Menjadi satu-satunya manusia tanpa kemampuan sihir di Akademi Hunter membuat Axel sempat merasa pasrah dengan nasibnya. Namun, sebuah sistem misterius tiba-tiba menyingkap kenyataan tak terduga bahwa ia adalah satu-satunya penjinak yang mampu meredam amarah para wanita terkuat di dunia saat kadar kewarasan atau sanity mereka mencapai titik kritis dan memicu mode berserk.
Sialnya, kemampuan istimewa ini justru menjadi sumber petaka baru. Para wanita berbahaya tersebut, mulai dari Paladin Suci hingga Ratu Penyihir, kini menjadi sangat obsesif dan posesif karena ingin memonopoli dirinya seorang diri. Tanpa modal kekuatan fisik yang berarti, Axel terpaksa harus memutar otak dan lihai memanipulasi emosi. Ia harus pintar membagi perhatian dengan adil agar dunia tidak hancur berantakan, sekaligus berjuang keras demi mempertahankan kebebasannya dari kepungan wanita-wanita mematikan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: STRATEGI PENYAPUAN PERBATASAN
Aroma darah samar menyambut kembalinya Valeria dari ruang interogasi bawah tanah paviliun utara.
Langkahnya seringan bulu, meluncur keluar dari bayang-bayang ruang kerja Axel dengan senyuman kepuasan mengerikan terukir di bibirnya.
Di tangannya, ia memegang gulungan perkamen yang agak basah oleh noda merah—peta logistik dan pergerakan pasukan Kerajaan Zephyr yang berhasil ia paksa keluar dari mulut sang pembunuh bayangan.
"Dia mainan yang rapuh, Axel," ucap Valeria sambil melemparkan gulungan perkamen itu ke atas meja kerja mahoni.
Ia lalu duduk di sandaran kursi kebesaran Axel, menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu tanpa peduli tatapan tajam Reynarda yang berdiri dekat jendela. "Hanya butuh beberapa menit di dalam kegelapan mutlak untuk menghancurkan mentalnya. Mereka benar-benar meremehkan kita."
Axel membuka gulungan peta itu dengan tenang. Matanya menyusuri garis-garis merah penanda jalur pergerakan tentara asing.
"Host, pemindaian dokumen selesai," suara AI bergema di dalam kepalanya, memproyeksikan visualisasi tiga dimensi medan pertempuran di udara.
"Informasi ini 100% akurat berdasarkan sisa aktivitas mental target. Kerajaan Zephyr telah menempatkan 50.000 pasukan infanteri berat dan 5.000 ksatria sihir di Lembah Pembekuan, tepat di perbatasan utara kekaisaran. Mereka berencana menyerang dalam tiga hari, memanfaatkan kekosongan kekuasaan pascakruntuhnya faksi Gereja."
"Lembah Pembekuan," gumam Axel, mengetukkan jarinya di atas meja.
"Medan yang sempit, dikelilingi tebing es yang tidak stabil. Tempat yang sempurna untuk penyergapan, atau kuburan massal bagi mereka yang terlalu percaya diri."
Elysia melangkah mendekat, matanya yang hijau beralih dari bola kristal ke arah peta proyeksi.
"Energi alam di Lembah Pembekuan sangat sensitif terhadap manipulasi sihir elemental. Jika kita memicu distorsi di sana, seluruh lembah bisa runtuh dalam hitungan detik. Tapi, pasukan pertahanan perbatasan kita di bawah komando Jenderal Kaelen terlalu kaku untuk memahami taktik seperti itu. Mereka pasti akan memilih pertempuran terbuka yang merugikan."
"Kalau begitu, kita harus memastikan mereka mendengarkan kita," ucap Axel datar.
Ia berdiri, merapikan jubah Penasihat Agungnya yang berwarna hitam dengan sulaman benang perak. "Kaisar telah menjadwalkan rapat dewan perang darurat di Aula Militer satu jam lagi. Mari kita tunjukkan pada para jenderal tua itu bagaimana cara membersihkan kotoran yang mencoba masuk ke rumah kita."
Aula Militer Istana Kekaisaran dipenuhi ketegangan yang mendidih. Sebuah meja bundar besar dari batu di tengah ruangan menampilkan peta makro seluruh wilayah kekaisaran.
Jenderal Kaelen, seorang veteran perang bertubuh kekar dengan banyak bekas luka di wajahnya, sedang memukul meja dengan kepalan tangannya yang dilapisi sarung tangan besi.
"Kita harus mengirimkan seluruh Divisi Ketiga dan Keempat ke garis depan sekarang juga, Yang Mulia!" seru Jenderal Kaelen kepada Kaisar yang duduk di ujung meja.
"Jika kita membiarkan Zephyr melewati Lembah Pembekuan, mereka akan memiliki akses langsung ke dataran rendah ibu kota. Kita tidak bisa mempercayai keamanan negara ini pada taktik-taktik bayangan!"
"Dan membiarkan prajurit kita mati kaku karena badai salju sebelum sempat mengayunkan pedang?" suara dingin Axel memotong jalannya rapat saat ia melangkah masuk ke dalam aula.
Kehadiran Axel, yang dikawal ketat oleh Reynarda, Elysia, dan Valeria, langsung mengubah atmosfer ruangan.
Para jenderal dan menteri militer menatapnya dengan pandangan penuh permusuhan dan skeptisisme.
Bagi mereka, Axel tetaplah seorang pemuda tanpa latar belakang militer resmi yang tiba-tiba mendapatkan posisi tinggi karena keberuntungan.
"Penasihat Agung Axel," Jenderal Kaelen mendengus kasar, matanya memicing.
"Ini urusan strategi militer skala besar, bukan masalah membersihkan debu di koridor akademi. Kau tidak tahu apa-apa tentang manajemen logistik 50.000 pasukan!"
Axel tidak membalas hinaan itu dengan amarah.
Ia berjalan dengan santai menuju meja peta batu, melambaikan tangannya untuk menonaktifkan proyeksi sihir militer kuno yang sedang digunakan para jenderal.
Sebagai gantinya, ia mengaktifkan sebuah perangkat sihir transmisi yang telah disinkronkan dengan data AI-nya.
Seketika, peta tiga dimensi yang jauh lebih detail, lengkap dengan titik koordinat pergerakan presisi dari pasukan Zephyr, proyeksi cuaca, dan tingkat kejenuhan mana di Lembah Pembekuan, melayang di atas meja.
"Ini..." Salah seorang menteri sihir terbelalak, menyesuaikan kacamata bacanya. "Bagaimana bisa kau mendapatkan data sespesifik ini? Bahkan divisi intelijen kita membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk memetakan rute logistik Zephyr!"
"Data ini diambil langsung dari interogasi Shadow Assassin milik Zephyr yang mencoba menyusup ke paviliunku tadi pagi," jawab Axel tenang, membuat seisi ruangan terkesiap.
"Selagi kalian sibuk berdebat tentang berapa banyak zirah yang harus dibawa, musuh sudah berada di gerbang rumah kalian."
Axel menunjuk ke arah celah sempit di Lembah Pembekuan pada peta proyeksi. "Strategi Jenderal Kaelen untuk mengirimkan dua divisi penuh ke lembah ini adalah kebodohan yang efisien jika tujuannya bunuh diri massal. Zephyr sengaja memancing kalian ke sana karena mereka memiliki ksatria sihir jarak jauh yang siap menghujani pasukan kita dari atas tebing."
"Tingkat keberhasilan strategi Jenderal Kaelen: 12%," suara AI berbisik di benak Axel. "Tingkat kematian pasukan kekaisaran: 88%. Mereka benar-benar berjalan menuju perangkap."
Kaisar condong ke depan, menopang dagunya dengan kedua tangan. Matanya berkilat penuh minat. "Lalu, apa rencanamu, Axel?"
"Penyapuan total," jawab Axel tegas.
"Kita tidak perlu mengirimkan pasukan besar yang lambat. Berikan saya otoritas penuh atas garda depan. Saya, bersama Unit Khusus, akan berangkat ke Lembah Pembekuan malam ini. Kami akan mengubah alam itu sendiri menjadi senjata untuk mengubur 55.000 pasukan Zephyr tanpa perlu mengorbankan satu pun nyawa prajurit kekaisaran."
Jenderal Kaelen tertawa terbahak-bahak, seolah mendengar lelucon paling konyol. "Empat orang melawan satu pasukan kerajaan? Kau benar-benar sudah gila, anak muda!"
Reynarda melangkah maju, aura emas Ksatria Sucinya meledak dalam intensitas yang begitu tinggi hingga retakan tipis muncul di lantai batu aula.
Tatapannya tertuju pada Jenderal Kaelen dengan dingin yang mematikan. "Jaga bicaramu, Jenderal. Pria yang kau hina ini telah menarik Kaisar kembali dari gerbang kematian. Jika dia mengatakan bisa menyapu pasukan Zephyr, maka mereka akan tersapu."
Ketakutan instan melanda para jenderal di ruangan itu. Mereka tahu betul seberapa mengerikannya kekuatan Reynarda, belum lagi Elysia dan Valeria yang berdiri di belakang Axel dengan ekspresi bosan seolah-olah nyawa puluhan ribu tentara musuh tidak lebih dari sekadar angka statistik.
Kaisar mengangkat tangannya, meminta keheningan. "Cukup. Dekretku mutlak. Axel akan memimpin operasi garda depan di Lembah Pembekuan. Jenderal Kaelen, kau dan pasukanmu akan tetap berada di garis belakang sebagai cadangan dan pembersih sisa-sisa musuh yang lolos. Jika Axel berhasil, ini akan menjadi kemenangan terbesar kita. Jika gagal... aku sendiri yang akan memimpin pertahanan terakhir."
Kembali ke paviliun utara, malam itu dipenuhi persiapan yang sunyi namun intens. Angin malam bertiup kencang, membawa aroma salju yang dingin dari arah utara.
Reynarda sedang duduk di teras paviliun, mengoleskan minyak khusus pada bilah pedang hitam-emasnya.
Gerakannya sangat ritmis dan fokus. Elysia berada di dalam ruangan, menyusun puluhan gulungan sihir elemental tingkat tinggi yang telah dia kompres menggunakan formula efisiensi yang diajarkan oleh Axel.
Sementara itu, Valeria sedang memeriksa persediaan racun pembeku darah pada belati-belatinya.
Axel berdiri di balkon, menatap langit malam yang kelam.
"Host, persiapan tim telah mencapai 100%," AI memberikan pembaruan status. "Sinergi taktis antara Reynarda, Elysia, dan Valeria berada di titik tertinggi sejak pembentukan Unit Khusus.
Namun, medan pertempuran besok akan menguji batas kemampuan fisik Anda untuk tetap berada di garis belakang sebagai komandan. Badai salju di Lembah Pembekuan bisa menurunkan efektivitas sistem radar saya hingga 15%."
"15% tidak akan menjadi masalah jika kita bergerak lebih cepat dari badai itu sendiri," jawab Axel dalam hati.
Sepasang lengan yang hangat tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma harum bunga lotus yang familiar menenangkan indra penciumannya.
Elysia menyandarkan kepalanya di punggung Axel, memeluknya dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.
"Kau selalu memikirkan segalanya untuk kami, Axel," bisik Elysia lembut. "Besok, biarkan aku yang membakar lembah itu untukmu. Aku tidak akan membiarkan satu pun ksatria Zephyr mendekatimu."
Reynarda dan Valeria melangkah masuk ke balkon, melihat momen itu tanpa ada lagi rasa cemburu yang merusak.
Mereka telah melampaui batas ego masing-masing; mereka kini berbagi obsesi yang sama untuk menjaga pusat dari kehidupan mereka tetap aman dan berdiri di puncak dunia.
"Kita berangkat sekarang," ucap Axel, melepaskan pelukan Elysia dengan lembut lalu berbalik menghadap mereka bertiga.
Matanya memancarkan tekad seorang dalang yang siap menggerakkan takdir. "Mari kita tunjukkan pada Kerajaan Zephyr apa yang terjadi jika mereka mencoba mengotori wilayah yang berada di bawah pengawasan kita."
Dengan satu anggukan serentak, mereka berempat melebur ke dalam kegelapan malam, bergerak menuju perbatasan utara yang membeku, siap untuk menulis lembaran sejarah baru yang tertulis dengan darah para penjajah.