NovelToon NovelToon
PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: SINGGASANA DI ATAS AWAN

Bab 9: Singgasana Di Atas Awan

Di sebuah rumah kontrakan petak yang sempit di pinggiran daerah tebal polusi Jakarta Timur, Julian Prakasa duduk menatap layar laptop tuanya yang berkedip redup. Ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu dipenuhi aroma kopi hitam pekat yang sudah mendingin dan tumpukan kertas koran finansial yang berantakan. Tiga bulan lalu, dia adalah salah satu bintang paling terang di bursa saham lokal—seorang manajer investasi yang mampu memprediksi pergerakan pasar modal dengan akurasi yang menakutkan.

Namun hari ini, dia hanyalah seorang pria hancur dengan sisa tabungan yang menipis. Gilbert Elrod telah memastikan seluruh pintu perbankan dan sekuritas di negara ini tertutup rapat untuk nama "Julian Prakasa".

Julian mengusap wajahnya yang kasar karena tidak bercukur selama beberapa hari. Dia berniat menutup laptopnya ketika sebuah notifikasi surel masuk dengan protokol enkripsi berlapis yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Judul surel itu hanya terdiri dari satu huruf kapital tunggal: V.

Julian mengernyitkan dahi, mengeklik pesan tersebut. Begitu baris demi baris kalimat di dalamnya terbaca, napasnya seketika tercekat di tenggorokan.

Tuan Julian Prakasa.

Keadilan adalah kemewahan yang tidak berlaku di bursa saham, namun pembalasan dendam adalah komoditas yang bisa dibeli. Modal senilai USD 130,000.00 telah dialokasikan ke akun kustodian anonim atas nama Anda di Singapura.

Tugas Anda: Temukan ruang kantor strategis di kawasan SCBD atas nama PT Pecunia Investama Indonesia sebelum matahari terbenam hari ini. Bertindaklah sebagai wajah publik saya, dan saya akan memberi Anda kekuatan untuk meruntuhkan Elrod Corp hingga ke dasar tanah.

— V.

Tangan Julian bergetar hebat saat dia membuka aplikasi rekening luar negerinya. Di sana, sebuah angka digital dalam denominasi Dolar Amerika benar-benar terpampang nyata, dikirim dari entitas bernama Pecunia Corp yang berbasis di Cayman Islands.

Pria itu perlahan berdiri dari kursi plastiknya, matanya memancarkan binar api yang sempat padam. "Siapa pun Anda, Nona 'V'... Anda baru saja membangunkan seekor singa yang lapar."

Pukul dua siang, bel pulang sekolah SMA Elit Garuda berbunyi dengan nyaring. Di saat murid-murid lain sibuk merencanakan tempat nongkrong di kafe-kafe estetik Senopati menggunakan mobil jemputan mewah mereka, Valerie Vespera melangkah keluar dari gerbang dengan ketenangan yang berbeda.

Dia tidak berjalan kaki pulang ke arah rumah Menteng. Sebaliknya, dia melangkah menuju stasiun MRT terdekat, menembus jalur bawah tanah kota, dan keluar tepat di stasiun Istora Mandiri yang langsung terhubung dengan kawasan pusat bisnis Sudirman (SCBD).

Di dalam toilet umum stasiun yang bersih dan sepi, Valerie melakukan transisi pertamanya. Seragam sekolah kaku berlogo Garuda itu dia lepas dengan cepat, dilipat rapi, dan dimasukkan ke dalam tas kanvas usangnya. Sebagai gantinya, dia mengenakan kemeja putih kasual berpotongan tegas yang dia beli beberapa hari lalu, dipadukan dengan celana kain hitam dan sweter rajut biru lamanya yang tersampir longgar di bahu.

Aura seorang siswi SMA yang tertindas seketika lenyap tak berbekas begitu dia melangkah keluar ke bawah terik matahari Sudirman. Tatapan matanya lurus, dingin, dan memancarkan pesona dominasi yang absolut.

Valerie berjalan dengan langkah konstan menuju gedung Griya Cakrawala—sebuah menara perkantoran modern setinggi sepuluh lantai dengan dinding kaca reflektif gelap yang baru saja selesai dibangun di sudut strategis SCBD. Gedung ini adalah salah satu properti yang nantinya akan menjadi incaran utama Gilbert Elrod dalam beberapa bulan ke depan, namun saat ini, separuh lantainya masih kosong menanti penyewa premium.

Julian Prakasa sudah berdiri menunggu di lobi utama yang megah berlantai marmer Italia. Penampilan Julian telah berubah total; dia mengenakan setelan jas hitam desainer yang rapi, meskipun matanya tampak gelisah menyapu seluruh pengunjung lobi. Dia sedang mencari sosok investor misterius berkuasa bernama "V" yang dia bayangkan sebagai seorang taipan tua atau konglomerat paruh baya.

Namun, langkah kaki Julian mendadak terhenti ketika seorang gadis remaja bersweter rajut biru berjalan dengan ketenangan luar biasa tepat ke arahnya.

"Tuan Julian," suara Valerie beralun begitu rendah, renyah, namun memiliki daya tekan yang sanggup menghentikan detak jantung. "Jangan menatap saya seolah-olah Anda sedang melihat hantu. Kita punya banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di lantai atas."

Julian terbelalak. Jantungnya berdegup kencang karena rasa syok yang luar biasa. "Anda... Nona 'V'?! Anda seorang—"

"Gadis SMA?" Valerie memotong ucapan Julian dengan seulas senyuman tipis yang sangat dingin. "Umur dan seragam hanyalah ilusi hukum, Julian. Yang mengendalikan bursa malam ini adalah angka di rekening kustodian kita, bukan uban di kepala Gilbert Elrod. Mari naik."

Kehilangan kata-kata karena dominasi mental yang dilemparkan oleh gadis di hadapannya, Julian hanya bisa membungkuk hormat dengan patuh, lalu menuntun Valerie menuju lift khusus eksekutif menuju lantai tertinggi yang telah dia sewa beberapa jam lalu.

Lantai 10.

Begitu pintu lift terbuka, hamparan ruang kantor seluas lima ratus meter persegi yang masih kosong langsung menyambut mereka. Desain interiornya minimalis dengan dinding kaca tebal dari lantai hingga langit-langit, menampilkan panorama megah seluruh gedung pencakar langit Jakarta yang saling menjulang. Di ujung ruangan, sebuah meja kerja raksasa dari kayu mahoni hitam solid telah disiapkan oleh Julian.

Valerie berjalan perlahan, menikmati ketukan sepatunya di atas lantai beton ekspos yang modern. Dia melangkah ke balik meja, lalu mendudukkan tubuh tirusnya di atas kursi kebesaran berbahan kulit premium yang empuk. Dia menyandarkan punggungnya, menopang dagu dengan satu tangan, sementara matanya menatap kota dari balik kaca.

Dari ketinggian lantai sepuluh ini, mobil-mobil mewah di jalan raya tampak seperti semut-semut kecil yang merangkak tidak berdaya. Menara kantor pusat Elrod Corp yang terletak beberapa blok di seberang sana bahkan terlihat begitu rapuh dari sudut pandang tempat Valerie duduk saat ini. Ini adalah singgasana barunya—sebuah menara pengawas di atas awan tempat dia akan memantau kepunahan musuh-musuhnya.

"Laporkan posisi modal domestik kita, Julian," perintah Valerie tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.

Julian segera membuka tablet digital barunya, melangkah satu langkah mendekati meja dengan rasa takjub yang belum hilang. "Sesuai instruksi Anda melalui surel tadi pagi, Nona V. Sisa likuiditas dari transaksi futures minyak mentah kemarin telah sepenuhnya dikonversikan ke dalam mata uang lokal. Saat ini, modal siap pakai di bawah bendera PT Pecunia Investama Indonesia berada di angka dua miliar empat puluh tujuh juta rupiah, bersih tanpa endapan utang."

"Dua miliar," gumam Valerie pelan, jari telunjuknya mengetuk permukaan meja kayu hitam berirama. "Modal yang cukup untuk membuat Gilbert Elrod mulai terjaga di malam hari. Julian, kumpulkan data seluruh perusahaan vendor semen dan baja lapis ketiga yang saat ini sedang mengantre pembayaran piutang dari proyek jalan tol Elrod Corp. Kita akan mulai membeli surat utang mereka secara senyap minggu depan."

"Dimengerti, Nona V. Saya akan menyiapkan tim analisis bawah tanah kita malam ini juga," jawab Julian dengan kepatuhan mutlak. Di mata Julian, gadis remaja di hadapannya ini bukan lagi seorang manusia biasa, melainkan otak finansial paling menakutkan yang pernah dia temui seumur hidupnya.

Valerie melihat arloji digital murah di pergelangan tangan kirinya. Jam menunjukkan pukul lima sore. Waktu untuk Kehidupan Ganda sebagai penguasa bayangan di atas awan ini harus diakhiri untuk hari ini. Dia harus kembali turun ke dunia bawah, menjadi anak buangan yang tidak berharga di mata keluarga kandungnya sendiri.

Dia bangkit berdiri, mengambil tas kanvas usangnya, lalu menatap Julian dengan dingin. "Saya akan kembali ke kediaman Menteng. Ingat, identitas saya tidak boleh bocor ke satu makhluk hidup pun di kota ini. Biarkan Gilbert Elrod mencari musuhnya di luar negeri, tanpa tahu bahwa badai yang sebenarnya sedang berkumpul tepat di bawah lantai rumahnya sendiri."

Pukul tujuh malam, Valerie Vespera melangkah masuk melewati pintu belakang mansion Menteng. Udara malam yang lembap menyambut tubuhnya saat dia menuruni anak tangga semen yang dingin menuju kamar gudangnya.

Di atas sana, dari arah ruang tengah lantai satu, terdengar suara tawa manja Alethea yang sedang memamerkan gelang emas putih barunya kepada Victoria, diselingi suara berat Nicholas yang sedang berbincang dengan Christian tentang rencana liburan musim panas mereka ke Eropa. Mereka semua hidup dalam kemewahan yang megah, merasa berada di puncak dunia karena nama besar Elrod Corp.

Valerie mengunci pintu kamar gudangnya yang pengap, lalu meletakkan tas kanvasnya di lantai. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang lipat yang keras, menatap bohlam kuning yang berkedip pelan di langit-langit kamar yang berdebu.

Gilbert, Victoria, dan anak-anak kesayangan mereka tidak akan pernah menduga, tidak akan pernah membayangkan dalam mimpi terburuk mereka sekalipun, bahwa anak perempuan yang mereka buang ke kamar semen lembap ini baru saja menduduki singgasananya di lantai sepuluh SCBD, memegang kendali atas modal miliaran rupiah yang siap merobek fondasi bisnis mereka menjadi berkeping-keping.

"Tersenyumlah selagi kalian bisa," bisik Valerie Vespera pada keheningan kamar pojok yang gelap, seulas senyuman kemenangan yang teramat kejam terukir di bibirnya sebelum dia memejamkan mata. "Karena dari atas awan sana... saya sudah menyiapkan peti mati finansial yang sempurna untuk nama Elrod."

Bersambung....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Moreno
draf dref draf dref 😑
Moreno
gimana caranya uang tunai tiba2 masuk menjadi saldo digital
masijacoke021205: Sudah diperbaiki ya, Kak! Terima kasih banyak bantuannya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!