NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Pintu Gerbang Samudra Kabut

Langkah kaki Kaelen dan Lyra menapaki bebatuan terjal di lereng Pegunungan Langit Timur dengan ritme yang teratur. Suhu udara di ketinggian tersebut merosot drastis, menciptakan embusan napas yang mengepulkan uap putih tipis setiap kali mereka menghembuskannya. Di sisi kiri mereka, jurang menganga lebar tertutup oleh lautan awan putih yang bergolak lambat, sementara di sebelah kanan, dinding tebing batu granit tegak lurus menjulang tinggi menembus angkasa. Pilar cahaya keunguan yang terlihat samar dari bawah kini tampak begitu masif, berdenyut secara berkala dan memancarkan gelombang energi kosmik yang membuat getaran halus merambat hingga ke telapak kaki mereka.

Kaelen berjalan paling depan, memastikan setiap pijakan aman dari batu-batu longgar yang kerap terlepas akibat terpaan angin gunung yang kencang. Tangannya secara naluriah bersandar dekat gagang pedang baja gelap, merasakan ketenangan stabil yang disalurkan oleh bilah transparan tersebut. Di belakangnya, Lyra menjaga tempo dengan napas yang teratur, meskipun peluh tipis tampak membasahi pelipisnya akibat medan pendakian yang semakin curam dari jam ke jam.

"Pilar cahaya itu..." Lyra bersuara memecah kesunyian di antara deru angin tebing, matanya menyipit menatap puncak formasi energi di atas sana. "Intensitasnya meningkat setiap kali ia berdenyut. Rasanya seperti ada jantung raksasa yang sedang memompa darah ke seluruh pembuluh spiritual di benua ini."

"Itu bukan sekadar pilar energi biasa," jawab Kaelen tanpa mengalihkan pandangannya dari jalur pendakian. "Itu adalah pasak dimensi. Sisa-sisa formasi kuno yang didirikan oleh para leluhur di era Sekte Langit untuk menahan tekanan dari celah kosmik di seberang samudra. Sesuatu di balik sana sedang mencoba merusak pasak tersebut dari dalam."

Mereka mempercepat laju pendakian. Setelah berjuang melewati celah sempit di antara dua batu granit raksasa, jalur terjal itu akhirnya membawa mereka keluar pada sebuah dataran datar yang luas di puncak tebing—sebuah pelataran kuno seluas lapangan bola yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu raksasa berukir relief rasi bintang yang mulai terkikis usia.

Di pusat pelataran tersebut, sebuah altar batu berbentuk lingkaran berdiri megah, menjadi titik sumber dari pilar cahaya keunguan yang membubung tinggi ke langit. Namun, pemandangan yang membuat Kaelen dan Lyra langsung menghentikan langkah bukan terletak pada altar itu sendiri, melainkan pada sosok-sosok yang sudah terlebih dahulu berdiri di sekelilingnya.

Bayangan di Atas Altar Kuno

Tiga sosok berjubah perak dengan topeng wajah berbentuk burung rajawali tampak sedang sibuk menancapkan artefak-artefak hitam berbentuk pasak ke dasar lantai pilar altar. Setiap kali sebuah pasak ditancapkan, pilar cahaya keunguan itu mendadak meredup, mengeluarkan suara decitan logam retak yang memekakkan telinga, sementara garis-garis retakan hitam mulai menyebar di udara sekitarnya. Mereka bukanlah pengikut faksi kuno dari daratan tengah, melainkan utusan asing yang memancarkan aura kegelapan purba yang jauh lebih pekat dan asing.

Salah seorang dari mereka—tampaknya pemimpin kelompok tersebut—berbalik begitu merasakan kehadiran Kaelen dan Lyra di tepi pelataran. Topeng rajawali peraknya memantulkan pendaran cahaya ungu, dan dari balik celah topeng itu terdengar suara serak yang bergema aneh, seolah diucapkan oleh dua orang secara bersamaan.

"Tampaknya ada serangga usil yang datang mengganggu ritual suci kami," ucap pemimpin utusan asing itu dengan nada datar mengejek. Ia mengangkat tangan kanannya, dan sebilah sabit bermata ganda yang dikelilingi oleh api hitam muncul di genggamannya. "Kalian terlambat, manusia. Pintu gerbang Samudra Kabut sudah hampir terbuka sepenuhnya. Tidak ada kekuatan di dunia fana ini yang mampu menghentikan kebangkitan para penguasa sejati."

Kaelen melangkah maju melewati batas pelataran batu, sorot matanya setajam es. Ia menatap tiga utusan asing itu dengan ketenangan mutlak. "Kalian mengira merusak pasak dimensi ini akan memberi kalian kemenangan? Kalian hanya sedang memancing kehancuran kalian sendiri ke dalam dunia yang tidak memahami belas kasihan."

Utusan asing itu tertawa mengejek, suara tawanya terdengar berderit tidak wajar. "Kesombongan yang khas dari para penghuni planet rendahan ini! Habisi mereka, biarkan jiwa mereka menjadi tumbal tambahan bagi pembukaan segel!"

Dua utusan asing lainnya segera meninggalkan altar, melesat ke arah Kaelen dan Lyra dengan kecepatan kilat. Mereka mengayunkan pedang pendek yang memancarkan miasma hitam beracun, berniat untuk menyelesaikan pertempuran dalam satu serangan kilat.

"Biar aku urusi yang di sebelah kiri," seru Lyra tanpa ragu.

Gadis itu melompat ke sisi kanan, tangannya dengan cepat merogoh kantung pinggangnya dan melemparkan rentetan botol ramuan pemurni api ke arah salah satu utusan asing. Cairan hijau kebiruan meledak di udara, menciptakan dinding api spiritual yang langsung membakar miasma hitam musuh hingga mendesis hebat. Pertempuran jarak dekat yang sengit langsung meletus di antara bebatuan pelataran kuno.

Sementara itu, Kaelen menghadapi sang pemimpin utusan asing secara langsung. Pria bertopeng rajawali itu melompat menerjang dengan sabit bermata ganda, menebas mendatar mengarah ke leher Kaelen dengan kecepatan yang luar biasa.

Kaelen tidak menghindar. Ia mencabut pedang baja gelapnya dengan satu gerakan halus, membiarkan bilah transparan itu memancarkan pendaran biru keperakan yang menelan cahaya di sekitarnya.

Clang!

Benturan senjata menghasilkan gelombang kejut energi kosmik yang sangat dahsyat, meretakkan lantai batu pelataran di bawah kaki mereka. Pemimpin utusan asing itu terkejut setengah mati saat merasakan getaran balik yang langsung melumpuhkan pergelangan tangannya. Sebelum ia sempat menarik senjatanya kembali, Kaelen memutar pergelangan tangannya, mengaktifkan Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa.

Gelombang sabit hampa meluncur telak menghantam dada sang pemimpin utusan. Perisai spiritual di tubuh utusan itu hancur berkeping-keping bagaikan cermin pecah, mengirimkan tubuhnya terpental jauh hingga menabrak salah satu pilar batu penyangga altar hingga roboh.

Retakan di Ujung Langit

Meskipun pemimpin mereka terpental jatuh, dua utusan asing lainnya tetap bersikeras menyelesaikan ritual penancapan pasak terakhir. Salah seorang dari mereka berlari kembali ke arah altar, menghujamkan pasak hitam terakhir ke dalam pusat lingkaran batu dengan sekuat tenaga.

Bum!

Suara dentuman menggelegar bagai guntur menghantam seluruh puncak gunung. Pilar cahaya keunguan di tengah altar tiba-tiba berubah warna menjadi hitam legam secara total. Langit di atas Pegunungan Langit Timur mendadak terkoyak selebar ribuan meter, memperlihatkan jurang kehampaan antardimensi yang dipenuhi oleh pusaran awan badai merah darah dan siluet mata raksasa yang mengintip dari balik kegelapan kosmik.

Tekanan gravitasi yang luar biasa menekan permukaan pelataran kuno. Udara di sekitar puncak gunung mendadak hilang, membuat siapa pun yang berada di sana kesulitan bernapas.

"Hahaha... Lihat itu!" tawa pemimpin utusan asing yang bangkit dengan mulut berlumuran darah hitam, menunjuk ke arah celah langit yang terbuka. "Pintu gerbangnya sudah terbuka! Para dewa kehancuran akan segera turun ke dunia kalian!"

Kaelen menatap ke arah celah langit yang menganga lebar. Ia tahu, jika entitas dari balik celah itu berhasil melewatinya, seluruh peradaban di dunia kultivasi akan musnah dalam waktu kurang dari satu hari. Tidak ada waktu untuk ragu. Kaelen menyalurkan seluruh sisa esensi kosmik dari dantiannya ke dalam Pedang Baja Gelap, membuat bilah transparan itu membara dengan cahaya biru keperakan yang begitu terang hingga menyaingi cahaya matahari pagi.

"Teknik Jiwa Pedang Hampa: Penutup Celah Semesta!" raung Kaelen lantang.

Ia melompat ke udara, melayang tinggi ke arah langit di mana celah dimensi itu menganga. Dengan satu ayunan pedang yang sangat kuat dan mutlak, ia melepaskan gelombang hampa raksasa yang langsung menyelimuti seluruh area robekan langit.

Syuuung...

Tidak ada suara ledakan. Yang terdengar hanyalah desisan hampa saat energi kosmik Kaelen menarik dan merapatkan kembali jaringan dimensi yang koyak. Celah langit itu menjerit dalam bahasa yang tidak dapat didengar oleh telinga manusia, sebelum akhirnya perlahan-lahan menutup rapat, melenyapkan siluet mata raksasa dan awan badai merah darah dalam sekejap mata.

Pilar cahaya keunguan di altar batu kembali pulih memancarkan warna aslinya, sementara tekanan gravitasi di puncak gunung langsung lenyap seketika. Tiga utusan asing itu tertegun ngeri melihat kerja keras kelompok mereka selama bertahun-tahun dihancurkan hanya dalam satu tebasan pedang tunggal. Tanpa menunggu ampun, Kaelen mendarat kembali di atas pelataran, mengibaskan pedangnya tipis-tipis untuk melenyapkan sisa-sisa miasma musuh hingga bersih tanpa bekas.

Perjalanan panjang mereka telah menepis ancaman terbesar yang pernah mengancam eksistensi dunia fana. Di atas puncak Pegunungan Langit Timur, bersama Lyra yang berdiri di sisinya dengan tatapan penuh kebanggaan, Kaelen menyarungkan kembali pedangnya, menatap masa depan dunia yang kini kembali aman dalam pelukan keabadian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!