Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KANTOR SEPI,TIBA-TIBA JADI PANGGUNG DANGDUT
Pagi itu kantor terasa sunyi banget. Biasanya ada suara langkah kaki, obrolan, atau kertas berdesir, tapi hari ini rasanya kayak sepi desa pas hujan lebat.
Belum lama duduk, Pak Harun keluar ruangan pakai topi dan bawa tas kecil.
“Semuanya denger ya, saya ada urusan penting ke luar kota hari ini. Pulangnya bisa sore nanti. Gak ada tugas antar berkas apa pun, jadi jaga kantor saja, bereskan yang perlu, tapi jangan bikin ulah aneh-aneh ya!” pesannya, terus pergi meninggalkan kami.
Begitu gerbang tertutup, Ojak langsung angkat kedua tangan kegirangan.
“Hore! Hari ini bebas tugas! Cuma… kok sepi banget sih? Mata mulai berat nih, ngantuk melanda,” katanya sambil meregangkan badan panjang.
Kami berempat duduk melamun. Nina membereskan tumpukan kertas lama, Kak Dedi melipat amplop, aku cuma melamun lihat keluar jendela. Sepinya makin terasa, bikin ngantuk makin jadi.
Tiba-tiba Ojak berdiri matanya berbinar, kayak dapat ide paling jenius sedunia.
“Tunggu dulu! Kalau sepi bikin ngantuk, kita kasih obat semangat dong!” katanya, lari ke pojok ruangan ambil radio tua yang jarang dinyalakan.
Dia putar tombol cari saluran, sampai keluar irama khas dangdut yang terkenal banget — lagu Ayu Ting Ting, “Alamat Palsu”. Iramanya nendang, enak banget buat bergoyang!
Ya, ya-ya-ya-ya
Ya-ya-ya-ya
Ya-ya-ya-ya
Ke mana, ke mana, ke mana?
Ku harus mencari ke mana?
Kekasih tercinta tak tahu rimbanya
Lama tak datang ke rumah
Di mana, di mana, di mana?
Tinggalnya sekarang di mana?
Ke sana-kemari membawa alamat
Namun, yang kutemui bukan dirinya
Sayang, yang kuterima alamat palsu
Kutanya sama teman-teman semua
Tetapi mereka bilang, "Tidak tahu"
Sayang, mungkin diriku sudah tertipu
Membuat aku frustasi dibuatnya~ 🎶
Begitu irama masuk dan liriknya mulai mengalun, Ojak langsung jadi yang paling semangat, berdiri di tengah ruangan kayak bintang panggung.
Ojak joget dengan tangan kanan diangkat tinggi dikibas-kibas mengikuti nada “ya-ya-ya”, tangan kiri menempel di pinggang. Pinggangnya digoyang kiri-kanan pas ketukan, bahu ikut berayun pelan.
Saat lirik bagian “ke mana, ke mana”, dia menoleh ke kiri dan kanan seolah lagi cari-cari sesuatu sambil melangkah kecil ke sana kemari. Sesekali berputar setengah lingkaran, lalu hentakkan kaki pelan sambil senyum lebar gaya percaya diri maksimal, kayak penyanyi asli.
“Nah, ini baru pas! Ayo ikut, jangan diam aja!” ajaknya semangat.
Aku yang awalnya cuma lihat-lihat, akhirnya ikut berdiri juga.
Bima Awalnya kaku banget, kayak orang baru belajar jalan. Tangan kiri dikibas pelan mengikuti irama, tangan kanan agak tertekuk di depan dada. Pinggang cuma digoyang dikit takut salah gaya.
Tapi pas masuk bagian “ke sana-kemari membawa alamat”, dia mulai lebih berani melangkah maju mundur, sesekali menoleh ke samping sambil bengong pura-pura bingung cari alamat, sampai hampir terhuyung terus ketawa sendiri.
Kak Dedi yang biasanya kalem dan tenang, awalnya cuma geleng-geleng kepala sambil senyum. Lama-lama lagunya masuk juga ke telinga, akhirnya ikut berdiri.
Kak Dedi Gayanya paling santai dan gak berlebihan. Kedua tangan diayun pelan ke samping, bahu sedikit ikut bergerak. Saat bagian “frustasi dibuatnya”, dia menggaruk-garuk kepala pura-pura bingung sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Pinggangnya digoyang pelan, langkahnya lebar dan mantap. Kadang menepuk paha atau meja mengikuti irama gaya orang dewasa yang menikmati musik tanpa perlu heboh, tapi tetap asyik dilihat.
Nina yang paling disiplin dan tegas, awalnya masih duduk sambil protes pelan: “Aduh, ini kantor lho! Nanti ada tamu lewat gimana?”
Tapi pas bagian lirik diulang lagi dan iramanya makin nendang, dia melirik kami yang udah asyik bergoyang, akhirnya gak tahan juga dan ikut berdiri.
Nina gayanya paling rapi dan berirama. Tangan kanan dikibas anggun ke atas, tangan kiri menempel di pinggang dengan posisi tegak lurus. Saat lirik “di mana, di mana”, dia menunjuk ke kiri, ke kanan, lalu ke atas seolah bertanya ke mana-mana.
Pinggangnya digoyang dengan gerakan yang pas dan teratur, gak berlebihan tapi enak dilihat. Kadang melangkah maju-mundur kecil secara sinkron, sesekali menepuk tangan mengikuti ketukan sambil tersenyum lepas jauh beda sama gaya galaknya sehari-hari.
🎵 Lirik bagian yang diulang:
Di mana, di mana, di mana?
Tinggalnya sekarang di mana?
Ke sana-kemari membawa alamat
Namun, yang kutemui bukan dirinya
Belum sempat lirik selesai, tiba-tiba pintu ruangan terbuka pelan. Pak Joko si satpam masuk sambil memegang sapu, badannya agak bungkuk tapi matanya masih awas.
Dia tadinya mau melapor sudah selesai menyapu halaman, tapi begitu dengar musik dan lihat kami sedang asyik bergoyang, mulutnya terbuka sebentar, lalu senyum lebar muncul di wajahnya.
“Wah, rame banget rupanya di dalam! Kirain ada pesta apa sampai suaranya kedengaran sampai pos jaga!” serunya sambil meletakkan sapunya di sudut, lalu mengusap tangannya ke celana.
Kami sempat kaget sebentar, tapi langsung ketawa dan melambaikan tangan mengajak dia ikut.
“Ayo Pak Joko! Ikutan, hari ini bebas gak ada Bos, gak ada tugas!” ajak Ojak semangat.
Pak Joko awalnya cuma geleng-geleng kepala malu. “Wah, saya ini udah tua, mana bisa ikut goyang-goyang kayak kalian.”
Tapi pas irama makin kencang dan bagian lirik favoritnya keluar lagi, dia mengangkat bahu, nyengir, lalu ikut berdiri di pinggir.
Pak Joko jogetnya paling unik dan lucu. Tangan kanan diletakkan di pinggang yang agak pegal, tangan kiri diayun pelan ke samping mengikuti irama. Pinggangnya digoyang pelan saja, gak berani terlalu kencang takut sakit punggung.
Tapi pas bagian “ke mana, ke mana”, dia malah menunjuk ke arah gerbang, lalu ke jalan, seolah bilang “ini juga sering saya alami kalau cari alamat orang”. Sesekali dia menepuk paha pelan sambil mengangguk-angguk seolah setuju sama liriknya gaya sederhana tapi penuh semangat, bikin kami makin terhibur melihatnya.
“Nah, ini baru lengkap!” teriakku sambil terus bergoyang.
🎵 Lirik lanjutan:
Sayang, yang kuterima alamat palsu
Kutanya sama teman-teman semua
Tetapi mereka bilang, "Tidak tahu"
Sayang, mungkin diriku sudah tertipu
Membuat aku frustasi dibuatnya~ 🎶
Sekarang kami berlima makin heboh. Ada yang goyang kencang, ada yang santai, ada yang gaya konyol, semuanya ikut bernyanyi keras-keras sampai suara bergema di seluruh ruangan.
Belum selesai juga kegembiraan itu, dari luar terdengar suara ketawa keras lagi. Kami menoleh ke jendela, ternyata Sari dan Rara lewat dan ikut melihat pemandangan yang makin rame ini.
“Wah! Sekarang Pak Joko juga ikutan! Lengkap sudah panggungnya hari ini!” seru Rara sambil menepuk tangan gembira.
Sari ikut tersenyum lebar. “Gak nyangka ya, suasana kantor bisa seasyik ini kalau lagi sepi!”
Rara langsung melambaikan tangan. “Jangan berhenti dong! Kami jadi penonton aja boleh kan?”
Akhirnya musik tetap dinyalakan, kami terus bergoyang sampai lagu berulang dua kali lebih. Badan terasa lelah tapi hati senangnya bukan main rasanya semua beban dan kejenuhan hilang begitu saja.
Sampai menjelang sore, kami baru mematikan radio dan duduk beristirahat sambil terengah-engah. Pak Joko mengelap keringat di dahinya sambil ketawa.
“Wah, lama juga rasanya gak merasa semuda ini lagi. Lagunya pas banget, sering juga saya dapat alamat yang bikin bingung pas awal kerja dulu,” katanya sambil mengangguk-angguk kenangan.
Dalam hati aku berpikir :
Ternyata kalau sudah lengkap semuanya, kegembiraan jadi makin terasa. Kantor gak harus kaku terus, hari sepi pun bisa jadi paling seru. Lagunya pas, gayanya lucu, dan yang paling penting semua orang bisa ikut menikmati, tanpa memandang usia atau posisi. Hari ini memang hari yang gak akan mudah dilupakan.