NovelToon NovelToon
Dendam Manis Di Cawan Hitam

Dendam Manis Di Cawan Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Neef

Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
​Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cakar Sang Penjaga dan Sumpah Darah yang Mengikat

*"Diam di belakangku, Marie! Jika kau berani melangkah satu inci saja ke arah cakar itu, kau tidak hanya akan kehilangan nyawamu, kau akan menyeret seluruh eksistensimu ke dalam kehampaan abadi!"*

Suara Julius meledak, memecah gemuruh reruntuhan terowongan yang kini bergetar dahsyat. Cakar raksasa yang menembus atap itu bukan sekadar batu atau logam; ia terbuat dari kristal obsidian yang hidup, berkilau dengan urat-urat energi biru yang berdenyut selaras dengan detak jantung di dalam cawan yang kini tersimpan di balik jubahku. Julius menarikku kasar ke balik pilar penyangga yang tersisa. Matanya, yang biasanya memancarkan kedinginan kalkulatif, kini menunjukkan intensitas yang membakar.

Makhluk yang disebut Penjaga Kota itu—sebuah entitas sihir kuno yang tercipta dari fondasi Oakhaven—mengeluarkan raungan yang bukan suara, melainkan getaran sihir yang membuat gendang telingaku terasa nyaris pecah. Dinding terowongan runtuh satu per satu, menelan pasukan bayaran yang tertinggal di belakang. Elara telah menghilang, meninggalkan kami berdua untuk berhadapan dengan murka yang tidak bisa diajak bernegosiasi.

*Kekuatan apa ini?* pikirku, mencoba menstabilkan napas. *Ini bukan sekadar monster. Ini adalah sistem pertahanan Oakhaven itu sendiri.*

*"Julius, jantung ini!"* teriakku di tengah kebisingan. *"Ia bergetar! Ia merespons Penjaga itu! Seolah-olah mereka... saling mengenali!"*

Julius menatapku dengan sorot mata yang menyiratkan konfirmasi pahit. *"Tentu saja mereka mengenali satu sama lain. Jantung ayahmu adalah kunci kontrol kota ini, Marie. Dan kau baru saja mengaktifkan kuncinya secara paksa. Makhluk itu tidak menyerang kita karena dia membenci kita. Dia menyerang karena dia mengira kita adalah pencuri yang mencoba mencuri otoritasnya."*

*"Kalau begitu, berikan dia kembali!"*

*"Tidak bisa!"* potong Julius. *"Jika jantung itu meninggalkan detakmu sekarang, kau akan mati dalam sekejap. Kau sudah menjadi bagian dari mekanisme kota ini. Kita tidak punya pilihan lain selain menundukkannya atau hancur bersama fondasi kota ini."*

Cakar obsidian itu menghantam pilar tempat kami bersembunyi. Debu dan kerikil beterbangan, membutakan pandangan. Aku merasakan dorongan insting yang sangat kuat—bukan dari otakku, melainkan dari sisa-sisa kesadaran ayah Marie yang tertinggal di jantung itu. Ia berteriak dalam diam, menuntut agar aku tidak tunduk pada Penjaga tersebut.

Aku memejamkan mata, membiarkan energi yang mengalir di nadiku mengambil alih. Aku tidak menggunakan sihir alkimia untuk memurnikan. Kali ini, aku mencoba melakukan sesuatu yang lebih berbahaya: *Sinkronisasi Dominasi*.

*"Apa yang sedang kau lakukan?"* tanya Julius, suaranya terdengar tercekat saat dia merasakan energi sihir yang keluar dariku menyelimuti seluruh terowongan.

*"Mengambil kembali apa yang seharusnya milik keluarga Vance,"* jawabku dingin.

Aku melangkah keluar dari balik pilar, mengabaikan tarikan tangan Julius. Tubuhku terasa ringan, dikelilingi oleh aura keemasan yang keluar dari pori-pori kulitku. Cahaya itu beradu dengan cahaya biru dari Penjaga Kota. Saat aku menatap langsung ke arah mata obsidian makhluk itu, aku tidak melihat monster, melainkan rangkaian formula sihir yang sangat rumit—bahasa kuno yang tertulis di dasar fondasi dunia ini.

Aku mengangkat tanganku, membentuk pola yang kuingat dari memori Marie. *"Sumpah darah keluarga Vance tidak berakhir dengan kematian! Aku, pewaris sah, memerintahkanmu untuk kembali ke dalam tidurmu!"*

Ledakan energi terjadi. Gelombang kejut itu menghantam Penjaga Kota hingga ia tersungkur kembali ke atas, menciptakan lubang yang sangat besar ke arah permukaan kota. Kristal obsidian itu mulai memudar, berubah menjadi debu halus yang turun seperti salju di atas reruntuhan.

Namun, kemenangan itu tidak gratis. Rasa sakit yang luar biasa menghantam dadaku. Aku ambruk ke lantai, memuntahkan darah yang bercampur dengan residu sihir emas.

Julius menangkap tubuhku sebelum aku membentur lantai. Wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak diliputi kekhawatiran yang nyaris transparan. *"Bodoh! Kau menguras seluruh cadangan energi jantung itu sekaligus! Kau bisa membunuh dirimu sendiri!"*

*"Aku... aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan,"* bisikku, kesadaranku mulai menipis.

Dia menatapku lama, jemarinya mengusap pipiku yang bernoda darah. Untuk sesaat, topeng dinginnya retak. *"Kau memang pantas menjadi istri seorang Vance. Tapi jangan pernah berpikir aku akan membiarkanmu mati secepat itu."*

Dia memelukku erat, dan aku merasakan energi gelap miliknya mengalir masuk ke tubuhku, menambal kebocoran sihir yang baru saja kualami. Itu adalah pertukaran yang sangat intim dan berbahaya—sihir kegelapan Julius yang beradu dengan sisa cahaya dari jantung ayahku. Perpaduan itu menciptakan sensasi yang membuat jiwaku terasa terbakar, namun juga terasa... lengkap.

Saat aku membuka mata kembali, kami sudah berada di permukaan, tepat di tengah alun-alun kota yang porak-poranda. Para penjaga kota mulai berdatangan, dipimpin oleh petinggi Syndicate lainnya yang menatap kami dengan pandangan tak percaya. Mereka melihat kehancuran yang terjadi, mereka melihat Penjaga yang sudah tiada, dan mereka melihat aku—gadis yang dianggap lemah—kini berdiri tegak di samping Julius dengan sisa-sisa aura emas yang masih menyelimutiku.

Julius berdiri di depanku, menghalangi pandangan para petinggi itu. *"Malam ini, Oakhaven telah mengalami pembersihan,"* suaranya menggema, penuh otoritas. *"Cawan Hitam tidak lagi menjadi pusat kekuatan kita. Mulai saat ini, Marie Vance adalah pemegang kunci keseimbangan baru kota ini. Siapa pun yang menentang keputusannya, akan berhadapan langsung dengan murka keluarga Vance."*

Suasana sunyi senyap. Tidak ada yang berani membantah. Namun, di kerumunan itu, aku melihat seseorang—seorang pria tua dengan jubah yang menutupi separuh wajahnya. Dia tidak tampak takut. Dia justru tersenyum, sebuah senyuman yang membuat bulu kudukku berdiri. Dia adalah Tetua dari Dewan yang tadi sempat menantang Julius.

Dia memberi isyarat padaku, sebuah gerakan kecil di balik jubahnya: sebuah koin perak yang sama dengan yang kuberikan pada pria bertopeng burung hantu.

*Jadi mereka semua terhubung,* pikirku dengan kepahitan yang nyata. *Konspirasi ini jauh lebih luas dari sekadar keluarga Vance.*

Julius membawaku kembali ke kediaman utama Vance. Setibanya di sana, dia tidak membiarkanku beristirahat. Dia membawaku langsung ke ruang arsip keluarga—sebuah perpustakaan bawah tanah yang tidak pernah diketahui oleh siapapun.

*"Di sinilah kau akan tinggal untuk beberapa hari ke depan,"* ucapnya sambil melemparkan setumpuk buku tua ke atas meja. *"Kau telah membangkitkan sesuatu yang tidak seharusnya bangun. Dewan Langit akan mengirim pembunuh bayaran mereka setelah ini. Dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan memahami sejarah kutukan yang sekarang mengalir di darahmu."*

*"Aku tidak butuh perlindunganmu, Julius,"* kataku, meskipun tubuhku masih sangat lemas. *"Aku butuh kebenaran tentang mengapa kau begitu terobsesi dengan jantung ini. Katakan padaku, apa hubunganmu yang sebenarnya dengan ayahku?"*

Julius berhenti melangkah. Dia membelakangiku, bahunya terlihat tegang.

*"Ayahmu bukan sekadar alkemis,"* jawabnya dengan nada rendah. *"Dia adalah arsitek Oakhaven. Dan dia tidak mati karena dia gagal memurnikan Nectar. Dia mati karena dia mencoba menyegel sesuatu yang sekarang... ada di dalam dirimu."*

Dia berbalik, dan matanya kini menatapku dengan intensitas yang hampir membuatku gila. *"Marie, di balik setiap inci kekuatan yang kau miliki sekarang, ada entitas lain yang mulai sadar. Dan jika kau tidak bisa mengendalikannya, aku akan menjadi orang pertama yang harus menghabisimu sebelum entitas itu melahap seluruh kota."*

Dunia di sekitarku terasa berputar. Entitas lain? Apakah ini alasan kenapa aku merasa jiwaku bukan milikku sepenuhnya?

Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, alarm di kediaman Vance berbunyi. Bukan alarm biasa, melainkan suara denting lonceng perak yang menandakan adanya penyusup dengan sihir tingkat tinggi.

*"Sial,"* umpat Julius. *"Mereka tidak membuang waktu."*

Dia menarik tanganku kembali, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Ada sebuah cincin besi yang melingkar di pergelangan tanganku—cincin yang muncul secara magis dari kontrak darah kami. Cincin itu mulai berpendar merah, indikator bahaya yang sangat dekat.

*"Mereka datang untuk mengambil kembali 'Kunci' itu,"* bisik Julius. *"Marie, lari ke ruang tengah. Di sana ada lorong rahasia menuju distrik bawah. Jangan berhenti, jangan menoleh, dan jangan percaya pada siapapun yang kau temui di sana—terutama jika dia terlihat seperti seseorang yang kau kenal dari masa lalumu."*

*"Lalu kau?"* tanyaku, merasakan dorongan untuk tidak meninggalkannya.

*"Aku akan memancing mereka,"* jawabnya sambil mencabut pedang hitamnya lagi. *"Seseorang harus membayar harga atas malam ini. Dan dalam permainan ini, aku selalu menjadi orang yang membayarnya dengan darah."*

Dia mendorongku menuju pintu rahasia. Saat aku menoleh untuk terakhir kalinya, aku melihat Julius berdiri sendirian di depan pintu perpustakaan, dikelilingi oleh kabut hitam yang perlahan mulai menelan wujudnya.

Aku berlari menyusuri lorong gelap itu. Napasku pendek, jantung di dalam cawan itu berdenyut tidak beraturan, seolah-olah ia juga takut dengan apa yang ada di depan sana. Saat aku sampai di ujung lorong, pintu kayu di depanku terbuka, menampilkan pemandangan yang membuat langkahku terhenti.

Bukan distrik bawah yang kutemukan. Aku berada di sebuah taman yang tertutup salju—taman yang sama dengan yang sering kulihat dalam mimpi-mimpi buruk Marie. Dan di tengah taman itu, berdiri seorang wanita yang wajahnya... wajahnya adalah wajahku sendiri.

Wanita itu menoleh ke arahku, tersenyum dengan cara yang sangat mengerikan.

*"Selamat datang di tempat di mana semuanya dimulai, Marie,"* ucapnya dengan suaraku. *"Atau haruskah kupanggil kau... 'Sisa Jiwa'?"*

Di belakang wanita itu, langit Oakhaven mendadak terbelah menjadi dua, memperlihatkan dimensi lain yang penuh dengan api dan bayangan. Aku sadar, malam ini bukan tentang bertahan hidup. Ini tentang apakah aku akan tetap menjadi aku, atau apakah aku akan ditelan oleh sosok yang menungguku di dimensi itu.

1
Abe shaikha
Aku suka yang FL nya kuat begini, semangat thor nulisnya😍
Abe shaikha
Seru Thor... 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!