NovelToon NovelToon
Pelakor Merebut Suamiku, Aku Merebut Suaminya

Pelakor Merebut Suamiku, Aku Merebut Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pelakor / CEO / Penyesalan Suami / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.

Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.

Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.

Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.

Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.

Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.

Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.

Tapi terlambat...

Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama

Raina tiba di kantor PT Nusantara Prima pukul tujuh kurang sepuluh.

Gedungnya dua belas lantai, kaca dan beton abu-abu, berdiri di jalan utama kawasan bisnis yang Raina tempuh dengan dua kali angkot dan sepuluh menit jalan kaki. Lobby-nya luas dan dingin, dengan lantai marmer yang memantulkan bayangan siapapun yang melewatinya.

Di sudut kiri lobi, seorang perempuan lain berdiri dengan ekspresi yang sama persis dengan ekspresi Raina tiga detik sebelumnya, menatap sekeliling seperti orang yang baru pertama kali masuk ke suatu tempat dan sedang memetakan di mana harus berdiri.

Mereka berpandangan sebentar.

"Kamu juga baru?" perempuan itu bertanya duluan.

"Iya." Raina mendekat. "Cleaning service?"

"Betul." Perempuan itu mengulurkan tangan... kecil, hangat, jabatan tangan yang terlalu bersemangat untuk pagi sepagi ini. "Sari."

"Raina."

"Kamu cantik banget," kata Sari dengan nada yang tidak menyindir... polos, seperti mengucapkan fakta. "Sayang jadi cleaning service."

Raina tersenyum. "Kamu juga."

Sari tertawa pendek. Merasa percakapan mereka cukup lucu. Padahal tawa itu hanyalah alasan untuk menghilangkan kegugupan mereka. "Kita lihat aja nanti siapa yang bertahan."

Kepala divisi cleaning service bernama Bu Dewi, perempuan empat puluhan, rambut pendek, seragam biru tua yang sama dengan yang akan mereka pakai tapi dengan lencana kuning di dadanya yang membedakannya dari yang lain.

Ia datang lima menit kemudian dengan langkah yang sudah berbicara sebelum mulutnya terbuka...langkah orang yang terbiasa mengatur dan tidak terbiasa ditanya.

Matanya menyapu Sari sebentar, mengangguk datar. Kemudian beralih ke Raina.

Raina melihatnya...perubahan kecil di sudut mata Bu Dewi, sesuatu yang turun satu derajat tanpa alasan yang jelas. Pandangan yang memanjang setengah detik lebih lama dari pandangan ke Sari. Bukan permusuhan yang terang-terangan, lebih seperti keputusan yang dibuat dalam diam, penilaian yang sudah selesai sebelum percakapan dimulai.

"Kalian berdua mulai hari ini," kata Bu Dewi. "Ikut saya."

Area yang Bu Dewi tunjuk ada di lantai dasar belakang gedung, dekat loading dock dan area parkir basement, lorong-lorong yang tidak dilalui tamu atau karyawan kantoran. Lantainya keramik kasar yang menahan noda lebih dari marmer di lobi, sudut-sudutnya lebih gelap, dan troli peralatan yang sudah menunggu di sana terlihat lebih berat dari yang Raina antisipasi.

"Lantai dasar, lorong B sampai F, termasuk toilet basement, area loading, dan koridor servis." Bu Dewi menyebutnya dengan nada yang tidak meminta pendapat. "Selesai sebelum jam dua belas."

Sari membuka mulutnya.

Kemudian menutupnya lagi ketika Raina menyentuh lengannya pelan.

Bu Dewi pergi.

Sari menoleh ke Raina dengan ekspresi yang tidak menyembunyikan apapun. "Serius ini? Lorong B sampai F? Kita berdua? Itu..." ia menghitung di kepalanya. "Itu hampir dua ratus meter persegi, Rain."

"Kita mulai dari ujung sana dulu." Raina mengambil gagang pel dari troli. Ia terlihat lebih tenang daripada Sari. "Dibagi dua lebih cepat."

"Tapi ini tidak adil. Karyawan baru biasanya dikasih area yang lebih..." protes Sari tidak terima. Entah apa kesalahannya, bisa-bisanya dia ditempatkan di area ini.

"Sari." Raina menatapnya... pelan, tidak menghakimi, senyum kecil yang tidak dipaksakan. "Aku tahu. Tapi mengomel tidak akan membuat lorong-nya memendek."

Sari menatapnya dua detik. Kemudian menarik napas panjang dan mengambil troli satunya. "Kamu aneh," gumamnya dengan bibir yang mengerucut. "Tapi baik."

Mereka mulai bekerja.

Raina tidak pernah menyangka otot-ototnya masih ingat ini...gerakan mengepel dengan ritme yang efisien, cara memegang alat agar punggung tidak cepat sakit, cara mengatur napas supaya tidak kehabisan tenaga di pertengahan. Dulu, sebelum menikah, ia pernah kerja paruh waktu di tempat-tempat yang mengajarkan hal-hal seperti ini.

Tapi tetap saja... dua jam pertama, punggungnya mulai berbicara.

Sari mengeluh setiap lima belas menit, bukan mengeluh yang manja, lebih seperti orang yang harus mengeluarkan sesuatu supaya bisa melanjutkan. Raina mendengarkan, menimpali dengan kalimat pendek, dan terus bergerak.

Pukul sebelas lewat tiga puluh, lorong B sampai D sudah selesai. Raina berdiri meluruskan punggungnya, menghapus keringat di dahinya dengan lengan baju seragamnya, dan menatap dua lorong tersisa.

"Kita istirahat dulu," kata Sari sambil menjatuhkan dirinya ke bangku plastik di sudut lorong. "Aku mau pingsan." deru nafas wanita itu ngos-ngosan. Dadanya bergerak naik turun dengan cepat.

"Sepuluh menit." Raina ikut duduk di sebelahnya. Ia tak kalah lelah dari temannya. "Kita makan dulu, habis itu..."

"Mbak Raina."

Mereka berdua menoleh.

Bu Dewi berdiri di ujung lorong, kedua tangannya memegang clipboard. Matanya ke arah Raina.

"Toilet basement belum dikerjakan. Sebelum istirahat, selesaikan dulu."

Sari langsung berdiri. "Bu, itu bukan di jadwal awal. Bu Dewi tadi bilang lorong B sampai F, toilet basement tidak..." protes Sari tak terima.

"Mbak Sari." Bu Dewi memotong tanpa mengubah nada suaranya. "Kalau mau protes, silakan ke HRD. Tapi kalau mau tetap kerja di sini, ikuti instruksi." lanjutnya tanpa bisa dibantah.

Sari membuka mulutnya. Ingin mengeluarkan keluhannya.

"Sari." Raina menyentuh lengannya lagi. "Tidak apa-apa."

"Tapi Rain..." Sari masih kesal, tapi terpaksa menahan.

"Tidak apa-apa." Raina berdiri, mengambil ember yang sudah hampir kosong cairannya. "Aku kerjakan dulu. Kamu istirahat."

Bu Dewi menatap Raina sekali lagi... tatapan yang sama dengan tadi pagi, sesuatu yang datar di permukaannya tapi tidak sepenuhnya kosong di dalamnya, kemudian pergi.

Sari duduk kembali di bangku plastiknya, tapi kali ini diam. Menatap punggung Raina yang berjalan ke arah toilet basement dengan langkah yang tidak terburu-buru, tidak terseret, tidak terlihat seperti orang yang baru saja diperlakukan tidak adil.

"Kamu aneh," gumam Sari lagi. Kali ini tanpa tambahan tapi baik.

---

Raina mendorong troli ke lorong menuju toilet basement.

Lorong itu lebih sempit dan lebih dingin, pipa-pipa di langit-langit yang berkeringat, lampu neon satu yang berkedip-kedip di ujung. Bau campuran yang tidak perlu dideskripsikan lebih jauh.

Ia mengeluarkan alat-alatnya. Membuka pintu toilet pertama.

Dan mulai bekerja.

Ketika satu toilet telah selesai, Raina mendorong troli keluar... ketika mendengar suara langkah dari arah yang berbeda.

Raina mendongak.

Di ujung lorong yang bercabang ke arah lift servis, dua orang berjalan dari arah yang berlawanan, seorang perempuan muda dengan rompi hitam tipis yang sudah sangat Raina kenal, dan di sebelahnya...

Setelan jas abu-abu gelap. Kemeja putih bersih. Jam tangan di pergelangan kiri yang bahkan dari jarak ini terlihat bukan jam biasa. Rambut yang disisir rapi, bukan rambut yang sama dengan rambut kusut tetangga yang duduk lesu di teras rumah nomor 9.

Tapi wajahnya sama.

Hadi.

Raina berhenti mendorong troli.

Hadi yang berjalan sambil membaca sesuatu di ponselnya mendongak... dan berhenti.

Mereka bertatapan di lorong sempit yang berbau cairan pembersih lantai itu selama dua detik penuh.

Laras, yang berjalan setengah langkah di belakang Hadi, ikut berhenti. Matanya berpindah dari Hadi ke perempuan berseragam biru tua yang berdiri di ujung lorong, dan sesuatu di wajah asisten itu menjadi sangat hati-hati.

"Mbak Raina." Hadi bersuara duluan. Ia menyimpan ponselnya.

"Mas Hadi." Raina mengangguk. Tidak terlihat terkejut... atau lebih tepatnya, ia tidak membiarkan keterkejutannya terlihat lebih lama dari satu kedipan.

Hadi mendekati. Matanya turun sebentar ke seragam biru tua, ke troli di samping Raina, ke ember yang masih basah di dalamnya. "Ngapain kamu di sini?"

"Kerja." Raina berkata datar. "Mulai hari ini. Cleaning service."

Sesuatu bergerak di rahang Hadi... mengetat sebentar, lalu dilepas.

"Dan Mas Hadi?" Raina menatapnya, mata yang tidak bisa dibaca terlalu jauh. "Tumben rapi. Ada acara?"

Hadi membuka mulutnya. Setengah detik. "Kebetulan ada pertemuan di gedung ini. Klien lama."

"Oh." Raina mengangguk... satu anggukan kecil yang bisa berarti percaya atau bisa berarti hal lain. "Baik."

"Sudah makan?"

"Belum." Raina menggeleng.

"Belum kenapa? Ini sudah hampir jam dua belas."

Raina melirik troli di sampingnya. "Ada tambahan pekerjaan. Belum selesai, belum boleh istirahat."

Hadi diam satu detik. "Siapa yang buat peraturan itu?"

"Kepala divisi saya."

"Namanya?" tanya Hadi.

"Mas Hadi tidak perlu..."

"Namanya siapa, Mbak Raina." Hadi menekan suaranya.

Raina menatapnya sebentar. Lalu menjawab. "Bu Dewi."

Hadi menoleh ke Laras...gerakan kecil, hanya menoleh, tidak mengatakan apapun. Tapi Laras sudah mengeluarkan ponselnya.

"Kamu ikut aku makan siang," kata Hadi ke Raina. Bukan pertanyaan.

"Tapi pekerjaannya belum..."Raina ingin menolak. Karena ia tidak ingin melanggar perintah dihari pertama bekerja.

"Akan beres." Hadi sudah bergerak ke arah lift. "Ikut."

Raina menatap punggungnya sebentar, lalu mulai mengikuti.

1
sunaryati jarum
upnya jangan lama- lama Thoor
sunaryati jarum
Robby nanti tahu- tahu dapat surat cerai jika yang mengurusi perceraian asisten Hadi,Mbak Laras.Sekaligus dapat anak hasil celap- celup dengan Monica.Setelsj hidupnya

Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang
partini
kenapa ga langsung bilang Monica sih
Surati Dewi
Thor kamu di mana
Bunda SB: lagi sakit kak, tapi Nenti diusahakan untuk up
total 1 replies
sunaryati jarum
Mana upnya
sunaryati jarum
Kok Robby to yang meninggalkan Monica itu Hadi,plong saat Hadi meninggalkan Monica.Kutunggu Rania meninggalkan Robby,dan ibunya Robby ,jadi sakit.
sunaryati jarum
Nah benar jangan kebablasan , segera pisah dari Pasangan kalian .Rania jangan pikirin ibunya Robby.Robby saja tidak memikirkan
Iam Just
up lagi thor
Surati Dewi
kapan up thor Pumpung lagi jadi pengangguran biar bisa baca malah gak muncul muncul thor
sunaryati jarum
Semoga orang tua Hadi langsung tertarik pada Raina.Dan Robby juga ingin segera menikahi Monica.
sunaryati jarum
Semoga lancar Hadi , untuk menerima Monika begitu pula Robby juga lancar
Iam Just
up tiap hari lah thor🤧
Bunda SB: diusahakan ya kak
total 1 replies
Surati Dewi
kenapa gak up thor
Titien Prawiro
Waktu mau berangkat kekantor Robby masuk kedalam mobil, knp pulang naik motor?
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Segera cerai dari pasangan kalian dulu jika sudah mantap melanjutkan hubungan antara pria dan wanita
Surati Dewi
dabel up thor
sunaryati jarum
Tak usah lama -lama Hadi dan Rania segera mengajukan cerai jangan balas selingkuh ,jalin hubungan setelah sama- sama bebas tak terikat pernikahan
Surati Dewi
kapan up kak
sunaryati jarum
Semoga cepat terwujud ,Hadi telah menyebut kamu yang sangat dicintai ,Rania.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!