Angka bukan sembarangan Angka, Angka yang di pilih semuanya menunjukkan hadiah besar kecilnya yang di dapat.
Tapi jika kamu beruntung, kau akan mendapatkan hadiah besar.
Dan itulah yang di alami oleh Alneo setelah ia mendapatkan penyiksanya oleh ayah jika ia tidak mendapat uang.
Bukan hanya itu, yang membuatnya murka adalah Adik perempuan ingin di jual ayahnya pada rentenir untuk membayar hutang, saat ia mencoba menghalangi, ia malah mendapatkan pukulan berat oleh ayahnya hingga pingsan.
Dan saat itulah, ia mendapatkan sebuah sistem misterius yang mengubah hidupnya.
Ia memenjarakan ayahnya karena sang ayah agar tidak menganggu kehidupan mereka lagi.
Dengan sistem pilihan angka, ia bagaikan menemukan jetpot di hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 Misi Baru
[DING!]
[Misi Sampingan Terdeteksi!]
[Nama Misi: Tabib Jalanan Pemula]
[Deskripsi: Seorang kakek tua di dekat persimpangan jalan pasar mengalami serangan jantung mendadak akibat penyumbatan pembuluh darah (Acute Myocardial Infarction). Selamatkan nyawanya sebelum terlambat!]
[Hukuman Gagal: Pengurangan Poin pembekuan fungsi Sistem selama 24 jam.]
Alneo yang sedang berjalan terburu-buru langsung menghentikan langkahnya.
"Harus sekarang?!" umpat Alneo dalam hati. "Waktuku untuk Riani terbatas! Semoga saja Riani belum bangun
[Sistem menyarankan Tuan untuk mengambil misi ini.]
Alneo melihat bungkusan seragam Riani di pelukannya, lalu menatap ke arah persimpangan jalan yang berjarak sekitar seratus meter di depannya.
Di sana, terlihat kerumunan orang mulai berteriak panik.
Tanpa berpikir panjang lagi, Alneo berlari kencang menuju kerumunan tersebut.
"Minggir! Tolong beri jalan!" teriak Alneo sambil menerobos kerumunan warga yang hanya bisa menonton dan berbisik-bisik panik.
Di tengah kerumunan, seorang kakek berpakaian batik sudah terkapar di aspal.
Wajahnya membiru, matanya melotot kesakitan, dan kedua tangannya mencengkeram dada kiri dengan sangat kuat. Napasnya terdengar satu-satu, seperti tercekik.
"Aduh, bagaimana ini? Ambulansnya lama sekali!" teriak seorang ibu-ibu di dekatnya.
"Jangan sembarangan dipindahkan, nanti makin parah!" sahut warga lain yang ketakutan.
Alneo langsung berlutut di samping kakek tersebut. Ia meletakkan bungkusan seragam Riani dengan hati-hati di tempat yang bersih, lalu segera memeriksa denyut nadi di leher sang kakek.
"Sistem, lakukan pemindaian penuh sekarang!" perintah Alneo dalam benak.
[Memulai Pemindaian... Terdeteksi penyumbatan total pada arteri koroner kiri. Tingkat fatalitas: 85%. Sisa waktu sebelum kerusakan otak permanen: 4 menit.]
"Hei, Anak Muda! Kamu mau ngapain? Jangan sembarangan menyentuh orang sakit, nanti kalau dia mati kamu yang disalahkan!" tegur seorang pria paruh baya bertubuh kekar, mencoba menarik pundak Alneo.
Alneo menepis tangan pria itu dengan membuat pria itu tertegun mundur.
"Saya mengerti medis! Kalau kita cuma diam menunggu ambulans, kakek ini akan meninggal dalam tiga menit!" seru Alneo tegas.
Alneo memejamkan mata sekejap, berkomunikasi dengan sistem.
"Sistem, beli paket Akupuntur Darurat dan Jarum Perak Medis menggunakan poin tersisa!"
[Pembelian Berhasil. Mengurangi 500 Poin Medis]
[Sisa Poin: 0]
[Jarum Perak Medis telah dikirim ke inventaris batin Tuan.]
Dalam sekejap, sebuah gulungan kain berisi jarum-jarum perak tipis sudah berada di dalam genggaman tangan Alneo, muncul dari balik lengan bajunya yang longgar tanpa disadari oleh warga sekitar.
"Anak muda, kamu mau menusuknya dengan jarum? Apa kamu gila?!" teriak warga lain yang mulai histeris melihat Alneo mengeluarkan jarum panjang.
"Semuanya diam dan mundur! Beri kakek ini oksigen!" bentak Alneo tanpa menoleh.
Tangan Alneo bergerak dengan kecepatan berkat panduan visual dari sistem.
Zuss! Zuss! Zuss!
Tiga jarum perak langsung tertancap di titik pada pergelangan tangan, titik di tengah dada, dan titik di bagian kiri dada.
"Uhuk... ugh..." Kakek itu tiba-tiba tersedak, tubuhnya kejang sesaat.
"Lihat! Kakek itu makin parah! Hentikan!" teriak warga yang panik. Beberapa orang mulai maju untuk menarik Alneo.
"Tunggu dulu! Lihat wajah kakek itu!" seru seseorang dari arah belakang.
Alneo tidak memedulikan teriakan mereka. Jarinya dengan lembut memutar jarum di dada sang kakek, menyalurkan sedikit energi hangat yang disediakan oleh sistem untuk menghancurkan gumpalan darah yang menyumbat jantung.
"Satu... dua... tiga... hancur!" batin Alneo berteriak.
"Hahhhh...."
Kakek itu tiba-tiba mengembuskan napas panjang.
Wajahnya yang tadinya membiru pekat perlahan-lahan kembali memerah normal.
Cengkeraman tangannya di dada mulai mengendur, dan matanya yang tadinya melotot kini mulai sayu dan bergerak rileks. Denyut napasnya kembali teratur.
Alneo mengembuskan napas lega yang amat panjang. Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya.
Dengan gerakan cepat, ia mencabut kembali ketiga jarum perak tersebut dan menyembunyikannya ke dalam saku sebelum ada yang menyadarinya.
Kakek itu perlahan membuka matanya, menatap Alneo dengan tatapan lemah namun penuh rasa terima kasih. "Le... lega... Terima kasih, Nak... Jantungku sudah tidak sakit lagi..."
"Sama-sama, Kek. Jangan banyak bergerak dulu, sebentar lagi ambulans datang," kata Alneo sambil tersenyum tipis.
Ia langsung berdiri, mengambil kembali bungkusan seragam Riani yang sempat diletakkannya.
Alneo tahu, jika ia tetap di sini, warga akan menahannya untuk bertanya macam-macam, sedangkan waktu 5 jam untuk Riani terus berjalan.
Tanpa memedulikan pandangan takjub dan bisik-bisik kekaguman dari warga yang tadinya menghujatnya, Alneo langsung berbalik dan berlari cepat meninggalkan area pasar menuju kosan.
"Riani, tunggu Kakak. Kakak pulang sekarang," ucapnya dalam hati dengan penuh tekad.