Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Hujan turun begitu deras. Disertai angin kencang menyapu air hujan yang membasahi seluruh alam.
Seorang gadis berjalan tak tentu arah. Pandangan matanya kosong. Pikirannya kacau. Bahkan ia tak terlihat menangis. Padahal deras air matanya mungkin setara dengan air hujan meski mimik wajahnya tak terlihat seperti sedang menangis.
Beberapa kali suara klakson mobil memperingatinya untuk berhati-hati, namun sayangnya, Ia tak peduli.
Andai saja ada sebuah organisasi pelenyapan diri dengan proses ringan dan tanpa rasa iba, mungkin Jelita tertarik menawarkan dirinya sebagai objek.
Ya. Gadis itu adalah Jelita.
Luka di hatinya, sakit saat terngiang ucapan papanya sebagai anak pembawa sial masihlah terngiang jelas di pendengaran Jelita.
Belum lagi Pria yang amat sangat dicintainya.
Chandra sudah ia jadikan sebagai dunianya, poros hidupnya, kiblatnya.... nyatanya kini jua telah mencampakkannya dengan sangat kejam. Adil kah dunia padanya saat ini?
Dimana yang katanya berlaku hukum alam di dalamnya, kini justru berbalik memperpuruk keadaan Jelita.
Dulu, mamanya begitu kuat menjalani penderitaan hingga dua puluh tahun. Bayangkan! Dua puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tapi mengapa mamanya sekuat itu? Sedang Jelita bahkan seperti tak kuat lagi menahan penderitaan sedalam ini.
Jelita meronta dalam pesakitan yang merenggut seluruh dunianya. Kekasihnya, papanya, mamanya, semua yang dimilikinya tak jua betah berlama-lama di sisinya. Semua hanya karna wanita yang sama.
Sukma dan anaknya itu telah berani berbuat sejauh ini.
'Mengapa cinta yang mereka jadikan alasan tuhan?
Alasanku bukan hanya cinta.
Jika mereka begitu egois, lantas, bagaimana dengan aku dan calon anakku?
Mengapa dunia seakan tak lagi Sudi memberiku kesempatan bahagia meski hanya sekejap saja?
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Hatiku telah berdarah-darah.
Dan lagi......
Mengapa aku mengatakan hal yang tak seharusnya aku katakan?
Pantaskah jika wanita kotor seperti ku meminta keadilan pada Tuhan?'
Mama.... Aku rindu'.
Batin Jelita berteriak.
Sebuah mobil hitam metalik berhenti tepat di samping Jelita. Sosok Radhi, kebahagian nyata bagi Jelita namun Jelita abaikan. Tengah turun dari mobil dengan menggunakan payung, menggandeng Dan menarik tangan Jelita dengan santai LAN dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.
Jelita pasrah, hanya pasrah. ia seperti tak punya daya lagi untuk melawan. Hingga untuk yang ke sekian kalinya, Radhi kembali datang dan ada untuknya. Radhi seperti malaikat bagi Jelita yang tak bersedia membuka mata untuk melihat seluruh kebaikannya.
Hening. Tak satu katapun yang keluar dari bibir Jelita. Radhi tau. Jelita masih menangis. Namun ia akan membiarkan Jelita tenang dahulu.
Hingga mereka tiba di dalam sebuah rumah kecil namun bersih, rumah kontrakan Radhi. Tempat Radhi bernaung dari teriknya mentari dan derasnya air hujan. Kecil namun nyaman. Aura kehangatan nampak memancar dari rumah yang sederhana itu.
"Non Lita, Masuk, mandi dan istirahat. Saya siapkan makan malam untuk nona".
Jelita mengangguk patuh dan tanpa perlawanan. Dengan menerima kaos Radhi dan sebuah sarung, Jelita menerimanya.
Setelah hampir satu jam Jelita membersihkan diri, Jelita duduk termenung di ranjang milik Radhi. Ia tak tau harus apa sekarang.
Setelah mandi, Jelita sedikit tenang. Berada di kamar milik Radhi, faktanya membuat Jelita merasa aman dan terlindungi. Jelita berpikir, mengapa ia tak jatuh cinta pada Radhi saja yang sudah banyak membantunya?
Pintu yang memang tak tertutup rapat, kini terbuka perlahan. Sosok Radhi muncul dengan senyum hangatnya.
"Mari non, Makan malam lah dulu", Jelita menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak lapas, mas Radhi. Makanlah dulu". Tanpa menjawab Radi berlalu.
Tak lama, Jelita melihat sosok Radhi kembali dengan membawa nampan berisi sepiring makanan, dan segelas air putih.
"Ayo non makan. Menangis juga butuh tenaga, bukan?", Kelakar nya dengan memamerkan gigi bawahnya yang nampak tak rapi. Sedang gigi atasnya menampilkan gingsul di sisi kanan dan kiri. Membuat Radhi terlihat semakin manis saat tersenyum.
"Mas Radhi bisa saja", Jelita terpaksa tersenyum. Meski hatinya nyeri, setidaknya ia menghargai segala usaha baik Radhi, begitu pikirnya.
"Ayo makan...", Jelita menggeleng. Terpaksa Radhi mengambil piring dan berusaha menyuapi Jelita.
Meski awalnya menolak, akhirnya ia luluh juga dan menerima suapan dari Radhi.
Seusai makan, Radhi membawa piring ke kotor, tak lama ia kembali dan duduk di selah Jelita.
"Ceritakan, Awal mula terjadinya kerusuhan dirumah tuan besar tadi," Tegas Radhi pada Jelita yang kini telah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tangisan Jelita tumpah seketika. Radhi meraih tubuh Jelita dan merangkulnya dengan penuh kasih. Entah terasa atau tidak, tangis Jelita adalah luka tersendiri bagi seorang Radhi.
"Aku..... Aku bingung harus bagaimana, mas".
"Ceritakan apapun yang mampu nona Ceritakan".
"Aku mengandung benih seorang Adi Prama". Bak di sambar petir hati Radhi saat ini. Bagaimana bisa?
"Aku hamil, tapi sayangnya, Chandra memilih akan menikahi Dewi. Aku bisa apa? Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi sekarang. Papaku dan kekasihku telah jatuh dalam pelukan mereka".
"Sudah kah Chandra tau akan hal ini?", wajah Radhi menegang, rahangnya mengeras seiring dengan tumpahnya tangisan Jelita dalam rengkuhannya.
Jelita Menggeleng.
"Tidak dan tidak akan pernah aku beri tau".
"Jadi, itulah yang nona katakan sebagai bagian dari diri Chandra?", Tangan Radhi mengepal, menyembunyikannya tepat di belakang punggung Jelita.
"Iya", Jelita melerai pelukannya. Menunduk sebagai bukti bahwa ia tak mampu lagi menatap mata Radhi.
"Mengapa?".
"Taukah kau mas Radhi? Chandra telah mengakui jika ia siap menikahi Dewi jika Yusman memintanya saat itu Juga. Bukan kah itu sudah cukup sebagai bukti bahwa dia tak mencintaiku?
Dulu, mama memaksa meneruskan rumah tangganya bersama papa, Bukankah hanya derita yang ia peroleh? Jika aku mengatakan bahwa aku hamil dan Chandra menikahi ku, bukankah selama pernikahan ku nanti aku hanya akan menderita dan membawa anakku ikut serta?
Toh pada akhirnya Chandra pasti tetap menikahi Dewi, dengan ataupun tanpa aku".
Wajah Jelita nampak tersenyum, Meski pendar matanya penuh luka.
"Lantas, rencana nona?",
Jelita menggeleng. "Aku tak tau", Wajah itu kembali murung.
"Tinggallah bersamaku, nona ".
"Tidak mungkin mas Radhi, Lanjutkan hidupmu. Aku hanya menumpang hingga esok hari. Biarlah, aku akan memulai hidup yang baru bersama anakku".
"Kalau begitu Menikahlah denganku, Nona".
Jelita terkejut. Bagaimana mungkin?
🍁🌺🍁