Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Panggilan yang Diabaikan
Mita membuka pintu kamarnya, memperlihatkan sebuah ruangan minimalis yang rapi dengan dekorasi khas remaja seumurannya. Tidak ada satu pun barang milik Sam di sana, membuktikan secara mutlak bahwa ucapan Mita bukanlah kebohongan.
Vanya melangkah masuk, ketegangannya sedikit mengendur. Mita kemudian mengajaknya untuk duduk berdua di atas ranjang miliknya agar mereka bisa mengobrol dengan lebih santai.
Namun, di tengah percakapan mereka, perhatian Vanya terus teralih. Ponsel Mita yang diletakkan di atas seprai bergetar tanpa henti. Layar ponsel itu menyala berulang kali, menampilkan angka yang fantastis: 104 panggilan tak terjawab dari satu nama kontak yang sama, yaitu "Duniaku".
Baru saja Vanya menatap layar itu, ponsel tersebut kembali bergetar hebat, menandakan ada panggilan masuk lagi dari nama yang sama.
Mita yang menyadari arah pandangan Vanya langsung dengan cepat membalikkan posisi ponselnya. Ia tersenyum tipis, mencoba mengalihkan perhatian tamunya itu.
"Ini tidak usah dihiraukan, Mbak. Tidak penting," ujar Mita dengan nada santai, berusaha mengubur kegelisahan yang mendadak menyerang dadanya.
Tepat pada saat itu, langkah kaki Sam terdengar mendekat. Sam kini sudah berdiri di ambang pintu kamar dengan berkas dan jas di tangannya, siap untuk pamit ke kantor. Namun, langkah Sam terhenti ketika mendengar rentetan pertanyaan spontan dari kekasihnya.
Vanya menatap Mita lekat-lekat. "Apa itu dari pacarmu?" tanya Vanya penasaran.
Mita sempat melirik sekilas ke arah Sam yang terpaku di ambang pintu, lalu menggelengkan kepala pelan. "Sudah bukan lagi, Mbak," jawab Mita lirih.
"Kamu memutuskan kekasihmu?" cecar Vanya lagi, tak tahan untuk tidak banyak bertanya. Matanya melirik ke arah ponsel yang kembali bergetar. "Tidakkah kamu menyuruh dia untuk menunggu begitu? Sampai... ya, sampai urusan pernikahan ini selesai? apakah kamu pernah coba menjelaskan kepadanya?"
Mita tertegun sejenak mendengar pertanyaan Vanya. Ia melirik layar ponselnya yang meredup, lalu menatap Vanya dengan senyuman yang teramat tulus namun menyiratkan kedewasaan yang getir.
"Menunggu itu melelahkan, Mbak Vanya," jawab Mita lembut, memotong rasa penasaran Vanya. "Aku tidak ingin egois dengan mengikat seseorang dalam ketidakpastian, apalagi memintanya menunggu sesuatu yang aku sendiri tidak tahu kapan ujungnya. Hubungan yang dipaksakan bertahan dalam sembunyi-sembunyi hanya akan menorehkan luka baru. Biarlah dia bebas mencari kebahagiaannya sendiri."
Mita menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan. "Aku cuma ingin mengikuti arus saja. Kalau memang jalan hidupku harus berpisah dengan dia, ya mungkin itulah akhir ceritanya."
Mendengar jawaban pasrah namun begitu bijak dari Mita, Vanya langsung terdiam, kehilangan kata-kata.
Sam yang sejak tadi menyimak di ambang pintu merasakan dadanya bergemuruh hebat. Rasa bersalah berbaur dengan kekaguman yang teramat dalam atas kebesaran hati Mita. Sambil membenahi letak berkas di lengannya, Sam akhirnya melangkah maju satu langkah, memecah keheningan kamar itu.
"Mita..." panggil Sam, suaranya terdengar berat dan sedikit serak.
Kedua wanita itu menolEh ke arah sumber suara. Sam menatap Mita dengan pandangan yang sulit diartikan, penuh penyesalan yang tertahan.
"Maafkan aku, Mit. Dan... terima kasih," ucap Sam tulus, teringat betapa gadis ini telah mengorbankan segalanya—bahkan cintanya sendiri—demi memuluskan jalannya. "Aku pergi ke kantor dulu. Vanya, aku titip dia sebentar ya."
Setelah berpamitan, Sam berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan kedua wanita itu di dalam kamar yang kembali dilingkupi keheningan.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)