NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Musuh dalam Selimut dan Ancaman Paman Broto

Pukul dua siang, layar monitor di ruang kerja Rani masih menampilkan grafik hijau yang bergerak naik stabil. PR Stunt nekat yang dilakukan Riko di lobi kantor pagi tadi terbukti menjadi ramuan ajaib bagi bursa efek. Spekulasi miring dari akun Batavia Secret runtuh seketika oleh kecupan nyata yang disaksikan jutaan pasang mata. Sentimen publik berbalik seratus delapan puluh derajat, memuji keharmonisan pasangan Alpha tersebut.

Namun, ketenangan di lantai eksekutif itu mendadak menguap saat pintu ganda ruangan Rani didorong terbuka dengan kasar tanpa ada ketukan dari luar.

Brak!

Rani tersentak, mengalihkan pandangannya dari layar komputer. Riko, yang sedang duduk di sofa sembari memeriksa berkas operasional truk, langsung menegakkan punggungnya dengan mata elang yang menyipit berbahaya.

Lelaki paruh baya dengan setelan jas hitam formal bergaris tipis melangkah masuk dengan senyuman yang teramat tenang namun mematikan. Paman Broto. Di belakangnya, dua orang pengacara pribadi keluarga besar Broto mengekor dengan wajah kaku, membawa sebuah tas koper kulit hitam.

"Luar biasa. Sungguh pertunjukan teatrikal yang sangat menyentuh di lobi tadi pagi, keponakanku," ujar Paman Broto, suaranya yang serak bergaung di dalam ruangan yang mendadak sunyi. Dia berjalan menuju meja kerja Rani, lalu duduk di kursi hadapan Rani tanpa diminta.

Rani memasang wajah sedingin es, menyembunyikan getaran kecemasan di dadanya. "Paman Broto. Jika Anda datang ke sini hanya untuk mengomentari kehidupan pribadi saya, saya sarankan Anda keluar. Jadwal rapat saya sangat padat."

Broto terkekeh rendah, sebuah tawa licik yang membuat bulu kuduk merinding. Dia melirik ke arah Riko yang kini sudah berdiri dan berjalan mendekati meja kerja Rani, memposisikan diri di belakang kursi istrinya sebagai pelindung sejati.

"Oh, tentu saja bukan untuk itu, Rani. Paman ke sini untuk menyelamatkan masa depan Rani Group dari kebohongan besar yang sedang kamu rawat," Broto memberi isyarat tangan kepada pengacaranya.

Pria di belakangnya segera membuka koper kulit, mengeluarkan sebandel dokumen tebal bersampul biru tua, lalu meletakkannya tepat di atas meja kaca di hadapan Rani.

Begitu melihat lembar pertama dokumen tersebut, detak jantung Rani rasanya melompat keluar dari rongga dadanya. Wajah cantiknya seketika berubah pucat pasi. Itu adalah Draf Dokumen Kontrak Pernikahan Palsu yang asli, lengkap dengan tanda tangan di atas meterai miliknya dan milik Riko, beserta rincian pembagian keuntungan pasca-perceraian yang mereka sepakati tiga bulan lalu.

Monolog batin Rani menjerit panik, diliputi rasa tidak percaya yang luar biasa. 'Bagaimana bisa?! Dokumen ini tersimpan di dalam brankas baja rahasia di dalam ruang kerja pribadiku yang dikunci dengan kode biometrik! Siapa yang berani berkhianat?!'

Riko melirik dokumen tersebut. Rahangnya mengencang sempurna, mata elangnya berkilat dingin memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Namun, bertahun-tahun jatuh bangun di dunia bisnis membuat Riko mampu mengendalikan emosinya dengan sangat rapi. Dia tetap berdiri tegak, menatap Broto tanpa ada kepanikan di wajahnya.

"Paman terkejut melihat bagaimana kamu bisa secerdik ini mengelabui seluruh dewan komisaris dengan membawa tikus jalanan bangkrut ini ke dalam keluargamu, Rani," Broto mengetuk-ngetuk jarinya di atas dokumen tersebut. "Tapi sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya akan jatuh juga. Kamu meremehkan fakta bahwa di dalam gedung ini, dinding pun memiliki mata dan telinga untukku."

"Siapa yang memberikannya padamu, Broto?" suara bariton Riko terdengar begitu rendah, dingin, dan sarat akan ancaman yang mematikan.

Broto menoleh menatap Riko, tersenyum meremehkan. "Itu tidak penting, Tuan Riko Pratama. Yang penting adalah apa yang akan terjadi besok pagi jika dokumen ini sampai ke tangan otoritas bursa efek dan media massa. Tuduhan manipulasi pasar modal, penipuan publik, dan pemalsuan status pernikahan untuk menaikkan nilai saham. Menurutmu, berapa tahun penjara yang akan kalian berdua dapatkan? Dan seberapa cepat saham Rani Group akan terjun bebas ke titik nadir?"

Rani mengepalkan tangannya di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Ancaman Broto adalah skakmat nyata yang bisa menghancurkan seluruh hidupnya dalam waktu satu malam.

"Apa maumu, Paman?" tanya Rani, suaranya bergetar menahan amarah yang membakar dadanya. Ego Alpha Woman-nya terinjak-injak karena diperas oleh keluarganya sendiri.

Broto menyandarkan punggungnya, senyum kemenangannya semakin lebar. "Sederhana. Serahkan kendali penuh atas dua puluh persen saham utama di proyek Central District kepada konsorsium milikku dan Hendra. Tanda tangani surat pengalihan aset itu sore ini juga, dan dokumen asli ini akan kubakar di depan matamu. Pernikahan kontrak kalian akan tetap menjadi rahasia suci sampai kontrak kalian habis."

Dua puluh persen saham Central District adalah urat nadi dari proyek tersebut. Jika dipindahkan ke tangan Broto dan Hendra, Rani akan kehilangan hak suara mayoritas, dan Rani Group secara de facto akan jatuh ke dalam cengkeraman mereka. Ini adalah perampokan korporat tingkat tinggi di siang bolong.

Ruangan itu disergap keheningan yang mencekam selama beberapa saat. Rani menatap Riko dengan mata yang sarat akan keputusasaan, mencari pegangan di tengah badai yang siap menenggelamkannya.

Riko melangkah maju satu tapak, memecah ketegangan. Dia mengulurkan tangannya, mengambil dokumen kontrak palsu tersebut dari atas meja, lalu membolak-balik halamannya dengan gerakan yang sangat tenang—bahkan terlalu tenang untuk situasi hidup mati seperti ini.

"Dua puluh persen saham untuk selembar kertas ini?" Riko mengangkat dokumen itu, menatap Broto dengan senyuman tipis yang sangat misterius dan tidak terduga. "Taruhanmu terlalu murah untuk orang sekelasmu, Paman Broto."

Broto mengernyitkan alisnya, merasa aneh dengan respons Riko. "Apa maksudmu?"

Riko melempar kembali dokumen itu ke meja, lalu menopang kedua tangannya di atas meja, condong ke depan hingga wajahnya berada dekat dengan Broto. Sinar mata elangnya berkilat cerdas penuh kemenangan taktis yang membuat Broto mendadak merasa tidak nyaman.

"Maksudku adalah... silakan bawa dokumen ini ke media sekarang juga, Broto. Sebarkan ke seluruh stasiun televisi dan portal berita menit ini juga jika kamu punya nyali," tantang Riko tegas, suaranya bergaung penuh dominasi mutlak yang tak tergoyahkan.

Rani terbelalak menatap Riko. "Riko! Apa yang kamu—"

Riko mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar Rani mempercayainya sepenuhnya. Riko kembali menatap Broto yang kini wajahnya mulai menegang.

"Kamu pikir kamu adalah satu-satunya orang yang tahu cara bermain di dalam kegelapan?" desis Riko dingin. "Silakan publikasikan dokumen itu. Tapi di saat yang sama, tim legal luar negeriku akan merilis rekaman transaksi aliran dana gelap sebesar seratus lima puluh miliar dari rekening cangkang milikmu di Swiss ke rekening pribadi Haris tiga tahun lalu—dana yang kamu gunakan untuk membiayai kebangkrutan perusahaanku, Pratama Corp."

Mendengar kata "rekening Swiss" dan "Haris", wajah Paman Broto yang semula merah penuh kemenangan seketika berubah menjadi pucat pasi bak mayat. Senyum liciknya lenyap tanpa bekas. Tangannya yang berada di atas meja mulai gemetar halus.

"K-kamu... dari mana kamu tahu tentang itu?!" terbata-bata Broto bertanya, suaranya kehilangan nada angkuhnya.

"Aku adalah Riko Pratama, Broto. Aku mungkin sempat jatuh, tapi elang tidak pernah lupa siapa yang telah mematahkan sayapnya," ujar Riko dengan nada suara yang begitu dalam dan mengintimidasi. "Aku membiarkanmu memegang dokumen pernikahan kontrak ini karena aku ingin melihat seberapa jauh kamu akan melangkah. Dan sekarang, kamu sudah masuk ke dalam jebakanku."

Riko menegakkan tubuhnya kembali, merapikan jasnya dengan elegan. "Pilihanmu sekarang ada dua, Paman Broto. Pertama, kamu keluar dari ruangan ini, bawa dokumen kontrak murahan itu bersamamu, dan lupakan tentang dua puluh persen saham proyek. Atau kedua, kita hancur bersama besok pagi di pengadilan tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Bagaimana?"

Paman Broto berdiri dengan tubuh yang gemetar menahan amarah dan ketakutan yang luar biasa. Dia menatap Riko dengan tatapan penuh kebencian sekaligus kengerian yang teramat sangat. Pria bangkrut yang dia remehkan selama ini, ternyata diam-diam telah memegang bom waktu yang bisa menguburnya hidup-hidup.

Tanpa berkata-kata lagi, Broto menyambar dokumen di meja, lalu berbalik dan melangkah lebar keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa, diikuti oleh dua pengacaranya yang tampak panik.

Pintu ganda menutup keras. Bahaya besar berhasil diredam dalam waktu singkat berkat kejeniusan taktis Riko.

Rani mendongak, menatap Riko dengan napas yang tertahan. Seluruh tubuhnya lemas karena ketegangan yang baru saja lewat. Namun di atas segalanya, monolog batin Rani dipenuhi oleh rasa takjub dan getaran asmara yang melompat gila: pria di hadapannya ini bukan lagi sekadar suami kontrak penolong; Riko adalah sosok pelindung mutlak yang tidak akan pernah membiarkan dunia menyentuhnya.

"Riko... tentang aliran dana Swiss itu... apakah itu nyata?" tanya Rani lirih.

Riko berbalik menatap Rani, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman tampan yang sangat menenangkan. Dia berjalan mendekati Rani, mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala istrinya dengan lembut. "Itu nyata, Rani. Aku sudah mengumpulkannya selama tiga tahun ini dalam pelarianku. Aku sengaja menyimpannya untuk saat-saat seperti ini."

Rani menggenggam tangan Riko yang berada di dekat wajahnya, menyandarkan pipinya yang hangat pada telapak tangan pria itu, mengabaikan seluruh sisa egonya. "Terima kasih... terima kasih karena selalu ada di depanku, Riko."

Riko tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru menarik tangan Rani, mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut di bawah sinar matahari siang yang menerobos ruang kerja mereka, mengunci komitmen tak tertulis di antara dua hati yang kini tak lagi bisa dipisahkan oleh selembar kertas kontrak. Namun di tengah kebahagiaan itu, satu pertanyaan besar masih bersarang di kepala mereka: Siapa musuh dalam selimut di kantor Rani yang telah mengkhianati mereka dan membuka brankas rahasia tersebut?

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!