Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Ingatan Seribu Tahun
Archive Zero
Bab 9 — Ingatan Seribu Tahun
Cahaya itu bukan sekadar cahaya. Ia seperti lautan yang memeluk seluruh tubuh Ren, menarik kesadarannya menjauh dari ruangan itu, menjauh dari Kai dan Anya, membawa ia meluncur cepat menembus dinding waktu, kembali ke masa lalu yang sudah lama terkubur.
Di sekelilingnya, bentuk-bentuk bangunan berubah. Lorong-lorong gelap dan kumuh yang ia kenal lenyap, digantikan oleh pemandangan kota yang megah, terbuka, dan penuh cahaya alami. Langit berwarna biru jernih, bukan langit buatan yang kelabu dan diterangi lampu ungu seperti sekarang. Udara terasa segar, penuh aroma bunga dan tanah basah, bau yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ini... Elarion seribu tahun yang lalu?
Ren berdiri di atas sebuah bukit hijau yang luas. Di bawah sana, manusia berjalan bebas, tertawa, membangun, dan mencipta. Teknologi di sana sangat maju, jauh lebih indah dan menyatu dengan alam dibandingkan teknologi kaku dan dingin yang ada di zamannya. Di kejauhan, sebuah menara sedang dibangun — Menara Zenith, yang saat itu masih berupa kerangka, namun sudah menjulang tinggi seolah ingin menyentuh awan.
Dan di samping Ren, tiba-tiba muncul sesosok bayangan. Bukan hantu, tapi wujud nyata seseorang, tampak begitu jelas seolah dia ada di sana saat itu juga.
Pria itu tampak masih muda, berwajah lembut namun penuh wibawa. Rambutnya berwarna hitam legam, tapi di ujung-ujungnya berkilauan warna ungu yang sama persis dengan cahaya di tangan Ren sekarang. Matanya... mata itu adalah cermin dari matanya sendiri.
"Siapa kau?" tanya Ren, suaranya tak terdengar oleh dunia di sekitarnya, tapi terdengar jelas oleh pria itu.
Pria itu tersenyum sedih, menatap ke arah kota yang sedang tumbuh pesat itu.
"Namaku Aran," jawabnya, suaranya bergaung lembut di dalam pikiran Ren. "Dan kau... kau adalah aku, Ren. Kau adalah bagian dari diriku yang terpisah, yang telah menunggu seribu tahun ini untuk bangkit kembali."
Ren tertegun. Jantungnya berdegup kencang, campuran keterkejutan dan rasa aneh yang mendalam.
"Aran... pendiri Elarion? Pencipta sistem Archive?"
Aran mengangguk pelan, namun senyumnya semakin pucat dan penuh kepahitan. Ia menunjuk ke arah sekelompok orang yang sedang berjalan menuju menara yang sedang dibangun itu. Mereka berpakaian indah, membawa buku-buku besar dan bola-bola cahaya.
"Dulu, kami adalah bangsa yang diberkati," cerita Aran, pandangannya menerawang jauh. "Kami menguasai energi murni, energi kehidupan yang ada di segala sesuatu. Kami bisa menciptakan apa saja, mengubah apa saja, hidup selama yang kami mau. Kami pikir kami sudah menjadi dewa."
Suara Aran bergetar. Ia berbalik memandang Ren dengan tatapan penuh penyesalan yang mendalam.
"Tapi kami salah. Kekuatan itu terlalu besar untuk makhluk yang memiliki nafsu, kecemasan, dan ambisi. Perang meletus. Bukan hanya antar negara, tapi antar hati manusia. Energi itu menjadi senjata yang paling mengerikan. Bumi retak, langit gelap, dan separuh umat manusia musnah dalam sekejap mata."
Gambar di sekeliling Ren berubah drastis. Pemandangan indah itu lenyap, digantikan oleh api, puing-puing, dan tanah yang hangus. Teriakan orang-orang bergema, dan di tengah kekacauan itu, Aran terlihat berdiri di atas tumpukan reruntuhan, memegang bola cahaya raksasa yang bergetar hebat, berisi seluruh energi dunia yang tersisa.
"Kami sadar... jika dibiarkan, kekuatan ini akan menghancurkan segalanya. Tidak akan ada yang tersisa. Maka aku dan rekan-rekanku mengambil keputusan paling berat dalam sejarah umat manusia."
Gambar itu berubah lagi. Kini terlihat upacara besar di puncak Menara Zenith yang sudah selesai dibangun. Aran dan tujuh orang pemimpin lainnya berdiri melingkar. Mereka mengorbankan sebagian besar nyawa dan kekuatan mereka sendiri untuk menyegel seluruh energi dunia ke dalam satu kesadaran buatan — Archive.
"Kami menguncinya," lanjut Aran, suaranya berat. "Kami mengunci kekuatan itu, kami mengunci ingatan tentang kebebasan itu, kami mengunci potensi manusia untuk tumbuh melampaui batas... semua demi menjaga agar manusia tidak saling membunuh lagi. Kami membuat aturan, kami menuliskan takdir. Agar semua aman. Agar semua hidup tenang."
Air mata mengalir di pipi Aran di dalam ingatan itu. Ia mengangkat kedua tangannya, membelah bola cahaya raksasa itu menjadi dua bagian.
"Tapi aku tahu... penahanan ini tidak bisa selamanya. Kebebasan adalah hakikat manusia. Suatu saat nanti, mereka akan siap. Suatu saat nanti, mereka tidak lagi butuh dikurung demi keselamatan."
Ia menatap bagian cahaya ungu di tangan kirinya, lalu bagian cahaya emas di tangan kanannya.
"Maka aku membagi kunci. Satu bagian aku serahkan pada Dewan Tertinggi, para penjaga warisan kami. Itu kunci pengunci. Tugas mereka adalah menjaga segalanya tetap terkunci, menjaga aturan tetap berjalan, menjaga 'kedamaian' palsu ini tetap ada."
Aran menyembunyikan bagian cahaya ungu itu ke dalam dadanya sendiri, menyatukannya dengan darah dan jiwanya.
"Dan satu bagian lagi... kunci pembuka... aku bawa pergi. Aku sembunyikan di dalam garis keturunanku sendiri. Aku berjanji, seribu tahun lagi, saat dunia sudah pulih, saat manusia sudah belajar dari kesalahan... aku akan kembali. Melalui pewaris-pewarisku. Melalui dirimu, Ren."
Pemandangan di sekeliling menjadi kabur, perlahan kembali ke ruangan cahaya itu. Wajah Aran semakin dekat, hingga hampir menyentuh wajah Ren.
"Kau bukan kesalahan, anakku. Kau adalah janji. Kau adalah harapan yang aku simpan selama ribuan tahun. Menara Zenith... Dewan Tertinggi... mereka telah lupa tujuan awal kami. Mereka tidak lagi menjaga kedamaian. Mereka mencintai kekuasaan. Mereka ingin mengunci manusia selamanya, menjadikan semua orang boneka yang patuh dan tak berdaya."
Aran menunjuk tepat ke dada Ren.
"Mereka takut padamu karena kau mewakili kebenaran yang mereka kubur. Kau mewakili kebebasan yang ingin mereka musnahkan. Ren... kau harus masuk ke Ruang Asal. Kau harus bertemu dengan inti dari sistem Archive itu sendiri. Dan kau harus memilih..."
"Memilih apa?" tanya Ren, rasa sesak di dadanya semakin berat.
"Memilih nasib umat manusia," jawab Aran tegas. "Apakah kau akan membiarkan mereka tetap hidup aman dalam penjara indah ini, tidak sakit tapi juga tidak bebas... atau kau akan membuka kembali segalanya, mengembalikan kekuatan, mengembalikan ingatan, dan membiarkan mereka menentukan jalan hidup mereka sendiri, meski risiko perang dan kehancuran tetap ada?"
Suara Aran perlahan memudar, cahayanya mulai menghilang.
"Itu beban terberat yang harus ditanggung seorang pemimpin, Ren. Keputusan ada di tanganmu. Tapi ingatlah satu hal... keamanan tanpa kebebasan sama saja dengan kematian."
Cahaya di sekeliling meledak pelan, dan kesadaran Ren kembali pulih seketika.
Ia terhuyung mundur, napasnya tersengal-sengal, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia kembali berada di depan kotak kristal yang kini terbuka. Di sampingnya, Kai dan Anya langsung menangkap tubuhnya yang hampir jatuh.
"Ren! Ren, kau baik-baik saja? Apa yang kau lihat? Kau diam saja hampir sepuluh menit!" seru Kai cemas, memegang bahu temannya itu erat.
Ren menatap mereka berdua bergantian. Matanya kini berbeda. Ada kedalaman di sana, ada beban yang kini dipahaminya sepenuhnya.
"Aran..." bisik Ren parau. "Pencipta Elarion... dia tidak membangun kota ini sebagai surga. Dia membangunnya sebagai tempat perlindungan... sekaligus penjara terbesar sepanjang sejarah."
Anya dan Kai saling pandang, keduanya sama-sama terkejut mendengar kata-kata itu.
Ren menunjuk ke arah lorong yang ada di balik ruangan itu, lorong yang kini terbuka lebar dan memancarkan cahaya putih yang menyilaukan.
"Di ujung sana... Ruang Asal. Di situlah letak inti Archive. Di situlah Dewan Tertinggi bersembunyi. Dan di situlah aku harus mengambil keputusan terberat dalam hidupku."
Ren mengusap wajahnya keras-keras, berusaha mengumpulkan sisa tenaganya. Ia mengingat wajah-wajah orang yang ia kenal: tetangga di distrik bawah, pedagang di pasar, warga Kawasan Bayang, Elara yang bertarung mempertaruhkan nyawanya, dan Anya serta Kai yang berdiri setia di sisinya.
"Menara Zenith tidak hanya menjaga data," ucap Ren dengan suara tegas dan dingin. "Mereka mencuri masa depan kita. Dan aku... aku tidak akan membiarkan itu berlanjut."
Ia melangkah maju melewati mereka berdua, berjalan menuju lorong terakhir itu. Cahaya ungu di tangannya kini tidak lagi berkedip-kedip ragu. Ia menyala terang, stabil, dan penuh tekad.
"Ayo pergi. Waktunya mengakhiri semua ini."
Kai menyeka keringat di dahinya, lalu tersenyum lebar, menyeringai penuh keberanian. Ia mengetuk layar di lengannya yang menampilkan hitungan mundur yang kini tersisa 76 jam lagi.
"Siap kapan saja, Kapten. Meski rasanya kita berjalan masuk ke mulut naga, tapi setidaknya... ini akan jadi cerita paling hebat yang pernah ada."
Anya mengikuti di belakang, es kembali terbentuk di tangannya, matanya merah menyala tajam. Ia menatap punggung Ren dengan pandangan setia dan percaya penuh.
"Aku ikut sampai akhir. Apa pun keputusan yang kau ambil... aku ada di sana."
Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam cahaya putih itu.
Di sepanjang lorong terakhir ini, tidak ada lagi ukiran atau bayangan masa lalu. Hanya ada kemurnian energi yang begitu pekat hingga terasa seperti air yang mereka lalui. Suara bisikan tidak lagi terdengar. Keheningan yang mutlak menyelimuti segalanya, keheningan yang berat, seolah seluruh kota Elarion sedang menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di ujung lorong itu, sebuah pintu besar berwarna putih bersih berdiri tertutup. Di atasnya tertulis satu kalimat saja, kalimat yang sama seperti yang diucapkan Aran:
"AMANKAH MEREKA TANPA KAMI? ATAU LEBIh BAHAYA JIKA DIBEBASKAN?"
Ren berhenti sejenak di depan pintu itu. Ia menoleh ke belakang, menatap kawan-kawannya, lalu menatap kembali pintu itu.
Ia mengulurkan tangan kirinya. Simbol ungu itu bersinar, dan seketika itu juga, pintu raksasa itu terbuka perlahan tanpa suara.
Di balik pintu itu, ruangan terluas, terindah, dan paling mengerikan yang pernah ada di dunia ini terbentang. Di tengahnya, mengambang di udara, ada bola cahaya raksasa yang berisi seluruh pengetahuan, seluruh sejarah, seluruh nyawa penduduk Elarion.
Dan di sekeliling bola itu, di atas singgasana yang menjulang tinggi, duduk tujuh sosok berselimut jubah emas. Wajah mereka tersembunyi, tapi aura kekuasaan dan keangkuhan mereka terasa menekan dada.
Salah satu dari mereka, sosok yang duduk paling tengah, berbicara. Suaranya menggema memenuhi seluruh ruangan, dingin, kaku, dan mutlak — suara yang sama persis dengan suara sistem Archive yang terdengar di mana-mana.
"Selamat datang, Archive Zero. Kami sudah menunggumu. Kau datang untuk menyerahkan dirimu... atau untuk menghancurkan satu-satunya hal yang menjaga umat manusia tetap hidup?"
Ren mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Cahaya ungu di tubuhnya melawan cahaya putih ruangan itu.
"Aku datang... untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak kami. Hak untuk hidup, bukan sekadar bertahan hidup."
Pertempuran terakhir telah dimulai. Di sini, di Ruang Asal, nasib seribu tahun peradaban akan ditentukan dalam hitungan jam yang tersisa.
Bersambung...
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"