NovelToon NovelToon
NEW FAMILY

NEW FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Keluarga & Kasih Sayang / Slice of Life
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Rizz Kyy

Lucky, seorang remaja kelas 3 SMP yang tumbuh besar di Pesantren Assalam sejak usia lima tahun, menjalani hidup penuh kesederhanaan tanpa orang tua maupun kerabat yang menunggu. Hari-harinya diisi belajar, menghafal, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, meski kesepian sering menghampiri. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan tekad kuat untuk bertahan dan meraih masa depan yang berbeda dari garis hidup yang tampak sudah ditakdirkan untuknya. Semua itu berubah ketika suatu hari ia tanpa sengaja menolong keluarga seorang konglomerat. Tindakan kecil yang lahir dari ketulusan itu membuka perjalanan baru baginya—perjalanan yang mempertemukannya dengan kesempatan, harapan, dan rahasia besar yang perlahan mengungkap siapa sebenarnya Lucky dan mengapa takdirnya terasa begitu berbeda sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz Kyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI YANG BAHAGIA

Puskesmas Kecil, Ruang Rawat Inap Nomor 2

Ruangan itu sederhana—hanya ada satu kasur kecil, kipas angin tua yang berputar lambat, dan aroma obat-obatan yang samar. Di luar jendela, pagi masih basah oleh embun.

Lucky duduk bersandar di kasur sambil memukul-mukul kakinya pelan, jelas merasa bosan.

“Duh… bosen banget. Nggak bisa ngapa-ngapain. Enak nih kalo keluar jalan-jalan pagi,” gumamnya sambil menguap karena bosan.

Tiba-tiba—

BRUK!

Pintu terbuka cukup keras.

Lucky terkejut sampai refleks menegakkan badan.

“Lucky!!”

Glasya masuk dengan wajah panik tanpa menunggu izin, suaranya sedikit bergetar. Menyusul di belakangnya Ardan dan Kyai Ahmad yang lebih tenang, tetapi jelas khawatir.

Begitu matanya bertemu Lucky—

Glasya langsung menghampiri dan memeluk Lucky erat-erat, seolah takut anak itu menghilang lagi seperti mimpinya.

“Maafin Tante… maafin Tante ya Nak… Tante nggak datang kemarin… Tante janji tapi malah…”

Lucky membeku.

Tubuhnya kaku seperti papan.

Kepalanya berhenti bekerja sejenak.

Jantungnya deg-degan bukan main,

Karena siapa sih yang nolak kalau di peluk oleh wanita cantik berdarah campuran jepang dan aktor terhebat, pasti itu impian para lelaki termasuk fansnya.

TAPI...

Lucky refleks menatap Ardan dan Kyai Ahmad—takut disalahpahami—tapi keduanya hanya tersenyum kecil melihat kepanikan lucu di wajahnya.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti 5 tahun bagi Lucky, ia buru-buru mendorong pelan tubuh Glasya, menjaga adab dan sopan santun.

“Ehh… yaelah Tante… nggak apa-apa kok. Santai aja.”

Ia menggaruk belakang kepalanya, berusaha bersikap biasa walau wajahnya merah.

“Saya tau kok kalian sibuk banget. Sibuknya bukan main. Dan saya juga nggak berharap kalian harus selalu datang. Kalau ada waktu luang aja. Nggak usah dipaksain.”

Glasya menatapnya lama. Ada campuran bingung, kaget, dan kagum.

“Kamu… nggak marah? Nggak benci?”

“Kenapa harus marah?” Lucky mengangkat bahu.

“Tante sama keluarga udah bantu banyak banget buat pondok, buat saya juga. Donatur gedung baru lah, fasilitas santri lah… masa cuma karena satu kesalahan kecil, saya harus benci? Nggak fair dong.”

Ia menutup ucapannya dengan tawa kecil yang jujur dan polos.

“Hehehe…”

Kalimat itu membuat Glasya benar-benar terdiam.

Dalam hatinya ia berkata:

“Ini… perkataan anak SMP?

Bukan… pemikiran seperti ini biasanya milik orang dewasa yang matang… Kenapa hati dia seluas ini?”

Tanpa pikir panjang—

Glasya kembali memeluk Lucky, lebih erat dari yang pertama.

Lucky yang sudah pasrah hanya bisa menatap kosong ke depan.

Ardan tersenyum melihat istrinya yang begitu emosional, dan Lucky yang kebingungan luar biasa dan hanya bisa pasrah.

---

Obrolan hangat antara Lucky, Ardan, dan Kyai Ahmad belum selesai ketika pintu kembali terbuka.

“Permisi…”

Tiga wajah cantik muncul bersamaan.

Grace dengan tas dokter di tangan, Chelsea membawa jinjingan buah-buahan premium, dan Cleo dengan wajah khawatir—yang meski ia tutupi, tetap terlihat dari matanya yang gelisah.

Glasya langsung berdiri dan menyambut mereka,

“Ayo masuk, Lucky di sini…”

Ketiganya menghampiri Lucky yang sedang duduk bersandar di kasur.

Cleo meletakkan buah dan langsung berkata,

“Lucky… kamu kenapa bisa sakit? Kamu kan biasanya kuat banget…”

Nada suaranya sedikit tinggi karena panik, membuat Chelsea menoleh bingung.

Grace putri ke 2 langsung mengambil posisi di samping kasur sambil memandang Lucky dari ujung kepala sampai kaki,

“Aku check dulu, ya.”

Lucky hanya tertawa kecil canggung.

Glasya duduk di pinggir kasur Lucky sambil mengupas apel dengan pisau kecil.

“Lucky… kamu udah baikan?

Kenapa kamu maksain ngajar kalau lagi sakit begini?”

Lucky mengangkat bahu santai,

“Yaa gapapa Tante… kemarin tuh sebenernya aku nggak kenapa-napa. Cuma gelap aja mata. Sempoyongan dikit terus jatuh.”

Lalu ia melanjutkan dengan gaya seolah semua itu hal sepele,

“Paling cuma darah rendah. Dikerokin juga sembuh kok. Nggak perlu dirawat begini. Bosen gabisa kemana-mana… nggak boleh keluar pula…malah nambah-nambahin penyakit”

Kyai Ahmad yang duduk di kursi pojok langsung nyeletuk sambil tertawa,

“Gelap mata kok sampai dua jam baru sadar. Itu namanya pingsan, Nak. Bukan gelap mata.”

Semua yang ada di ruangan tertawa kecil—kecuali Lucky yang malu dan pura-pura sibuk .

Cleo tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.

Chelsea mengusap lembut lengan Lucky, menenangkan.

Setelah tawa mereda, Glasya menatap Lucky dengan serius.

“Lucky… kamu dirujuk ke rumah sakit besar aja ya. Ke rumah sakitnya Grace. Fasilitasnya lengkap. Tante nggak mau kamu dirawat di sini lama-lama.”

Grace langsung menimpali,

“Iya, betul. Kalau kamu dirujuk sekarang juga, aku bisa langsung cek semua: darah, jantung, riwayat kelelahan, semua lengkap.”

Chelsea dan Cleo ikut mengangguk setuju.

Tapi Lucky mengibaskan tangan pelan dan menggeleng.

“Enggak, enggak, enggak…

Makasih banget, tapi aku cuma mau pulang ke pondok.”

Semua langsung diam.

Ardan mengernyit.

Glasya menatap Lucky penuh khawatir.

Grace berhenti memegang stetoskopnya.

Cleo menggigit bibir.

Chelsea memiringkan kepala, bingung.

Lucky melanjutkan dengan nada santai,

“Di rumah sakit besar mah lama keluarnya. Banyak aturan. Aku bosen. Aku tuh cuma kecapean. Istirahat sehari juga udah.”

Kyai Ahmad menghela napas, tersenyum maklum,

“Begitulah Lucky… keras kepala. Dibilangin susah.”

Lucky hanya nyengir.

Glasya terdiam, memandangi Lucky dengan mata berkaca-kaca namun berusaha tersenyum.

“Pokoknya… kamu harus sembuh. Nggak boleh jatuh sakit lagi. Kamu itu penting, Lucky.”

Kata-kata itu membuat Lucky menunduk, pipinya sedikit memerah.

Cleo menambahkan dengan lirih,

“Kalau kamu sakit lagi… bilang ke kita. Jangan dipendem.”

Grace merapikan rambut Lucky yang berantakan,

“Kalo butuh apa-apa, langsung kabari. Kamu bukan sendirian.”

Chelsea meletakkan tangannya di pundak Lucky,

“Pokoknya mulai sekarang, kesehatan kamu kami yang pantau.”

Lucky hanya bisa tersenyum malu sambil mengusap tengkuknya.

“Hehehe… kalian lebay amat sih. Amann kok. Beneran serius deh.”

Semua yang ada di ruangan menatapnya bersamaan.

“LUCKY!!!”

Suara kompak membuat Lucky terlonjak kaget.

---

Sore itu cahaya matahari masuk dari jendela kecil ruangan rawat. Suasananya hangat, tenang, dan hanya terdengar suara kipas angin berputar pelan. Lucky duduk bersandar, sudah jauh lebih segar dibanding pagi tadi.

Keluarga Ardan masih setia menemaninya.

Cleo sedang membaca buku kecil di kursi pojok, Chelsea dan Grace menyiapkan makanan ringan, sementara Kyai Ahmad duduk sambil minum teh hangat dari gelas plastik.

Glasya tak berhenti memperhatikan Lucky sejak tadi.

Ada sesuatu yang menahan di dadanya—keinginan besar yang sudah ia simpan berbulan-bulan.

Ia ingin mengutarakan keinginannya untuk menjadikan Lucky sebagai anak angkatnya.

Namun setiap kali ia hendak membuka mulut, ia kembali terdiam, takut Lucky menolak, takut membuat Lucky tidak nyaman.

Ardan yang memperhatikan gelagat istrinya sejak tadi mendekat ke kasur Lucky sambil menghela napas kecil.

“Lucky…”

Glasya refleks menoleh cepat dan menggeleng pelan sambil mengkode,

—“jangan dulu, aku belum siap”—

Tapi Ardan tersenyum tipis, menepuk punggung tangan istrinya seolah berkata tenang saja.

Ia kembali menatap Lucky.

“Ada sesuatu yang sebenarnya mau kami bicarakan sejak lama—”

Namun sebelum Ardan selesai berbicara, Lucky memotong dengan polos tapi mantap:

“Mau mengadopsi saya ya, Pak Jendral?”

Ruangan langsung hening.

Glasya terkejut sampai menutup mulutnya.

Cleo menjatuhkan bukunya.

Chelsea terpaku.

Grace menatap Lucky tak percaya.

Kyai Ahmad tersenyum puas, seolah sudah tahu.

Lucky mengangguk pelan, senyum tipis muncul di wajahnya.

“Saya sih… mau saja.”

Glasya langsung menahan napas.

Lucky melanjutkan,

“Tapi nanti, ya.”

Ardan mengernyit,

“Maksud kamu?”

Lucky menatap mereka satu-satu, tatapannya jujur dan tenang.

“Tunggu saya lulus SMP dulu. Saya masih mau tinggal di pondok, mau belajar, mau selesaiin semua amanah di sini. Setelah itu… saya ikut tinggal sama kalian.”

Semua membeku beberapa detik.

Kemudian—

Reaksi Keluarga Ardan

Glasya menutup wajahnya dengan tangan dan menangis terisak, bukan sedih… tapi lega, bahagia, dan terharu sekaligus.

“A-aku… aku kira kamu nggak mau…”

Suaranya gemetar.

Ardan menatap Lucky lama, matanya berkaca-kaca tapi ia berusaha tetap tegar.

“Kamu yakin, Nak?”

Lucky mengangguk mantap,

“Iya. Keluarga kalian baik sama saya, tapi pondok ini yang membesarkan saya. Izinkan saya menyelesaikan semua dulu. Setelah itu… saya janji akan ikut.”

Cleo yang biasanya paling dingin tiba-tiba tanpa sadar mengeluarkan suara kecil,

“YES…”

Ia langsung menutup mulut saking malu, tetapi semua orang mendengarnya.

Chelsea tersenyum lembut,

Grace mengusap bahu Lucky,

“Kamu boleh pelan-pelan. Kita nggak akan ke mana-mana.”

Kyai Ahmad menepuk lutut Lucky sambil tersenyum hangat,

“Keputusan yang bijak, Nak Lucky. Pondok pun akan selalu siap melepasmu kalau memang itu yang terbaik untuk masa depanmu.”

Lucky hanya tersenyum malu sambil menggaruk tengkuknya.

1
Eka Budi
sangat bagus
alma ajidu
sudah selesai kah ceritanya....?
Rita Indah
up lagi kak
Eka Budi
masih lama kah, belum up lagi?
Sutono jijien 1976 Sugeng
👍👍👍👍bagus
Riz Kyy: Terimakasih orang baik 🙏/Determined//Applaud/
total 1 replies
Dania
semangat tor
Riz Kyy: /Determined//Determined//Determined/
total 1 replies
Dania
misi
Riz Kyy: Puntenn mhamank /Smile/
total 1 replies
Aghitsna Agis
harusnya jgn langsung bilang msu adopsi tapi mau ngucapin terima kasih ksrena telah menyelamatkan dari kobaran apj pastj nga akan menjauh kalau udah dekat dan luckynya nyaman baru bilang mau adopsi
Riz Kyy: Seharusnya begitu/Cry//Frown/, mungkin glasya sudah terbiasa dengan setiap keinginanya yang selalu terpenuhi, namun ketika keinginanya baru saja ditolak halus oleh lucky, glasya pun tersadar dan berusaha sendiri untuk mendapatkanya /Determined//Determined/
total 1 replies
laki laki
up lagi thor
laki laki: monitor thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!