Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan yang Kembali
Malam itu, Alya berada di balkon kamarnya, menatap halaman luas yang gelap, dan terasa seperti penjara tak kasat mata. Angin malam begitu terasa dingin, tapi tak mampu menenangkan pikirannya yang terus berputar.
Dua minggu hidup dalam aturan, dalam tatapan dingin, dan dalam keheningan yang menyesakkan. Dan hari ini, entah kenapa, perasaannya terasa tidak nyaman.
"Apa yang akan terjadi? Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak nyaman seperti ini," gumamnya pelan.
Ketukan pintu membuat tubuhnya sedikit tersentak.
"Nyonya, Tuan Arkan memanggil anda ke ruang tamu," ucap salah satu pelayan dengan sopan.
Alya mengerutkan dahi, tidak biasanya Arkan memanggilnya ke ruang tamu. Biasanya pria itu hanya memberi perintah lewat orang lain, tanpa perlu bertatap muka lebih lama dari yang diperlukan.
"Aku akan turun," jawabnya singkat.
Beberapa menit kemudian, langkah Alya terdengar pelan menyusuri tangga besar mansion. Jantungnya berdetak lebih cepat, entah karena firasat buruh, atau hanya sekedar rasa gugup yang tak bisa ia jelaskan.
Namun saat ia sampai di ruang tamu, langkahnya terhenti, napasnya tercekat.
Seorang wanita berdiri di sana, anggun, elegan, dan memakai gaun merah marun, yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Rambutnya tergerai rapi, dan senyumnya bukan senyum biasa. Itu adalah senyum penuh arti.
Tatapan wanita itu langsung mengarah pada Alya.
"Aku kira, kau hanya rumor," ucap wanita itu, suaranya lembut tapi tajam seperti pisau.
Belum sempat Alya menjawab, langkah kaki terdengar dari belakang.
"Selena," ucap Arkan datar, dan berdiri di antara mereka.
Nama itu seperti gema yang menghantam kepala Alya, mantan kekasih Arkan yang selama ini hanya dia dengar seperti bayangan, kini berdiri nyata di hadapannya.
"Arkan," Selena tersenyum, dan melangkah mendekat. "Aku datang kesini, hanya untuk memastikan bahwa kamu sudah benar-benar menikah."
Arkan hanya berdiri tegak, wajahnya tetap datar. Tapi entah kenapa, Alya bisa merasa sesuatu yang berbeda.
"Dan ini..." Selena melirik Alya. "Istrimu?"
Alya menegakkan bahunya, mencoba menguatkan diri di bawah tatapan tajam itu.
"Alya Maheswari," jawabnya tenang.
Selena tersenyum tipis, "Cantik," katanya. "Tapi terlihat begitu rapuh."
Ucapan itu seperti tamparan halus, Alya menggenggam tangannya pelan. "Aku tidak serapuh yang kamu lihat," balasnya dengan suara yang lebih tegas.
Untuk sesaat, keheningan menyelimuti ruangan. Selena menatapnya lebih dalam, seolah tertarik dengan keberanian Alya.
"Cukup menarik," gumamnya.
Arkan akhirnya bergerak, ia langsung berdiri di samping Alya. Cukup dekat, hingga Alya bisa merasakan kehadirannya, tapi tetap ada jarak yang dingin di antara mereka.
"Ada urusan apa kamu datang kerumahku?" tanya Arkan langsung pada intinya.
Selena menyilangkan tangannya, "Aku hanya ingin kembali," jawabnya. "Setelah sekian lama aku merindukan tempat ini."
"Tempat ini bukan milikmu lagi," jawab Arkan dingin dan tegas.
Namun Selena tidak merasa tersinggung, "Ah, Arkan..." ia mendekat satu langkah. "Kamu selalu seperti ini, keras di luar, tapi aku tahu bahwa kamu tidak pernah benar-benar berubah."
Alya menahan napas, ada hal lain dalam cara Selena berbicara dengan Arkan. Terlihat begitu sangat dekat, dan yang paling menganggu Arkan tidak membantahnya.
"Cukup," ucap Arkan akhirnya. "Kalau tidak ada urusan yang penting, kamu bisa pergi dari mansion ini."
Selena tersenyum pahit, "Aku tidak akan pergi semudah itu. Karena aku kembali bukan tanpa alasan, dan cepat atau lambat, kalian akan mengerti."
Tatapan Selena beralih pada Alya, tatapan itu semakin tajam, seolah ia ingin mengatakan sesuatu tanpa kata.
Lalu tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan keluar dari mansion dengan langkah anggur .
Pintu tertutup.
Namun suasana justru terasa semakin berat, Alya berdiam diri, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Dia akan membawa masalah," katanya pelan.
Arkan hanya menatap ke arah pintu, yang baru saja ditutup oleh Selena.
"Aku tahu itu."
Jawaban singkat, tapi cukup untuk membuat Alya sadar. Bahwa ini bukan sekedar pertemuan biasa, ini awal dari sesuatu yang lebih besar.
Alya menoleh dan menatap Arkan, "Siapa dia sebenarnya?"
Arkan akhirnya menoleh, tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Alya bisa melihat hal yang berbeda dari sorot mata Arkan.
"Hanya masa lalu," jawab Arkan pelan.
Alya menunduk sedikit, "Masa lalu yang belum benar-benar pergi, iya kan?" ucap Alya.
Arkan diam, dan diamnya Arkan justru menjadi jawaban yang paling jujur.
***
Malam itu, Alya tidak bisa tidur. Bayangan Selena terus muncul di pikirannya. Cara wanita itu menatap Arkan, caranya saat berbicara, seolah masih memiliki tempat di hati pria itu. Dan cara Arkan yang tidak menolak kehadirannya.
Alya memeluk lututnya di atas ranjang, hatinya terasa begitu sesak.
"Apa aku hanya pelampiasan dia? Apa aku hanya di jadikan alat?" gumam Alya lirih.
Air matanya hampir jatuh, tapi ia berusaha menahannya. Ia sudah terlalu sering menangis, dan Alya lelah menjadi lemah.
Di sisi lain mansion, Arkan berdiri di ruang kerjanya. Menatap gelas minuman di tangannya, tanpa benar-benar meminumnya.
Pikirannya kembali ke masa lalu, yang seharusnya sudah ia kubur sejak lama.
Selena Pratama.
Nama yang seharusnya tidak lagi memiliki arti, tapi kehadirannya hari ini, membuktikan satu hal. Masa lalu tidak pernah benar-benar mati, dan yang paling berbahaya, ia selalu kembali saat kita paling tidak siap.
Arkan menutup matanya sejenak, lalu bayangan lain muncul.
Alya.
Wajah gadis itu, tatapannya, dan caranya berdiri tegar, meski jelas ia sedang terluka.
Arkan membuka mata, tanpa ia sadari, ada sesuatu yang berubah secara perlahan. Dan perubahan itu, justru membuat segalanya menjadi lebih berbahaya.
Di dalam kamar, Alya akhirnya berbaring dan menatap langit-langit. Ia tahu satu hal, kehidupan yang ia jalani bukan hanya tentang pernikahan terpaksa, bukan juga tentang Arkan. Tapi, tentang orang-orang dari masa lalu, yang membawa sebuah rahasia. Atau mungkin, membawa kehancuran.
Alya menarik napas dalam, "Jika ini perang," bisiknya. "Aku tidak akan tinggal diam."
Saat ini Alya bisa merasakan, bahwa di dalam dirinya bukan hanya ketakutan lagi, tapi sebuah tekad yang sangat kuat.
Dan di luar sana, tanpa Alya sadari, badai yang sebenarnya baru saja mendekati hidupnya.