Season 1 dan 2 ....
Yang seharusnya suami kini menjadi anaknya, yang seharusnya ayah mertua kini menjadi suaminya. Dan sahabatnya yang kini menikah dengan calon suaminya! Bagimana pernikahan bisa tertukar seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
Sera dan Angga sudah duduk di meja makan tempat Sera dan Leo tadi. Dengan wajah yang jutek Sera pun terpaksa patuh dan menemani Angga untuk makan siang bersama.
"Mbak," panggil Angga pada pelayan cafe.
"Ya Tuan?" tanyanya ramah.
"Saya pesan yang ini, ini, ini dan yang ini. Minumannya yang ini dua ya," ujar Angga memesan beberapa makanan dan dua gelas minuman dan menunjukan nya pada pelayan cafe tersebut yang sudah mencatat di sebuah buku kecil yang berada di tangannya.
"Baik Tuan, ada perlu yang laen lagi?"
Angga melirik Sera yang cuek seakan tidak peduli, lelaki itu menghela."sudah cukup, ini saja."
"Baiklah kalau begitu, saya permisi Tuan."
Setelah kepergian pelayan itu untuk membuat pesanannya, Angga diam-diam mencuri-curi pandang pada Sera.
"Sepertinya kamu duduk makan di sini tidaklah sendirian, kemana dia?" tanya Angga melihat dua buah porsi makanan di meja serta minuman jus yang belum habis.
"Dia kekasihku," ketus Sera tanpa melihat pada Angga, gadis itu malah melihat arah samping terus-menerus.
"Aku tidak tanya siapa? Yang aku tanya itu di mana, dia?" jawab Angga.
"Emang apa urusannya sama Om! Dia mau kemana dan di mana itu gak ada urusannya sama sekali sama Om."
Sera berbicara dengan nada sinis, bawaannya sewot terus jika berhadapan dengan Angga.
Angga terkekeh kecil merasa gemes dan ingin mencubit mulutnya yang sedang mengerucut itu.
"Aku hanya bertanya, emang salah?"
"Tidak, hanya saja pertanyaan om itu yang salah," saut Sera.
"Salahnya di mana?" Angga tidak mau menyerah, justru ia malah ingin terus memancing kekesalan hati gadis itu agar dapat terus mengobrol dengannya.
"Ya salah lah, ngapain Om tanya-tanya di mana pacar aku? Kalau aku kasih tau, gak ada urusannya juga kan sama Om."
Angga tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
"Terima kasih," ucap Angga.
Makanan yang ia pesan pun sudah datang, hingga terhidang rapih di meja tersebut yang hampir penuh membuat Sera terbelalak heran.
"Om, kamu ini kelaparan atau rakus sih? Banyak banget pesen makanan nya," heran Sera.
"Sengaja, lagi pula ini semua bukan untuk aku. Tapi untuk kamu!"
Sera membulatkan matanya menatap tajam Angga." Jangan gila ya Om, emang kamu kira perut aku ini gentong apa? lagian aku gak mau makan, gak nafsu!"
"Aku gak suka penolakan, Nona Sera! Sekarang ayo makan, atau kamu mau aku suapain?" perintah Angga tak ingin di bantah bahkan lelaki itu mengancam Sera.
"Dasar gila...," umpat Sera dalam hati benar-benar kesal.
Angga mendesah lalu mengambil sendok dan mengisi sendok itu dengan makanan kemudian ia suap kan ke mulut Sera.
"Ayo, buka mulutnya," perintah Angga menyodorkan sendok itu kearah mulut Sera yang terkunci rapat menolak.
"Buka gak, jangan buat aku memaksa Sera! Aku tidak mau anak aku tidak mendapatkan asupan yang banyak serta tidak sehat," paksa Angga.
"Apaan sih, anak apa..."
Belum sempat Sera menyelesaikan ucapannya, Angga sudah memasukan makanan yang di sendok itu kedalam mulut Sera dengan paksa.
"Habis kan, atau kamu mau aku suapin lagi?"
Dengan kesal Sera mengambil piring yang ada di depan Angga lalu memakannya paksa. Angga tersenyum penuh kemenangan merasa puas karena Sera gadis keras kepala itu patuh padanya. Angga pun juga memakan makanan nya dengan semangat, terlebih lagi wanita yang ia rindu-rindukan ini sudah ada di hadapannya.
Selama beberapa munggu ini Angga tidak bertemu dengan Sera setelah pertemuan nya di dalam pesawat terakhir kalinya dan itu sungguh membuat hatinya sangat uring-uringan, gelisah mencari keberadaan sosok wanita yang sudah mencuri hatinya namun sayangnya tidak dapat di temukan karena hanya tau nama depannya saja tidak tau nama kepanjangannya sehinga sedikit kesulitan untuk mencari informasi tentang Sera.
"Sepertinya kita memang berjodoh ya, buktinya secara tidak di sengaja kita di takdir kan selalu bertemu," ucap Angga membuka obrolan.
"Bohong banget, om pasti sengaja ngikutin aku, ya kan? Ngaku aja deh," tuduh Sera asal.
Angga tertawa." kamu ini kok lucu, aku saja tidak tau rumah kamu di mana apa lagi tau kalau kamu mau ke sini. Lalu sengaja nya itu, dari mananya?"
Yang di ucapkan oleh Angga masuk di akal, mungkin benar apa yang di katakan nya. Takdir mempertemukan mereka kembali secara tidak sengaja. Apa kota ini terlalu sempit sehingga dirinya dapat dengan mudah berpapasan lagi dengan lelaki yang selalu ingin ia hindari tersebut? Sera pun mendesah sambil terus memakan makanannya sampai habis.
"Sera sudah kenyang, dan sekarang mau pulang," ujar Sera buru-buru mau langsung pergi tak ingin berlama-lama bersama dengan Angga karena itu mengingatkan dirinya tentang kejadian malam itu yang sangat memalukan baginya.
"Loh, udah mau pulang? Aku antar ya," tawar Angga berharap.
"Nggak, terima kasih," tolak Sera, dan membuat Angga merasa kecewa.
Sera tidak peduli, ia pun beranjak pergi namun tangannya langsung di cekal oleh Angga cepat.
"Tunggu..."
"Apa lagi sih, Om?" geram Sera.
Angga mendekatkan dirinya, tanpa basa-basi.
Lelaki itu mengecup singkat bibir Sera tak peduli banyak orang yang melihat tindakannya. Sera membatu, badannya seolah mati rasa tak percaya dengan apa yang di lakukan Angga padanya yang sangat lancang. Sedangkan Leo saja yang sebagai kekasihnya hanya mengecup sekilas kepalanya saja.
"Ini hadiah ucapan terima kasih ku pada mu," bisik Angga. Sera tersadar lalu mendorong tubuh Angga kemudian berlari pergi meninggalkan cafe tersebut dengan jantung berdebar kencang.
Angga tersenyum hangat menatap kepergian Sera, lelaki itu mengelus bibirnya yang masih terasa halus serta lembut nya kulit itu.
"Kamu benar-benar sudah membuatku gila, Sera! Tapi aku suka."