Ini hanyalah sebuah kisah tentang perjuangan seorang gadis yang menggapai mimpinya menjadi seorang atlet, dan tentu saja banyak hambatan yang selalu datang kepadanya.
Putri Alya Zahra Elvaro= 19 tahun (Alya)
Yuda Pranata= 19 tahun (Yuda)
Setelah Yuda mengetahui Alya tidak bersalah, ia meminta maaf atas kesalahan yang telah ia buat terhadapnya. Tapi di sisi lain, seorang laki-laki yang tak kalah tampan dari Yuda, yaitu Andre Tanaka Pranata. Pacar dari adik Alya, yang bernama Vania Areta Elvaro, Andre begitu penasaran dengan Alya sehingga ia terus melindungi Alya.
Apakah Alya akan menerima maaf dari Yuda? Atau malah sebaliknya?
Bagaimana dengan Andre? Akankah ia jatuh cinta pada Alya? Kalau Andre sampai jatuh cinta pada Alya, bagaimana nasib Vania?
Baca alurnya sampai habis .... ^^
Follow juga Ig; @afwafitria_29
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afwa F N, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat Yang Sangat Asing
"Kakak bener-bener gak tau diri!" hardik Vania sambil menampar Alya keras.
"Maksud kamu apa?" tanya Alya yang masih memegang pipinya dan menatap adiknya itu bingung.
"Jangan sok lugu deh, Kak!"
"Kakak bener-bener nggak tau apa yang kamu katakan, Vania," ucap Alya menatap Vania bingung.
"Liat Vidio ini!" Alya memperlihatkan Vidio kejadian yang terjadi tadi siang.
"Kenapa Vidio itu ..." batin Alya mencoba menerka-nerka siapa dalang dari balik semua ini.
"Yuda! Pasti dia yang sebarin vidio ini!" gumam Alya kesal.
"Kak Alya ternyata jahat banget ya sama aku. Andre itu pacar aku, Kak! Nggak seharusnya Kakak rebut Andre dari aku!"
"Kenapa selalu Kakak yang mendapat semuanya?! Aku hanya ingin mendapat kasih sayang dari laki-laki yang aku sayangi. Tapi Kakak selalu merebutnya dari aku! Bahkan, kasih sayang ayah, aku beri semua itu sama Kakak. Tapi sebagai balasannya, Kakak malah merebut Andre dari aku! Apa itu nggak cukup buat Kakak?" oceh Vania, cairan bening satu per satu mulai berjatuhan.
"Kakak nggak ada niatan untuk rebut Andre dari kamu, Van. Dia cuma nolong Kakak dari Yuda, itu aja. Kita nggak ada hubungan apa-apa. Percaya sama Kakak!" jelas Alya yang merasa bersalah kepada Vania.
"Kalau Kakak emang sayang sama aku, jauhin Andre!" tutur Vania yang masih terisak menangis.
"Kakak janji, Kakak akan jauhin Andre!" sahut Alya sambil memeluk Vania erat.
"Kak lepasin. Kalau ada yang liat, semua orang akan tau kalau Kak Alya adalah Kakak aku." Dengan cepat Vania melepaskan pelukan Kakak nya itu.
"Kalau Kakak, ingkari janji Kakak itu. Jangan panggil aku dengan sebutan Adik lagi. Ngerti!" ancam Vania dan langsung pergi dari tempat itu.
"Kamu dari mana?" tanya Andre penasaran.
"Itu nggak penting. Sekarang anter aku untuk belanja keperluan nanti yuk," Vania langsung masuk ke dalam mobil Andre di susul Andre.
💮💮💮
"Pak Galih! Apa kau masih mengenalku?" tanya seorang gadis cantik sambil melihat ke arah guru olahraga itu tajam.
"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu! Jangan mendekat!" ucap Pak Galih ketakutan dan mundur beberapa centimeter.
"Jangan takut, aku hanya ini memeriksa keadaanmu saja di sini. Cepat katakan, dimana kamu menyimpan handphone itu!" sahut gadis tersebut penuh penekanan pada kalimat terakhir.
"Aku tidak tau apa-apa! Handphone yang mana? Kalian terus memberiku pertanyaan yang aku tidak tau, apa yang sebenarnya kalian inginkan!" hardik Pak Galih dan langsung melemparkan botol minuman yang ia pegang ke depan gadis tersebut.
"Apa kau mau membunuhku! Apa kau mau membunuhku! Hahahaha ... camkan ini baik-baik! Aku hanya ingin handphone itu. Pasti kau tau di mana, kan?" tanya gadis itu kembali.
Pak Galih semakin ketakutan dan tidak bisa menjawab apa-apa lagi.
"Dokter, suntik dia! Percuma saja, dia tidak mau menjawab pertanyaan dariku!" titah gadis tersebut kesal dan pergi secepatnya dari gudang tersebut.
Sementara itu, Alya berjalan lesu menuju halte bus dekat kampusnya.
Kata-kata Vania terus mengiang di pikirannya.
"Kalau Kakak, ingikari janji Kakak itu. Jangan panggil aku dengan sebutan Adik lagi. Ngerti!"
"Apa aku keluar aja dari kampus ini? Tapi bagaimana dengan ayah? Ayah udah berusaha mencari uang untuk biaya kuliahku, apa yang harus aku lakukan?" keluh Alya sambil memegang kepalanya yang lama-kelamaan sakit.
"Aku harus segera pulang!" Alya beranjak dari duduknya, tapi saat Alya hendak berjalan pulang, penglihatannya tiba-tiba menjadi kabur. Seketika semua gelap.
"Berhenti!" titah seorang pria muda, sopir akhirnya segera menghentikan mobilnya.
"Ada apa, Tuan?" tanya sopir itu menatap Tuan Mudanya dari kaca yang berada di atas setirnya.
"Tunggu di sini!" Pria itu turun dan menghampiri Alya.
Karena tidak ada pilihan lain selain membawanya pergi dari sini, pria tersebut membawa Alya masuk ke mobilnya dan membawanya pulang.
Sementara itu di tempat lain, Vania berjalan dengan kesal masuk ke dalam rumahnya. Bahkan orang yang berada di rumah, ia tidak mempedulikannya dan segera masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa dengan anak itu?" tanya Fahrul menatap Vania terheran-heran.
"Biar aku yang bicara sama dia," sahut Rika dan berjalan ke kamar Vania.
"Kamu kenapa?" tanya Rika sambil mengusap ujung kepala Vania dengan lembut.
"Ini semua gara-gara kak Alya, Mah! Kak Alya terus deketin pacar aku. Aku gak terima dong, kalau pacar aku harus di rebut sama kakak aku sendiri!" jelas Vania yang memeluk ibunya dengan manja.
"Kamu tenang aja. Nanti mama marahin kakak kamu itu supaya nggak deket-deket lagi sama Andre, kamu jangan nangis lagi ya," ujar Rika sambil menghapus sisa air mata Vania.
"Makasih, Mah. Mamah selalu ngerti apa yang aku rasain." Vania mempererat pelukannya.
"Berhasil! Kak Alya liat aja, siapa yang menang nanti!" batin Vania sambil menyeringai.
"Udah dong jangan nangis lagi, mending sekarang kamu pergi mandi gih. Kalau udah, nanti kita makan malam sama-sama," suruh Rika, Vania hanya mengangguk dan berjalan ke kamar kecil untuk membersihkan seluruh badannya.
💮💮💮
Alya membuka matanya perlahan, menatap sekeliling ruangan itu. Tampak asing baginya.
"Ini di mana? Apa jangan-jangan–" Alya menghentikan perkataannya dan berpikir yang tidak-tidak akan dirinya.
"Masih rapih! Berarti nggak terjadi apa-apa." Alya meraba-raba tubuhnya dan bisa bernapas lega sekarang.
"Tapi ini di mana?" pikir Alya yang terus memutar bola matanya melihat seisi ruangan tersebut.
"Non Alya sudah siuman," ucap pelayan rumah itu seketika, sehingga membuat Alya terkejut.
"Kamu siapa?" tanya Alya ketakutan.
"Saya cuma pelayan di rumah ini, Tuan Muda menyuruh saya untuk merawat Non Alya sampai keadaan Non Alya membaik," jelas pelayan tersebut sambil menyimpan makanan di atas meja.
"Tuan Muda? Apa ini kamar Andre? Tapi kok beda sama yang tadi siang, seragam pelayan itu juga tidak sama dengan pelayan yang ada di rumah Andre," pikir Alya.
"Apa Non Alya membutuhkan sesuatu?" Pertanyaannya membuyarkan lamunan Alya.
"Hah?! Nggak perlu, terima kasih," jawab Alya sambil tersenyum kepada pelayanan itu.
"Kalau begitu, saya permisi ke luar," ucap pelayan itu meminta izin untuk ke pergi ke luar.
"Kalau ini bukan rumah Andre. Terus rumah siapa?" gumam Alya bingung. Akhirnya Alya menyelinap ke luar mencari tau rumah siapa ini.
Saat Alya membuka pintu kamar tersebut banyak pelayan yang menjaganya di depan.
"Kalau ada yang jaga di luar, gimana aku ke luar!" Alya berjalan ke sana ke sini memikirkan caranya ia keluar dari rumah itu.
"Bagaimana ini? Harus cari jalan keluar!" Alya mencari di seluruh ruangan itu, tapi tidak ada jalan untuk ke luar di sana.
Masih penasaran dengan kelanjutannya?
Jangan lupa klik terlebih dahulu fav yang ada di bawah ini, beri like, rate 5, dan juga vote dari kalian semua. Karena itu membuat author semakin semangat dalam membuat ceritanya.
Sampai ketemu di episode selanjutnya 🤗
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Semangat trz 😉
lanjut adik othor..... 💪💪