan kamar Gerald terkejut melihat hubungan kakak beradik yang aneh itu.
"Gerald? Catty?" lirihnya di depan pintu kamar Gerald yang terbuka lebar.
Mendapati Karina yang sudah mematung di tengah pintu kamar dengan tampak bingung dan raut hampanya. Catty dan Gerald refleks berdiri saking terkejut.
"Bang, Bang … apa dia akan salah tanggap?" bisik Catty mencolek lengan kakaknya yang masih menatap canggung ke arah Karina.
Suara Catty memang kecil, tetapi cukup terdengar di telinga Gerald. Ia pun mengangkat pundaknya dan mendekat ke arah Karina.
"Itu … hm … anu … kayaknya aku ganggu," tukas Karina segera berlari menjauh dari mereka.
Gerald hendak menahan, tetapi terlambat. Tubuh Karina sudah menghilang dari balik pintu. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan memijit pangkal hidungnya.
"Abang, dia salah pahamkah?" ketus Catty polos.
"Ini gara-gara kamu tau, anak kecil!"
Mulut Catty mengerucut mendengar kakaknya menyalahkannya atas sikap Karina.
"Kok nyalahin adik, sih, Bang? Kita, kan, emang begini tiap hari sejak dulu! Sejak Catty masih pake popok celana," terang Catty.
"Ya, kita sih nggak ada masalah, lah dia? Jelas masalahlah! Kamu nggak tau dia itu bagaimana, sih? Udah kamu keluar sana! Abang mau istirahat, capek!" pekik Gerald mendorong tubuh mungil Catty keluar dari kamarnya.
Seketika Gerald langsung menutup rapat kamarnya dan mengunci diri. Gerald mengusap kasar wajah, lalu beranjak membersihkan diri kemudian istirahat.
Karina masih duduk termenung di tepi kasurnya. Matanya memandang lepas ke luar jendela kamar, melihat seisi alam. Namun, tidak dengan pikirannya. Karina menjadi murung dan merasakan sesak di dadanya. Entah kenapa, padahal ia tahu persis hubungan Catty dan Gerald hanya hubungan darah. Gue apa-apaan, sih? Masa iya gue cemburu? Ihh, amit-amit deh! Nggak! Nggak! Lo nggak boleh ada rasa sama si Gerald itu Karina! teriaknya dalam hati.
Tak lama terdengar ketukan pintu dari kamar Karina. Seorang pelayan rumah meminta Karina untuk bersiap-siap karena nyonya mereka—Mrs. Nora Pratama—akan mengajaknya keluar untuk berbelanja.
Karina segera menuruti perintah pelayan itu. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sepersekian detik kemudian, ia termangu cukup lama. Mengusap dagunya, memikirkan baju apa yang akan ia kenakan karena Gerald membawanya pergi tanpa komando dan persiapan. Ia larut dalam alam pikirannya di dalam bathtub, tetapi suara Nora yang berteriak terdengar dari luar kamar menyadarkannya.
Karina menutup setengah badannya dengan handuk, ia keluar dengan wajah memelas, tetapi matanya dikejutkan dengan sebuah dress sifor berkaret pinggang motif bunga sudah bersiap di atas kasurnya. Ia berjingkrak kegirangan, dibawanya dress itu dan menari-nari kecil di kamarnya seolah beban pikirannya telah hilang lenyap begitu saja.
"Asyiiiik! Akhirnya aku ada baju untuk kupakai!" serunya sambil menari.
Dengan sangat terburu-buru, Karina mengenakannya dan merias diri. Beberapa menit kemudian, ia turun dari tangga lantai dua dan sudah menemukan Nora dan Catty yang sejak tadi menunggunya.
"Maaf, Tante. Karina lama," ucapnya memelas.
Catty menatap kesal pada Karina lantas berjalan mendahului Karina, sementara Nora segera beranjak keluar diikuti Karina yang mengekor.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa