TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI (Pernikahan dadakan season 2).
Menceritakan tentang kisah asmara dan lika liku kehidupan ketiga anak dari pasangan Farhana Indrayani dan David Prasetyo.
Karena penolakan yang dilakukan oleh ayah dari gadis pujaannya, Akbar yang notabenenya adalah seorang tuan muda rela menjadi santri salah satu pesantren di sebuah kampung. Untungnya ada tuan muda lain yang juga ikut nyantri karena syarat dari calon mertuanya.
Nirmala, anak bungsu dari pasangan Hana dan David bertemu dengan seorang anak pemuda karena membantunya melawan dari pengeroyokan yang tak seimbang. Ternyata pemuda tersebut adalah anak kyai yang menjadi tempat pesantrennya melakukan observasi tugas dari kampusnya.
Siapakah jodoh dari ketiga putra putri Prasetyo ini? Temukan jawabannya di novel ini.
Keseruan kisah mereka bertiga akan ada disini. Foto atau gambar diambil dari google. Hak cipta tetap pada pemilik foto, bukan pada author.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zainuri I, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUEL
TUAN MUDA NYANTRI NONA MUDA JADI BU NYAI – 7
Pekerjaan di kantor sudah selesai. Baik Akbar ataupun Suci bergegas pulang walaupun belum waktunya. Itulah istimewanya atasan. Jam masuk dan pulang sesuka hati. Namun beban atau tanggung jawab yang diemban juga semakin besar. Tak jarang mereka masih harus membawa pekerjaannya pulang.
Suci mengendarai mobil sendiri. Saat melewati lapangan dekat gang sejahtera, Suci memelankan laju mobilnya karena melihat ada Si Kembar bersama para polisi. Suci menjadi khawatir melihatnya sehingga dia menepikan mobilnya. Untung saja dia selalu membawa pakaian ganti di mobilnya. Sebelum dia turun, lebih dulu mengganti pakaiannya dengan celana dan kaos lengan panjang.
“Kembar” teriak Suci membuat semua mata yang ada disana memandangnya.
Suci berlari menghampiri keduanya dengan panik.
“Kalian ngapain? Ada masalah dengan mereka?” tanya Suci tanpa basa basi.
“Kenapa bertanya begitu?” tanya Mila heran.
“Semua orang tahu kali dek, kalau saudara bungsumu ini suka bikin ulah” jawab Suci dan mendapat cibiran dari Mala.
“Hahahahaha” tawa para polisi muda membahana mendengar sindiran Suci.
“Kalian para polisi ngapain juga ada di sini?” tanya Suci masih dengan nada yang sama.
“Kami ada perlu dengan temanmu itu” jawab Nathan yang terkesima dengan kecantikan Suci. Sedari tadi, Nathan tak mengalihkan pandangannya dari wajah Suci.
“Noh, si Raka naksir adek. Mauku, dia ngalahin aku dulu, baru boleh deketin adek” jawab Mala dengan pongah.
“Ya Allah dedek, sadar nggak sih yang kamu tantang itu polisi? Nyebut to” frustasi Suci dengan tingkah Mala.
“Mau polisi ataupun presiden sekalipun, aku nggak akan membiarkannya dengan mudah mendekati adek. Dia sangat berharga bagiku” tegas Mala tak terbantahkan.
Mila hanya bisa diam jika saudara kembarnya ini sudah ngotot. Suci juga hanya bisa pasrah.
“Baiklah. Tapi aku nggak akan biarin kamu bertarung sendiri. Kita sudah ada tiga. Kita satu lawan satu” final Suci akhirnya.
“Kok jadi gini sih? Udahlah, jangan bertarung. Kita damai saja. kita ganti permainan aja” bujuk Mila yang lebih suka damai.
“Nggak seru dek. Ayolah. Karena kamu bintangnya, kamu boleh milih dengann siapa. Tapi, Raka tetep punya aku” tandas Mala dan Mila kembali pasrah dengan sifat keras kepala Mala.
“Suit aja lah. Yang menang dengan yang menang, yang kalah dengan yang kalah” putus Suci akhirnya.
Setelah melakukan ritual suit seperti anak-anak yang akan bermain, terbentuklah pasangan Suci VS Ali, Mila VS Nathan.
Sebelum mereka benar-benar bertarung, Raka, Ali dan Nathan melepas baju terlebih dahulu.
“Nggak etis dong lihat polisi bertarung dengan wanita” ucap Ali dengan senyuman.
Tiga pasang tersebut telah bersiap di posisi masing masing. Saat hendak memulai, munculah Bimo dan Romi dengan wajah kusut dan rambut berantakan. Salahkan David yang memerintah mereka dengan mendadak setelah mendapat laporan dari bodyguard bayangan si kembar. Romi yang masih masa cuti karena Riska baru saja
melahirkan, sedangkan Bimo yang baru pulang dari luar negeri, tentu saja masih merasa lelah.
“Tunggu” teriak Romi.
Romi berlari diikuti Bimo hingga sampai di hadapan tiga pasang dengan nafas terengah-engah. Usia mereka memang sudah tidak muda lagi. Bahkan usia anak sulung mereka hampir 18 tahun.
“Kenapa om?” tanya Suci heran.
“Nona Dedek, bisa nggak sih nggak bikin ulah?” geram Bimo yang kesal dengan perintah kakak bosnya itu.
“Nona Dedek, om lagi cuti ini. Harus nangani tingkah nona dedek yang tiada habisnya. Kasihanilah kami barang sedikit” keluh Romi tak kalah frustasi dari Bimo.
“Salah om sendiri. Harusnya om itu bantah aja perintah ayah, bilang kalau dedek sudah dewasa” jawab Mala tanpa rasa bersalah sediktpun.
“Ngakunya dewasa, tingkaH masih kaya bocah” cibir Suci yang juga kesal.
“Baiklah. Karena om sudah mendapat laporan tentang bagaimana duel ini terjadi. Biar om yang jadi wasitnya” tengah Bimo yang ingin menyelesaikan masalah dengan cepat.
“Tunggu. Kenapa kalian berempat juga bersiap?” tanya Romi heran.
“Kita batle lah om. One by one” terang Mala tanpa beban.
“Astaga. Baiklah. Kita berdua yang akan jadi wasit. Buat para polisi, segala senjata harap di letakkan atau disimpab dalam ransel. Jangan ada yang membawa senjata apapun” terang Romi dan dipatuhi mereka tanpa membantah.
Romi dan Bimo memeruiksa mereka satu per satu tanpa terkecuali. Setelah cukup dan dinyatakan tidak ada yang membawa senjata tajam ssatu pun, mereka memulai pertarungan.
Ketiga pasangan bersaing dengan sengit. Saling menyerang dan menangkis, bahkan berusaha untuk mengenai sasaran untuk mendapatkan poin. Namun, ketiga polisi itu ternyata kewalahan menghadapi pasukan srikandi tersebut. Latihan fisik dan mental serta beladiri dari kecil, membuat Suci dan si kembar tangguh dan tangkas. Meskipun demikian, para srikandi hati tersebut juga kewalahan dengan ketangkasan polisi muda tersebut. Sepuluh menit berlalu, namun belum ada satu poinpun yang mereka peroleh. Sejauh ini mereka masih imbang. Peluh telah membasahi badan mereka, namun semangat untuk saling mengalahkan tidak surut.
“Cut” teriak Bimo memberi jeda agar mereka istirahat.
Tiga menit kemudian, mereka kembali bertarung dengan segala kemampuan. Wajah lelah dan semangat berkobar menjadi satu dengan gerakan lincah semuanya. Dalam hati para polisi muda terkagum-kagum dengan kemampuan para srikandi ini. Pantas saja Mala bisa dengan pongahnya meminta Raka melawannya dulu. Ternyata memang tidak mudah menjatuhkan gadis manis kembaran pujaan hatinya ini. Ali juga merasakan hal yang sama. Merasa sedikit kewalahan menghadapi Suci yang entah dari mana gadis ini datang. Nathan pun tak jauh berbeda dengan kedua temannya. Menghadapi pujaan hati Raka ternyata menguras tenanganya.
Persaingan sengit masih terjadi. Sedikit ada kekenduran aks saling menyerang. Tentu saja karena rasa lelah yang dirasakan semuanya. Mau bagaimanapun, tenaga wanita pasti akan kalah dengan tenaga laki-laki. Hal ini terbukti dengan menurunnya tenaga Sucidan Mila. Hal ini membuat Nathan dan Ali sedikit menemukan celah. Namun, mereka tetap saja merasa kewalahan. Setelah beberapa saat, akhirnya Nathan mampu mengunci pergerakan Mila. Dengan sigap, Bimo menghampiri keduanya dan menghitung sampai sepuluh.
Tenot. Mila dinyatakan kalah dari Nathan.
Tak lama kemudian, menyusul Ali yang juga memenangkan pertarungan tersebut. Mereka berempat duduk berjejer di atas rumput hijau menyaksikan Raka yang masih melawan Mala. Tentu saja Mala akan melakukan perlawanan sengit dan tidak akan membiarkan Raka menang dengan mudah.
Salah satu bodyguard datang dengan menenteng kantong kresek bertanda Indahmart dan menyerahkan kepada Mila. Dengan senang Mila menerima dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Mila membagikan makanan dan minuman kepada semuanya. Untuk milikk Raka dan Mala harus mereka simpan dulu.
“Saudara kembarmu tangguh juga. Kalau itu kamu yang bertanding dengan Raka, aku jamin kamu akan kalah lebih cepat daripada denganku” ucap Nathan dengan membuka tutup botol.
“Memang dari kami, Mala adalah yang paling tangkas. Tapi juga yang paling bandel. Ayah suka pusing dengan tingkah absurdnya” jelas Mila masih terus menyaksikan pertarungan.
“Kalian semua keluarga?” tanya Ali heran dengan ketiga wanita itu.
“Kita saudara. Setidaknya itulah kita” jawab Suci tanpa penjelasan.
“Kita sudah seperti saudara. Dia ini anak asistennya ayah” jelas Mila yang mengerti maksud kerutan alis di kedua kening polisi tampan itu.
“Semua pandai beladiri?” tanya Nathan. Entah mengapa, Nathan sangat penasarn dengan keluarga Mila.
“Dari kecil kami sudah latihan seperti militer. Meskipun demikian, kita tidak kehilangan masa anak-anak. Orang tua kami selalu menyempatkan waktu untuk sekedar bermain di rumah. Meskipun kami latihan seperti di militer, tapi kami tidak diijinkan untuk mendaftar menjadi abdi negara” jelas Suci yang sedari awal berkeinginan menjadi polwan.
“Mengapa?” tanya Nathan penasaran.
“Mereka tidak mau kehilangan kami dengan tugas negara nantinya. Apapun bisa terjadi kan? Itulah alasan orang tua kami tidak mengijinkan kami jadi abdi negara” terang Suci.
Nathan dan Ali manggut-manggut mengerti kegelisahan orang tua mereka. Tentu saja mereka pernah mengalami hal tersebut. Menjalankan tugas yang mengakibatkan perpisahan dengan orang terkasih. Belum lagi jika misi gagal. Terlebih lagi jika mengalami luka tempat ataupun yang lain. Mereka masih terus ngobrol dan menyaksikan
pertarungan sengit antara Raka dan Mala.
Kira-kira, siapa ya yang menang? Hayo, readers maunya Raka apa Mala yang
menang?
SUDAH RILIS YA KAKAK-KAKAK READERS. SILAHKAN ORDER. SUDAH TERSEDIA DI SHOPEE.
*****
NEXT
*****
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK DENGAN LIKE, KOMENTAR, VOTE, DAN RATING BINTANG LIMANYA YAH? JIKA BERKENAN, KASIH TIPS JUGA BUAT AUTHOR MESKIPUN HANYA 5 KOIN. TERIMAKASIH!
JANGAN LUPA UNTUK MEMBACA KARYAKU YANG LAIN.
ringan, lucu, seru bacanya smbil cengengesan sendiri ini...😅