Saran baca loncat sampai Eps. 21
SILAHKAN YANG MAU PROMOSI TIDAK USAH SUNGKAN. KITA SAMA-SAMA PENULIS, SAMA BERKARYA.
Genre: Romantis, School, Slice of life, Remaja.
[Semua ini hanya karangan semata, tidak nyata atau tidak benar-benar terjadi]
Menceritakan tentang keseharian seorang murid SMA bernama Raka yang telah menjadi suami bagi guru matematikanya.
Raka, yang masih berusia 16 tahun atau remaja labil selalu ingin menggoda istrinya baik itu di sekolah maupun di rumah. Walaupun pernikahan mereka di dasari oleh perjodohan, tapi Raka benar-benar sudah jatuh hati padanya.
Sedangkan Kalisa, nama istri Raka. Dia kadang harus bersabar ketika menghadapi suaminya yang terkadang bersikap kekanak-kanakan, bagaimanapun dia bukan lagi muridnya, melainkan seorang pemimpin bagi keluarganya kelak.
Kisah hubungan mereka di mulai tepat setelah beberapa hari mereka mengucapkan janji suci.
Note: Cerita ini di bersudut pandang dari Raka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon secrednaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 9 –Klub Membaca II
Hembusan angin telah membawanya ke takdir yang tepat.
Di lantai empat sekolah adalah tempat untuk ruangan-ruangan ekstrakulikuler. Semua ekskul di sana memiliki ruangan mereka tersendiri, dan itu tidak terkecuali dengan ekskul membaca.
Setelah Bu Lisa menjelaskan panjang lebar kepada kami berenam, kami akhirnya mengangguk setuju. Tentu jika itu tidak menghitung Reza dan Della yang sangat terpaksa memasukinya.
Sekolah tak langsung kunjung sepi ketika jam pulang sudah berlalu, banyak para murid masih berada di sekolah. Mereka malah lebih ramai jika di bandingkan jam belajar, banyak yang berlalu lalang di koridor atau di lapang upacara.
“Jadi pembimbing klub membaca kita adalah Bu Lisa, bisa-bisa hancur masa mudaku." itu adalah keluhan Reza kesekian kalinya, wajahnya sudah berubah masam sejak meninggalkan kantor guru.
“Ayolah Za, Bu Lisa tak segalak itu. Kau terlalu memandang negatif sama dia.” Jawab Arin dengan santai.
Kami berenam saat ini sedang berjalan beriringan di koridor menuju lantai tiga. Di sepanjang jalan hanya Reza yang banyak bicara, dia mengeluh terus, bilang bahwa masa mudanya akan hancur dengan satu klub bersama Bu Lisa.
“Cemen.” Celetuk Della menambahkan.
“Seperti kau berani saja berhadapan dengannya, bukankah kau tadi bilang tidak mau masuk klub ini kan?" Reza langsung melotot ketika Della yang berbicara.
Della menghela nafas panjang, apa yang di katakana Reza ada benarnya. Ia masih menyesali kenapa tadi di kantor dia mengangguk begitu saja untuk masuk klub.
“Seharusnya kalian bersyukur kita masuk klub ini, bukanya tadi Bu Lisa bilang bahwa kita cuma berkegiatan membaca saja, atau bahkan dengan ringannya dia berkata ‘minimal kalian harus hadir’ bukankah itu cukup mudah.” Kini Zildan yang membuka suara menjelaskan detail keuntungan.
“Oh ... jadi kau menerimanya ya Zil?” Arin membalasnya dengan sumringah, menatap Zildan dengan antusias.
Zildan mengangguk, “Tentu, aku menerimanya. Walau niat awalku sebenarnya tidak ingin mengikuti ekskul apapun karena malas, namun untuk ekskul membaca itu adalah pengecualian”
Arin menatap Zildan heran, ia tidak paham maksud dari kalimat ‘pengecualian’.
“Kau tau, Rin? Ekskul membaca sangat cocok untukku, tidak banyak bergerak, tidak mengeluarkan tenaga, atau harus berlari-lari. Untuk orang yang pemalas sepertiku, itu sangat cocok," lanjutnya menambahkan.
Arin mengangguk mengerti lantas ia tertawa. Zildan memang orang yang pemalas di semua murid kelas kami, hampir semua orang tahu tentang itu. Namun tetap saja dia aneh, kalian tahu? Dia adalah orang terpintar di kelas kami, ralat bahkan orang terpintar seangkatan kelas satu.
Setelah beberapa langkah kami berjalan dan menaiki anak tangga, tibalah kami di ruangan yang dituju. Jauh sekali letak ruangan itu, ia berada di ujung lorong lantai empat.
Della membuka kunci pintu, karena ia adalah ketua grupnya, maka untuk saat ini dialah yang memegang penuh atas ruangan tersebut. Ketika saat pintu terbuka, maka terlihatlah ruangan yang berukuran 3 × 4 meter. Ruangan yang cukup besar untuk klub kecil seperti ini.
Ruangan itu benar-benar seperti tidak terurus, saat aku memegang meja yang berada di sana, aku bisa melihat tanganku sudah menghitam karena debu. Tapi meski begitu, untungnya ruangan ini tidak berantakan, barang-barangnya masih tersusun rapih.
“Baiklah, seperti kata Bu Lisa tadi, maka dengan malas kita bersih-bersih hari ini!” Della berseru datar, entah dia berbicara serius atau hanya cuma gurauan.
Kelihatannya Della masih belum terima bahwa dia masuk klub. Lihatlah sekarang, bukanya mengusap debu dengan kamocengnya, ia malah memukul-mukul debu itu hingga berterbangan kemana-mana.
“Bagaimana? apakah kau setuju dengan pembentukan klub ini?” Suara pelan terdengar di dekatku, ternyata itu Airin yang mencoba memberanikan diri untuk mengobrol.
Aku menggaruk kepala. “Sepertinya tidak terlalu buruk disini, kalau kau?”.
Airin mengangguk sama, lantas setelahnya dia tak berbicara lagi. Susah sekali berbicara dengan wanita ini, dia adalah orang yang pemalu dan pendiam, berbeda terbalik dengan kakaknya yang sangat aktif dan ceria.
Sore itu kami berenam hanya melakukan bersih-bersih layaknya menyapu, membersihkan debu, mengelapnya, dan lain-lain. Sedangkan laki-laki hanya membantu mengangkat barang yang harus di pindahkan. Ketika sudah merasa cukup bersih, kami langsung bergegas pulang, siap untuk memulai kegiatan klub esok harinya.
\*\*\*
Cahaya bintang berkelap-kelip di langit yang cerah, ia terlihat jelas terpampang menghiasi malam yang gelap. Disisi lain sang bulan justru tidak nampak, ia seperti bersembunyi dan enggan untuk memperlihatkan pada penduduk bumi.
“Mas, kamu tidak berbohong kan besok tidak ada tugas. Kalau ada sebaiknya kamu kerjakan sekarang!”
Aku memutar bola mata dengan malas, Bu Lisa sudah ke dua kalinya mengingatkanku dengan pertanyaan yang sama, tugas. Gara-gara dia pernah menghukumku dua kali, pandangannya tentang sipatku jadi melenceng.
“Enggak ada sayang, kamu sudah bertanya padaku dua kali tentang hal itu, jika sekali lagi kamu nanya hal yang sama, aku akan kasih piring sebagai hadiahnya”.
Dia tersenyum sejenak, wajahnya yang cantik benar-benar terlihat lebih manis saat dia seperti itu. Bu Lisa mungkin adalah orang yang galak dan tegas di sekolah, namun ketika di rumah sifatnya sangat jauh berubah.
Kami berdua sekarang berada di teras rumah. Aku memutuskan untuk membuat kebiasaan baru dari keluarga kita, yaitu setiap malam kami akan memandang langit dari luar rumah.
Saat ini aku sedang tiduran di paha Bu Lisa sambil melihat ke atas memandang langit malam. Dia juga melakukan hal yang sama, menyukai bintang, lantas setelah itu kami terbius menatap ke langit.
“Kamu tadi kenapa menyuruh kita berenam untuk masuk klub yang sudah lama mati?” Setelah sekian menit tidak ada suara, aku akhirnya membuka percakapan.
“Kamu mengetahui hal itu?” Dia menatapku dengan tatapan terkejut.
Aku tersenyum mengangguk, tadi Zildan memberitahukan bahwa ternyata klub ini sudah mati sejak tiga tahun yang lalu di karenakan sepinya anggota yang bergabung. Karena hal itulah klub ini di bubarkan.
“Gimana ya...” Dia berpikir sebentar sebelum melanjutkan bercerita. “Dulu sebenarnya aku juga sekolah di sini Mas, aku masuk ke klub membaca yang saat itu peminat dan anggotanya masih banyak. Namun setelah lulus sekolah dan tiga tahun setelahnya, aku mendapati bahwa klub itu sudah tidak ada, atau dalam artian sudah hilang dalam daftar ekstrakulikuler sekolah.
“Ketika aku kembali ke sekolah ini dengan status yang berbeda, yaitu seorang guru. Aku berniat untuk menghidupkan kembali klub itu, aku berharap bahwa klub membaca akan seperti dulu lagi”. Ucap Bu Lisa panjang lebar dengan pandangannya mengarah langit seolah ia berharap untuk itu.
Melihatnya seperti itu aku tersenyum, bangkit dari pahanya lalu memegang ke dua tangannya dengan lembut “Suamimu ini akan mengabulkan apa yang kamu inginkan” kataku seraya mengecup tangannya.
“Siapa yang nyuruh kamu!?” dengusnya, lalu dia buru-buru menunduk, menutupi wajahnya yang sudah tersipu malu.
“Oh... jadi gitu. Ya sudah, aku akan keluar klub besok.” Aku memalingkan muka, seolah-olah ngambek.
“Dihh... Mas baperan.”
Aku tertawa kecil mendengar omelannya, sepintas ada hasrat yang menggebu di dalam hati. Aku mencondongkan wajahku mendekatinya, memberikan instruksi bahwa aku menginginkan hal itu.
Wajah Bu Lisa yang sebelumnya merona merah kini bertambah lagi rona merahnya. Meski ragu-ragu akhirnya dia menutup mata menandakan bahwa aku boleh menciumnya.
Aku memegang dagunya pelan sebelum akhirnya menempelkan bibirku pada bibirnya.
\*\*\***Silahkan like dan Vote, bila perlu coment kekurangannya biar nanti author bisa memperbaiki**..
**Terimakasih**\*\*\*..!!