NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9.

Zee menatap layar ponselnya lama. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

"Kalau beli bisa, apakah aku juga bisa menjualnya?"

Jarinya perlahan bergerak, menelusuri tampilan aplikasi AetherShop. Di bagian bawah, ada menu yang belum Dia lihat.

Klik disini jika ingin menambah barang:

➕ Jual Barang

Mata Zee langsung berbinar. "Jadi beneran bisa..."

Dia menekan menu jual barang. Layar berubah, menampilkan kolom kosong dengan tulisan : Silakan unggah barang yang ingin di jual.

Di bawahnya ada opsi :

*Upload Foto

*Deskripsi Barang

*Tentukan Harga (Koin)

Zee terdiam sejenak. "Barang... apa yang mau aku jual?"

Dia menoleh di sekeliling kamarnya yang di lengkapi dengan : meja kecil, lampu tidur, karpet lantai, sofa panjang, meja rias, cermin, lemari pakaian, kamar mandi dan mini bar.

"Kira-kira barang biasa apa yang biasa aku jual dan apa bakal laku?" gumamnya sambil berpikir

Dia menggigit bibirnya dan berpikir keras. Lalu pandangannya jatuh ke kotak nasi goreng yang tadi Dia makan.

Masih ada sedikit sisa nasi goreng. "Kalau makanan dari AetherShop ini saja rasanya luar biasa, gimana kalau aku jual ulang?" Ujar Zee lirih

Zee sedikit ragu, "ini gila sih..." Tapi Dia perlahan, mengambil kotak nasi goreng itu, merapikannya sedikit, lalu membuka kamera.

KLIK...

Foto di ambil.

Zee mulai mengetik deskripsi barang dengan hati-hati.

Nama barang: Nasi goreng spesial premium

Deskripsi: Nasi goreng dengan rasa luar biasa, bumbu rempah kuat, kualitas di atas standar.

Harga: 0.05 Koin

"0.05 berarti lima ratus ribu?" ucapnya kaget

"Kalau laku, aku untung banyak"

Dengan sedikit ragu, Dia menekan tombol KONFIRMASI.

Layar bergetar halus. "Barang berhasil di daftarkan." Zee menatap layar ponsel tanpa berkedip.

Satu detik, dua detik... sepuluh detik, dan tidak ada perubahan sama sekali. "Yah... mungkin emang nggak segampang itu."

Zee hendak mau meletakkan ponselnya, tiba-tiba... ada bunyi notifikasi masuk.

Ting!

Layar menyala otomatis.

*Pesanan masuk*

"Apa?!"

Zee dengan cepat membuka notifikasi itu.

*Pembeli: ???

*Barang: Nasi goreng spesial premium

*Jumlah: 1

*Status: Menunggu pengiriman

Zee langsung panik, "Pengiriman?! Aku kirim ke mana?!" Dia melihat ke sekelilingnya. "Ini bukan marketplace biasa..."

Belum selesai berpikir, layar kembali berubah. *Gunakan fitur: Kirim instan

Tombol baru muncul : KIRIM SEKARANG

Zee seakan tidak percaya, "ini beneran ya.." gumamnya lirih. Dengan tangan gemetar, Dia menekan tombol itu.

Dalam sekejap, huup! kotak nasi goreng di tangannya menghilang begitu saja.

Zee refleks mundur satu langkah. "Aaapa tadi?!" ucapnya gagap sambil menatap tangannya yang kini kosong.

Jantungnya berdegup kencang. Beberapa detik kemudian...

Ting!

Bunyi notifikasi lagi

*Pesanan selesai

*Saldo bertambah: +0.05 Koin

Zee langsung melihat ke profilnya.

*Saldo: 1.04 Koin

Dia terdiam sejenak, perlahan senyumnya muncul... semakin lebar dan akhirnya, Zee menutup mulutnya menahan teriakannya. "Ini Gila.."

Dia berdiri di tengah kamar kecilnya, dengan senyum lebarnya. "Beli 0.01, jual 0.5, untung empat kali lipat."

Matanya perlahan berubah, bukan lagi kebingungan atau keputusasaan karena uang tabungannya yang sudah menipis.

Tapi sudah ada sesuatu yang baru. Harapan dan ambisi. Zee kembali menatap layar ponselnya dengan cara yang berbeda.

"Kalau satu aja bisa, gimana kalau banyak?" Jarinya mulai bergerak cepat, membuka kategori, menghitung dan merencanakan sesuatu yang akan Dia lakukan ke depannya.

Untuk pertama kalinya sejak tabungannya menipis, ditambah Dia tidak punya pekerjaan lagi. Dia merasa masa depannya mungkin akan semakin lebih baik.

Sore hari pun tiba, mewarnai langit dengan semburan jingga yang lembut. Zee berdiri di depan sumur tua itu lagi, tatapannya serius, jauh berbeda dari sebelumnya.

Kini Dia tidak lagi hanya penasaran. Dia yakin, aplikasi yang muncul di ponselnya, pasti ada hubungan dengan pintu transparan di dalam sumur ini.

Setelah memastikan keadaan sekitar sepi. Pak Ali dan Bu Maya sudah kembali ke rumah mereka, Zee mulai bertindak.

Dia menarik nafas dalam hembuskan, lalu menurunkan tangga besi yang pernah Dia gunakan sebelumnya.

Tangga itu kembali menyentuh dasar sumur. Zee mulai perlahan menuruni satu per satu anak tangga dengan hati-hati.

Semakin dalam Dia turun, hawa dingin terasa keluar dari dalam. Tapi anehnya bukan dingin yang menusuk, melainkan dingin sejuk yang menenangkan.

Seperti udara di pegunungan setelah hujan dan saat kakinya menyentuh dasar sumur. Pintu itu masih ada dan terbuka, seolah menunggunya kembali.

Zee terdiam sejenak di hadapannya. Lalu dengan tanpa ragu, Dia melangkah masuk.

Dunia di balik pintu itu... tetap sama. Kolam kecil berwarna biru jernih terbentang di hadapannya, airnya mengalir tenang dari air terjun yang indah.

Suara gemericik air memenuhi udara, menciptakan suasana damai yang sulit dijelaskan.

Di sekelilingnya, taman bunga bermekaran dengan warna-warni cerah, tampak hidup seolah memiliki nafas sediri.

Di kejauhan bangunan empat lantai itu masih berdiri dengan megah, kokoh dan mewah.

Zee berjalan perlahan menuju bangunan tersebut. Setiap langkahnya terasa ringan, tidak seperti pertama kali Dia datang dengan ragu dan penasaran.

Saat Dia mendekat.

Klik

Pintu kaca terbuka otomatis, Zee hanya menatap sebentar... lalu masuk.

Bagian dalam bangunan itu tetap rapi. Rak-rak tersusun penuh dengan berbagai barang, masih sama dengan tertata sempurna.

Zee berjalan menyusuri lorong sebentar, lalu mengalihkan langkahnya menuju eskalator. Lantai demi lantai terlewati dengan tenang, hingga Dia sampai di lantai empat apartemennya.

Saat pintu apartemen terbuka, suasana familiar langsung menyambutnya. Semuanya masih sama, lengkap dan rapi. Tidak ada satu pun yang berubah sejak terakhir kali Dia ke sini.

Zee menghela nafas lega tanpa sadar. Dia masuk, lalu berjalan ke kamarnya. Tubuhnya di jatuhkan perlahan ke atas ranjang.

Matanya menatap langit-langit kamar. Seolah mencoba mencerna semua yang telah terjadi dalam hidupnya.

Belum lama Zee beristirahat... Kruk, perutnya berbunyi. Dia mengerutkan kening, lalu tertawa kecil. "Laper juga..."

Dia bangkit dari ranjang dan berjalan menuju dapur kecil di apartemennya. Tangannya sempat meraih peralatan masak, Dia berniat membuat sesuatu yang sederhana, cepat dan muda.

Namun, gerakannya terhenti dengan pikirannya yang terlintas pada sesuatu.

AetherShop

Zee mengambil ponselnya, menatap layar beberapa detik. "Bagaimana kalau aku coba pesan online saja ya..." gumamnya pelan.

Rasa penasaran kembali muncul. Tanpa berpikir lama, Dia membuka aplikasi AetherShop, tampilan kategori makanan langsung muncul.

Zee membukanya dan mulai memilih dengan santai dengan matanya tetap penuh rasa ingin tau.

*Ayam bakar kecap

*Nasi putih

*Jus stroberi

Dia memasukkan semuanya ke keranjang, lalu memilih opsi Kurir instan. Jarinya berhenti sejenak di tombol konfirmasi, dengan jantung yang sedikit berdebar, Dia lalu menekan tombol konfirmasi.

Saldo koin berkurang dan dalam sekejap..

Hup!

Makanan pesannya muncul tepat di hadapannya, masih hangat dan segar. Aroma ayam bakar langsung memenuhi ruangan, mengoda indera penciumannya.

Zee terkejut sesaat, meski ini bukan pertama kalinya... tetap saja rasanya masih tidak masuk akal.

"Ini benar-benar di luar nalar manusia"

Zee pun langsung mengambil makanan itu dan membawanya ke arah balkon kamarnya.

Pintu kaca digeser pelan, seketika angin lembut langsung menyambutnya. aroma laut yang segar langsung terasa, bercampur dengan hangatnya makanan di tangannya.

Di depannya, terbentang pemandangan yang membuat langkahnya terhenti sejenak.

Laut luas berkilau di terpakai cahaya sore. Ombak bergulung tenang, memantulkan warna jingga dari langit yang mulai meredup. Garis horizon terlihat begitu jelas, seolah memisahkan dunia nyata dengan sesuatu yang lain.

Zee tersenyum tipis. "Indah banget..."

Dia meletakkan makanannya di meja kecil di balkon, lalu duduk perlahan. Untuk beberapa saat, Dia hanya diam menikmati angin yang berhembus pelan.

Suara suasana yang terasa... tidak nyata dan damai. Zee mulai makan ayam bakar kecap itu masih hangat, bumbunya meresap sempurna. Setiap suapan terasa nikmat, seolah semua kelelahan yang Dia rasakan sejak kemarin perlahan menghilang.

"Kalau hidup kayak gini terus, rasanya seperti miliarder."

Setelah beberapa suapan, Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya kembali menyapu pemandangan di depan, dan saat itulah sebuah ide muncul.

Zee langsung bangkit dari duduknya. "Ini harus di abadikan."

Dia buru-buru masuk kembali ke dalam kamar, lalu membuka laci meja kecilnya. Dari dalam, Dia mengambil sebuah kamera analog tuanya.

Zee kembali ke balkon, dengan menggenggam kamera dengan hati-hati. Dia mengarahkannya ke laut, dan mengatur sudut yang pas.

Klik

Satu jepretan. Dia menuturkan kamera, lalu tersenyum puas. Namun entah kenapa, ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul.

Zee mengerutkan keningnya. "Perasaan apa ini."

Dia menatap kamera di tangannya, lalu memutuskan untuk melihat hasilnya. Beberapa saat kemudian, Dia membuka hasil cetakan foto yang perlahan mulai muncul dari kamera tersebut.

Awalnya... normal, laut yang biru, langit dengan cahaya sore yang menggeluarkan senja yang indah.

Namun, senyumnya perlahan memudar, matanya menyipit dan cetakan foto di tangannya hampir jatuh.

"Ini... apa?"

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!