NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempat semuanya di Mulai

Hujan turun perlahan membasahi jalanan.

Mobil hitam itu melaju meninggalkan pusat kota.

Tidak ada banyak percakapan sejak mereka berangkat.

Aluna duduk diam di samping jendela.

Tatapannya mengikuti tetesan air yang mengalir di kaca.

Di sampingnya, Niel beberapa kali ingin mengatakan sesuatu.

Namun setiap kali melihat wajah Aluna...

ia mengurungkan niatnya.

Karena ia tahu.

Perjalanan ini bukan hanya tentang menemukan tempat.

Tapi tentang menghadapi masa lalu yang selama ini mereka kubur.

"Niel."

Suara Aluna akhirnya terdengar.

"Ya?"

"Kalau nanti aku menemukan sesuatu yang tidak aku suka..."

Niel menoleh.

"Apa maksudmu?"

Aluna menatapnya.

"Kalau ternyata aku bukan orang yang selama ini aku pikir."

"Kalau ternyata masa laluku jauh lebih buruk dari yang kubayangkan..."

Ia berhenti sebentar.

"Kamu masih akan tetap di sisiku?"

Pertanyaan itu membuat Niel terdiam.

Karena bagi dirinya...

jawabannya sudah jelas sejak lama.

"Aku tidak peduli siapa kamu di masa lalu."

Niel berkata pelan.

"Yang aku tahu..."

"Aluna yang aku kenal sekarang adalah orang yang selalu berusaha melindungi orang lain."

Tatapan mereka bertemu.

"Dan itu tidak akan berubah."

Aluna terdiam.

Entah kenapa...

kalimat sederhana itu membuat hatinya sedikit lebih tenang.

___________________________________________

Beberapa jam kemudian.

Mobil berhenti di depan sebuah bangunan tua.

Bangunan itu terlihat kosong.

Dindingnya sudah dipenuhi lumut.

Sebagian jendelanya pecah.

Tidak ada tanda kehidupan.

Namun bagi Niel...

Tempat itu menyimpan terlalu banyak kenangan.

"Apa ini?"

tanya Aluna pelan.

Niel turun dari mobil.

"Tempat penelitian lama."

Aluna ikut turun.

Melihat bangunan itu membuat dadanya terasa sesak.

"Aku pernah ke sini?"

Niel menatapnya.

"Aku tidak tahu."

"Tapi aku pernah."

Mereka berjalan mendekati pintu utama.

Darren dan beberapa anggota tim mengikuti dari belakang.

"Tempat ini sudah ditinggalkan lebih dari sepuluh tahun," ujar Darren.

"Tidak ada catatan resmi mengenai aktivitas di dalam."

Niel menatap pintu.

"Tentu saja."

"Karena mereka tidak ingin ada yang menemukan tempat ini."

Ia mendorong pintu perlahan.

Suara engsel tua terdengar menggema.

Di dalam...

semuanya masih terlihat seperti terakhir kali digunakan.

Meja.

Komputer lama.

Dokumen yang berserakan.

Dan ruangan kaca besar di tengah gedung.

Aluna berhenti.

Tangannya tiba-tiba bergetar.

"Niel..."

Pria itu menoleh.

"Aku..."

Aluna memegang kepalanya.

"Aku pernah di sini."

Semua orang langsung terdiam.

"Nona?"

Darren mendekat.

Namun Niel menahannya.

"Jangan paksa dia."

Perlahan...

potongan ingatan mulai muncul.

Suara langkah kaki kecil.

Suara mesin.

Suara seseorang berbicara.

"Kita hampir berhasil."

"A-07 menunjukkan hasil yang berbeda."

"Ada respons terhadap subjek N."

Aluna membuka mata.

Napasnya memburu.

"Niel..."

"Aku mendengar suara."

"Apa?"

"Ada seseorang yang menyebut namamu."

Wajah Niel berubah.

"Namaku?"

Aluna mengangguk.

"Dia bilang..."

Ia mencoba mengingat.

"Subjek N dan A-07 harus dipisahkan."

Suasana langsung membeku.

Darren menatap Niel.

"Subjek N..."

Niel tidak menjawab.

Karena ia mulai memahami sesuatu.

Selama ini ia mengira dirinya hanya bagian dari masa lalu proyek itu.

Namun mungkin...

dia adalah salah satu bagian utama.

_______________________________________

Mereka masuk lebih dalam ke ruangan penelitian.

Di salah satu meja, Darren menemukan sebuah kotak besi kecil.

"Tuan."

Niel mendekat.

Kotak itu terkunci.

Namun di bagian depan terdapat simbol yang sama.

Simbol Proyek Takdir.

Aluna menyentuh simbol tersebut.

Dan tiba-tiba...

kunci kotak terbuka.

Semua orang terdiam.

Darren langsung melihat Niel.

"Bagaimana bisa?"

Niel juga tidak tahu.

Aluna menatap tangannya sendiri.

"Aku..."

"Aku yang membukanya?"

Tidak ada yang menjawab.

Di dalam kotak itu hanya ada satu benda.

Sebuah rekaman video lama.

Niel mengambilnya.

Layar kecil di dalam kotak menyala.

Beberapa detik kemudian...

muncul seorang pria dengan jas putih.

Wajahnya tidak terlihat jelas.

Tetapi suaranya terdengar.

"Jika kalian melihat rekaman ini..."

"Berarti ingatan Aluna mulai kembali."

Aluna membeku.

Pria itu melanjutkan.

"Dan berarti..."

"Niel gagal menjaganya tetap jauh dari kebenaran."

Niel mengepalkan tangan.

Layar berkedip.

Lalu muncul kalimat terakhir.

"Selamat datang kembali, A-07."

_________________________________________

Layar kecil itu masih menyala.

Kalimat terakhir yang muncul membuat ruangan terasa jauh lebih dingin.

"Selamat datang kembali, A-07."

Tidak ada yang berbicara.

Bahkan suara hujan yang menghantam atap bangunan tua terdengar lebih jelas dari sebelumnya.

Aluna hanya berdiri diam.

Matanya terpaku pada layar.

A-07.

Nama itu terus berputar di pikirannya.

Bukan nama.

Bukan panggilan.

Melainkan sebuah identitas yang diberikan seseorang kepadanya.

"Kenapa aku dipanggil seperti itu?"

Suara Aluna terdengar pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Karena tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki jawaban.

Niel menatap layar dengan tatapan penuh kemarahan.

Bukan karena rekaman itu.

Tapi karena seseorang di masa lalu telah memperlakukan Aluna seperti sebuah objek.

Seperti sebuah percobaan.

Ia mengepalkan tangannya.

"Aku akan menemukan siapa orang ini."

Darren memperhatikan ekspresi Niel.

"Tuan..."

Niel tidak menoleh.

"Apa?"

"Anda yakin ingin membuka semuanya?"

Pertanyaan itu membuat Niel diam.

Karena ia tahu.

Setiap jawaban yang mereka temukan mungkin akan membawa luka baru.

Namun kali ini...

ia tidak bisa lagi melindungi Aluna dengan kebohongan.

"Aku sudah terlambat."

Darren terdiam.

"Nona Aluna sudah terlibat sejak awal."

Niel menatap Aluna.

"Dan aku tidak akan membiarkannya menghadapi ini sendirian."

__________________________________________

Beberapa menit kemudian.

Mereka mencoba memutar ulang rekaman tersebut.

Layar kembali menyala.

Kali ini muncul gambar ruangan penelitian.

Tidak ada orang di sana.

Hanya suara pria yang sama.

"Proyek Takdir memasuki tahap akhir."

"Subjek A-07 menunjukkan kemampuan adaptasi yang tidak pernah ditemukan sebelumnya."

Aluna menahan napas.

Kemampuan?

Apa maksudnya?

"Lalu..."

Suara lain terdengar.

Lebih muda.

Lebih familiar.

Niel langsung membeku.

Karena ia mengenali suara itu.

"Kita harus menghentikan percobaan."

Suara Niel kecil terdengar lagi.

Namun seseorang menjawab.

"Tidak bisa."

"Kalian berdua sudah menjadi bagian dari proyek ini."

Layar tiba-tiba berubah.

Muncul sebuah gambar.

Dua anak kecil berdiri di dalam ruangan kaca.

Niel kecil.

Dan Aluna kecil.

Mereka berdua saling berpegangan tangan.

Aluna menatap gambar itu dengan tubuh bergetar.

"Aku..."

Ia mendekati layar.

"Aku mengenalnya."

Niel menatapnya.

"Siapa?"

Aluna memejamkan mata.

Sebuah ingatan kecil muncul.

Seorang anak laki-laki berdiri di depannya.

Memberikan tangannya.

Dan berkata...

"Kalau kamu takut, jangan lihat mereka."

"Lihat aku saja."

Mata Aluna terbuka perlahan.

"Niel..."

Pria itu menatapnya.

"Kita pernah bertemu."

Hening.

Kalimat itu akhirnya keluar.

Bukan dari rekaman.

Bukan dari orang lain.

Tapi dari ingatan Aluna sendiri.

"Kamu..."

"Kamu yang menemaniku waktu itu."

Niel tidak mampu berkata apa-apa

Karena selama ini ia juga tidak mengingatnya.

Namun melihat wajah Aluna...

ia tahu.

Gadis itu tidak berbohong.

____________________________________

Tiba-tiba seluruh lampu gedung mati.

Gelap.

Darren langsung mengambil senjata.

"Semua waspada."

Suara langkah kaki terdengar dari lorong.

Perlahan.

Mendekat.

Seseorang berjalan menuju ruangan mereka.

Niel berdiri di depan Aluna.

Seperti selalu.

Namun kali ini...

Aluna tidak mundur.

Ia berdiri di samping Niel.

"Aku tidak akan bersembunyi lagi."

Niel menoleh.

Dan untuk pertama kalinya malam itu...

ia tersenyum kecil.

Langkah kaki semakin dekat.

Sampai akhirnya seseorang muncul di ujung lorong.

Sosok itu mengenakan jas hitam.

Wajahnya tertutup bayangan.

Namun suaranya langsung membuat Niel membeku.

"Sudah lama sekali, Niel."

Pria itu berjalan mendekat.

"Kau masih mencoba melindunginya?"

Niel menatap tajam.

"Siapa kamu?"

Pria itu tersenyum.

"Kau benar-benar lupa."

Ia menatap Aluna.

"Padahal dulu..."

"Akulah orang yang mempertemukan kalian."

Ruangan kembali sunyi.

Lalu pria itu mengatakan satu kalimat terakhir.

"Selamat datang kembali di rumah kalian."

Bersambung... 🔥

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!