"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Keheningan yang mencekam di meja makan itu baru saja mereda setelah Edgar memberikan ancaman dinginnya kepada Gavin. Gavin masih tertunduk, menatap piringnya dengan tangan yang bergetar. Gaby, di sisi lain, menikmati sisa teh hangatnya dengan keanggunan yang mutlak. Namun, ketenangan yang baru saja mereka bangun kembali di atas meja marmer Italia itu tidak bertahan lama.
Brak!
Pintu ganda ruang makan utama didorong terbuka dengan kasar hingga menghantam dinding. Suara benturan itu menggema keras, memecah keintiman pagi dan langsung mengganti kehangatan ruangan dengan hawa sedingin es.
Seorang wanita lanjut usia melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi, memancarkan keangkuhan yang mendarah daging dari setiap jengkal pergerakannya. Ia mengenakan kebaya sutra mahal bersulam benang emas, dengan selendang batik tulis sutra melingkari bahunya yang tegap meski sudah dimakan usia. Jari-jarinya dihiasi cincin berlian berukuran besar yang berkilauan egois, dan seuntai kalung mutiara melingkari lehernya yang mulai keriput.
Langkah kakinya diiringi ketukan tongkat berkepala perak yang sengaja dihentakkan ke lantai dengan ritme yang mengintimidasi.
Dia adalah Nyonya Besar Eleanor mantan mertua Edgar, sekaligus Oma kandung dari Gavin.
"Sungguh pemandangan pagi yang memuakkan dan murahan!" suara Eleanor yang serak namun sarat akan racun langsung menggelegar di ruang makan.
Mata tuanya yang tajam dan penuh kebencian langsung mengunci sosok Gaby. Ia menatap Gaby dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan penuh rasa jijik, seolah sedang melihat seonggok sampah yang mengotori estetika rumah mewah menantunya.
Eleanor berjalan mendekati meja makan, menghentakkan tongkatnya ke lantai marmer tepat di samping kursi Gavin. "Edgar! Jadi demi wanita jalang ini kamu berani mengusir Luna, membekukan fasilitas cucuku dan mempermalukan keluarga kami di depan publik?! Lihat dirimu! Seorang penguasa Addison Group merendahkan martabatnya hanya untuk menampung sampah buangan yang tidak tahu diuntung seperti dia!"
Gavin yang tadinya menciut seperti pecundang langsung bangkit dari kursinya.
Wajahnya beralih cerah, memancarkan binar penuh harapan seolah-olah melihat dewa penyelamat yang datang untuk membalikkan keadaan. "Oma..." cicit Gavin, buru-buru melangkah berlindung ke belakang tubuh wanita tua itu.
Eleanor menunjuk wajah Gaby dengan ujung jarinya yang dihiasi kuku merah darah. "Kamu, Gaby! Perempuan tidak tahu malu yang tidak sadar diri! Belum seminggu kamu dicampakkan oleh cucuku karena kamu wanita yang kaku, dingin dan membosankan, sekarang kamu malah merangkak ke ranjang ayahnya? Kamu sengaja menggunakan tubuhmu untuk merayu Edgar agar bisa membalas dendam pada Gavin, kan?! Murahan sekali kelakuanmu, menjijikkan!"
Mendengar cacian yang begitu merendahkan dan menyerang kehormatannya, Gaby sama sekali tidak gemetar. Di bawah tatapan membara dari mantan mertua suaminya itu, Gaby justru meletakkan serbet makannya dengan sangat perlahan, tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Keanggunannya sebagai Nyonya Addison yang baru sama sekali tidak goyah oleh gertakan nenek tua itu.
Gaby menegakkan punggungnya, menatap langsung ke dalam mata tua Eleanor tanpa ada setitik pun rasa takut atau inferior.
"Jaga tata bahasamu, Nyonya Eleanor," ucap Gaby. Suaranya terdengar begitu tenang, datar, namun bergaung dengan otoritas mutlak yang sanggup membungkam ruangan. "Anda saat ini sedang berdiri di atas properti milik suamiku dan Anda sedang berbicara dengan Nyonya Addison yang sah. Status hukumku di rumah ini dilindungi oleh undang-undang negara, bukan hasil dari belas kasihan atau belas kasih siapa pun."
Gaby menyunggingkan senyum kemenangan yang sangat sinis ke arah Gavin yang bersembunyi di balik punggung Omanya.
"Dan jika Anda ingin bicara soal masa lalu... demi Tuhan, berdiri di posisi ini justru membuatku menyadari satu hal yang luar biasa. Aku sangat, sangat menyesal dulu pernah membuang waktu berharga selama lima tahun hidupku hanya untuk berpacaran dengan cucu Anda yang tidak tahu diri itu. Mengingat betapa kerdil, tidak mandiri dan tololnya Gavin dalam mengelola dirinya sendiri maupun perusahaan, aku merasa sangat beruntung karena Tuhan menyelamatkanku sebelum aku terikat pernikahan dengannya."
Gaby menatap Edgar sekilas, memberikan binar penuh kepuasan, sebelum kembali mengunci tatapan Eleanor dengan kilat mata yang mematikan. "Untuk saat ini, untungnya aku sudah menjadi istri sah dari Edgar Emiliano Addison. Pria matang yang jauh lebih mapan, berkelas, dan tahu bagaimana cara memuliakan seorang wanita dengan benar. Jadi, jika Anda ke mari hanya untuk membela sebutir kerikil tidak berguna yang sudah aku buang ke tempat sampah, aku sarankan Anda simpan saja tenaga tua Anda."
Mendengar serangan balik yang begitu tenang namun menohok dari Gaby, Eleanor tidak langsung meledak dalam amarah. Sebaliknya, wanita tua itu justru menyipitkan matanya yang keriput. Detik berikutnya, suara tawa sinis yang nyaring, kering, dan penuh penghinaan keluar dari mulut Eleanor, memenuhi ruang makan mewah itu.
"Hahaha! Sungguh wanita muda yang sombong, naif, dan bodoh!" Eleanor tertawa meremehkan, memukulkan tongkatnya sekali lagi ke lantai marmer dengan keras. Ia menatap Gaby dengan pandangan kasihan yang dibuat-buat.
"Kamu bangga karena memegang status istri sah dari Edgar Addison sekarang? Kamu merasa sudah menggenggam dunia hanya dengan selembar akta pernikahan itu?"
Eleanor melangkah selangkah lebih dekat ke arah kursi Gaby, membungkukkan tubuhnya sedikit hingga aura angkuhnya menekan udara di sekitar Gaby.
"Gaby, Gaby... dengar ini baik-baik agar otak pintarmu itu terbuka. Dulu, anak perempuan kesayanganku ibunya Gavin juga duduk di kursi yang kamu duduki sekarang! Dia memegang status istri sah yang jauh lebih terhormat, memiliki restu penuh dari dewan direksi, dan membawa nama besar keluarga Cavanaugh untuk menyokong fondasi perusahaan ini. Posisi ibunya Gavin dulu jauh lebih tinggi, kuat, dan berakar daripada kamu yang hanya anak dari keluarga biasa!"
Senyum Eleanor berubah menjadi seringai predator yang penuh ancaman psikologis yang berat. "Akan tetapi, bukankah kamu belum mengenal siapa dan bagaimana keluarga suamimu yang sebenarnya? Kamu masuk ke rumah ini sebagai orang asing yang buta sejarah, tanpa tahu rahasia apa yang tertulis di balik dinding-dinding marmer ini! Yakin kamu bakalan diterima oleh sisa keluarga besar Addison yang lain? Yakin posisi murahanmu itu akan bertahan lama?"
Eleanor menegakkan kembali tubuhnya, melirik ke arah Gavin dengan bangga sebelum melempar bom verbal terakhirnya pada Gaby. "Lihat cucuku, Gavin! Dia adalah darah daging asli, anak laki-laki yang tumbuh besar di rumah ini. Dan cucuku yang sebesar ini saja, yang memiliki hak darah mutlak di tubuhnya, sampai detik ini masih belum mendapatkan pengakuan penuh dan posisi tertinggi dari ayahnya sendiri hanya karena konflik keluarga kami! Lalu kamu? Wanita asing yang datang dari jalanan setelah patah hati, berharap bisa bertahan hanya dengan modal rayuan? Jangan bermimpi, Gaby! Cucuku saja belum dapat pengakuan, apalagi kamu!"
"Oma benar! Kamu hanya pion sementara, Gaby! Papa tidak akan pernah membiarkan wanita asing sepertimu menguasai rumah ini!" Gavin ikut menimpali dengan nada sombong, mencoba menaikkan kembali harga dirinya yang sudah hancur lebur sejak pagi tadi.
Atmosfer di ruang makan mendadak membeku. Ketegangan psikologis yang dilemparkan Eleanor sempat membuat suasana menjadi sunyi mencekam. Namun, keheningan itu dihancurkan dalam sekejap.
Brak!
Edgar Emiliano Addison menghempaskan cangkir porselennya ke atas meja makan dengan tenaga yang begitu besar hingga cangkir itu retak dan kopi hitam di dalamnya terciprat ke atas meja marmer. Denting keras itu seketika membungkam tawa sinis Eleanor dan membuat kalimat Gavin terputus di tenggorokan.
Edgar bangkit berdiri dari kursinya. Tinggi badannya yang menjulang tinggi, dikombinasikan dengan bahunya yang tegap dan ekspresi wajahnya yang sedingin es, langsung memancarkan aura kegelapan yang begitu pekat dan menekan seluruh ruangan. Pria matang itu melangkah maju dengan gagah, pasang badan sepenuhnya di depan Gaby. Ia memutus jarak pandang antara Eleanor dan istrinya, berdiri kokoh layaknya tembok benteng yang tak tertembus.
"Cukup, Nyonya Eleanor," suara bariton Edgar bergaung rendah, penuh dengan ancaman yang sangat mematikan. Mata elangnya menatap mantan mertuanya itu tanpa ada setitik pun rasa hormat. "Jangan pernah berani membawa-bawa nama mendiang anakmu di dalam rumahku dan jangan pernah berani menyamakan istriku, Gaby, dengan anak perempuanmu yang serakah itu."
Edgar mengalihkan pandangan tajamnya langsung ke arah Gavin yang kini mendadak menciut di belakang Eleanor. "Dan kamu bicara soal hak darah? Soal pengakuan cucu untuk Gavin?" Edgar terkekeh, sebuah suara tawa yang sangat dingin, kejam, dan sinis yang sanggup meruntuhkan mental Gavin dalam sekejap.
"Dengar ini baik-baik, Eleanor. Gavin tidak akan pernah dan tidak akan pernah sekali pun aku anggap sebagai Anak ataupun cucu di keluarga ku yang terhormat, apalagi untuk di rumah ini, Bahkan aku tegaskan dia bahkan tidak berhak atas kekaisaran bisnis Addison! Statusnya di dalam hidupku tidak lebih dari sebuah kesalahan moral yang terpaksa aku tanggung karena kelicikan kalian!"
Kalimat Edgar meledak di dalam ruangan seperti bom. Wajah Gavin seketika berubah pucat pasi, matanya melotot sempurna mendengar kata-kata kejam yang keluar langsung dari mulut ayah kandungnya sendiri di depan Gaby.
"P-apa... apa maksud ucapan Papa?!" Gavin berteriak dengan suara yang gemetar, napasnya memburu hebat karena ego kepriaannya dihantam telak.
"Kenapa Papa selalu memperlakukanku seperti pajangan?! Kenapa Papa selalu mengabaikanku dan sekarang malah menghinaku di depan mantan tunanganku sendiri?! Ini tidak adil! Aku anak Papa!"
Edgar menatap Gavin dengan tatapan yang sangat jijik, seolah-olah sedang melihat seonggok hama yang mengotori lantai bersihnya. "Kamu ingin tahu kenapa, Gavin? Karena aku memang tidak pernah menginginkan kehadiranmu di dunia ini! Dua puluh lima tahun yang lalu, aku dijebak oleh malamnya ibumu! Ibumu sengaja menjebakku dengan memanfaatkan satu malam di mana aku tidak sadar di bawah pengaruh obat, hanya agar keluarga Cavanaugh yang hampir bangkrut saat itu bisa mengikatku dalam pernikahan kontrak dan memeras kekayaan Addison Group!"
Edgar maju satu langkah, menekan Gavin dengan pandangan mata yang berkilat penuh amarah yang terpendam selama puluhan tahun. "Pernikahanku dengan ibumu adalah neraka bisnis yang dipaksakan. Kehadiranmu di dunia ini adalah hasil dari kelicikan malam itu! Jadi jangan pernah bertingkah seolah-olah kau adalah pangeran mahkota yang berhak atas pengakuan di rumah ini, Gavin. Aku membiarkanmu hidup mewah dan memegang jabatan manajer selama ini hanya sebagai bentuk tanggung jawab hukumku atas darah Addison, bukan karena aku mengakui atau menyayangimu sebagai anakku!"
Mendengar fakta pahit yang begitu kejam, telanjang, dan memalukan itu, Gavin menggelengkan kepalanya berulang kali dalam penolakan yang histeris. Air mata frustrasi dan kemarahan mulai mengalir di pipinya yang kuyu.
"Tidak! Papa bohong! Papa hanya mencari alasan untuk menutupi kebusukan Papa sendiri!" Gavin berteriak histeris, menunjuk wajah Edgar dengan jari yang gemetar hebat, mencoba melimpahkan kesalahan. "Papa hanya terlalu sok suci! Papa selalu menganggap diri Papa paling benar dan menyalahkan mendiang Mama atas segala hal! Papa yang dingin, Papa yang egois, dan sekarang Papa menyalahkan Mama atas kehadiranku?! Papa yang bajingan, bukan Mama!"
Eleanor ikut mengetukkan tongkatnya dengan marah, wajah tuanya memerah padam karena rahasia busuk keluarganya dibongkar habis-habisan di depan orang asing. "Edgar! Jaga bicaramu! Bagaimanapun Gavin adalah anakmu! Kamu tidak bisa mencabut haknya begitu saja hanya demi perempuan ini!"
Edgar tidak memedulikan teriakan histeris Eleanor ataupun pembelaan Gavin. Ia justru menatap Gavin dengan senyuman tipis yang mematikan sebuah senyuman penuh keangkuhan dari seorang penguasa absolut yang memegang kendali penuh atas hidup mati orang di hadapannya.
"Kamu menuduhku sok suci dan menyalahkan mamamu, Gavin?" tanya Edgar. Nadanya mendadak berubah menjadi sangat santai, namun sarat akan kelas dan karisma kelas atas yang mutlak. Pria matang itu merapikan kerah kemeja hitamnya dengan gerakan yang sangat elegan sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Asal kau tahu saja... setiap ucapan yang keluar dari mulut seorang Edgar Emiliano Addison adalah kebenaran hukum, dan ucapanku bisa dipegang karena aku adalah pria mahal!"
Edgar memutar tubuhnya sedikit, lalu melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Gaby dari belakang. Ia menarik tubuh istrinya hingga menempel erat pada dada bidangnya yang kokoh, menegaskan posisi perlindungan tertingginya di depan Eleanor dan Gavin.
"Aku adalah pria mahal yang memiliki integritas, prinsip dan kelas yang tidak akan pernah bisa dibeli atau ditundukkan oleh kelicikan ranjang seperti yang dilakukan ibumu dulu. Aku memilih Gaby karena dia adalah wanita cerdas, terhormat, dan layak berdiri di sisiku atas pilihanku sendiri, bukan karena paksaan!"
Edgar menjeda kalimatnya, menatap Gavin dari atas ke bawah dengan pandangan menghina yang paling dalam. "Aku bukan pria murahan yang mudah tergoda oleh rayuan atau membuang berlian demi sampah seperti yang kamu lakukan pada Gaby seminggu lalu hanya demi wanita seperti Luna. Kamu... kamu adalah replika sempurna dari sifat murahan ibumu, Gavin. Dan pria murahan tidak akan pernah mendapatkan tempat di atas takhta Addison!"
Mendengar kalimat penutup dari Edgar yang begitu menusuk, menohok, dan menghancurkan seluruh harga diri Gavin dan Eleanor hingga ke dasar bumi, Gaby yang berada di dalam pelukan kokoh suaminya tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum puas.
Dada Gaby berdesir hebat oleh rasa kemenangan yang amat manis. Di ruang makan mewah ini, di depan mata kepala mantan mertua suaminya yang angkuh dan mantan tunangannya yang kini menangis frustrasi karena status aslinya dibongkar, Gaby menikmati setiap detik kehancuran mereka. Bersama Edgar Addison sang pria mahal Gaby tahu bahwa badai apa pun yang dilemparkan dunia kepadanya, ia akan selalu keluar sebagai pemenang yang berdiri di puncak tertinggi.