Cerita Ini bersifat fiktif belaka!
Kais Arfan Syailendra melakukan kesalahan satu malam dengan Anisa Syafa sekertaris nya sekaligus sahabat dari istrinya.
Kais menjerat Anisa dalam hubungan rumit dengan tujuan membongkar pengkhianatan yang di lakukan Marsya istri Kais bersama Bagas tunangan Anisa.
Bagaimana Kais membuat Anisa tetap disisinya dan membongkar rahasia masalalu mereka? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kilas Masalalu ( Revisi )
Keesokan harinya, Anisa terlihat sedang sibuk dengan laptopnya. Rendi mendekat ke arah meja kerja Anisa.
"Nis, nanti ini kasih Kais ya ..bilang Kais kalau gue pergi meeting sama Pak Rudi." Rendi menyerahkan berkas ke Anisa.
"Bukannya meeting sore ini sama pak Kais,kenapa sama Pak Rudi?" Anisa mendengar penuturan Rendi mengernyitkan dahinya karena setahu dirinya, Rendi meeting dengan Kais.
"Bos lo itu terlalu sibuk akhir-akhir ini. Mungkin dia butuh refreshing. Gue berangkat ya...Bye Nis,jangan lupa minum vitamin buat stamina tambah...Gerrrrrr ." Rendi bicara dengan nada menggoda, bahkan dia mengedipkan sebelah matanya membuat kesan genit.
Anisa cuma bisa terkekeh melihat tingkah asisten bosnya itu. Melihat Rendi menjauh dari meja kerjanya, tiba-tiba notifikasi ponsel Anisa berbunyi.
" Siap-siap nanti malam aku jemput.."
Anisa menghembuskan nafas nya pelan. Rasanya dia ingin membalas dan menolaknya. Rasanya dia ingin menikmati hidup bebas dari gangguan Kais.
Malam ini Bagas bahkan mengabarkan mendadak seminar ke Bali karena rekan kerjanya mendadak sakit. Walaupun dokter, mereka hanya manusia biasa..kadang juga sakit dan perlu istirahat juga.
...****************...
Seperti pesan yang di kirimkan Kais tadi sore, Kais menunggu Anisa di depan gang kos kosan nya. Anisa masuk ke dalam mobil Kais.
"Kita mau kemana? Marsya nggak ikut?" Kais melirik ke arah Anisa yang saat ini sudah duduk di sampingnya.
"Memangnya sahabat mu itu nggak hubungi kamu, hemm?" Anisa menggelengkan kepalanya.
Kais menghela nafas panjang. "Sudahlah jangan pikirkan dia. Disini hanya ada aku sama kamu, oke?"
"Nggak bisa gitu dong, dia kan___
"Percayalah, dia sekarang sedang senang-senang dengan teman-teman sosialita nya itu. Jadi, nggak perlu mengkhawatirkannya, oke sayang.." Anisa merotasi matanya mendengar panggilan Kais untuk nya.
Setelah lama mobil itu melaju di jalanan yang mengarah ke luar kota, Anisa baru sadar kalau jalan yang mereka tempuh semakin menjauh dari ibu kota. "Sebenarnya kita mau kemana? Ini sudah keluar dari Jakarta loh.." Kais masih diam mendengarkan ucapan Anisa. "Mas, kamu dengar nggak sih..kamu___
Cup
Kais mengecup bib*r Anisa dengan singkat di tengah kemacetan jalan tol yang mereka lewati saat ini.
Anisa mendapat kecupan singkat itu memukul lengan Kais. "Kamu kenapa cium-cium sih...kalau kelihatan orang gimana, malu tahu..!" Anisa terus mengomel namun Kais hanya bisa tersenyum.
Bagi Kais Omelan Anisa seperti nyanyian merdu baginya."Ssssttt...sudah, jangan ngomel mulu...sekarang duduk anteng, yang jelas kita akan pergi ketempat dimana kamu akan suka." Anisa menoleh ke arah Kais dan memicingkan matanya karena tiba-tiba rasa curiga menghinggapi hatinya.
Kais yang melirik sekilas ke arah Anisa, melihat ekspresi menggemaskan gadis itu hanya bisa terkekeh. Lalu dengan lembut tangan Kais menggenggam tangan Anisa dan kemudian dia kecup punggung tangan gadis itu beberapa kali. "Kita akan senang-senang sayang, jadi... tersenyum lah, hemm." Kais tetap terus menggenggam tangan Anisa sampai dimana Anisa menyandarkan kepalanya di bahu Kais.
Jam tujuh malam mobil mewah itu masuk ke halaman sebuah villa yang terletak diatas sebuah puncak di kelilingi kebun teh serta hutan pinus.
Kais yang melihat Anisa masih tertidur tak tega membangunkannya. Dengan perlahan Kais mengangkat tubuh Anisa setelah dia membuka pintu villa yang akan mereka tempati.
Karena tubuhnya merasa guncangan, Anisa yang ada di dalam gendongan Kais pun mulai membuka matanya. " Kita dimana mas?" suara parau Anisa yang ada di dekapan hangat nya, membuat Kais berhenti di sebuah ruangan dan meletakkan tubuh Anisa di sebuah sofa di ruangan remang itu.
"Kita di villa,kita langsung ke kamar saja, gimana?" Anisa menatap ke arah Kais dengan mata menyipit penuh curiga.
"Maksudnya, kamu bisa lanjut tidur di kamar sayang.."
Anisa menggelengkan kepalanya.
"Kita hanya berdua, coba kalau rame-rame kan enak.."
"Nggak enak lah, yang ada kita nggak bisa berduaan gini." Anisa menghembuskan nafas kasarnya.
"Sudahlah Nis, kita makan malam dulu. Bi Ayoh sudah siapkan makan malam buat kita." Anisa tak lagi bicara, dia mengikuti langkah Kais ke arah meja makan.
...----------------...
Si tempat lain, tepatnya di sebuah club malam di Bali. Seorang perempuan sedang asik menikmati dentuman musik keras dengan menikmati wine di tangannya.
Setengah jam lalu teman-temannya masih ada bersamanya. Namun perlahan mereka bubar dengan sendirinya dengan pasangan masing-masing.
"Marsya!" sebuah suara bariton terdengar di telinga perempuan yang saat ini duduk sendiri.
Dia menoleh ke arah sumber suara.
"Ba_Bagas...kamu___
"Haii.., kamu sendiri atau sama Kais?" Marsya menggelengkan kepalanya.
"Aku ada acara sama teman-teman ku. Kais nggak bisa ikut. Kamu sendirian, Anisa nggak ikut?" Bagas terkekeh.
"Mana bisa Anisa ikut. Aku ada seminar disini. Tadi teman ku sesama dokter ngajak aku kesini, aku kira salah mengenali orang. Ternyata memang benar kamu Sya.." Marsya tersenyum kikuk.
"Kamu mau pesan apa, biar masuk ke tagihan aku." Bagas terkekeh.
"Santai Sya, lagi pula kita sama-sama sendiri. Kekasihku bahkan lebih sering bersama suamimu. Dia tidak punya banyak waktu belakangan ini. Aku dengar ada Mega proyek yang akan di lakukan suamimu."
"Iya, aku dengar begitu. Kemarin mertua ku sempat ke rumah dan membahasnya." wajah Marsya terlihat sedikit berubah saat membahas soal Kais dan Bagas bisa melihat hal itu.
"Sya, kamu baik-baik saja sama Kais kan? Apa dia menyakitimu?" Marsya menatap Bagas dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Dia baik Gas, bahkan teramat baik. Walaupun aku pernah mengecewakan nya, tapi dia tetap memperlakukan aku layaknya istrinya yang begitu berharga. Bahkan kamu tahu sendiri, dia mau mengikuti kemauan ku buat program bayi tabung itu." Bagas membuang nafasnya pelan.
"Bukan maksud ku buat mengungkit masa lalu, aku cuma khawatir sama kamu. Saat itu,jujur aku sangat takut saat kamu tetap menikah sama Kais."
"Tenanglah, jangan khawatir.Aku baik-baik saja. Kamu cobalah lebih perhatian sama Anisa. Dia memang anaknya tulus , dia nggak mungkin protes karena dia pikir kalau dia juga sibuk."
"Entahlah Sya, aku bahkan merasa kami semakin jauh. Dia terlalu baik buatku." Bagas menundukkan kepalanya sejenak dan kemudian dia meraih gelas wine yang ada di depannya dan mengangkat nya lalu menyodorkan nya ke depan Marsya.
Marsya pun mengangkat gelasnya dan mereka pun menikmati minuman itu dengan mengalirkan cerita yang menarik. Sesekali mereka tertawa bersama dan saat ini posisi Bagas di samping Marsya dan dengan jarak yang begitu dekat dan bahkan sangat dekat.
Bersambung