Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMI BUKAN SUAMI ISTRI
Takagi tidak langsung menjawab, tangan kirinya refleks menekan rusuk sebelah kiri—tempat luka hantaman batu sungai itu berada.
"Takagi-san! Dengarkan aku, jangan dipaksakan," suara Yukari meninggi karena panik.
Yukari menyusupkan bahunya ke bawah ketiak Takagi. Dia menahan tubuh tegap pria itu agar tidak tumbang.
"Hanya... sedikit pusing, Honami-san," bisik Takagi, suaranya parau dan sangat rendah. Dia mencoba menegakkan punggungnya kembali, menolak untuk terlihat lemah.
"Sedikit pusing katamu? Wajahmu sudah putih seperti kertas!" omel Yukari, matanya mulai berkaca-kaca karena takut terjadi sesuatu yang buruk. Dia menoleh ke sekeliling pom bensin, mencari tempat darurat. "Di seberang sana ada kedai teh kecil. Kita ke sana sekarang. Kumohon, jangan keras kepala lagi."
Takagi ingin membantah. Tapi denyutan tajam di dadanya membuat pandangannya mengabur menjadi bintik-bintik hitam. Sadar dirinya bisa pingsan kapan saja dan justru akan menyusahkan Yukari lebih parah, Takagi akhirnya mengangguk pasrah.
Gadis itu memapahnya menyeberangi jalan kecil menuju kedai teh beratap kayu tradisional di pinggir pasar. Pemilik kedai, seorang wanita paruh baya, langsung menyambut mereka dengan wajah terkejut melihat kondisi Takagi.
"Astaga, nak! Pasanganmu kenapa? Ayo, baringkan di bangku panjang sebelah dalam, di sana udaranya lebih hangat" seru wanita itu cekatan.
Yukari tidak sempat membetulkan kesalahpahaman kata 'pasangan' itu. Dia fokus menuntun Takagi untuk membaringkan segera, matanya terpejam, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu.
"Bibi, aku ingin pesan segelas teh manis panas," pinta Yukari tergesa-gesa.
"Baik, sebentar ya," wanita itu langsung berlari ke bagian belakang kedai.
Yukari berlutut di depan bangku panjang, menatap Takagi dengan cemas. Dia meletakkan tas belanja kainnya di lantai, lalu dengan ragu menyentuh dahi Takagi dengan punggung tangannya. Dingin. Keringat yang keluar benar-benar keringat dingin akibat syok fisik.
"Kenapa kau memaksaku duduk di motor tadi kalau tahu kondisimu belum pulih?" tanya Yukari, suaranya bergetar menahan tangis. "Kalau kau bicara jujur dari awal, kita bisa mengunci motor itu di pinggir jalan dan jalan kaki santai ke sini."
Takagi perlahan membuka matanya. Manik mata kelamnya menatap wajah Yukari yang memerah karena panik dan lelah. Di sudut matanya, ada bulir air mata kecil yang siap jatuh.
Tidak lama sang ibu pemilik kedai datang membawa segelas besar air teh hangat manis yang uapnya masih mengepul tipis. "Diminum pelan-pelan ya supaya badannya enakan."
"Terima kasih banyak, Bu," ucap Yukari tulus.
Yukari dengan telaten membimbing Takagi untuk duduk bersandar.
"Ayo, Takagi-san... minum ini sedikit-sedikit. Air gula ini bisa membantu menaikkan tenagamu," bujuk Yukari lembut, mendekatkan pinggiran gelas ke bibir pucat pria itu.
Efek hangat dari air gula itu bekerja dengan cepat. Perlahan-lahan, semburat warna alami kembali ke wajah pucat Takagi. Napasnya yang tadinya pendek dan memburu kini mulai teratur, membuat Yukari akhirnya bisa bernapas lega
"Ini, dimakan kudapan kecilnya untuk memulihkan tenaga," ujar si nyonya ramah, Wajahnya dipenuhi rasa penasaran. "Sebenarnya, apa yang terjadi pada suamimu? sampai ia pucat begitu?"
Yukari menceritakan bagaimana pria di sampingnya ini dengan keras kepala menolak membiarkannya turun dan memilih mendorong motor yang berat itu sendirian.
Mendengar cerita itu, si nyonya kedai langsung menangkupkan kedua tangan di dadanya, menatap Takagi dengan pandangan mata yang berbinar penuh kekaguman.
"Astaga...jarang sekali ada suami yang seperti ini," puji si nyonya dengan senyum hangat yang tulus. "Dia tidak peduli tubuhnya sendiri remuk atau kesakitan, yang penting kamu tidak kepanasan dan tidak kelelahan di jalan.."
"Eh? Tapi Bibi Dia bukan—"
Yukari buru-buru mengangkat kedua tangannya, hendak meluruskan kesalahpahaman Namun kalimat nya terpotong
"Terima kasih atas pujian dan teh hangatnya, Bi "ucap Takagi lembut, suaranya yang berat kini terdengar jauh lebih bertenaga.
Takagi sedang menatapnya. Ia tidak membantah juga tidak menerima perkataan bibi pemilik kedai teh
Setelah kondisi Takagi dirasa benar-benar pulih dan tenaganya kembali,
" Honami-san, gimana kalau kita ke pasar sekarang?"
pria itu langsung berdiri dan mengajak Yukari untuk segera melanjutkan tujuan awal mereka. "Tapi Kau yakin sudah lebih baik?" yukari sempat ragu tapi Yukari akhirnya mengangguk setuju setelah melihat warna kulit Takagi yang sudah kembali normal.
Mereka pun berpamitan pada nyonya pemilik kedai, membayar teh manis serta kudapan tadi, lalu berjalan kaki memasuki area pasar tradisional yang letaknya tepat di seberang pom bensin.
Begitu menginjakkan kaki di dalam pasar yang padat, Yukari mendadak menghentikan langkahnya. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah dengan raut wajah kebingungan. Ia melewati deretan penjual sandal, lalu berbalik lagi ke arah penjual perkakas, membuat tas kain di tangannya terombang-ambing tak tentu arah.
Melihat tingkah laku gadis itu yang tampak linglung, Takagi segera melangkah lebar dan mencegatnya di depan sebuah lorong.
"Honami-san, kita mau beli apa sebenarnya?" tanya Takagi sambil melipat kedua tangannya di dada.
Yukari menggigit bibir bawahnya, menatap Takagi dengan tatapan bersalah yang polos. "Eh... itu, Takagi-san... sebenarnya, aku belum pernah belanja ke pasar tradisional seperti ini sebelumnya. Biasanya aku selalu membeli makanan instan atau sayuran siap saji di supermarket."
Mendengar pengakuan jujur itu, Takagi terdiam beberapa detik. Dia mengembuskan napas pendek memijat pangkal hidung lalu mendengus pelan, ada rasa gemas yang sedikit menggelitik dadanya melihat kepolosan gadis kota di depannya ini.
"Pantas saja," gumam Takagi tipis. Dia lalu menurunkan tangannya dan berjalan mendahului Yukari. "Ikut aku. Biar aku yang ambil alih."
Tempat pertama yang dihampiri Takagi adalah toko kelontong di sudut pasar. Takagi menunjuk beberapa bahan baku kering yang kurang di dapur Yukari, mulai dari beras, minyak goreng, garam, mentega, hingga beberapa bumbu dapur esensial. Saat semua barang sudah dibungkus dan Yukari baru saja hendak membuka dompet kainnya untuk membayar, tangan tegap Takagi sudah lebih dulu terulur ke arah penjaga toko, menjepit sebuah kartu debit di antara jarinya.
"Eh? Takagi-san, biar aku saja yang bayar!" protes Yukari panik.
"Sudah, simpan saja," jawab Takagi datar tanpa menoleh, menunggu proses pembayaran selesai.
Tempat berikutnya adalah area basah yang menjual ikan dan hasil laut. Di sini, Yukari benar-benar dibuat melongo. Takagi tampak begitu familier dengan bahan makanan; dia memeriksa insang ikan, menekan sedikit bagian perutnya untuk memastikan teksturnya masih kenyal, dan memilih beberapa ekor ikan segar serta udang dengan sangat efisien. Yukari hanya bisa mengekor di belakang sambil menatap punggung tegap itu dengan pandangan takjub.
Saat mereka tiba di lapak sayur-mayur.
"Takagi-san, lihat! Ini sawinya besar sekali, kita ambil yang ini!" seru Yukari bangga, memamerkan ikatannya.
Takagi melirik sayur di tangan Yukari, lalu menghela napas pelan. "Honami-san, coba balik sawinya."
"Eh?" Yukari membalik ikatannya, bagian bawah daun sawi itu ternyata sudah banyak yang bolong-bolong kecil dan batangnya agak lembek kecokelatan.
"Sawi yang baik itu batangnya renyah saat ditekan dan warnanya hijau segar merata," ujar Takagi tenang. Dia lalu mengambil seikat sawi lain yang ukurannya lebih kecil namun jauh lebih segar dan bersih, lalu memasukkannya ke keranjang belanja.
Yukari mengerucutkan bibirnya, merasa sedikit gengsi. "A-Ah... begitu ya. Kalau begitu, biar aku pilih buahnya saja!"
Dia bergeser ke lapak buah di sebelahnya, lalu mengambil sebuah semangka berukuran sedang. Yukari memukul-mukul permukaan semangka itu dengan telapak tangannya berulang kali sambil mendekatkan telinganya. "Nah, yang ini bunyinya nyaring, Takagi-san! Pasti manis dan matang!"
Takagi menggelengkan kepalanya pelan, menahan senyum geli yang hampir pecah. "Honami-san. Kalau nyaring seperti itu, artinya bagian dalamnya masih terlalu muda atau terlalu banyak air dan hambar."
Mendengar koreksi kedua yang telak itu, Pipinya menggembung kesal, namun dia memendam sisa gengsinya rapat-rapat sambil merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Dia tidak tahu saja kalau seluruh gerak-gerik dan ekspresi wajahnya yang berubah-ubah itu dari tadi diperhatikan oleh ibu-ibu penjual sayur dan buah di lapak tersebut.
Sambil menimbang sayuran pilihan Takagi, si ibu penjual tertawa cekikikan. "Kalian ini lucu ya. Kelihatan sekali kalau masih pengantin baru. Istrinya masih belajar masak, dan suaminya sabar banget membimbing. Serasi sekali, Nak."
Blush.
Wajah Yukari dan Takagi seketika memerah bersamaan. Yukari membeku di tempatnya, sementara Takagi berdeham kaku, mengalihkan pandangannya ke arah lain demi menyembunyikan rona merah yang mendadak muncul di area pipinya. Kali ini juga, tidak membantah ataupun mengiyakan. Karena terlalu malu, mereka hanya diam seribu bahasa, buru-buru merapikan barang bawaan, dan lagi-lagi Takagi yang dengan cepat mengeluarkan uang tunai untuk membayar semuanya sebelum kesalahpahaman itu makin melebar.
Begitu berjalan menuju motor yang sudah terisi penuh bensin, Yukari akhirnya tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia menarik sedikit ujung kemeja flanel Takagi, menghentikan langkah pria itu.
"Takagi-san... kenapa dari tadi kau terus yang membayar semuanya?" keluh Yukari, wajahnya mendongak menatap Takagi dengan dahi berkerut serius. "Ini kan semua bahan makanan untuk kebutuhanku di rumah. Harusnya aku yang mengeluarkan uang."
Takagi menghentikan langkahnya, berbalik sepenuhnya menghadap Yukari. Tatapan matanya yang kelam mengunci manik mata gadis itu dengan ekspresi yang sangat tenang namun tegas.
"Bukan kebutuhanmu," potong Takagi pelan, suaranya yang berat memutus kalimat Yukari. "Tapi kebutuhan kita."
"Eh...?" suara yukari tertahan ditenggorokan, mendengar penekanan kata 'kita' yang keluar begitu saja dari bibir Takagi. Jantungnya mendadak berdesir aneh lagi.
"Kau sudah memberikan tempat tinggal untukku di rumahmu, Honami-san," lanjut Takagi, nadanya melembut, menghilangkan kesan kaku yang biasanya melekat. "Jadi, Ini hal terkecil yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu."
Yukari kehilangan kata-kata. Dia hanya bisa menatap wajah tegap Takagi yang kini terlihat begitu tulus di bawah terik matahari pagi