Ini gila!
Tak pernah terlintas sedikit pun di benak Gea bahwa setelah kematiannya, ia tidak pergi ke alam baka. Sebaliknya, ia justru terbangun kembali di tubuh orang lain. lebih parahnya lagi tubuh itu adalah milik Rena siswi terkenal di sekolah sebagai pembuat onar dan tokoh antagonis yang dibenci banyak orang.
Rena dikenal sebagai gadis yang gemar membully siswi lain yang berani mendekati pria yang ia sukai. Dengan sombong, ia juga sering mengeluarkan siswa dari sekolah hanya karena mereka menentangnya, berlindung di balik statusnya sebagai anak dari pemilik yayasan sekolah.
Sekarang Gea harus hidup di dalam tubuh gadis yang memiliki reputasi buruk itu.di mata semua orang, ia tetaplah Rena si pembully kejam.tak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Akankah Gea mampu memperbaiki kesalahan Rena di masa lalu?
Satu hal yang pasti…
Mulai hari ini, hidup Gea tidak akan pernah sama lagi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kymocyy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
Momen itu dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru sekolah, semua siswa hampir membicarakan momen tadi pagi.
Awalnya hanya dari parkiran.
Lalu ke koridor.
Kemudian ke kantin dan dalam waktu kurang dari satu jam, hampir semua siswa tahu satu hal yang sama.
Rena menolak Dio.
Sesuatu yang selama ini dianggap mustahil.
Di kantin, beberapa siswa terlihat berkumpul sambil membicarakan kejadian tadi pagi.
“Gue sumpah masih gak percaya.”
“Rena yang biasanya nempel kayak perangko malah nolak Dio.”
“Bukan cuma nolak… dia juga naik motor galaksi pagi tadi.”
“Serius?”
“Iya! Motor sport kesayaanya tu.”
Beberapa siswa langsung bersiul kagum.
“Buset… berubah total ya. Kayanya sih efek di rawat di rs iya nggak sih." Ucap salah satu siswi yang di balas guyon teman temannya.
Sementara di meja lain, beberapa siswi terlihat tidak kalah heboh.
“Menurut gue dia lagi cari perhatian.” celetuk gadis berwajah bulat.
“Iya, pura-pura berubah biar Dio ngejar.”timpal gadis berambut pendek yang duduk di samping kanan gadis berwajah bulat.
“Strategi lama itu mah.”
Namun salah satu siswi menggeleng.
“Enggak deh… gue liat tadi wajahnya serius banget.”
“Serius gimana?” tanyanya menatap serius pada gadis yang tengah berbicara tadi.
“Kayak… dia beneran gak peduli lagi sama Dio.”Kalimat itu membuat mereka terdiam sebentar. Saling pandang dengan kalimat itu.
Di sisi lain sekolah, tepatnya di taman belakang yang lebih tenang,Seorang gadis duduk anggun di bangku panjang sambil membaca buku.Rambutnya panjang tergerai rapi.Wajahnya cantik dengan ekspresi lembut.
Dialah Maya.
Sesekali gados itu merapikan helai rambutnya yang berantakan akibat sertiup angin, matanya masih fokus pada deretan huruf huruf yang terangkai menjadi bait bait kalimat.
Gadis yang dikenal hampir semua orang sebagai siswi baik, kalem, dan sopan.
Beberapa teman perempuannya berlari kecil menghampiri dengan wajah heboh.
“Maya!” panggilnya membuat gadis itu mengangkat wajahnya perlahan.
“Ada apa?” tanyannya dengan suara lembut menatap kedua sahabatnya secara bergatian.
Salah satu dari mereka langsung duduk di sampingnya, menatap maya dengan raut wajah yang sulit di artikan maya.
“Lo udah tau belum?"
“ apa?”
“Rena.”
Nama itu langsung membuat maya sedikit mengernyit.“Apa lagi yang dia lakukan?”
Temannya saling pandang sebelum menjawab dengan nada dramatis.
“Tadi di parkiran… Dio ngajak dia pulang bareng.” jawab salah satu yang langsung di angguki temannya.
Maya masih terlihat tenang.
“Lalu?”
“rena menalok ajakan dio."
Sunyi beberapa detik.
Maya menutup bukunya perlahan.
“...Apa?”
Temannya langsung mengangguk cepat.
“Serius! Semua orang liat.” jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan perkataanya.
“Dia bilang dia sibuk.”
“Dan Dio keliatan kaget banget.”
Ekspresi maya tetap lembut namun jari-jarinya perlahan mencengkeram ujung buku yang ia pegang.
“Begitu ya…” gumamnya pelan.
Di luar, wajahnya terlihat biasa saja.
Bahkan ia tersenyum kecil.
“Bagus dong.” ucapnya membuat kedua
Temannya bingung.
“Bagus?”
“Iya,” jawab maya lembut. “Artinya dia akhirnya berhenti mengejar Dio.”
Temannya mengangguk.
“Bener juga sih…”
“Tapi aneh banget loh.”
Maya memiringkan kepala "Aneh bagaimana?”
“Dio malah keliatan tertarik sama dia sekarang.” ucapan itu membuat membuat tangan maya berhenti bergerak.
Ia perlahan mengangkat wajahnya.
“Apa maksudmu?”
Temannya mencondongkan badan sedikit lebih dekat.
“Dia ngobrol lama sama rena di parkiran. Dan itu momen langka, may lo tau sendiri bahkan buat natap aja dio seakan nggak sudi tapi tadi pagi dia bahkan melontarlan beberapa pertanyaan pada rena ”
“Terus ngajak dia pergi.”timpal satunya.
“Dan dari tadi Dio keliatan terus merhatiin dia.” maya menatap wajah kedua temannya dengan expresi yang rumit.
Beberapa detik tidak ada suara.
Sapuan angin menggerakkan sedikit rambut maya.
Senyumnya masih ada,tapi matanya berubah.
Lebih dingin.
Lebih tajam.
“Begitu…” ucapnya pelan.
Temannya tidak menyadari perubahan itu.
“Kayaknya Dio mulai penasaran sama dia deh.” ucapnya membuat Maya menutup bukunya perlahan
Sangat pelan.
Di dalam dadanya sesuatu terasa tidak nyaman.
Selama ini Maya tidak pernah benar-benar menganggap Rena sebagai ancaman.
Rena hanyalah gadis bodoh yang terus mengejar Dio tanpa harga diri. Gadis yang rela mempermalukan dirinya sendiri hanya untuk mendapat sedikit perhatian. Bahkan tak jarang ia membiarkan dirinya dibully agar terlihat menyedihkan di depan orang-orang, berharap Dio atau Galaksi akan merasa kasihan padanya, dan ia suka kalau rena di benci banyak orang.
Di mata Maya, semua itu hanya terlihat memalukan dan karena itulah ia tidak pernah merasa perlu melakukan apa pun pada Rena.
Untuk apa takut pada seseorang yang bahkan tidak memiliki harga diri?
Namun sekarang…
semuanya terasa berbeda.
Jika gadis itu berubah…
Jika Dio mulai tertarik…
Maya menatap ke arah gedung kelas di kejauhan. Tatapannya tampak tenang, seperti biasanya lembut dan anggun seperti gadis baik yang dikenal semua orang.
Namun jauh di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh.
Jari-jarinya perlahan mencengkeram buku yang sendari tadi ia pegang,
Rena…
Jika sebelumnya ia hanya merasa terganggu…
Sekarang perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam.
Cemburu.
Rasa yang perlahan menyelinap seperti racun yang menetes sedikit demi sedikit.
Maya tidak pernah suka ketika seseorang mencoba mengambil sesuatu yang ia anggap miliknya.
Dan Dio,adalah miliknya.
Ia yang selama ini menjadi pusat perhatian semua orang berkat bersanding dengan dio.
Bukan Rena dan tidak akan pernah.
Tatapan Maya kembali mengarah pada bangunan kelas di seberang lapangan.
Di sana… Rena berada.
Gadis yang dulu selalu terlihat rendah di matanya sekarang justru mulai menarik perhatian, maya benci itu. Ia tidak suka.
Perlahan, senyum tipis muncul di bibir Maya.
Namun senyum itu tidak hangat, tidak pula lembut
Melainkan… dingin.
“Kalau cuma berubah sedikit… lalu langsung merasa hebat…” gumamnya pelan.Matanya menyipit sedikit.
“Jangan terlalu percaya diri, Rena.” gumamnya dengan pelan tanpa di sadari oleh kedua temannya yang masih saja menceritakan tentang rena tanpa menyadari perubahan expresi temannya.