NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29: Bisik Jahat yang Semakin Menggema

Minggu demi minggu berlalu sejak hari pertama Nara melangkah masuk ke gedung Adhitama Group. Ia belajar bergerak cepat, beradaptasi dengan ritme kerja yang padat, dan menyembunyikan segala hal yang berharga di dalam hatinya serta di balik seragam kerjanya yang kini sengaja dipilih berukuran agak besar. Awalnya, orang-orang hanya menatap sekilas, bertanya-tanya asal-usul gadis yang direkrut secara tiba-tiba itu. Namun seiring berjalannya waktu, perubahan halus mulai terlihat pada diri Nara—perubahan yang tak bisa sepenuhnya ditutupi, dan perlahan menjadi bahan pembicaraan yang makin tajam.

Perutnya yang tadinya rata, kini mulai terlihat sedikit membulat jika diperhatikan dengan saksama. Tubuhnya terasa lebih berisi, terutama di bagian pinggang dan pinggul. Wajahnya yang dulu polos, kini tampak lebih bersinar namun kadang terlihat sedikit pucat saat rasa mual datang tak terduga. Ia berusaha menutupi hal itu dengan memegang berkas atau meletakkan tangan di pinggang saat berjalan, namun di lingkungan kerja yang penuh dengan mata-mata yang penasaran, hal itu justru makin memancing dugaan.

Suatu pagi, saat Nara berjalan melewati koridor panjang menuju ruang arsip, ia mendengar percakapan yang sengaja disuarakan agak keras dari sudut ruangan istirahat.

"Lihat deh, jalannya mulai berubah ya. Badannya makin lebar, dan wajahnya kadang pucat gitu..." ujar seorang wanita sambil menyeringai, matanya tak lepas dari punggung Nara yang menjauh.

Yang di sebelahnya tertawa kecil, nada bicaranya penuh sindiran. "Iya, sudah dua bulan lebih di sini, dan lihatlah. Kalau bukan karena satu hal, apa lagi? Pasti sedang mengandung. Pertanyaannya, siapa ayahnya? Kalau memang sudah bersuami, pasti sudah terlihat sejak awal, kan? Tak ada kabar, tak ada undangan... Wah, jangan-jangan ini anak di luar nikah?"

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada rendah namun cukup jelas terdengar oleh Nara. Hati wanita itu terasa teriris tajam. Ia melambatkan langkahnya sejenak, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menjalar, namun dengan cepat ia menguatkan diri. Ia mengusap perutnya perlahan di balik lipatan berkas yang dibawanya, seolah memberi isyarat pada nyawa kecil di sana: Jangan dengar ya, Nak. Kata-kata mereka bukan kenyataan.

Pembicaraan itu tak berhenti di situ. Kabar itu menyebar seperti api di musim kemarau, berpindah dari satu meja ke meja lain, dari satu divisi ke divisi berikutnya. Orang-orang mulai menambahkan bumbu-bumbu yang tak benar, membuat kisah yang makin buruk tentang dirinya.

"Katanya dia dekat sekali dengan Pak Direktur saat di luar kota dulu, ya?" bisik seorang pria kepada rekannya.

"Ah, mana mungkin Arkan Adhitama mau bertanggung jawab begini. Dia orangnya sangat teliti dan menjaga nama baik. Pasti dia hanya jadi mainan sebentar, lalu dibuang begitu saja saat ada yang tidak beres," sahut rekannya dengan nada meremehkan.

"Kasihan anaknya nanti. Lahir tanpa ayah yang jelas, dicap sebagai anak haram sejak di dalam kandungan. Nasibnya pasti akan sulit, sama seperti ibunya yang hanya gadis desa yang tak punya apa-apa."

Kata "anak haram" itu terasa seperti duri yang menusuk ulu hati Nara setiap kali ia mendengarnya. Ia tahu betul maknanya, dan ia tahu betul bahwa itu sama sekali tidak benar. Pernikahannya dengan Arkan sah secara agama dan negara, tercatat rapi dan diakui, meski belum diketahui publik. Namun karena rahasia itu harus tetap terjaga untuk sementara waktu, Nara tak bisa berteriak membela diri. Ia tak bisa mengeluarkan bukti, tak bisa menyebut nama suaminya, dan tak bisa menjelaskan apa pun. Ia hanya bisa diam, bekerja dengan tekun, dan membiarkan mulut orang berbicara apa saja—meskipun beban itu terasa makin berat setiap harinya.

Suatu sore, saat rapat koordinasi berakhir dan sebagian besar peserta mulai beranjak pergi, dua orang wanita yang sering menjadi penggerak gosip itu berjalan melewati meja Nara sambil berbisik lirih namun cukup jelas:

"Dasar wanita murahan. Masuk ke sini bukan karena kemampuan, tapi karena keberuntungan dan kelicikan. Kalau bukan karena itu, mana mungkin orang desa bisa duduk di sini."

Saat itu, batas kesabaran Nara yang sudah lama ia tahan perlahan mulai menipis. Ia meletakkan pulpennya perlahan, lalu mengangkat wajahnya dengan tenang namun tajam. Ia menatap kedua wanita itu tepat di mata, membuat mereka tertegun sejenak karena tak menyangka Nara berani menanggapi.

"Wah, mulut kalian tajam sekali ya, seolah tahu segalanya tentang hidup saya," ucap Nara pelan namun tegas, membuat beberapa orang yang masih ada di ruangan itu menoleh menatap mereka. "Tahukah kalian, kata-kata jahat yang diucapkan sembarangan itu adalah dosa besar, apalagi jika ditujukan kepada bayi yang belum lahir dan tak bersalah apa-apa?"

Ia berdiri perlahan, tangannya bergerak menyentuh pinggangnya yang mulai membulat itu dengan lembut namun penuh rasa bangga.

"Anak ini adalah anugerah terindah yang saya terima. Kalian bertanya siapa ayahnya? Tenang saja, ayahnya adalah orang yang jauh lebih hebat, lebih mulia, dan lebih bertanggung jawab daripada apa yang bisa kalian bayangkan dalam pikiran sempit kalian ini. Kalian boleh menghina saya, boleh meremehkan asal-usul saya, tapi ingat satu hal: jangan pernah hina anak ini. Ia jauh lebih mulia, lebih bersih, dan lebih berharga dibandingkan mulut serta hati kalian yang penuh kebencian ini."

Suasana seketika hening. Kedua wanita itu tertegun, tak menyangka gadis yang selama ini tampak pendiam dan lemah itu bisa berbicara seberani dan setegas itu. Mereka terdiam, tak tahu harus menjawab apa, lalu dengan wajah merah padam karena malu dan kesal, mereka bergegas pergi meninggalkan ruangan.

Nara kembali duduk, jantungnya berdebar kencang—bukan karena takut, melainkan karena ia telah menegakkan kebenaran dengan caranya sendiri. Ia tahu, jawaban itu mungkin tak akan menghentikan gosip yang ada, bahkan mungkin justru memicu kebencian yang makin besar. Namun ia tak peduli lagi. Ia harus menjaga harga dirinya, dan yang terpenting, ia harus menjaga kehormatan nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya.

Di balik dinding kaca ruangan Direktur, Arkan melihat kejadian itu dengan jelas. Ia berdiri diam, tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya. Hatinya sakit mendengar setiap bisikan yang terdengar samar, sakit melihat istrinya harus menanggung beban itu sendirian, dan makin kagum melihat ketegaran yang ditunjukkan Nara. Ia ingin sekali keluar saat itu juga, berteriak menghentikan semuanya, dan memperkenalkan Nara sebagai istrinya di hadapan semua orang. Namun ia sadar, waktu yang tepat belum tiba. Jika rahasia terbongkar sekarang di tengah situasi seperti ini, rencana perlindungan yang telah disusun akan gagal, dan tujuan agar Nara dihormati atas kemampuannya sendiri tak akan tercapai.

Malam itu, saat mereka pulang dan berada di dalam keamanan rumah, Arkan langsung memeluk Nara begitu pintu tertutup. Ia merasakan ketegangan yang masih tersisa di tubuh istrinya.

"Maafkan aku, Sayang..." bisiknya pelan di sela-sela pelukan itu, suaranya terdengar berat. "Maafkan aku membiarkanmu mendengar semua itu. Rasanya aku ingin menghancurkan semua gosip itu saat ini juga."

Nara menyandarkan kepalanya di dada suaminya, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia menggeleng pelan, lalu mendongak menatap wajah Arkan dengan senyum yang masih tersisa meski sedikit lelah.

"Aku baik-baik saja, Mas. Awalnya memang sakit sekali, tapi kemudian aku sadar... kata-kata mereka hanya angin yang berlalu. Yang terpenting adalah kebenaran yang ada di antara kita, dan nyawa ini yang kita jaga bersama. Aku tidak akan membiarkan mulut orang lain merusak kebahagiaan kita."

Arkan mengangkat tangan Nara, mencium punggungnya lama. "Kamu hebat, Nara. Lebih hebat dari yang aku kira. Tapi percayalah, setiap kata jahat yang mereka ucapkan, akan ada saatnya dijawab oleh kenyataan. Dan saat itu tiba, kebenaran itu akan bersinar jauh lebih terang daripada gosip apa pun."

Namun di dalam hatinya, Arkan berjanji: ia akan terus mengawasi setiap perkataan dan perlakuan yang diterima istrinya. Ia akan membiarkan ujian ini berjalan, tapi tak akan membiarkan hal itu melampaui batas wajar. Karena ia tahu, di balik bisik jahat itu, ada kebencian yang perlahan tumbuh—dan di sanalah bahaya sesungguhnya mulai mengintai.

Malam itu, sebelum tidur, Nara kembali berbisik lembut pada perutnya, berjanji bahwa mereka akan tetap kuat menghadapi hari-hari ke depan di mana bisikan itu dipastikan akan makin keras, makin tajam, dan makin menyakitkan.

 

Bersambung....

1
Rani Febrianti
😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!