NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Tiga Arus dan Kabar dari Lembah

Hening.

Tidak ada satu pun dari dua kultivator di lantai dua yang berani melangkah maju. Bahkan, salah satu dari mereka yang memegang sepasang kapak pendek perlahan-lahan menurunkan senjatanya, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Mereka adalah petarung berpengalaman yang tahu cara membaca situasi; ledakan Qi yang dilepaskan Xiao Ba tadi terlalu murni, terlalu padat, dan yang paling mengerikan adalah kontrolnya. Menghantam satu orang hingga muntah darah tanpa menggeser cangkir teh di atas meja membutuhkan presisi tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh monster dari sekte-sekte besar.

Lin Mo, yang masih terkapar di lantai sambil memegangi dadanya, menatap Xiao Ba dengan tatapan horor. Napasnya memburu, tersengal-sengal karena jalur meridian di dadanya terasa kacau akibat hantaman energi tadi.

"Si... siapa kamu sebenarnya...?" bisik Lin Mo dengan suara serak, darah masih mengalir di sudut bibirnya.

Xiao Ba tidak menjawab. Ia bahkan tidak memandang Lin Mo lagi. Baginya, urusan dengan pria itu sudah selesai. Di dunia luar yang kejam ini, membuang-buang kata pada lawan yang sudah kalah hanya akan menurunkan kewaspadaan.

Ia kembali duduk dengan tenang, meraih cawan tehnya yang masih hangat, dan meminumnya dalam satu tegukan.

Melihat pemuda itu tidak berniat melakukan pembantaian, atmosfer tegang di aula perlahan-lahan mencair, meski rasa takut masih mencekam. Para bandit yang tadinya bersuara nyaring kini bergegas memapah Lin Mo berdiri dan membawanya keluar dari penginapan seolah-olah tempat itu baru saja dihuni oleh dewa kematian. Dua kultivator di lantai dua pun perlahan mundur kembali ke dalam bayang-bayang kamar mereka, mengunci pintu rapat-rapat.

Pelayan tua yang tadi memperingatkan Xiao Ba berjalan mendekat dengan tubuh yang semakin membungkuk, namun kali ini matanya dipenuhi rasa hormat yang mendalam.

"Tuan Muda... ini kunci kamar terbaik di lantai dua. Mohon maaf atas kelancangan orang-orang tadi," ucap si pelayan tua sambil meletakkan sebuah kunci kuningan dengan tangan bergetar.

"Terima kasih," jawab Xiao Ba pendek. Ia mengambil kunci tersebut, menyampirkan tas penyimpanannya, dan berjalan menaiki tangga kayu yang berderit.

Kamar di lantai dua itu sederhana, namun bersih. Sebuah tempat tidur kayu, sebuah meja kecil, dan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke arah utara—ke arah jalan yang tertutup kegelapan malam.

Xiao Ba tidak langsung tidur. Ia duduk bersila di atas tempat tidur, menyilangkan kakinya, dan memasuki mode meditasi.

Begitu ia memejamkan mata, kesadarannya langsung ditarik masuk ke dalam lautan jiwanya. Di sana, hamparan bintang warisan Kaisar Langit bersinar dengan kemilau yang berbeda dari sebelumnya. Pertarungan singkat di bawah tadi, meski hanya melibatkan satu entakan Qi, ternyata memicu reaksi berantai di dalam tubuhnya.

Bzzzt...

Satu bintang di sudut timur lautan kesadarannya, yang selama ini meredup dan terkunci, tiba-tiba retak. Cahaya keemasan yang murni memancar keluar, mengalir deras melalui sumsum tulang belakangnya dan menyatu dengan aliran darahnya.

“Formasi Bintang Pertama: Langkah Bayang Langit.”

Sebuah pengetahuan spiritual baru mengalir ke dalam benaknya. Itu adalah sebuah teknik pergerakan tingkat tinggi, bagian dari warisan sejati sang Kaisar Langit. Teknik ini memungkinkan penggunanya untuk bergerak secepat kilat dengan memanipulasi ruang di sekitarnya, meninggalkan bayangan semu yang bisa mengecoh mata telanjang maupun persepsi spiritual musuh.

Xiao Ba membuka matanya. Sepasang manik matanya sempat berkilat keemasan sebelum kembali menjadi hitam pekat.

"Dunia luar memang tempat terbaik untuk mengasah warisan ini," batinnya. Di Kota Beira, di bawah perlindungan kakeknya dan kedamaian yang semu, ia tidak pernah mendapatkan tekanan nyata yang dibutuhkan untuk membuka segel-segel bintang ini. Baru satu hari melangkah keluar, satu bintang sudah terbuka.

Ia menoleh ke arah jendela, menatap kegelapan malam yang pekat. Jauh di utara, di balik perbatasan Wuhe, ada sesuatu yang terasa seperti magnet spiritual, terus menerus memanggil energinya.

Keesokan paginya, sebelum fajar benar-benar menyingsing, Xiao Ba sudah meninggalkan Penginapan Angin Utara.

Kabut tebal menyelimuti jalanan tanah saat ia melanjutkan perjalanannya menuju Kota Perbatasan Wuhe. Suasana pagi itu sangat sunyi, hanya ditemani oleh langkah kakinya sendiri. Namun, setelah berjalan sekitar dua puluh li, kabut di depannya perlahan menipis, menyingkap sebuah pemandangan yang membuat Xiao Ba menghentikan langkahnya.

Di pinggir jalan, di bawah sebuah pohon tua yang meranggas, duduk seorang pria tua berpakaian compang-camping seperti pengemis. Di depannya tergelar sebuah kain usang yang di atasnya terdapat beberapa buah batu hitam legam yang memancarkan energi spiritual yang sangat aneh—energi yang tidak murni, melainkan terasa kuno dan mati.

Pria tua itu tampaknya sudah buta, kedua matanya tertutup selaput putih. Namun, saat Xiao Ba berada dalam jarak sepuluh langkah, pria tua itu mendongak, tepat ke arah wajah Xiao Ba.

"Anak muda yang membawa aroma laut..." ucap pria tua itu, suaranya parau seperti gesekan dua batu kering. "Langkahmu sangat ringan, namun beban di punggungmu sangat berat. Apakah kamu sedang mencari sesuatu yang hilang, atau sedang berlari dari sesuatu yang mengejarmu?"

Xiao Ba menyipitkan matanya. Di dalam lautan kesadarannya, ribuan bintang tidak berdenyut dalam tanda bahaya, melainkan berputar lambat—tanda bahwa orang di depannya bukan musuh, melainkan sesuatu yang mistis.

"Aku hanya berjalan ke utara," jawab Xiao Ba datar.

Pria tua itu terkekeh pelan, memperlihatkan mulutnya yang sudah tidak bergigi. Ia menunjuk ke salah satu batu hitam di atas kain usangnya.

"Utara adalah tempat di mana matahari tidak pernah benar-benar hangat, Anak Muda. Di balik Wuhe, ada Lembah Tengkorak Putih. Dan di sana... aku mencium aroma darah yang sama dengan yang mengalir di dalam tubuhmu. Darah dari orang-orang yang kamu cari."

Deg.

Jantung Xiao Ba berdegup lebih kencang untuk pertama kalinya sejak ia meninggalkan Kota Beira. Kalimat pria tua itu langsung menghantam inti dari tujuannya pergi: mencari ayah dan ibunya.

Tangan Xiao Ba yang tadinya rileks di sisi tubuhnya perlahan mengencang. Kata-kata pengemis buta itu bagai petir di siang bolong, menembus langsung ke dalam rahasia terbesar yang ia simpan rapat-rapat.

Ia mengambil satu langkah mendekat, membuat debu di sekeliling sepatu botnya terangkat tipis. Tekanan udara di antara mereka mendadak berubah menjadi berat.

"Apa maksudmu?" tanya Xiao Ba, suaranya kini lebih rendah, membawa ketegasan yang menuntut jawaban. "Siapa yang kamu maksud dengan darah yang sama?"

Pria tua buta itu tidak tampak terintimidasi oleh perubahan aura Xiao Ba. Ia malah tersenyum misterius, jemarinya yang kurus dan kotor meraba permukaan batu hitam legam di depannya.

"Batu tidak pernah berbohong, Anak Muda. Batu ini berasal dari kedalaman Lembah Tengkorak Putih, tempat di mana energi kehidupan dan kematian berbaur menjadi satu," ucap si pengemis parau. "Dua belas tahun lalu, sepasang kultivator hebat dari wilayah selatan melintasi perbatasan ini dengan luka parah di tubuh mereka. Mereka dikejar oleh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pasukan kerajaan. Jejak energi mereka... tertinggal di tanah utara, membeku bersama dinginnya lembah itu."

Xiao Ba terdiam. Dua belas tahun lalu. Garis waktu itu sangat cocok dengan saat di mana ayah dan ibunya menghilang dari Kota Beira, meninggalkan dirinya yang masih kecil di bawah asuhan sang kakek.

"Siapa yang mengejar mereka?"

Pengemis tua itu menggelengkan kepalanya perlahan. "Mataku yang buta tidak bisa melihat wajah-wajah mereka, tapi jiwaku mengingat lambang yang mereka bawa. Lambang matahari hitam yang menelan rembulan. Jika kamu ingin tahu lebih banyak, pergilah ke Wuhe. Tapi ingat, Kota Wuhe bukan lagi sekadar gerbang perbatasan..."

Pria tua itu menghentikan kalimatnya, lalu mengambil batu hitam yang sedari tadi dirabanya dan melemparkannya dengan akurat ke arah Xiao Ba. Dengan refleks yang terlatih, Xiao Ba menangkap batu itu. Permukaannya terasa sedingin es, namun di dalamnya, ada denyutan energi spiritual yang sangat samar dan terasa familier di pembuluh darahnya.

"...Batu itu akan menuntunmu saat kamu tiba di sana. Anggap saja itu hadiah dari seorang tua yang mengagumi keberanianmu," pungkas si pengemis, sebelum kembali menundukkan kepalanya, mengabaikan Xiao Ba seolah-olah percakapan mereka telah usai.

Xiao Ba menatap batu hitam di genggamannya selama beberapa detik, lalu menyimpannya dengan hati-hati ke dalam tas penyimpanannya. Ia memberi anggukan hormat yang singkat kepada pria tua itu, meskipun pria itu tidak bisa melihatnya, lalu berbalik dan melanjutkan langkahnya yang kini terasa jauh lebih terarah.

Dua jam kemudian, kabut tebal benar-benar sirna, digantikan oleh pemandangan sebuah kota raksasa yang berdiri kokoh di celah dua pegunungan batu yang gersang.

Kota Perbatasan Wuhe.

Berbeda dengan Kota Beira yang damai dengan arsitektur kayunya yang indah di tepi pantai, Wuhe adalah kota yang dibangun dari balok-balok batu hitam yang tebal dan kasar. Dinding-dindingnya dipenuhi oleh bekas-bekas tebasan senjata dan noda darah yang telah mengering selama bertahun-tahun, menjadi saksi bisu betapa seringnya kota ini menjadi medan pertempuran faksi-faksi liar.

Kota ini dijuluki Kota Tiga Arus karena dikendalikan oleh tiga kekuatan besar yang saling menahan diri: Perserikatan Pedagang Karavan Hitam, Aliansi Kultivator Mandiri, dan Fraksi Serigala Besi. Di tempat ini, hukum kerajaan tidak berlaku. Kekuatan tinju dan kemurnian Qi adalah satu-satunya hukum yang diakui.

Xiao Ba berjalan melewati gerbang kota tanpa hambatan. Para penjaga berbaju zirah karatan hanya meliriknya sekilas, terlalu sibuk memeras sekelompok pedagang yang membawa kereta barang di belakangnya.

Suasana di dalam Wuhe sangat bising. Jalanan dipenuhi oleh manusia dari berbagai ras dan latar belakang. Di sudut jalan, ada yang menjual tanaman obat beracun, senjata tajam, hingga inti roh binatang buas yang masih segar.

Mengikuti intuisi spiritualnya, Xiao Ba berjalan menuju pusat kota, mencari tempat yang paling cocok untuk mengumpulkan informasi: rumah makan atau kedai minum bawah tanah. Langkahnya terhenti di depan sebuah bangunan tiga tingkat yang terbuat dari batu bata merah dengan papan nama bertuliskan Kedai Anggrek Hitam.

Baru saja ia hendak melangkah masuk, lautan kesadarannya mendadak bergejolak hebat.

Bzzzt!

Batu hitam yang diberikan oleh pengemis tua di dalam tas penyimpanannya tiba-tiba memancarkan hawa panas yang membakar. Di saat yang bersamaan, dari arah dalam kedai, Xiao Ba merasakan sebuah aliran Qi yang sangat spesifik—aliran energi yang sangat mirip dengan pola belati beracun milik Lin Mo yang ia kalahkan semalam, namun dalam skala yang jauh lebih besar dan lebih pekat.

Dari balik pintu kedai yang terbuka, beberapa orang keluar dengan terburu-buru, wajah mereka dipenuhi ketakutan.

"Fraksi Ular Merah sedang membersihkan tempat itu! Siapa pun yang tidak berkepentingan, cepat pergi jika tidak ingin mati!" seru salah satu pelarian.

Xiao Ba menyipitkan matanya. Fraksi Ular Merah. Tampaknya, Lin Mo yang ia buat muntah darah semalam bukan sekadar bandit amatir, melainkan bagian dari organisasi yang lebih besar di kota perbatasan ini. Dan sekarang, jalan takdir seolah sengaja menuntunnya untuk langsung berhadapan dengan mereka.

Bukannya mundur, Xiao Ba justru memegang hulu pedangnya. Dengan ketenangan yang telah menjadi ciri khasnya, ia melangkah masuk ke dalam kedai yang mulai bersimbah darah itu, siap menyongsong arus pertama dari badai yang menantinya di Wuhe.

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
☕️☕️
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
☕️
Dafa Faiha Roshiq: kasih tip dikit dikit dong
total 1 replies
Jojo Shua
😍
syarif ibrahim
akankah waktu berpihak kepada xiao Ba..... 🤔🤔🤔💪
Dafa Faiha Roshiq: pasti berpihak kan gw authornya
total 1 replies
Jojo Shua
😄😄✅️
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
☕️
Jojo Shua
😍
Dafa Faiha Roshiq: kasih penilaian nya dong
total 1 replies
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!