Sekilas hampir mirip dengan cerita yang sempat viral beberapa waktu lalu. Tetapi ini murni karya Author, hanya ada sedikit kemiripan alur saja.
Menceritakan tentang seorang gadis bernama Zahwa Qarira Nazhira yang mencintai pengawal pribadinya yang bernama Liam Martin Robinson. Akan tetapi, Liam justru berbuat jahat ke Zahwa hingga suatu ketika Zahwa bertemu dengan seorang pria yang ternyata mengagumi dirinya sejak dulu.
Akankah Zahwa memaaafkan Liam dan kembali mencintai Liam?
Simak ceritanya ya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riya Wardu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Pulang Kampung
"Tidak..!!! "
"Jangan..!!! "
"Jangan..!!!"
Suara teriakan itu membuat Theo dan Alia menghentikan obrolan mereka. Ternyata suara itu berasal dari kamar Theo dimana Zahwa berada.
Bergegas Theo dan Alia menghampiri Zahwa yang meringkuk menutupi tubuhnya dengan selimut di ranjang itu.
"Tidak..!!"
"Jangan..!!"
"Jangan..!! Hiks Hiks Hiks.."
Teriak Zahwa yang diiringi dengan tangisan. Sungguh malang nasib Zahwa, dengan cepat Theo menghampiri dan memeluk Zahwa. Akan tetapi, Zahwa masih merasa ketakutan.
"Jangan.. Aku mohon, hiks hiks hiks.. "lirih Zahwa sambil terisak mengatupkan kedua tangannya.
Sungguh Theo merasa prihatin dengan keadaan Zahwa saat ini. Apa yang diceritakan oleh sepupunya membuat dia geram. Dia berjanji akan membalas orang yang telah membuat Zahwa menjadi seperti ini.
"Zahwa.. Zahwa.. "panggil Theo yang mulai mendekati Zahwa
Akan tetapi Zahwa semakin ketakutan hingga menangis.
"Zahwa.. Tenang, ini aku.. Ini aku Theo,lihat aku.. "panggil Theo sembari mengenggam kedua tangan Zahwa yang terasa dingin.
Seketika itu isak tangis Zahwa terhenti, perlahan dia mengangkat wajahnya yang tertunduk.
"T-Theo? M-Mas Theo..? "Lirihnya yang bisa didengar oleh Theo
Theo mengangguk membalas panggilan Zahwa. Dan tanpa banyak kata, seketika itu pula Zahwa langsung memeluk Theo.
Sontak hal itu membuat Theo juga ikut membalas pelukan Zahwa. Di dalam pelukan Theo isak tangis Zahwa semakin menjadi-jadi, Theo yang merasa prihatin dengan keadaan Zahwa pun ikut meneteskan air mata. Dia mengusap lembut bahu Zahwa berusaha menenangkan Zahwa.
"Jangan takut, ada aku di sini.. "ucap Theo yang masih memeluk Zahwa
Beberapa menit berlalu dan isak tangis Zahwa terhenti, Theo melerai pelukannya. Dia mengusap lembut air mata yang menetes di pipi Zahwa.
"Dia jahat.. Kenapa dia berbuat seperti itu? Apa salahku? "Ucap Zahwa setelah pelukannya terlerai dengan Theo
Sebenarnya Theo bingung harus berkata apa? Jika boleh jujur sebenarnya Theo ingin marah dengan orang yang tega berbuat jahat ke Zahwa.
Theo menghela nafas lalu dia merapikan anak rambut Zahwa ke telinga. Dia menyuruh Zahwa untuk istirahat karena ini masih larut malam, akan tetapi Zahwa hanya menggelengkan kepalanya.
"Ini masih larut malam, tidurlah.. "pinta Theo ke Zahwa
Namun Zahwa tetap menjawab dengan gelengan kepala, pertanda dia tidak bisa tidur lagi. Dia takut, mengingat kejadian yang menimpa dirinya.
"Jangan takut, ada aku di sini.. Ada Rocky juga, kamu masih ingat Rocky kan? "
Tanya Theo mencoba mengingatkan salah satu anak buahnya yang pernah menjemput dia di apartemen Zahwa.
"Rocky? "Tanya balik Zahwa yang menatap paras tampan Theo
Theo mengangguk dan tersenyum ke arah Zahwa yang sepertinya lupa dengan Rocky.
"Sudahlah, lupakan saja kalau kamu tidak ingat.. Sudah malam, tidurlah.. "ujar kembali Theo ke Zahwa
Belum Theo beranjak, tangan dia dicekal oleh Zahwa.
"Mau kemana?"
"Pulang kampung.."
☆
☆
☆
Di kediaman Gunawan pagi itu Bibi Asih sedang meminta ijin ke Jodi Gunawan untuk pulang kampung.
"Mau kemana? "Tanya Tuan Jodi ke Bibi Asih
"Pulang kampung Tuan.. "Jawab Bibi Asih
"Pulang kampung? "Tanya balik Tuan Jodi setelah menyeruput kopi hitam favoritnya
Dia menghela nafas kembali mengingat jika sebulan yang lalu Bibi Asih memang ijin akan pulang kampung karena ada saudaranya yang akan menikah. Akan tetapi, dia tidak menyangka jika Bibi Asih juga mengatakan akan berhenti bekerja di rumahnya. Bibi Asih mengatakan jika dia akan tinggal di kampung saja.
"Kenapa Bibi tiba-tiba ingin berhenti? Apa gaji yang saya berikan ke Bibi kurang? Jika kurang katakan saja Bi.. "Tanya Tuan Jodi ke Bibi Asih
Tuan Jodi merasa Bibi Asih sudah seperti keluarganya sendiri, karena Bibi Asih sudah bekerja puluhan tahun di rumahnya. Jadi Tuan Jodi pasti akan merasa kehilangan orang yang menemani dan membantu keluarganya selama ini.
"Maaf Tuan, sebelumnya saya pernah cerita ke Nona Zahwa juga kalau saya mau berhenti bekerja dan menikmati masa tua di kampung.. Nona Zahwa juga sama seperti Tuan, akan memberikan gaji lebih ke saya.. Tapi saya menolaknya Tuan, karena saya memang mau berhenti karena mau menikmati masa tua di kampung.. "Jawab Bibi Asih lugas ke Tuan Jodi
Tuan Jodi mengangguk "Ya, Zahwa memang pernah bercerita ke saya.. Tapi apa tidak bisa pertimbangkan lagi keputusan Bibi?
Belum Bibi Asih menjawab sebuah suara menyela obrolan mereka.
"Kalau sudah keputusan Bibi Asih seperti ya udah sih Pa, kita setujui aja.. "Ucap Mirna istri Tuan Jodi yang tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua.
Dia mendaratkan bokongnya di sofa lalu kembali berucap dengan sinis.
"Lagian Zahwa sekarang juga nggak di sini, Bi Asih ini kan pembantu dan pengasuhnya anak itu.. Entah dimana anak sial4n itu sekarang berhari-hari nggak pulang dan nggak ada kabar.. Jangan-jangan dia pergi bermain dengan pria hidung b3lang di luaran sana.."
"Cukup Mirna..!! "Teriak Tuan Jodi yang membentak istrinya
"Zahwa bukan gadis yang seperti itu, dia anak baik..!! "Ucap Tuan Jodi masih dengan nada tinggi
"Ck, anak baik? Kalau dia anak baik kenapa sampai sekarang dia tidak pulang ke rumah dan tidak ada kabar? Sudah dipastikan dia sedang bersenang-senang bahkan melakukan --- "
"Cukup Mirna.. !! "Ucap Tuan Jodi yang beranjak dengan tangan akan menampar istrinya
Namun dengan cepat Bi Asih mencekal lengannya "Jangan Tuan, jangan emosi ingat kesehatan Tuan.. "
Perlahan Bi Asih melepas lengan Tuan Jodi yang akan menampar sang istri. Beberapa detik kemudian Tuan Jodi berlalu meninggalkan istri dan Bi Asih yang sedang di ruangan itu.
"Maaf Nyonya, saya permisi dulu.. "pamit Bi Asih yang mendapat jawaban anggukan kepala Nyonya Mirna
Yang tidak mereka sadari pada saat mereka bersitegang ada seseorang yang melihat dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Jadi Zahwa belum pulang dari kemarin? Kemana dia? Pagi hari saat aku terbangun dia tidak ada, anak buahku yang berjaga malahan mengira Zahwa masih denganku di dalam kamar.. Kemana dia? Di rumah pun tidak ada.. "Monolog Liam dalam hati.
Seseorang yang melihat dan mendengarkan pembicaraan Tuan Jodi, Nyonya Mirna dan Bi Asih adalah Liam --- pengawal pribadi Zahwa.
Beberapa hari yang lalu Liam meminta ijin ke Zahwa tidak berangkat mengawal dirinya seperti biasa karena ada acara keluarga. Zahwa mengijinkan Liam, karena yang tidak Liam tahu sebenarnya Zahwa ingin memberhentikan Liam sebagai pengawal pribadinya.
Zahwa sudah muak dengan perlakuan Liam yang tidak bisa melindungi dirinya sebagaimana mestinya sebagai seorang pengawal pribadi. Liam justru lebih peduli ke Michelle adiknya, dan pada saat Liam meminta ijin Zahwa pun langsung meng-iyakan.
Ceklek
(Pintu kamar Zahwa terbuka)
Terlihat Bibi Asih yang keluar dari kamar Zahwa membawa keranjang berisi baju. Kembali pintu kamar itu tertutup dan Bibi Asih berlalu dari kamar Zahwa.
"Bi Asih, tunggu.. "panggil Liam ke Bibi Asih yang mana membuat dia menghentikan langkahnya.
Bibi Asih membalikkan badannya karena merasa ada yang memanggilnya.
"Ada apa Mas Liam? "Tanya Bibi Asih yang kini berhadapan dengan Liam.
"Apa Zahwa, maksud saya apa Nona Zahwa ada di kamarnya Bi? Kenapa jam segini belum keluar kamar? Biasa dia selalu berangkat kerja segini? "
Bukan menjawab pertanyaan Bibi Asih, justru Liam menanyakan keberadaan Zahwa yang hampir siang tapi tidak berangkat kerja.
"Non Zahwa belum Mas.. Sudah hampir seminggu ini dia tidak pulang.. "jawab Bibi Asih apa adanya.
Liam terdiam. Tidak pulang ke rumah hampir seminggu? Kemana dia?
"Maaf, saya permisi dulu.. "pamit Bibi Asih yang membuyarkan lamunan Liam.
Dalam hati Liam bertanya-tanya kemana pergi nya Zahwa jika dia tidak pulang ke rumah?
Pagi itu ketika dia terbangun tidak melihat Zahwa di sampingnya. Semalam dalam keadaan mabuk dia menyiks4 Zahwa tanpa ampun. Pada saat dia menanyakan ke anak buahnya yang berjaga juga tidak tau jika Zahwa telah melarikan diri tanpa sepengetahuan mereka. Anak buah Liam mengira Zahwa sedang bersama dirinya di dalam kamar.
Liam menggertakan rahangnya penuh amarah karena Zahwa telah melarikan diri. Dia akan mencari dan menghabisi Zahwa bahkan akan membuat hidupnya tidak tenang karena selalu mengusik ketenangan Michelle, orang yang dia cintai.
Hari berganti, tiba waktunya Bibi Asih yang berhenti bekerja di kediaman Tuan Jodi setelah hampir puluhan tahun untuk berpamitan dengan orang-orang di rumah Tuan Jodi.
"Bibi, kita pasti kangen sama Bibi.. Nanti jangan lupa sering telepon kita ya Bi.. "ucap Ina salah satu maid di rumah Tuan Jodi
"Iya Ina, nanti Bibi pasti telepon dan video call kalian.. "jawab Bibi Asih yang memeluk Ina
"Bi, ini aku tadi buat kue.. Bibi bawa ya buat cemilan di perjalanan, walau nggak seenak buatan Bibi tapi Erni buat dengan penuh cinta Bi.. "ucap Erni maid lainnya memberikan paper bag berisi kue.
"Terima kasih ya anak-anak Bibi.. Jaga diri kalian baik-baik di sini, kerja yang bener.. "balas Bibi Asih yang menerima paper bag itu.
Mereka pun kembali berpelukan hingga terisak melepas Bibi Asih yang akan pulang kampung. Sekian menit kemudian Bibi Asih berlalu untuk berpamitan ke Tuan Jodi dan Nyonya Mirna.
"Bi, terima kasih sudah menemani dan membantu di rumah ini.. Sebenarnya saya merasa berat melepas Bibi, tapi saya pun tidak bisa memaksa karena ini sudah keputusan Bibi.. "ucap Tuan Jodi yang kemudian memberikan sebuah amplop cokelat ke Bibi Asih
"Terima lah Bi.. Ini tidak seberapa dengan pengabdian Bibi selama ini.. "lanjut Tuan Jodi
"Tapi Tuan --- "ucapan Bibi Asih terjeda karena Nyonya Mirna menimpali ucapannya.
"Terima saja Bi, setidaknya itu bisa Bibi gunakan untuk biaya hidup Bibi di kampung.. "ucapnya agak sedikit ketus
Tuan Jodi mengangguk pertanda Bibi Asih harus menerima amplop cokelat berisi uang itu. Dan mau tidak mau akhirnya Bibi Asih menerima amplop itu dan kemudian berpamitan dengan Tuan Jodi dan Nyonya Mirna.
Dengan menyeret koper dan tas di salah satu pundaknya Bibi Asih meninggalkan rumah Tuan Jodi yang selama ini menjadi ladang rupiah nya. Pada saat akan keluar dari gerbang yang dibukakan oleh penjaga rumah dia berpapasan dengan Liam.
Liam yang tempo hari sempat mendengar obrolan Bibi Asih dan Tuan Jodi kembali menanyakan apa benar jika Bibi Asih akan pulang kampung. Dan dengan mantap Bibi Asih menjawab pertanyaan Liam.
Tidak ada obrolan panjang antara Bibi Asih dan Liam yang mana Bibi Asih berpamitan dengan Liam, dan bertepatan dengan itu taxi online yang dipesan Bibi Asih sudah di depan.
Taxi online yang membawa Bibi Asih tiba di stasiun. Baru Bibi Asih turun dari taxi ada seseorang yang memanggil dirinya.
zahwa diperlukan kurang baik, jgn kelihatan lemah zahwa tunjukan kpd kedua orgtua sangat kuat dan tanggung....