Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Persimpangan Hati
Nara mendesah pelan. Matanya kemudian bergulir menatap laci paling bawah dari meja kerjanya.
Dengan gerakan pelan, ia menarik laci tersebut. Di tumpukan paling dalam, tersembunyi sebuah buku novel tebal yang sudah agak berdebu.
Jemari Nara membuka lembaran demi lembaran novel tersebut hingga sampai pada halaman tengah. Di sana, terselip sebuah foto berukuran 4R yang pinggirannya mulai melengkung.
Nara mengambil foto itu dan memandangnya tanpa kedip.
Foto itu diabadikan beberapa tahun lalu di depan taman kampus mereka. Di dalam foto tersebut, tampak Nara dengan tertawa lepas di samping seorang pemuda berbaju kasual yang merangkul bahunya dengan begitu erat dan protektif.
Pemuda itu adalah Devino. Wajah Devino dalam foto itu terpancar begitu cerah, dengan ukiran senyum bahagia yang sangat tulus tanpa beban.
Seketika, memori masa lalu berputar bagai rol film di dalam benak Nara.
Kilas balik masa-masa indah itu menariknya kembali ke masa lalu. Nara teringat bagaimana Devino selalu menjadi orang pertama yang membawakannya cokelat hangat saat ia stres menghadapi ujian semester.
Ia teringat tawa canda mereka saat terjebak hujan deras di sebuah warung kopi kecil tepi jalan, di mana Devino berjanji dengan mata berbinar bahwa suatu hari nanti, dia akan bekerja keras untuk melamar Nara di hadapan ayahnya.
Ia teringat betapa manisnya janji-janji Devino, betapa hangatnya genggaman tangan pria itu, dan betapa hidup terasa sangat indah ketika mereka berdua saling menggantungkan pimpian masa depan.
Namun, kilas balik kehangatan itu hilang oleh kenangan pahit beberapa minggu lalu. Saat masalah perjodohan ini pertama kali muncul.
Devino justru memilih mundur, menghilang, dan meninggalkan Nara sendirian menghadapi tekanan besar dari ayahnya. Devino memilih menunda karena memilih meningkatkan karirnya dengan alasan alih-alih ketidak siapan secara finansialnya.
Kini, Devino mengubah cara pandangnya. Mengiba, memohon, dan meratap dari balik telepon, berjanji ingin membuktikan diri dan menantang Zaid dari pria ke pria.
Setetes air mata akhirnya menetes dari sudut mata Nara, jatuh tepat di atas permukaan licin foto tersebut, membasahi wajah Devino yang tersenyum di dalam gambar.
Nara mengusap tetesan air mata itu dengan ibu jarinya, merasakan sesak yang teramat sangat di dadanya. Perasaan cintanya pada Devino belum sepenuhnya mati, namun rasa kecewa dan kehampaan telah mengikis kepercayaannya.
"Mengapa baru sekarang, Dev? Mengapa baru sekarang kamu ingin berjuang ketika semuanya sudah terlambat?" batin Nara meratap.
Di saat lamunan dan pergolakan batin Nara semakin dalam merajai pikirannya, mendadak kesunyian kamar terpecahkan oleh suara dering ponsel yang bergetar nyaring di atas meja. Vibrasinya membuat permukaan kayu meja bergetar ritmis.
Nara tersentak. Ia dengan cepat mengusap air mata di pipinya dan mengembalikan foto Devino ke dalam selipan buku, lalu menutup lacinya rapat-rapat.
Ia mendekati meja dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Zaid.
Jantung Nara berdegup kencang seketika. Dengan napas yang masih sedikit tersendat, ia menggeser ikon hijau di layar dan menempelkan ponsel tersebut ke telinganya.
"Wa'alaikum salam... Zaid?" sapa Nara berusaha membuat suaranya terdengar senormal mungkin.
Di ujung telepon, hening sejenak sebelum suara bass khas milik Zaid yang dalam, tenang, dan tanpa nada emosi terdengar dengan sangat jernih.
"Selamat malam, Nara. Maaf jika Saya mengganggu waktu istirahatmu."
"Tidak... tidak mengganggu, Zaid. Ada apa?" tanya Nara pelan.
"Saya hanya ingin menyampaikan satu hal terkait pembicaraan kita siang tadi, dan pesan singkat yang kamu kirimkan sebelumnya siang tadi," ujar Zaid dengan nada bicara yang selalu teratur dan lugas.
Nara menahan napasnya. Siang tadi, setelah menutup telepon dari Devino, Nara memang sempat memberanikan diri mengirimkan pesan singkat kepada Zaid, menyampaikan bahwa mantan kekasihnya, Devino, memohon untuk diberi kesempatan bertemu secara langsung dengan Zaid.
"Soal Devino..." suara Nara tercekat. "Apakah... kamu sudah membacanya?"
"Sudah," jawab Zaid singkat. Ada jeda sejenak, terdengar suara gesekan kertas dari ujung telepon tempat Zaid berada. "Saya menyetujuinya. Saya siap bertemu dengan Devino."
Nara tertegun di tempatnya berdiri. Ia tidak menyangka Zaid akan merespons permintaan yang terkesan konyol dan berisiko itu dengan begitu cepat dan tenang.
"Kamu... kamu sungguh menyetujuinya, Zaid?" tanya Nara memastikan, hampir tak percaya. "Devino sedang dalam kondisi yang sangat emosional. Aku takut pertemuan ini hanya akan menimbulkan keributan atau kekacauan yang tidak perlu. Jika kamu merasa keberatan, kamu bisa menolaknya, Zaid."
Zaid terkekeh pelan, sebuah kekehan tipis yang dingin namun penuh percaya diri.
"Kenapa Saya harus merasa keberatan atau takut, Nara? Saya tidak memiliki alasan untuk menghindar," kata Zaid tenang.
"Jika mantan kekasihmu merasa perlu berbicara dari pria ke pria untuk menyelesaikan masa lalu kalian, maka Saya akan memberinya panggung itu. Lagipula, Saya ingin masalah masa lalumu selesai dengan tuntas sebelum kita melangkah lebih jauh."
Zaid menghela napas pendek sebelum melanjutkan kata-katanya dengan nada yang sangat tegas, namun rasional.
"Pikirkan ini, Nara. Sejak awal Saya sudah katakan, pernikahan kita mungkin akan diikat oleh hukum dan restu orang tuamu, tapi Saya tidak berniat mengikat atau mengganggu perasaanmu jika hatimu memang masih tertinggal pada pria lain...
... Walaupun pernikahan ini nantinya mengikat status kita di mata hukum dan masyarakat, Saya tidak akan pernah memaksa atau mencampuri urusan hatimu dengan Devino. Jika dalam pertemuan nanti Devino bisa membuktikan bahwa dia memang pria yang bertanggung jawab dan mampu memperjuangkanmu secara gentleman di hadapan ayahmu... Saya sendiri yang akan mundur dan menyelesaikan urusan ini dengan Pak Rahardja."
Kata-kata Zaid menghantam kesadaran Nara dengan sangat telak. Pria ini begitu tenang, begitu dewasa, dan begitu menghargai kebebasan Nara, hingga rasanya tak masuk akal.
Zaid tidak menunjukkan rasa kepemilikian sedikit pun, melainkan sebuah kepemimpinan yang dingin dan solusi rasional atas kerumitan yang dihadapi Nara.
Nara menggigit bibir bawahnya, kehabisan kata-kata. "Zaid... aku tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih atas pengertianmu."
"Tidak perlu berterima kasih. Saya hanya melakukan apa yang menurut Saya benar dan adil untuk kita bertiga," balas Zaid datar. "Atur waktunya. Beritahu Saya kapan dan di mana Devino ingin bertemu. Saya akan menyesuaikan jadwal Saya."
"Baik, Zaid. Nanti... nanti aku tanyakan pada Devino dan kabari kamu lagi," bisik Nara.
"Bagus. Sekarang istirahatlah. Jangan terlalu banyak berpikir. Selamat malam, Nara."
"Wa'alaikum salam... Selamat malam, Zaid..."
Sambungan telepon terputus. Nara perlahan menurunkan ponsel dari telinganya dan menggenggamnya erat di dada.
Ia berdiri mematung di tengah kamarnya yang sunyi. Pertemuan itu benar-benar akan terjadi.
Tiga garis takdir kini saling bersimpangan, Devino yang tenggelam dalam penyesalan masa lalu, Zaid yang berdiri kokoh dengan kepastian dan logika dinginnya, serta Nara yang terjebak di tengah-tengah mereka.
Nara menatap ke arah jendela kamar yang menampilkan kegelapan malam kota. Langkah besar telah diambilnya, dan ia tahu betul, setelah pertemuan antara Zaid dan Devino berlangsung nanti, jalan hidup dan takdir masa depannya tidak akan pernah sama lagi.
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏