Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Selena.
Valen segera meninggalkan Selena karena panggilan telepon dari Mateo yang mengharuskan dia harus meninjau kondisi di luar kota yang semalam ia tinggalkan akibat kejadian Selena. Beruntung kota yang ia tuju merupakan perbatasan dari kotanya, sehingga jarak yang ditempuh pun tidak lama.
Pria itu sudah rapih dengan kemejanya yang berbalut dengan jas hitam. Setiap lekuk pakaiannya terjahit rapih tidak ada celah sedikitpun, seolah mencerminkan disiplin dan ketegasan dirinya. Wajahnya datar tanpa senyum, namun sorot matanya tajam, mengintimidasi siapa pun yang berani menentangnya. Valen berdiri di depan cermin sebentar, merapikan manset di pergelangan tangannya, lalu melangkah keluar dengan wibawa seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya.
Sejenak pria itu membalikkan wajahnya sebelum benar-benar meninggalkan kamarnya. "Mulai sekarang kau dalam pengawasan yang cukup ketat, aku pergi tidak akan lama dan kau jangan sekali-kali mengulangi kebodohanmu itu!" ancamnya untuk yang ke sekian kalinya.
Pintu di tutup dengan begitu kencang, membuat hati Selena semakin tertekan, kali ini gadis itu hanya bisa meratapi nasibnya yang mungkin akan terkurung dalam kurun waktu yang cukup lama, langkah kaki Selena mulai melangkah ke arah jendela besar, untuk menikmati pemandangan di luar sana karena hanya dengan cara ini ia bisa mengurangi rasa jenuhnya di dalam penjara mewah ini.
"Tuhan ... sampai kapan aku harus mendekam seperti ini," ucapnya sambil memeluk dirinya sendiri.
☘️☘️☘️☘️
Sementara saat ini Valen tengah sibuk mengurus bisnisnya yang ada di luar kota, karena memang kemarin sedikit ada kendala, dalam usahanya ini, beruntung Mateo sudah menyelesaikannya dengan polisi setempat, yang memang mendapatkan laporan kalau restauran mewah Valen terendus mempunyai jaringan lain di dalamnya akan tetapi di saat polisi menggeledah tempat ini, tak satu pun barang bukti yang di temukan karena memang semuanya terlihat biasa.
Valen sudah mengaturnya se rapih mungkin hingga pihak berwajib pun tidak mampu mengendus, usaha fiktif yang ia kembangkan melalui, restauran ini. Di dalam restaurant mewah ini terdapat berbagai macam ruangan baik private VIP ataupun ruan makan pada umumnya, akan tetapi tanpa ada yang tahu, kalau di dalam restaurant ini terdapat dapur yang menembus ke ruang bawah tanah, tempat untuk menyimpan barang-barang dagangan Valen tepatnya barang-barang ilegal.
Semuanya sudah diperhitungkan, bahkan restaurant ini menjadi pusat transaksi penjualan barang-barang ilegal miliknya, dan semua yang bekerja di sini, sudah dibawah sumpah janji setia sampai mati.
☘️☘️☘️☘️
Seorang pelayan berpakaian rapih membawa nampan yang diatasnya berisi minuman dan cemilan sehat untuk sang atasan, dan tidak lama kemudian di susul Mateo yang datang membawakan laporan.
"Permisi Don," ucap Mateo.
Valen mengangkat pandangannya lalu memberi isyarat kepada Mateo untuk duduk. "Berita apa yang akan kau sampaikan hari ini?" tanya Valen datar.
"Begini Don, hasil dari tadi malam, sepertinya ada yang sengaja menghubungi pihak polisi dan memberikan sedikit bocoran. Untung saja pihak polisi tidak mengendus," sahut Mateo menjelaskan.
Don hanya terdiam, mencermati setiap ucapan yang keluar dari mulut Mateo. "Lain kali seleksi semua tenaga kerja kita, cari yang benar-benar bisa menjaga usaha kita," ucap Valen tenang namun penuh tekanan.
"Baik Don, tapi ada satu hal yang harus Don ketahui," ungkap Mateo.
"Apa itu?" tanya Valen sambil mengerutkan alisnya.
"Yang melaporkan restaurant ini ke pihak berwajib adalah, Robin Arsen," sahut Mateo.
Valen sudah menduganya karena memang Robin merupakan rival mafia yang tidak terima dengan penolakan Valen yang menolak untuk di nikahkan dengan anak perempuannya satu-satunya, hingga sampai sekarang dendam itu masih bersemayam di benak Robin padahal Valen sudah melupakan kejadian dua tahun lalu.
"Dasar si tua bangka ... rupanya dia masih belum menerima padahal kan putrinya sudah menikah," sahut Valen dengan enteng.
"Tapi si Robin pinginnya yang jadi mantu itu Don Valen, apalagi ada kejadian tidak terduga yang membuat Robin kembali lagi menyerang anda," ucap Mateo.
Valen bingung, dengan apa yang diucapkan oleh Mateo. "Maksudnya apa?" tanya Valen.
"Selena," sahut Mateo.
"Selena?" tanya Valen kembali.
"Iya, dia bukan seorang gadis biasa, seperti yang kita lihat, melainkan dia seorang anak dari mantan kaki kanan Robin," sahut Mateo menjelaskan.
Valen terkejut ketika mendengar kabar tentang Selena ternyata gadis yang sudah membuatnya jatuh hati merupakan anak dari musuh rivalnya, bahkan dirinya tidak tahu menahu tentang status Selena yang sebenarnya.
"Mulai sekarang perketat penjagaan Selena, aku tahu cepat atau lambat mereka akan mengintainya," ucap Valen mempertegas.
"Baik Tuan itu pasti," sahut Mateo.
Setelah urusannya dengan Mateo selesai, Valen mulai kembali pulang karena dia tidak mau membiarkan Selena begitu saja tanpa pengawasannya sendiri.
Langkah kaki tegap itu sudah mulai memasuki mobil dan meninggalkan restaurant yang menjadi pusat transaksi barang-barang ilegalnya.
☘️☘️☘️☘️
Mobil sudah berhenti tepat di depan pintu utamanya, Valen segera turun dari mobil, langkahnya panjang, seolah ia tidak ingin membuang waktu untuk menemui gadis yang selalu mengganggu pikirannya itu.
Setelah melewati lorong-korong di rumahnya akhirnya pria itu sampai di depan kamar Selena, yang di depannya sudah ada dua penjaga yang ia tugaskan.
"Siang Don," sapa dua pelayan itu seraya membungkuk.
Valen hanya menganggukkan kepalanya lalu memegang gagang pintu, dan pandangan yang pertama kali ia lihat adalah Selena gadis cantik yang tengah duduk di tengah ranjang dengan perasaan yang tertekan.
"Siang ... Nona Selena," sapanya dengan seringai di wajahnya.
Selena tersentak mendengar suara sapaan yang terdengar sebagai ancaman, gadis itu hanya bisa meremas seprai sebagai satu-satunya pelindung saat ini, tatapannya sinis menyorot kepada pria yang baru saja masuk ke dalam kamarnya itu.
"Mau apa lagi?" tanyanya lirih mencoba untuk memberanikan diri.
Valen mendekat, langkah sepatunya terdengar tegap, membuat hati Selena semakin sesak, senyum di bibirnya samar, semakin susah untuk di tebak, antara ramah atau peringatan.
“Aku cuma ingin memastikan kau baik-baik saja di sini,” ucap Valen, nada suaranya tenang, tapi sorot matanya menusuk, membuat Selena makin sulit bernapas. “Kau terlihat… tidak nyaman.”
Selena terkekeh kecut. "Tidak nyaman? Bagaimana aku bisa nyaman dari tadi kamu kurung terus menerus," sahut Selena.
Valen mendekat, di ujung ranjang pandangannya menunduk menyama ratakan dengan wajah Selena, sehingga jarak mereka hanya tinggal sejengkal saja. " Kurungan ku lebih aman Selena dari pada dunia luar sana, kau bisa hilang kapan pun."
Selena tersentak dadanya semakin terasa sesak, ucapan pria itu terdengar antara ancaman dan peringatan tulus, akan tetapi Selena masih belum ngerti apa yang dimaksud dengan ucapan tersebut.
"Tapi aku buka tawananmu," bisiknya getir mencoba melawan ketakutan.
Valen tersenyum tipis, jemarinya menyentuh dagu Selena dengan lembut, kontras dengan wibawa dingin yang ia tunjukkan. “Oh, kau memang bukan tawanan. Tapi kau… adalah alasanku untuk tetap waspada sekarang.”
Selena menepis tangannya dengan cepat, sorot matanya bergetar antara takut dan marah. Namun dalam hatinya, ada satu pertanyaan yang terus berputar "kenapa pria ini begitu terobsesi padaku?"
Bersambung ....
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf