NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Lu Ming

​Angin musim gugur menyapu gerbang Kota Azure, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Udara di sana tidak murni, ada campuran aroma dupa dari kuil-kuil jauh dan bau keringat dari ribuan orang yang berdesakan di gerbang kota.

​Di antara kerumunan pedagang dan kereta kuda, seorang wanita berdiri dengan bahu yang gemetar hebat. Ia mengenakan jubah rami yang kasar dan kusam.

Di sisinya, seorang bocah lelaki berusia lima tahun menggenggam erat ujung pakaian ibunya, seolah takut jika ia melepaskannya barang sekejap, dunia akan menelannya.

​"Ibu… apa Ibu benar-benar akan pergi?" suara kecil itu bergetar, hampir tenggelam oleh derap kaki kuda dan teriakan para kusir.

​Wanita itu terdiam. Matanya tertuju pada gerbang batu yang menjulang tinggi, di mana para kultivator dengan pedang terbang melintas di atas kepala mereka seperti kilatan cahaya.

Baginya, Azure adalah kota penuh peluang bagi yang kuat, tetapi menjadi lubang pembuangan bagi yang lemah.

​Ia perlahan melepaskan jemari mungil anaknya dari kain bajunya. Gerakannya pelan namun tegas, lalu ia berbalik.

​"Iya, Nak. Ibu ada urusan sebentar," ucapnya dengan suara serak yang dipaksakan tenang. "Ayahmu… dia akan segera datang menjemputmu di sini. Kau harus jadi anak yang penurut. Tunggu di sudut tembok ini dan jangan bergeser satu langkah pun."

​Lu Ming terdiam. Di usianya yang baru menginjak lima musim dingin, dunianya hanyalah gubuk tua dan senyum ibunya.

Ia tidak mengerti mengapa mereka harus menempuh perjalanan melelahkan berhari-hari hanya untuk sampai ke tempat asing yang berisik ini.

​"Ibu!" Lu Ming refleks mengangkat tangan, mencoba menggapai udara kosong saat bayangan ibunya mulai memudar, tertelan oleh arus manusia yang masuk ke dalam kota.

​Satu jam berlalu. Matahari mulai condong ke barat, mengubah warna langit menjadi jingga yang pucat. Lu Ming tetap berdiri mematung di posisi yang sama.

Dua jam, tiga jam… kedua kakinya mulai terasa kaku dan kesemutan, tetapi ia takut jika ia duduk atau bersandar, ayahnya tidak akan melihatnya di tengah keramaian.

​"Ibu bilang… Ayah pasti datang," bisiknya pada diri sendiri, mencoba mengusir rasa cemas yang mulai merayap di dadanya.

​Namun, rasa lelah akhirnya menang. Tubuh mungil itu merosot, terduduk lesu di atas tanah yang berdebu.

Lu Ming bersandar pada tembok batu yang dingin, memeluk lututnya sendiri. Pikirannya mulai melayang pada potongan percakapan rahasia yang tidak sengaja ia dengar di malam hari sebelum mereka berangkat.

​"Bukannya kata orang-orang… Ayah sudah punya keluarga baru di sekte besar?" gumamnya lirih.

​Ingatannya tentang sang ayah hanyalah sebuah lubang hitam. Pria itu pergi sebelum Lu Ming bisa mengeja namanya dengan benar, memilih jalur kultivasi dan menikahi putri seorang tetua sekte demi ambisi kekuatan.

Lu Ming bahkan tidak tahu seperti apa rupa ayahnya. Namun, ia memilih untuk tetap percaya pada ibunya. Karena jika ibunya berbohong, maka ia benar-benar tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini.

​"Tidak mungkin. Ibu tidak mungkin bohong. Ibu sangat sayang padaku," ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ibu sering memberikan jatah mantunya untukku… dia pasti kembali."

​Kegelapan mulai menyelimuti Azure. Lentera-lentera kristal di sepanjang jalan mulai menyala, memancarkan cahaya biru yang indah namun terasa mati di mata Lu Ming. Perutnya mulai melilit, rasa perih yang tajam muncul karena ia belum makan apa pun sejak pagi.

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!