NovelToon NovelToon
CASANOVA ARROGANT

CASANOVA ARROGANT

Status: tamat
Genre:Beda Usia / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:56.7k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.

Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.

Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Di dalam gudang tempat Viona meletakkan barang-barang pribadinya, ia mendesah panjang. Lantas merebahkan tubuh lelahnya di atas lantai dingin beralas kardus bekas. Viona meringkuk, memejamkan mata untuk sedikit mengistirahatkan pikiran dan tubuh. Belum juga ada setengah hari bekerja, tapi ia sudah menghadapi dua pria yang sudah benar-benar melukai perasaan dan harga dirinya.

Baru saja kedua mata terpejam, Viona mendengar suara derit pintu gudang yang dibuka. Derap langkah seseorang membuat Viona terpaksa kembali membuka mata, melirik sekilas sekedar memastikan kemudian kembali memejamkan mata.

"Vio, kamu... "

"Lima menit, kak... biarkan aku mengistirahatkan tubuh dan pikiran ku lebih dulu," potong Viona. Ia jelas tahu apa yang hendak disampaikan rekan satu shiftnya itu.

Rani menghela napas dalam, menatap penuh iba Viona yang tengah memejamkan mata. Di balik Wajah cantik dan sifat tegar, tersirat banyak kepedihan dan rasa lelah yang tampak terlihat jelas. Meski belum terlalu lama mengenal Viona, Ia sudah bisa menebak bagaimana pahitnya pengalaman hidup yang sudah dilalui gadis itu.

Cukup lama Viona memejamkan mata dengan Rani yang masih setia duduk di sampingnya. Menunggu untuk menyampaikan pesan yang disampaikan langsung oleh Bu Siska.

"Apa yang ingin Kak Rani sampaikan?" tanya Viona. Saat kembali membuka mata, ia masih mendapati Rani yang tengah duduk tenang.

Viona lantas bangkit dari posisi meringkuk, lalu duduk bersila di samping Rani.

"Bu Siska memintamu untuk menemui Tuan Hyun di ruangan barunya tepat pukul dua siang nanti," ucap Rani, menyampaikan pesan yang Bu Siska sampaikan.

Viona menarik napas dalam-dalam. Pesan yang baru Rani sampaikan, tentu langsung bisa ia pahami. Hari ini, mungkin menjadi hari terakhirnya bekerja di perusahaan. Dalam satu hari, ia sudah berdebat dengan dua orang pria yang memiliki posisi tinggi di perusahaan, tidak mungkin rasanya ia bisa lolos dari surat pemecatan yang sudah terlihat jelas di depan mata. Apalagi, ia sempat mendengar sendiri, pria arogan yang sempat bersitegang dengannya, meminta agar ia segera menyerahkan surat pengunduran diri saat ini juga.

Melihat Viona yang duduk terdiam dengan pandangan kosong. Rani buru-buru mengulurkan tangan, meraih kedua tangan Viona untuk ia genggam erat. "Vio... Masih ada waktu, cobalah untuk meminta maaf pada Pak Teguh dan... " Rani menghentikan kalimat saat Viona menatapnya dengan sorot mata yang berbeda, gadis itu bahkan melepas lembut genggaman tangan, Seakan enggan mendengar kalimat selanjutnya.

"Aku tidak bersalah, Kak!" ucap Viona sedikit meninggikan nada bicara. "Aku tidak melakukan apapun pada mereka. Tapi mereka malah merendahkanku hanya karena status sosialku yang hanya sebagai pegawai rendahan." Viona kembali melanjutkan kalimat dengan menurunkan nada bicaranya. Ia sadar, Rani hanya mencoba untuk membuat ia bertahan di perusahaan tanpa memiliki maksud merendahkannya.

"Maaf, Vio. Aku... aku hanya tidak ingin kamu pergi," ucap Rani sambil menundukkan wajah, tidak enak hati karena sudah memberi saran agar Viona meminta maaf lebih dulu, padahal ia tahu, jika Viona sangat menjunjung tinggi harga diri.

Rani sendiri memang sudah mendengar perdebatan antara Viona dan seorang pria yang merupakan CEO baru di perusahaan. Hampir seluruh pegawai membicarakan hal itu, bahkan mereka ada yang sampai bertaruh, jika hari ini juga Viona langsung dipecat tanpa mendapat surat peringatan lebih dulu.

Lagi, Viona menghela napas sambil mengulurkan tangan untuk meraih jemari rekan kerja yang begitu perduli padanya selama bekerja di tempat itu. "Tidak apa, Kak... aku mengerti," ucap Viona lembut, tangannya menggenggam erat tangan Rani. "Jika hari ini aku benar-benar harus pergi, kita masih bisa terus berkomunikasi," janji Viona. Meski merasa berat, namun Viona juga enggan jika harga dirinya kembali diinjak-injak. Apalagi oleh salah satu atasan yang kerap melecehkannya, meski tidak sampai berbuat terlalu jauh.

"Kalau kamu jadi dipecat, lalu siapa yang akan membantuku membersihkan seluruh ruangan di lantai dua," ucap Rani masih dengan kepala yang tertunduk lesu. "Belum lagi kamar mandi di pojok ruangan Pak Teguh yang terkenal angker itu... Aku takut bila harus membersihkannya sendirian," imbuh Rani yang membuat Viona tertohok, lalu menepuk keningnya sendiri. Viona pikir, Rani bersedih karena takut kesepian, ternyata rekan satu timnya itu takut bila harus membersihkan toilet angker dekat ruangan Pak Teguh yang konon menurut cerita pegawai lain, meskipun siang hari, tetapi kerap terdengar suara-suara aneh dari dalam sana.

****

Sementara di dalam sebuah ruangan yang terbilang cukup luas, Agam tampak tengah duduk di sofa panjang sambil menatap sebuah tablet di tangannya. Maniknya terus memeriksa dan meneliti semua laporan yang baru dikirimkan salah satu sekretaris pribadi Ayah Vino.

"Sampai kapan kau akan bekerja dari ruanganku?" tanya Hyun yang mulai merasa jengah dengan kesunyian yang membuat ruangan terasa horor baginya.

Agam melirik sekilas, kemudian kembali fokus pada layar tablet di tangannya. "Ruangan pribadiku belum selesai disiapkan," ucapnya tetap fokus pada benda tipis nan canggih tersebut.

"Yaaa.... tapi kamu jangan bekerja di ruanganku juga," keluh Hyun sembari melempar ke atas meja sebuah berkas yang baru selesai ia pelajari. Andai saja, status Agam bukanlah atasannya di perusahaan, ia pasti sudah mengajak pria arogan itu berduel di atas ring, meskipun tetap ia yang pasti akan kalah tenaga maupun tehnik.

Agam sendiri hanya berdecih pelan tanpa berniat menanggapi keluhan Hyun. Ia sengaja bekerja di ruangan baru Hyun untuk mengawasi sahabatnya itu agar bisa bekerja lebih fokus. Karena jika tidak diawasi, Hyun pasti mencuri waktu dengan menelepon salah satu kekasihnya atau sekedar merayu pegawai wanita untuk mengusir kebosanan. Agam yang jelas hafal tabiat buruk Hyun, kali ini tidak akan membiarkannya. Ia berniat membuat Hyun bekerja keras untuk membantu mengatasi semua permasalahan perusahan agar segera selesai dan ia bisa bergegas kembali pergi.

"Daripada terus mengomel seperti Kak Hana, lebih baik kau obati dulu punggung tanganmu itu," ucap Agam tanpa menatap ke arah Hyun.

Ucapan Agam membuat Pria berkulit putih bersih itu reflek menatap pada salah satu punggung tangannya yang tampak sedikit memar dan membengkak.

"Siapa lawanmu kali ini?" tanya Agam masih dengan fokusnya pada layar tablet." Pasti seorang pria brengsek yang tumbang hanya dengan dua kali pukulan," tebaknya yang sontak membuat Hyun terkekeh pelan.

Hyun jadi teringat, satu jam yang lalu ia baru saja mengasah kemampuan tinju pada seorang pria mesum yang mencoba membodohinya dengan sejuta alasan.

"Aku baru saja menjadi seorang pahlawan berkuda putih untuk seorang gadis," ucap Hyun sambil tersenyum membayangkan wajah seorang gadis yang cukup menarik perhatiannya tadi.

Dahi Agam berkerut kasar, mematikan layar tablet di tangannya lantas menatap datar wajah Hyun yang tengah tersenyum, namun terlihat menyebalkan bagi Agam. "Ingat Hyun, kau ada di sini untuk bekerja, bukan untuk menambah daftar gadis yang hanya akan menjadi koleksimu."

Kali ini Hyun yang berdecih keras. Memutar jengah kedua mata. Dalam hati, ia mengumpat kasar si gila kerja yang paling anti melihatnya bahagia. "Pergilah ke ruangan barumu sendiri. Jam dua nanti, aku harus memulai pekerjaan baruku dengan sangat profesional. Dan kau... " Hyun menatap tajam wajah datar Agam. "Jangan coba-coba mengganggu waktuku dengan masuk ke ruanganku tepat pukul dua nanti!" Peringat Hyun yang digubris Agam hanya dengan menghendikkan bahu.

Meski wajah Agam terlihat datar tanpa ekspresi. Namun dalam hati, Agam menggerutu bahkan mengumpat Hyun yang sudah berani mengaturnya.

*****

1
Three Flowers
ciee.. Viona ikutan baper. Memang enak kalo mempunyai seorang pelindung
Three Flowers
dia lagi marah, Viona
Three Flowers
kamu terlambat, Damar
Three Flowers
mulai timbul sifat posesif nya nih
Three Flowers
apakah damar naksir viona?😅
Three Flowers
apa yang terjadi semalam?😅
Three Flowers
jadi sedih, ternyata dibikin nyaman untuk viona seorang diri, bukan bersama Agam
Three Flowers
berarti secara tidak langsung, Agam ingin rumah itu terasa nyaman saat ia mudik ke rumah mertua, ya? ciee...berasa nikah beneran, bukan sekedar kontrak 😍
Three Flowers
takut ada yang ngintip, ya Gam?
Three Flowers
perhatian banget Viona sama Agam😍
Three Flowers
Veronica masih cinta Hyun ya?
Three Flowers
ternyata viona berprestasi ya
Three Flowers
enak banget, duit segitu banyak buat pasangan beracun ini
Three Flowers
kenapa pamannya kejam sekali nyebut vio jalang?😭
Three Flowers
mereka mau kemana sih?
Three Flowers
minta ditampol mulutnya si Agam
Three Flowers
enak saja ngomongnya... nggak ikut mengandung malah mau ambil anaknya
Three Flowers
ish ish... yang dipanggil calon suaminya.. wkwk 😂
Three Flowers
daddy siapa ini maksudnya?
Teteh Lia: Daddy Rayyan, ayah angkat Agam. mantan suami bunda alya
total 1 replies
Three Flowers
jangan main jodoh2an saja, bu... Agam udah mau nikah sama cewek lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!