Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9.
"Mungkin ini hanyalah sebuah kebetulan saja." Batin Leon, berusaha menepis perasaan aneh dihatinya tentang bayi laki-laki tersebut. Sementara Georgina, wanita itu nampak memasukan ponselnya ke dalam tasnya usai mengirim foto Richard pada Reka, dengan Caption 'Keponakan gantengnya aku lagi anteng-anteng saja, tidak perlu terlalu mencemaskannya!.'
*
Di tempat yang berbeda, Reka mengulas senyum lega saat melihat foto yang baru saja dikirimkan oleh Georgina ke aplikasi hijau miliknya. Kekhawatiran Reka sebelumnya pun seolah sirna begitu saja.
"Reka...." Seruan Ibnu sekaligus mengalihkan perhatian Reka dari layar ponselnya. wanita itu gegas memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Pak Ibnu." Balas Reka.
"Kamu pasti belum makan siang, iya kan?." Tebak Ibnu dan Reka spontan menggelengkan kepalanya, karena faktanya ia memang belum makan siang.
"Kebetulan aku juga belum makan siang. Bagaimana kalau kita keluar untuk makan siang bersama! Please....Jangan menolak, Reka!." Ibnu memasang wajah memelas sehingga Reka merasa tak enak hati untuk menolak.
"Baiklah."
Reka lantas bersiap, dan beberapa saat kemudian mereka pun berlalu.
*
"Setelah kita menikah nanti, kamu maunya bulan madu ke mana, Leon?." Baru saja mobilnya memasuki pekarangan sebuah restoran Jepang, Leon langsung di todong Georgina dengan pertanyaan yang tidak pernah terbesit sedikitpun di benaknya.
"Aku rasa kamu belum lupa dengan alasan yang mendasari rencana pernikahan kita Georgina." Balas Leon sambil menoleh pada Georgina.
"Aku tidak pernah lupa akan hal itu, tapi apa salahnya untuk saling mendekatkan diri, Leon. Dan aku rasa bulan madu adalah salah satu cara yang paling tepat untuk kita saling mendekatkan diri satu sama lain."
"Please....Aku sedang lapar, dan belum berniat membahas tentang hal itu sekarang, Geo. Bolehkan...?."
Georgina hanya bisa menghela napas panjang kemudian menghembusnya perlahan, sebelum sesaat kemudian mengangguk pasrah.
"Aku harap sikapmu ini bukan karena kamu masih memiliki perasaan pada mantan istri kamu itu, Leon." Gumaman Georgina mampu membekukan tubuh Leon untuk sesaat. Ya, Georgina memang tahu tentang status Leon yang merupakan seorang duda, namun wanita itu tak pernah tahu siapa sosok wanita yang pernah mengisi hari-hari indah calon suaminya itu.
"Untuk apa membuang waktu memikirkan seseorang yang mungkin tidak pernah terpikir untuk memikirkanku." Cetus Leon sebelum melanjutkan pergerakannya, membuka pintu mobil dan melangkah keluar dari mobil mewahnya tersebut.
"Siapa sebenarnya wanita itu? kenapa kamu tidak pernah mau terbuka padaku tentang sosok wanita itu, Leon?." Batin Georgina. Cukup lama Wanita itu menatap Leon dari balik kaca mobil. Sesaat kemudian, Georgina pun ikut menyusul Leon turun dari mobil. Menurut informasi dari mommy-nya Leon, pernikahan Leon dan mantan istrinya tidak dikaruniai buah hati, itulah mengapa Georgina tak sampai berpikiran yang bukan-bukan tentang kemiripan wajah Leon dengan seorang bayi laki-laki tampan bernama Richard.
Kini Georgina dan Leon telah menempati salah satu meja di dalam restoran yang menyediakan makanan khas Jepang tersebut. Mengingat setelah jam istirahat makan siang ia harus kembali bekerja, Georgina langsung saja membuat pesanan setelah memilih menu yang ingin dinikmati siang ini. Begitu juga dengan Leon, sekalipun ia bekerja di perusahaan miliknya sendiri, pria itu tetap bersikap professional, dengan berencana segera kembali ke perusahaan setelah makan siang selesai. Sebagai pimpinan, Leon ingin memberi contoh yang baik bagi semua pegawainya.
Ketika tidak sengaja memandang ke arah pintu utama restoran, pandangan Georgina menangkap keberadaan dua orang yang dikenalnya.
"Reka....pak Ibnu...." Georgina sontak melambaikan tangan ke arah keduanya. Leon yang posisinya membelakangi arah pintu sontak menoleh ke belakang.
"Kemarilah...!." Dengan antusias Georgina memberi isyarat agar Reka dan Leon mendatangi mejanya. Tak mau dianggap kurang sopan, Reka dan Ibnu lantas mengayunkan langkah menuju meja yang ditempati oleh Georgina dan tentunya ada Leon juga di sana. Georgina tak lagi berpikiran yang aneh-aneh melihat kebersamaan Reka dan Ibnu, lagipula sekedar makan siang bersama rekan kerja masih sewajarnya juga. Sepengetahuan Georgina kini Reka telah menikah dan juga telah memiliki seorang anak. So, mana mungkin menjalin hubungan dengan pria lain, termasuk Ibnu. Pasti keduanya hanya kebetulan saja makan siang bersama layaknya rekan kerja, begitu pikir Georgina.
"Kebetulan sekali kalian juga makan siang di sini. Bagaimana kalau kalian bergabung saja bersama kami!." Georgina memberi tawaran pada Ibnu dan Reka untuk bergabung bersama di mejanya dan Leon.
"Terima kasih, tapi sebaiknya kami menempati meja yang lain saja." Reka yang menjawab, wanita itu menolak dengan halus tawaran Georgina.
"Reka benar Nona Georgina, kebetulan masih banyak meja yang kosong." Ibnu pun ikut bersuara.
"Baiklah kalau begitu." Georgina tak memaksa dan juga tak merasa tersinggung dengan penolakan tersebut. Ia dapat mengerti dengan rasa sungkan Ibnu dan Reka, mengingat saat ini ia makan siang bersama Leon.
Ibnu dan Reka lantas berpamitan dan berlalu menuju salah satu meja yang masih kosong di sudut ruangan.
"Seandainya saja Reka belum menikah, pak Ibnu pasti masih memiliki kesempatan." Gumam Georgina sambil mengarahkan pandangan ke sudut ruangan, di mana letak meja yang ditempati oleh Reka dan Ibnu berada.
Gumaman Georgina tersebut mampu memancing atensi Leon dari layar ponselnya. Ya, barusan Leon membuka pesan singkat dari asisten pribadinya, itulah mengapa pria itu sibuk menatap layar ponselnya.
"Rupanya dia sudah menikah lagi." Leon bergumam dalam hati dengan ekspresi tak terbaca.
"Aku jadi penasaran, setampan apa suaminya Reka sampai melahirkan seorang bayi laki-laki yang begitu tampan." Kalimat Georgina kali ini di respon balik oleh Leon dengan pertanyaan yang menurut pria itu masih sewajarnya.
"Memangnya kamu sudah melihatnya, sampai memuji bayi itu sangat tampan?."
"Tentu saja.... Richard, bayi laki-laki tampan yang tadi sempat kamu lihat di layar ponselku, itu adalah bayinya Reka."
Deg
Pertanyaan yang menurutnya sewajarnya tersebut malah mendapat jawaban yang mampu mengejutkan Leon.
"Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba terdiam begitu, Leon?." Georgina menyentuh tangan Leon yang berada diatas meja saat melihat pria itu terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Bukan apa-apa." Leon langsung kembali bersikap biasa saja dan menjawab Georgina.
"Syukurlah.... tadinya aku pikir kamu terdiam karena membayangkan tampannya anak kita kelak." Balas Georgina setengah serius.
Leon enggan merespon kalimat Georgina, pria itu memfokuskan diri pada makanan yang baru saja disajikan oleh pelayan, lebih tepatnya berpura-pura memfokuskan diri karena faktanya kini pikiran Leon justru dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan yang membuatnya tak sabar untuk segera kembali ke perusahaan guna membicarakan sesuatu pada asisten pribadinya.
Di sela kegiatannya menyantap makanan dihadapannya, sesekali Leon melirik pada Reka.
"Semoga saja kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku, Reka." Batin Leon seraya menatap Reka yang kini tengah menyuap makanan ke dalam mulutnya.
Ibnu lebih gila lagi...
ngakak aku nya...