NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9.

Sebuah tangkapan layar memperlihatkan hal yang mengejutkan. Potret Naysilla saat awal pertama kali datang, berjalan dengan angkuh tanpa sedikitpun senyuman terukir diwajahnya.

"Guys, target kita berikutnya. Jam istirahat pertama, di kantin utama" -Jessy

"Siyaaap!" -Lena

"Kita liat ajah, sejauh mana wajah angkuh ini akan bertahan" -Jessy

Berpindah ke tangkapan layar kedua, terlihat potret Naysilla yang tengah dibully habis-habisan di area kantin. Tulisan-tulisan makian tertempel jelas di sana.

"Siapapun yang bantuin dia, bakalan berurusan sama gue!" -Jessy

Terakhir, pada tangkapan layar ketiga memperlihatkan potret Naysilla yang diambil secara diam-diam, seakan-akan posisinya sedang begitu dekat dengan Satria. Diambil saat jam makan malam di kantin utama.

"Kalian liat kan! Dia udah mulai menggatal godain cowok gue. Badebah sialan...!" -Jessy

Di bagian bawahnya, disusul potret Naysilla dan Mohan yang duduk bersebelahan, terlihat semakin dekat seolah sedang mengobrol akrab.

"Definisi mati satu tumbuh seribu. Ditolak satu cowok, dia ngga berenti buat cari mangsa lain. Sayangnya seleranya anjlok  ke cowok Cupu. Wkwkwk..." -Jessy

Naysilla meremas ponselnya kuat-kuat. Apa-apaan ini? Jadi selama ini, dari awal ia masuk sudah dijadikan target bully? Kenapa? Untuk apa? Kenapa harus dirinya?

Ia membaringkan setengah badannya di atas pembaringan, kakinya ia biarkan menjuntai begitu saja ke bawah. Lantas menekan kuat dahi yang berdenyut nyeri. 

Ia kembali membuka ponselnya, ingin memastikan sesuatu. Sebuah grup bernama Komunitas SMA Adiwijaya. Mungkinkah beranggotakan seluruh murid di sekolah itu? Atau hanya oknum?

Ia tertegun, tak percaya namun inilah kenyataannya. Bagaimana mungkin grup resmi sekolah disalahgunakan sedemikian rupa, hingga berubah menjadi wadah bergosip dan tempat pembullyan?

Ditengah keterkejutan, satu panggilan masuk dari kontak "Momon Cupu" yang langsung ia terima.

"Hallo, Momon"

"Udah gue pesenin. Jangan lupa dimakan"

Tut

"Hah, apaan sih"

Panggilan terputus begitu saja. Belum hilang keterkejutannya mengenai berita yang menyebar tentang dirinya, ia kembali dibuat heran. Kenapa teman Cupu nya tiba-tiba jadi se cuek ini? Apa ada yang salah dengan dirinya?

Ding-dong

Naysilla berlari ke arah pintu ketika bunyi bel nyaring terdengar. Ia pikir itu si Momon,  ternyata  seorang gadis berkepang dua dengan nampan penuh makanan ditangan.

"Permisi. Dengan nona Nasa?"

Nasa? Naysilla langsung ngeh jika ini pesanan yang dimaksud Momon barusan. Karena hanya dia yang memanggil dirinya Nasa. Sungguh manis sekali.

"Iyah, sinih masuk ajah. Nanti taro dimeja ajah semuanya" pintanya.

Dalam keheningan, ia memperhatikan gadis berkepang dua yang tengah menata makanan diatas meja. Kali ini fokusnya bukan pada makanan, tapi pada gadis yang terlihat begitu familiar diingatan.

"Siapa nama lo? Dewi?" Ungkapnya terdengar ambigu.

"Iyah, nama saya Dewi" jawabnya sopan, menunduk dalam.

"Eh, beneran Dewi?" 

Grep...

Dengan cepat, tanpa aba-aba Naysilla berlari memeluk gadis berkepang dua, begitu eratnya.

"Jahat banget lo wi, udah ngga ngenalin gue" bisiknya lirih.

"Mana mungkin gue ngga ngenalin lo" ditatapnya gadis dengan rambut acak-acakan itu. Ia mendorong pelan keningnya menggunakan jari telunjuk.

"Gue cuma ngetes ajah. Seberapa jauh lo ngenalin gue. Dan Yap, ini yang ketiga kalinya dan lo baru nyadar"

"Hah, tiga kali? Jadi kita udah ketemu tiga kali?" Dewi mengangguk samar. 

"Sinih, kita cerita-cerita" Naysilla menarik lengan Dewi untuk duduk disamping.

Sebagaimana pertemuan kembali antara teman lama. Obrolan hangat tercipta. Cerita mengalir begitu asyiknya, sampai-sampai hidangan dimeja mulai dingin, tak tersentuh. Lalu, cowok yang lebih dingin tiba-tiba masuk tanpa permisi.

"Nasa....!" Suara bariton memecahkan obrolan kedua gadis itu. Mereka saling tatap dalam keheningan.

"Gue balik dulu yah Na" Dewi berlalu dengan nampannya. Matanya menatap sekilas pada cowok dingin itu, dan kembali menunduk dalam diam.

"Lo ngga suka?" Ucapnya datar, dengan tatapan tajam.

"Apanya?" Pandangannya beralih pada makanan yang mesih utuh dimeja.

"Oh, g-gue suka kok. Ini mau dimakan" ucapnya terbata. Lantas mulai menyantap satu persatu hidangan dimeja, tanpa jeda. 

Masih dengan tatapan tajamnya. Bahkan ketika Naysilla meneguk air terakhirnya.

"Aaaah, kenyang. Makasih Momon, makanannya enak. Hehe..."

"Hmm"

"Siapa tadi?"

"Hah, yang mana? Yang duduk disini barusan ?"

"Hooh"

"Oh, itu si Dewi. Tadi dia yang nganter makanan ini" tunjuknya pada piring kosong dimeja.

"Bisa langsung akrab gitu?"

"Dia itu temen SMP gue. Waktu SMP pun dia suka bantuin ibunya di kantin"

"Oh"

"Gitu doang?"

"Gue balik"

"Lah, cepet amat"

"Cuma mastiin Lo makan semuanya"

"Tapi, ada yang mau gue omongin"

"Besok"

"Sekarang ih momon, ini penting!"

"Soal?"

"Soal pembullyan gue selama ini"

Naysilla menarik Mohan untuk duduk disampingnya. Ia tunjukkan semua bukti chat dari nomor asing. Mohan yang awalnya begitu dingin, kini terlihat mulai memanas diselimuti emosi.

Dalam diam, Naysilla memandang Mohan yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Cukup lama, hingga ia kembali pamit.

"Inget pesan gue, jangan keluar kamar!"

"Jangan kemanapun kecuali sama gue!"

"Kalo ada apa-apa, ngomong ke gue"

"Kalo orang itu kirim sesuatu lagi, lo juga harus kasih tau gue!" pinta Mohan mutlak tanpa bantahan.

"Iyah Iyah"

"Gue balik" Mohan mengacak rambut gadis itu, gemas. Lantas berlalu, dengan jejak dingin yang masih tertinggal.

Belum begitu larut, tapi Naysilla sudah diserang kantuk. Rasanya hari-hari disini berat sekali. Entah sampai kapan ia akan bertahan di tempat ini. Tanpa sadar ia meneteskan air mata pertamanya. Lantas tak sadarkan diri, tenggelam di alam mimpi.

Satu menit...

Dua menit...

Tiga menit...

Ding-dong

Naysilla kembali membuka matanya tepat dimenit ketiga. Menyebalkan sekali orang itu berani mengganggu waktu istirahatnya. Tak ayal, ia tetap bangkit membuka pintu walau dengan mata terpejam setengah.

"Naysilla, kamu udah mau tidur yah?"

Suara lembut mengalun pelan ditelinga. Naysilla mengucek matanya, memastikan jika yang didepan adalah orang yang dikenal.

"Apa?" Ucapnya malas, lantas menguap.

"A-aku, aku boleh tidur disini ngga? Cuma malam ini ajah kok, janji"

Terlalu malas untuk membahas apapun saat tubuh dikuasai kantuk. Ia membuka pintunya lebar-lebar, lantas melanjutkan mimpi indah di kasurnya yang empuk.

...****************...

Udara pagi tak seindah biasanya. Naysilla menyingkap selimut, yang menghalangi bulir-bulir keringat yang telah membanjiri tubuhnya. 

Rasanya sudah tak nyaman, namun kantuk masih saja menyerang. Ia melirik jam dinding yang mesih menunjukkan pukul lima pagi. Tapi seorang gadis terlihat sudah begitu rapih, dengan celana training beserta Hoodie.

"Mau kemana lo, pagi buta gini?"

"Eh, Nay. Kamu udah bangun?"

"menurut lo?" ia memutar bola matanya malas.

"Aku diajak lari pagi sama temen-temen. Kamu mau ikut juga Nay?"

"Males, ngantuk"

"Yaudah..."

Ding-dong

"Bentar yah Nay, aku buka pintu dulu"

"Aneh banget, sepagi ini kok gue udah keringetan" gumam Naysilla lirih, tapi cukup jelas didengar.

"Maaf yah, tadi malam AC nya aku matiin" ucap Olivia enteng. Ia terus berjalan tanpa rasa bersalah.

"Kenapa Lo matiin?"

Klik

"Olivia, Lo udah siap?" 

"Bisa tolong nyalain lagi ngga AC nya! gue ngga tahan nih, sumuk banget sumpah" ucap Naysilla, tepat ketika trio bully menerobos masuk.

"Lho, dia?" Angela

"Ngapain disini? Numpang Lo?" Jessy

"Ngga tau diri banget. Udah numpang, pake nyuruh-nyuruh segala lagi" Lena

"Kalian yang ngapain disini? Ganggu orang tidur ajah" bentaknya, tak kalah kasar.

Olivia mencekal Lena yang hendak menyerang Naysilla ditempat tidur.

"Udah, udah dong semuanya!"

"Kita semua teman, nggak apa-apa kalo Naysilla mau tidur lagi" ucap Olivia lembut, seakan-akan ia adalah teman yang paling pengertian.

"Kali ini gue bebasin, karena ada hal yang lebih penting daripada Lo. Tapi awas nanti yah!"

Jessy mengibaskan rambut pirangnya, berbalik badan diikuti ketiga temannya. Sebelum benar-benar keluar, Olivia mengatupkan kedua telapak tangan dengan berbisik maaf tanpa suara.

Naysilla mengangguk lemah, karena kesal kantuknya hilang ketika seharusnya ia mesih terlelap tidur.

"Gara-gara mereka, jam tidur gue berkurang" 

"Ah, sial...! Mau ngapain juga jam segini"

Naysilla memutuskan untuk mandi lebih awal. Itung-itung supaya bisa berangkat lebih pagi dan ngga telat lagi. Tapi sebelumnya, ia menghubungi Mohan untuk ikut bersiap juga.

Tanpa waktu lama, ia sudah rapih dengan seragam barunya. Ia mematut dirinya di cermin, memastikan semuanya sempurna.

Ditatapnya arloji mahal miliknya. Waktu menunjukkan pukul enam kurang sepuluh menit. 

"sepertinya, udara pagi disini sejuk. Keluar dulu ajah kali yah, biar sekalian nunggu momon di luar" batinnya.

Pintu terbuka, dan selembar kertas usang menyapa, tepat dibawah kakinya. 

Pandangan menyapu sekitar. Sepi, tak ada jejak seseorang bersembunyi. Naysilla mencomot kertas itu. Sebuah pesan misterius tertulis asal. 

"Waspada... Lebih hati-hati untuk hati ini, atau lo akan mati"

1
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
Aisyah Suyuti
good
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!